Cerita Rakyat

Putri Karang Melenu, Bayi Ajaib dari Sungai Mahakam

Dari seekor naga yang dibesarkan dengan kasih sayang, lahirlah seorang putri yang kelak menjadi permaisuri kerajaan Kutai Kartanegara.

Oleh Narendra

Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, latar legenda Putri Karang Melenu dalam tradisi Kutai.
Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, latar legenda Putri Karang Melenu dalam tradisi Kutai.
Diterbitkan

Di Kampung Melanti, hiduplah seorang petinggi bersama istrinya, Babu Jaruma. Rumah mereka berdiri di tengah kehidupan kampung yang sederhana, ketika penduduk saling mengenal dan membantu meskipun tidak semua keluarga memiliki banyak harta.

Suatu hari, persediaan makanan pasangan itu habis. Mereka mencari sesuatu yang masih bisa dimasak, tetapi keadaan begitu sulit hingga kayu untuk memasak pun tidak mudah ditemukan.

Petinggi akhirnya mengambil sebilah parang dan memotong sepotong kayu dari bagian rumahnya. Ketika kayu itu terbelah, ia menemukan seekor ular kecil yang melingkar di dalamnya. Ular itu menatapnya tanpa bergerak, seolah menunggu apa yang akan dilakukan manusia di hadapannya.

Petinggi tidak membunuhnya. Ia membawa ular itu kepada Babu Jaruma, dan istrinya menyambut makhluk kecil tersebut dengan rasa iba. Mereka memutuskan untuk memeliharanya, meskipun belum mengetahui dari mana ular itu berasal atau akan menjadi apa kelak.

Sejak saat itu, kehidupan mereka berubah. Ular kecil yang awalnya cukup diletakkan di tempat sirih tumbuh begitu cepat hingga membutuhkan kandang yang lebih besar. Babu Jaruma merawatnya setiap hari, memberinya makan dan memperlakukannya dengan kelembutan seperti seorang ibu merawat anaknya sendiri.

Anak yang Tumbuh Menjadi Naga

Hari demi hari, tubuh ular itu terus membesar. Kandang yang dahulu terasa luas mulai sesak, sementara tubuhnya semakin panjang dan kuat. Petinggi dan Babu Jaruma menyadari bahwa hewan yang mereka pelihara bukan ular biasa.

Pada mulanya, mereka tetap menyayanginya. Babu Jaruma telah merawatnya sejak kecil dan tidak ingin begitu saja meninggalkan makhluk yang telah menjadi bagian dari rumah mereka. Namun, semakin besar tubuh ular itu, semakin sulit pula mereka menempatkannya di dalam rumah.

Kecemasan perlahan menggantikan ketenangan. Mereka khawatir naga itu tidak lagi memiliki ruang yang cukup dan suatu hari dapat mengganggu kehidupan penduduk Kampung Melanti. Mereka pun memikirkan jalan keluar tanpa harus menyakiti makhluk yang selama ini mereka pelihara.

Pada suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu menyapanya sebagai ayah dan menjelaskan bahwa dirinya telah tumbuh terlalu besar sehingga membuat orang-orang ketakutan. Ia meminta dibuatkan tangga agar dapat turun dari tempatnya dan pergi menuju tempat yang jauh.

Ketika terbangun, Petinggi menceritakan mimpi itu kepada Babu Jaruma. Istrinya menduga bahwa gadis dalam mimpi tersebut mungkin berhubungan dengan naga yang mereka rawat. Mereka sepakat mengikuti petunjuk itu dan meminta bantuan kerabat untuk membuat tangga yang cukup kuat.

Perjalanan Menuju Sungai Mahakam

Tangga pertama tidak mampu menahan berat tubuh naga. Tangga berikutnya pun patah ketika naga mulai menuruni anak tangganya. Petinggi dan para kerabatnya tidak menyerah, tetapi mereka mulai menyadari bahwa mereka harus mengikuti petunjuk naga dengan lebih cermat.

Akhirnya, dibuatlah tangga dari bahan yang diminta naga dalam penuturannya. Petinggi membimbingnya turun, sementara Babu Jaruma menunggu dengan perasaan bercampur aduk. Ia lega karena makhluk yang disayanginya dapat turun dengan selamat, tetapi ia juga takut kehilangan anak yang telah dirawatnya sejak kecil.

Setelah mencapai tanah, naga itu mulai merayap meninggalkan rumah. Petinggi dan Babu Jaruma mengikuti dari belakang. Mereka tidak tahu ke mana perjalanan itu akan membawa mereka, tetapi keduanya tetap berjalan bersama makhluk yang selama ini mereka anggap sebagai anak sendiri.

