Di sebuah kampung di wilayah Paniai, hiduplah dua sahabat bernama Dibuni dan Dapa. Dibuni adalah kelelawar, sedangkan Dapa adalah katak. Mereka telah lama mengenal satu sama lain dan terbiasa menjalani kehidupan dengan saling menemani.
Persahabatan itu membuat keduanya sering melakukan banyak hal bersama. Mereka berbagi waktu ketika keadaan menyenangkan maupun ketika menghadapi kesulitan. Bagi mereka, seorang sahabat bukan hanya teman untuk bermain, melainkan juga tempat meminta bantuan saat diperlukan.
Suatu hari, keduanya menanam berbagai jenis pisang di kebun masing-masing. Mereka berharap tanaman itu tumbuh baik dan kelak menghasilkan buah yang dapat dinikmati. Setelah pekerjaan selesai, mereka menunggu tanaman tersebut berkembang.
Namun, hasil yang mereka dapatkan ternyata berbeda. Tanaman pisang milik Dibuni berulang kali mati, sedangkan pisang di kebun Dapa tumbuh subur. Daunnya berkembang, batangnya meninggi, dan tandan buahnya semakin lebat.
Melihat kebun sahabatnya berhasil, Dibuni menyimpan perasaan yang tidak pernah ia ungkapkan. Ia tetap berteman dengan Dapa seperti biasa, tetapi di dalam hatinya tumbuh iri hati. Ketika buah pisang Dapa mulai tua dan menguning, Dibuni mulai memikirkan cara agar ia juga memperoleh keuntungan dari hasil kebun itu.
Kesempatan di Kebun Pisang
Tandan pisang di kebun Dapa semakin matang. Buah-buahnya tampak siap dipetik, tetapi Dapa menghadapi kesulitan. Ia berulang kali mencoba memanjat pohon untuk mengambil hasil kebunnya sendiri, namun usahanya selalu gagal.
Dapa tidak ingin buah yang telah dirawatnya terbuang sia-sia. Ia pun teringat kepada Dibuni, sahabatnya yang dapat memanjat pohon. Menurutnya, meminta bantuan kepada seorang teman merupakan jalan yang wajar ketika ia tidak sanggup melakukan pekerjaan itu sendirian.
Dapa mendatangi Dibuni dan menyampaikan maksudnya. Dengan suara pelan, ia meminta sahabatnya memanjat pohon pisang yang buahnya telah matang. Ia juga berjanji akan membagi hasil panen itu menjadi dua bagian agar mereka sama-sama mendapatkannya.
Dibuni menerima permintaan tersebut dengan gembira. Kesempatan yang selama ini ditunggunya akhirnya datang. Ia dapat memanjat pohon, mengambil buah yang matang, dan berada di tempat yang tidak mudah dijangkau Dapa.
Dapa menunggu di bawah pohon, percaya bahwa sahabatnya akan menepati janji. Ia tidak menyangka bahwa Dibuni telah menyimpan niat berbeda. Ketika mulai memanjat, Dibuni justru memikirkan bagaimana menikmati buah-buah terbaik tanpa harus membaginya dengan pemilik kebun.
Buah Matang untuk Dibuni
Sesampainya di atas, Dibuni menemukan tandan-tandan pisang yang telah matang. Buah-buah itu tampak lebih menarik daripada yang pernah ia miliki di kebunnya sendiri. Ia mulai memetik pisang yang kuning dan langsung memakannya.
Di bawah pohon, Dapa menunggu bagian yang telah dijanjikan. Namun, alih-alih menerima buah matang, ia justru melihat pisang-pisang muda dilemparkan ke tanah. Buah yang seharusnya dibagi bersama telah masuk ke mulut Dibuni, sementara bagian yang tidak layak dimakan jatuh di dekat kakinya.
Dapa segera memahami apa yang sedang dilakukan sahabatnya. Ia telah meminta bantuan dengan janji membagi hasil panen, tetapi Dibuni mengambil seluruh keuntungan untuk dirinya sendiri. Kebaikan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya dibalas dengan kecurangan.
Dapa marah dan kecewa. Ia tidak dapat menerima perlakuan tersebut, terlebih karena pelakunya adalah sahabat yang selama ini ia percayai. Tanpa melanjutkan pertengkaran, ia meninggalkan kebun dan berjalan menuju kali.
Sesampainya di tepi air, Dapa berdoa agar Dibuni mendapat pelajaran atas perbuatannya. Ia tidak lagi meminta agar hasil kebunnya dikembalikan. Yang ia inginkan hanyalah agar tindakan sahabatnya tidak berlalu begitu saja tanpa akibat.
Hujan yang Mengubah Segalanya
Tak lama setelah Dapa berdoa, hujan turun dengan sangat lebat. Air terus mengguyur kampung dan kawasan di sekitarnya. Aliran sungai membesar, sementara arus yang semakin kuat mulai menggerakkan benda-benda di sepanjang tepinya.
Air meluap dan membawa banyak pohon hingga roboh. Keadaan berubah dengan cepat. Tempat-tempat yang sebelumnya tenang kini dipenuhi air yang bergerak deras, menyeret apa pun yang tidak mampu bertahan di tempatnya.
Sementara itu, Dibuni masih berada di atas pohon pisang. Setelah memakan banyak buah, ia tertidur dalam keadaan kekenyangan. Ia tidak menyadari bahwa hujan telah mengubah keadaan di sekelilingnya dan pohon tempatnya beristirahat tidak lagi aman.
Arus banjir akhirnya menghanyutkan pohon pisang itu. Dibuni terjatuh ketika pohon mulai terbawa air, lalu terseret bersama pepohonan lain yang hanyut. Ia tidak sempat menyelamatkan diri dari arus yang semakin kuat.
Dibuni berusaha bertahan, tetapi ia tidak dapat berenang. Tubuhnya timbul tenggelam di antara pepohonan yang bergerak bersama banjir. Ia tidak berhasil mencapai tempat aman dan akhirnya mati setelah air menenggelamkannya.
Akhir Persahabatan Dibuni dan Dapa
Kisah Dibuni dan Dapa berakhir ketika banjir membawa Dibuni pergi. Sahabat yang semula dipercaya untuk membantu memanen pisang justru kehilangan nyawanya setelah mengkhianati kepercayaan itu.
Dapa sebelumnya datang dengan niat membagi hasil kebun. Ia memberikan kesempatan kepada Dibuni untuk memperoleh bagian dari panen yang tidak dapat diambilnya sendiri. Namun, Dibuni memilih mengambil buah matang seluruhnya dan membiarkan sahabatnya menerima buah yang belum layak dimakan.
Tidak ada kesempatan bagi Dibuni untuk memperbaiki perbuatannya setelah air bah datang. Ia tidak dapat kembali ke kebun, meminta maaf kepada Dapa, atau mengganti buah yang telah dimakannya. Peristiwa itu menutup persahabatan mereka dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di tepi kali, doa Dapa telah mendahului datangnya hujan besar. Dalam kisah ini, banjir menjadi peristiwa yang mengakhiri tindakan Dibuni dan mengubah nasib kedua sahabat itu. Dapa tidak memperoleh kembali hasil panennya melalui peristiwa tersebut, sedangkan Dibuni kehilangan hidupnya.
Demikianlah kisah Dibuni dan Dapa dari Paniai–Nabire: persahabatan yang semula dibangun melalui kebersamaan berakhir ketika salah satunya memilih mengutamakan keuntungan sendiri dan mengkhianati kepercayaan sahabatnya.
CATATAN REDAKSI
ASAL CERITA
“Dibuni dan Dapa” merupakan cerita binatang yang dalam buku Antologi Cerita Binatang dari Tanah Papua diberi keterangan “Cerita dari Paniai–Nabire”. Buku tersebut disusun oleh Dharmojo dan Muhammad Jaruki serta diterbitkan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, pada 2005.
TOKOH UTAMA
Dibuni adalah kelelawar yang merasa iri terhadap keberhasilan kebun pisang Dapa. Dapa adalah katak yang bersahabat dengan Dibuni dan meminta bantuan untuk memetik pisang matang.
ALUR VERSI SUMBER
Keduanya bersahabat dan menanam pisang. Ketika tanaman Dibuni gagal sedangkan tanaman Dapa tumbuh subur, Dibuni berharap dapat memanfaatkan kemampuan memanjatnya untuk mengambil buah Dapa. Dapa berjanji membagi hasil panen, tetapi Dibuni memakan buah matang dan melemparkan buah muda ke bawah.
Dapa kemudian berdoa di tepi kali agar Dibuni mendapat pelajaran. Hujan lebat menyebabkan banjir dan menghanyutkan pohon tempat Dibuni tertidur. Dibuni jatuh ke air, tidak mampu berenang, lalu mati.
CATATAN ADAPTASI
Naskah EMMANUS ini merupakan penulisan ulang naratif, bukan transkripsi kata demi kata. Adegan, suasana, dan transisi diperluas untuk kebutuhan pembacaan modern, sementara urutan peristiwa pokok dan akhir cerita dipertahankan berdasarkan sumber.
Keterangan bahwa banjir terjadi setelah doa Dapa merupakan urutan peristiwa dalam cerita rakyat. Naskah tidak menafsirkannya sebagai penjelasan ilmiah mengenai sebab terjadinya banjir.
SUMBER UTAMA
Dharmojo dan Muhammad Jaruki. Antologi Cerita Binatang dari Tanah Papua. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Cerita nomor 44, “Dibuni dan Dapa”, halaman cetak 112–114.
Repositori resmi:
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/1432/
Tautan PDF:
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/1432/1/Antologi%20cerita%20binatang%20dari%20tanah%20papua%20%282005%29.pdf
Salinan teks digital yang dapat ditelusuri:
https://studyres.com/doc/24496303/-seri-cerita-anak--dharmojo.---antologi-cerita-binatang-d...
KONTEKS WILAYAH
Sumber menyebut Paniai–Nabire. Naskah ini tidak mengubah keterangan tersebut menjadi klaim bahwa cerita hanya berasal dari satu suku tertentu, karena identitas komunitas penutur yang lebih spesifik belum dipastikan dari sumber yang digunakan.