Naga itu akhirnya menemukan sungai besar. Ia bergerak ke dalam air, berenang menyusuri aliran sungai, lalu menyelam ke dasarnya. Petinggi dan istrinya mengikutinya menggunakan perahu, berusaha agar tidak kehilangan jejak.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Kilat menyambar, guntur menggelegar, dan gelombang mengguncang perahu mereka. Petinggi dan Babu Jaruma berjuang mencapai tepian. Setelah keduanya selamat, badai perlahan mereda dan langit kembali menampakkan warna-warna yang menenangkan.

Bayi di Dalam Gong

Ketika Petinggi dan Babu Jaruma memandang Sungai Mahakam, mereka melihat sesuatu yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya. Permukaan sungai dipenuhi buih putih hingga airnya hampir tidak terlihat. Dari tengah buih itu terdengar tangisan bayi.

Mereka segera mendekat dengan perahu. Di antara buih yang bergerak, tampak sebuah gong besar yang mengapung. Di dalam gong itu terbaring seorang bayi perempuan, sementara seekor naga menjunjung gong tersebut dari bawah air.

Pemandangan itu belum selesai. Naga yang menjunjung gong ternyata berdiri di atas seekor makhluk ajaib bernama Lembu Suana. Tubuhnya menyerupai gabungan berbagai hewan, dengan ciri-ciri yang membuatnya berbeda dari binatang mana pun yang dikenal pasangan itu.

Petinggi merapatkan perahunya. Naga dan Lembu Suana kemudian menghilang ke dalam air, meninggalkan gong yang berisi bayi perempuan. Di tangan bayi itu terdapat benda-benda yang tidak biasa, dan salah satunya adalah telur yang kemudian menetas menjadi seekor anak ayam.

Petinggi dan Babu Jaruma mengangkat bayi itu ke dalam pelukan mereka. Setelah perjalanan panjang bersama naga yang mereka besarkan, kini mereka menemukan seorang anak yang seolah hadir untuk menggantikan kehilangan mereka. Mereka membawanya pulang dengan rasa syukur sekaligus takjub atas peristiwa yang baru saja terjadi.

Putri Karang Melenu dan Lembu Suana

Bayi itu diberi nama Putri Karang Melenu. Babu Jaruma merawatnya dengan penuh kasih sayang, sementara Petinggi menjaga agar semua kebutuhan sang bayi terpenuhi. Kehadiran Putri membawa kebahagiaan baru bagi keluarga dan penduduk Kampung Melanti.

Ketika Putri masih kecil, keluarga itu menjalankan rangkaian upacara yang diminta dalam pesan gaib yang mereka terima. Mereka mengadakan pesta adat dan upacara pijak tanah sebelum sang putri diperkenankan menginjakkan kaki di tanah. Penduduk dari kampung-kampung sekitar turut hadir menyaksikan perayaan tersebut.

Putri tumbuh menjadi gadis yang cantik dan memiliki pembawaan yang berbeda. Ia tidak hanya menjadi kebanggaan kedua orang tuanya, tetapi juga menarik perhatian banyak orang. Ketika tiba waktunya mengikuti rangkaian upacara berikutnya, Putri meminta agar ia diberi kesempatan menuju mahligai tanpa harus selalu diiringi orang banyak.

Setelah orang-orang beranjak pergi, Putri membakar dupa dan menaburkan beras kuning. Tak lama kemudian, Lembu Suana muncul di hadapannya. Putri tidak tampak takut. Ia justru berbicara kepada makhluk ajaib itu dan memintanya mengantarkannya menuju mahligai.

Lembu Suana merendahkan tubuhnya agar Putri dapat naik. Makhluk itu kemudian terbang membawa sang putri, melintasi udara di bawah warna-warni pelangi. Orang-orang yang menyaksikan kedatangannya tertegun, sementara Putri tetap tenang hingga tiba di tempat yang dituju. Setelah mengantarkannya, Lembu Suana menghilang atas permintaan Putri.

Pertemuan dengan Aji Batara Agung

Tahun-tahun berlalu, dan Putri Karang Melenu tumbuh dewasa. Di negeri Jaitan Layar, Aji Batara Agung Dewa Sakti juga telah tumbuh menjadi pemuda. Ia mulai memikirkan jodoh dan berharap menemukan seorang perempuan yang sepadan dengannya.

Aji kemudian mengutus dua punakawannya untuk mencari buah limau purut. Dalam perjalanan, ayam jago milik Aji terlepas dan berlari jauh hingga masuk ke pekarangan rumah di Kampung Melanti. Kedua punakawan itu mengejar ayam tersebut dan menemukan pohon limau yang mereka cari.

Di rumah itu, mereka bertemu Putri Karang Melenu. Sang putri menerima kedatangan mereka, tetapi meminta agar pertemuan tersebut tidak diceritakan kepada siapa pun. Ia juga tidak bersedia menyerahkan ayam jago Aji karena ayam itu telah berpasangan dengan ayam betina miliknya.

Kedua punakawan akhirnya pulang tanpa membawa ayam tersebut. Mereka menceritakan pertemuan mereka kepada Aji, termasuk kecantikan Putri Karang Melenu dan sikapnya yang tegas. Mendengar kisah itu, Aji semakin yakin bahwa perempuan tersebut mungkin merupakan jodoh yang selama ini dicarinya.

Aji berangkat menemui Putri Karang Melenu. Dalam pertemuan mereka, Putri tidak langsung menerima lamaran begitu saja. Ia meminta agar Aji pulang lebih dahulu dan menyuruh orang tuanya datang secara resmi untuk meminang dirinya kepada Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma.

Aji menyetujui permintaan itu. Utusan dari Jaitan Layar kemudian datang ke Kampung Melanti untuk menyampaikan lamaran, dan kedua keluarga mempersiapkan upacara pernikahan. Putri Karang Melenu akhirnya menikah dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang putra bernama Paduka Nira, yang dalam legenda menjadi bagian dari garis penerus kerajaan Kutai Kartanegara.

CATATAN REDAKSI

Putri Karang Melenu merupakan tokoh perempuan dalam legenda Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kisahnya dikenal melalui penuturan mengenai kemunculannya di Sungai Mahakam, hubungannya dengan Lembu Suana, dan pernikahannya dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti.

ASAL-USUL TOKOH

Dalam varian yang digunakan untuk naskah ini, Putri Karang Melenu pertama kali hadir melalui rangkaian peristiwa ajaib. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya, Babu Jaruma, menemukan seekor ular kecil di dalam kayu rumah mereka. Ular itu tumbuh menjadi naga, kemudian pergi ke Sungai Mahakam. Setelah badai dan kemunculan buih, pasangan tersebut menemukan bayi perempuan di dalam gong yang dijunjung naga dan Lembu Suana.

Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma kemudian membesarkan bayi itu sebagai anak mereka. Putri Karang Melenu tumbuh dewasa, bertemu dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti, lalu menikah dengannya. Dalam versi buku yang menjadi rujukan, pasangan tersebut dikaruniai seorang putra bernama Paduka Nira.

TOKOH-TOKOH PENTING

Putri Karang Melenu
Tokoh utama legenda ini, seorang perempuan yang kemunculannya dikaitkan dengan Sungai Mahakam dan Lembu Suana.

Petinggi Hulu Dusun
Pemimpin Kampung Melanti yang bersama istrinya menemukan dan membesarkan Putri Karang Melenu.

Babu Jaruma
Ibu angkat Putri Karang Melenu yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Lembu Suana
Makhluk ajaib dalam tradisi Kutai yang muncul dalam kisah Putri Karang Melenu dan membawanya menuju mahligai.

Aji Batara Agung Dewa Sakti
Tokoh yang kemudian menikahi Putri Karang Melenu dan dikaitkan dengan silsilah kerajaan Kutai Kartanegara.

KONTEKS DAN VARIAN

Naskah ini mengikuti alur dalam buku Aji Batara Agung dengan Putri Karang Melenu karya Wiwiek Dwi Astuti, diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2016. Dalam bagian pengantar, buku tersebut menjelaskan bahwa cerita ini merupakan gubahan untuk bacaan anak dari kisah yang lebih dahulu diterbitkan sebagai Lahirnya Aji Batara Agung (Dewa Sakti) pada 1976.

Ada pula dokumentasi dan kajian folklor yang menyebut nama Putri Karang Melenu bersama gelar Putri Junjung Buyah. Penuturan lain dapat berbeda dalam detail kemunculan sang putri, wujud awal makhluk yang dipelihara, dan urutan peristiwa. Naskah ini tidak mencampurkan seluruh variasi tersebut.

LEGENDA DAN FAKTA

Kisah naga, gong ajaib, Lembu Suana, serta bayi yang muncul dari buih Sungai Mahakam merupakan unsur legenda. Cerita ini disajikan sebagai warisan folklor masyarakat Kutai, bukan laporan sejarah faktual tentang kelahiran seorang tokoh kerajaan.

SUMBER RUJUKAN

1. Wiwiek Dwi Astuti. Aji Batara Agung dengan Putri Karang Melenu. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/229/

2. Yudianti Herawati. Aji Betara Agung Dewasakti: Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016.
https://repositori.kemendikdasmen.go.id/18943/

3. Yudianti Herawati. “Cerita Rakyat ‘Aji Batara Agung Dewa Sakti’ dan ‘Putri Karang Melenu’ dari Kutai Kartanegara (Kajian Motif Indeks Thompson).” Jentera: Jurnal Kajian Sastra.
https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jentera/article/view/928


Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →