Cerita

Ciung Wanara: Anak Terbuang yang Kembali ke Galuh

Dibuang sejak bayi, Ciung Wanara kembali ke Galuh untuk menemukan keluarga, hak, dan dirinya.

Oleh Ridwan

Bayi Ciung Wanara ditemukan dalam kandaga di tepian sungai.
Ilustrasi: Kandaga yang mengikuti arus membawa seorang bayi jauh dari kehidupannya. Dalam kisah Ciung Wanara, peristiwa itu menjadi awal perjalanan panjang menuju asal-usul dan Galuh.
Diterbitkan

Malam menyelimuti Galuh ketika tangis seorang bayi terdengar dari ruang tempat Pohaci Naganingrum melahirkan. Tangisan itu seharusnya membawa kebahagiaan, tetapi di lingkungan kerajaan yang dipenuhi kepentingan, kelahiran seorang anak dapat mengubah keseimbangan kekuasaan.

Dewi Pangrenyep mengetahui bahwa seorang putra dapat menjadi lebih dari sekadar anak bagi keluarga kerajaan. Ia dapat menjadi pewaris, harapan, sekaligus ancaman bagi siapa pun yang takut kehilangan tempat di dekat takhta.

Di tengah keadaan itulah sebuah rencana lahir. Bayi Naganingrum harus menghilang.

Naganingrum yang masih lemah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Ketika meminta melihat anaknya, jawaban yang datang justru membuat tubuhnya terasa kehilangan seluruh kekuatan.

“Anakku di mana?” tanya Naganingrum. Tidak seorang pun segera menjawab.

Naganingrum mencoba bangkit meski tubuhnya belum pulih. “Aku mendengar tangisnya.”

Seorang perempuan di dekatnya menundukkan wajah. “Nyi, beristirahatlah.”

“Aku ingin melihat anakku.”

Namun bayi itu tidak pernah diberikan kepadanya. Malam yang seharusnya menjadi malam pertama seorang ibu memeluk anaknya berubah menjadi awal kehilangan yang akan mengikuti hidup Naganingrum selama bertahun-tahun.

Kandaga yang Mengikuti Arus

Jauh dari pelukan ibunya, bayi tersebut ditempatkan dalam sebuah kandaga dan dibawa menuju sungai. Air mengalir gelap di bawah cahaya malam ketika wadah kecil itu akhirnya dilepaskan mengikuti arus.

Tidak ada bayi yang memahami mengapa manusia dewasa membuangnya. Ia hanya menangis ketika kandaga bergerak semakin jauh dari tempat kelahirannya.

Arus membawa kandaga melewati rumpun bambu dan pepohonan yang tumbuh di sepanjang tepian. Tangis bayi perlahan bercampur dengan gemericik air dan suara malam.

Pagi berikutnya, sepasang suami istri yang hidup jauh dari kemegahan istana menemukan sesuatu tersangkut di tepian sungai. Mereka mendekat setelah mendengar suara yang tidak mungkin berasal dari arus.

“Seperti suara bayi,” kata sang perempuan. Suaminya segera berjongkok dan membuka kandaga itu.

Di dalamnya terbaring seorang anak. Perempuan itu segera mengangkat bayi tersebut dan memeluknya.

Anak itu perlahan berhenti menangis seolah tubuh yang baru dikenalnya memberikan rasa aman yang selama semalam hilang. Mereka tidak mengetahui bahwa anak dalam pelukan mereka membawa sebuah rahasia dari Galuh.

Mereka hanya mengetahui seorang bayi membutuhkan rumah. Dan terkadang keluarga bermula bukan dari darah, melainkan dari seseorang yang memilih untuk tidak meninggalkan.

Anak yang Tidak Mengetahui Siapa Dirinya

Tahun-tahun berlalu dan bayi tersebut tumbuh menjadi seorang pemuda yang kemudian dikenal sebagai Ciung Wanara. Tubuhnya kuat dan pikirannya tajam, tetapi ada sebuah pertanyaan yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

“Siapa ayah dan ibuku?”

Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika ia mulai memahami bahwa dirinya ditemukan, bukan dilahirkan, dalam keluarga yang membesarkannya. Ada pula benda-benda yang ditemukan bersamanya ketika bayi, jejak kecil dari kehidupan yang sama sekali tidak dikenalnya.

Suatu malam ia duduk bersama perempuan yang selama ini dipanggilnya ibu. Api kecil menerangi wajah keduanya ketika Ciung Wanara akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.

“Ibu, apakah Ibu pernah takut aku akan menanyakan dari mana aku berasal?” tanyanya. Perempuan itu menghentikan pekerjaannya dan menjawab, “Setiap hari.”

Ciung Wanara tersenyum tipis. “Mengapa Ibu tidak pernah mengatakannya?”

“Karena Ibu takut setelah mengetahuinya, kau akan pergi.”

Ciung Wanara terdiam. Perempuan itu kemudian menceritakan tentang sungai, kandaga, dan seorang bayi yang ditemukan pada suatu pagi.

“Kalau aku menemukan ibu kandungku, apakah Ibu akan kehilangan seorang anak?” tanya Ciung Wanara. Mata perempuan itu mulai basah.

Ciung Wanara menggenggam tangannya. “Aku mungkin mempunyai dua ibu, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan orang yang mengangkatku dari sungai.”

Ayam dan Jalan Menuju Galuh

Dalam berbagai penuturan Ciung Wanara, ayam menjadi bagian penting dari perjalanan sang pemuda. Motif adu ayam pada akhirnya membawanya semakin dekat kepada lingkungan kerajaan dan rahasia asal-usulnya.

Ciung Wanara mempunyai ayam yang dirawatnya dengan baik. Ia mengenali gerakannya, mengetahui ketika hewan itu lelah, bahkan terkadang berbicara kepadanya seperti seorang sahabat.

“Kalau kau kalah, jangan malu,” katanya suatu pagi. Seorang temannya tertawa, “Kau bicara dengan ayam?”

Ciung Wanara mengangkat bahu. “Manusia juga sering tidak mendengarkan.”

Ayam itu kelak membawanya bertemu dengan orang-orang dari lingkungan Galuh. Dalam sebuah pertandingan, ayam Ciung Wanara berhasil mengalahkan lawannya hingga nama pemuda itu mulai diperbincangkan.

Namun Ciung Wanara belum mengetahui bahwa setiap langkah menuju pusat kerajaan juga membawanya semakin dekat kepada malam ketika dirinya dihanyutkan. Masa lalu yang selama ini terasa jauh sebenarnya sedang menunggunya.

Ilustrasi: Adu ayam menjadi titik balik perjalanan Ciung Wanara mendekati istana sekaligus membuka rahasia asal-usulnya.

Seorang Ibu yang Tidak Pernah Berhenti Menunggu

Di tempat lain, Naganingrum menjalani tahun-tahun dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Orang dapat kehilangan harta dan mencarinya kembali, tetapi kehilangan seorang anak meninggalkan ruang yang tidak mudah diisi oleh apa pun.

Setiap kali melihat pemuda seusia anak yang seharusnya tumbuh darinya, pertanyaan yang sama kembali memenuhi pikirannya. Ia membayangkan wajah seorang anak yang bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk dikenalnya.

Apakah anakku sebesar itu sekarang? Apakah ia masih hidup?

Apakah ada seseorang yang memberinya makan ketika lapar? Apakah ada tangan yang mengusap kepalanya ketika sakit?

Namun satu pertanyaan selalu terasa paling menyakitkan. Apakah anak itu mengetahui bahwa ibunya tidak pernah membuangnya?

Naganingrum tidak mengetahui bahwa jawaban dari semua pertanyaan tersebut sedang berjalan menuju Galuh. Anak yang selama bertahun-tahun hanya dapat ditemuinya dalam bayangan semakin dekat tanpa mengetahui seorang ibu sedang menunggunya.

Pemuda Asing di Halaman Kerajaan

Ciung Wanara akhirnya tiba di lingkungan Galuh dengan pakaian sederhana dan seekor ayam yang menarik perhatian. Tidak seorang pun membungkuk kepadanya karena tidak seorang pun mengetahui darah yang mengalir dalam tubuh pemuda tersebut.

Ciung Wanara justru menyukai keadaan itu. Orang memperlakukannya berdasarkan siapa yang mereka lihat, bukan berdasarkan gelar yang melekat pada namanya.

Beberapa orang mengejek asal-usulnya. “Anak siapa kau?” tanya seseorang.

“Anak ibuku,” jawab Ciung Wanara santai. Mereka tertawa.

“Siapa ayahmu?”

“Suami ibuku.”

Tawa terdengar semakin keras dan Ciung Wanara ikut tersenyum. Ia tidak merasa perlu menjelaskan sesuatu yang bahkan belum diketahuinya sendiri.

Namun ketika mulai memasuki lingkungan kerajaan, beberapa orang tua memandang wajahnya lebih lama daripada seharusnya. Tatapan mereka seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu.

Ketika Masa Lalu Membuka Pintu

Rahasia tidak selamanya dapat disimpan. Sedikit demi sedikit, benda yang menyertai Ciung Wanara ketika ditemukan, kisah kandaga, waktu kelahirannya, dan ingatan orang-orang lama mulai bertemu pada satu titik.

Pemuda yang datang dari luar kerajaan itu ternyata tidak sepenuhnya asing bagi Galuh. Ciung Wanara kemudian mendengar kisah mengenai seorang perempuan bernama Naganingrum dan seorang bayi yang hilang bertahun-tahun sebelumnya.

“Di mana perempuan itu?” tanyanya.

Ketika akhirnya Ciung Wanara berdiri di hadapan Naganingrum, keduanya tidak langsung berbicara. Naganingrum hanya menatap wajah pemuda yang selama bertahun-tahun hadir dalam bayangannya.

Tangannya bergetar. Ciung Wanara juga tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Naganingrum perlahan mendekat. “Boleh aku melihat tanganmu?”

Ciung Wanara mengulurkannya. Perempuan itu menggenggam tangan tersebut dengan kedua tangannya.

Air matanya jatuh. “Anakku.”

Satu kata itu membuat seluruh pertahanan Ciung Wanara runtuh.

Aku Tidak Pernah Membuangmu

Ciung Wanara mempunyai begitu banyak pertanyaan hingga tidak mengetahui mana yang harus diucapkan terlebih dahulu. Pada akhirnya hanya satu yang berhasil keluar.

“Mengapa aku dibuang?”

Naganingrum mengangkat wajah. “Aku tidak pernah membuangmu.”

Ciung Wanara terdiam. “Aku bahkan tidak diberi kesempatan memelukmu,” lanjut Naganingrum.

Naganingrum menceritakan malam kelahirannya, kebingungan yang terjadi, serta kehilangan yang kemudian menyertainya selama bertahun-tahun. Ciung Wanara mendengarkan tanpa bergerak.

Selama ini ia pernah membayangkan bahwa dirinya mungkin seorang anak yang tidak diinginkan. Ternyata ada seorang ibu yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya berharap ia kembali.

Ciung Wanara memeluk Naganingrum. Namun di tengah kebahagiaan menemukan ibunya, pencarian identitas mulai berubah menjadi pencarian keadilan.

Ilustrasi: Pertemuan Ciung Wanara dan Pohaci Naganingrum.

Ketika Kebenaran Melahirkan Kemarahan

Semakin banyak Ciung Wanara mengetahui masa lalu, semakin sulit dirinya mempertahankan ketenangan. Ia mulai memahami bahwa pembuangannya bukan sekadar kecelakaan, melainkan bagian dari konflik orang dewasa mengenai kedudukan dan kekuasaan.

“Aku kehilangan masa kecilku karena mereka,” katanya. Naganingrum memandang anaknya.

“Kau mendapatkan keluarga yang menyayangimu.”

“Tapi Ibu kehilangan aku.”

Ciung Wanara mengepalkan tangan. “Mereka harus membayar.”

Ibunya mendekat. “Berhati-hatilah dengan kalimat itu.”

“Bukankah Ibu marah?”

“Setiap hari.”

“Lalu mengapa Ibu tidak ingin membalas?”

Naganingrum menghela napas. “Karena aku sudah kehilangan bertahun-tahun hidupku. Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi karena kebencian.”

Ciung Wanara tidak menjawab. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa menemukan kebenaran tidak selalu membuat hati menjadi tenang.

Pertaruhan di Hadapan Raja

Adu ayam menjadi jalan yang dalam berbagai versi cerita mempertemukan Ciung Wanara dengan kekuasaan Galuh. Dalam pengembangan kisah ini, pertandingan tersebut menjadi lebih dari sekadar pertarungan dua ayam.

Ciung Wanara berdiri di hadapan penguasa. “Apa yang kau inginkan jika ayammu menang?”

Orang-orang menunggu pemuda itu meminta emas atau benda berharga. Ciung Wanara justru menunjuk wilayah kerajaan.

“Sebagian tanah Galuh.”

Beberapa orang tertawa. “Kau berani meminta tanah kerajaan?”

Ciung Wanara tersenyum. “Paduka boleh menolak.”

Pertaruhan akhirnya disepakati. Ayam dilepaskan dan suara orang-orang memenuhi arena.

Ketika pertandingan berakhir, kemenangan berada di pihaknya. Tawa orang-orang perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya, seorang pemuda yang datang tanpa gelar berdiri di tengah Galuh dengan sesuatu yang tidak dapat lagi dianggap remeh. Ia telah membuka jalan untuk menuntut hak yang selama ini tidak diketahuinya.

Saudara yang Berdiri di Sisi Berlawanan

Namun persoalan Galuh tidak berhenti pada Ciung Wanara. Ada Hariang Banga yang tumbuh di sisi kehidupan berbeda dan mempunyai hubungan sendiri dengan istana serta kekuasaan.

Ketika kebenaran mengenai Ciung Wanara muncul, dua pemuda yang seharusnya dapat mengenali ikatan persaudaraan justru berdiri pada dua sisi konflik. Kesalahan generasi sebelumnya perlahan menjadi beban generasi mereka.

“Kau datang dan mengambil semuanya,” kata Hariang Banga.

Ciung Wanara menatapnya. “Aku datang mencari sesuatu yang dahulu diambil dariku.”

“Bagiku tidak ada bedanya.”

“Ada. Aku tidak memilih dibuang.”

Hariang Banga mengepalkan tangan. “Dan aku tidak memilih dilahirkan di tengah kesalahan orang tua kita.”

Kalimat itu menghentikan Ciung Wanara. Untuk sesaat ia melihat sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya.

Hariang Banga juga seorang anak dari masa lalu yang dibuat oleh orang lain. Mereka berdua mewarisi pertengkaran sebelum cukup dewasa untuk memahami penyebabnya.

Pertarungan Dua Saudara

Pemahaman ternyata tidak selalu cukup untuk menghentikan kemarahan. Perselisihan akhirnya berubah menjadi pertarungan antara dua saudara yang sama-sama merasa mempunyai sesuatu untuk dipertahankan.

Mereka saling menyerang seolah luka keluarga dapat diselesaikan dengan menentukan siapa yang paling kuat. Setiap benturan justru memperlihatkan betapa jauh persoalan generasi sebelumnya telah merusak generasi berikutnya.

Ciung Wanara akhirnya memperoleh kesempatan menjatuhkan Hariang Banga. Tangannya terangkat ketika wajah ibunya tiba-tiba muncul dalam ingatannya.

“Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi karena kebencian.”

Tangannya berhenti. Hariang Banga menatapnya.

“Mengapa berhenti?”

Ciung Wanara bernapas berat. “Karena aku baru sadar.”

“Apa?”

“Kita sedang menyelesaikan kesalahan orang lain dengan menciptakan kesalahan kita sendiri.”

Hariang Banga tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, keduanya berdiri bukan hanya sebagai lawan.

Mereka adalah dua anak yang terlalu lama membawa beban orang tua. Jika salah satu tidak berhenti, luka itu mungkin akan diwariskan lagi kepada generasi setelah mereka.

Sungai yang Menjadi Batas

Dalam tradisi cerita Ciung Wanara, konflik antara Ciung Wanara dan Hariang Banga kemudian berkaitan dengan pemisahan wilayah serta sungai yang menjadi batas. Motif tersebut berkembang dalam penuturan sebagai bagian dari penjelasan simbolis mengenai wilayah dan hubungan keduanya.

Ciung Wanara berdiri di tepian air setelah pertarungan berhenti. Hariang Banga berada tidak jauh darinya.

“Kita tidak akan pernah sepakat tentang semuanya,” kata Hariang Banga.

“Mungkin.”

“Lalu apa yang kita lakukan?”

Ciung Wanara memandang sungai. “Kita berhenti.”

Hariang Banga tertawa pahit. “Sesederhana itu?”

“Tidak. Berhenti justru lebih sulit daripada terus membalas.”

Keduanya memandang aliran air yang bergerak tanpa memedulikan persoalan manusia. Sungai dapat menjadi batas, tetapi batas tidak harus selalu menjadi alasan untuk bermusuhan.

Ilustrasi: Ciung Wanara dan Hariang Banga setelah pertikaian berakhir.

Takhta yang Akhirnya Kembali

Ciung Wanara akhirnya memperoleh kedudukan yang dahulu dirampas dari perjalanan hidupnya. Orang-orang mulai menyebutnya dengan penghormatan yang tidak pernah diterimanya ketika pertama kali datang ke Galuh.

Namun malam setelah kemenangan itu, Ciung Wanara tidak dapat tidur. Ia keluar dan duduk sendirian hingga Naganingrum menemukannya.

“Sekarang kau mempunyai apa yang dahulu diambil darimu,” kata ibunya. Ciung Wanara mengangguk.

“Mengapa wajahmu tidak terlihat bahagia?”

Ciung Wanara memandang Naganingrum. “Karena ternyata mendapatkan kembali sesuatu tidak membuat tahun-tahun yang hilang kembali.”

“Apakah Ibu menyesal aku tidak membalas semuanya?”

Naganingrum menggeleng. “Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena orang yang mengambilmu dariku dahulu menggunakan kekuasaan untuk menyakiti. Kalau kau menggunakan kekuasaan dengan cara yang sama, apa bedanya?”

Ciung Wanara menatap kegelapan. Malam itu ia memahami bahwa takhta bukan akhir perjalanannya, melainkan ujian berikutnya.

Dua Ibu dalam Kehidupan Ciung Wanara

Ketika keadaan mulai tenang, Ciung Wanara kembali menemui perempuan yang membesarkannya. Ia tidak datang dengan kemegahan kerajaan, melainkan seperti anak yang dahulu pergi mencari asal-usulnya.

Perempuan itu berdiri di depan rumah ketika melihatnya. Pakaian Ciung Wanara kini berbeda dan cara orang-orang memanggilnya juga telah berubah.

Perempuan itu membungkuk. Ciung Wanara segera menahannya.

“Jangan.”

“Tapi sekarang kau—”

“Aku tetap anak Ibu.”

Perempuan itu mulai menangis. Ciung Wanara memeluknya.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dapat dijelaskan oleh darah kebangsawanan. Naganingrum adalah perempuan yang melahirkannya dan tidak pernah berhenti menunggu.

Sementara perempuan dalam pelukannya adalah orang yang menemukannya ketika dunia membuangnya dan memilih membesarkannya. Keduanya adalah ibunya.

Tidak ada mahkota yang dapat mengubah hal tersebut.

Kemenangan yang Lebih Sulit

Banyak orang mungkin mengingat Ciung Wanara melalui ayam, kerajaan, pertarungan, dan perebutan kekuasaan. Namun di balik semuanya terdapat perjalanan seorang anak yang harus hidup dengan akibat keputusan orang-orang dewasa.

Ia tidak memilih dihanyutkan. Hariang Banga juga tidak memilih mewarisi konflik.

Naganingrum tidak memilih kehilangan anaknya. Tetapi ketika waktu akhirnya memberikan kekuasaan kepada Ciung Wanara, ia memperoleh pilihan yang dahulu tidak dimiliki orang-orang sebelum dirinya.

Apakah luka harus diwariskan?

Ciung Wanara dapat membalas. Ia dapat menggunakan kekuasaan untuk membuat orang lain merasakan penderitaan yang pernah dialaminya.

Namun pembalasan tidak akan mengembalikan masa kecilnya. Pembalasan juga tidak dapat menghapus air mata ibunya.

Keadilan membutuhkan keberanian untuk menghadapi kesalahan. Menghentikan dendam membutuhkan keberanian yang berbeda.

Ciung Wanara dan Warisan Sebuah Cerita

Ciung Wanara hidup dalam khazanah carita pantun dan tradisi tutur Sunda yang telah mengalami perjalanan panjang. Kisahnya diwariskan melalui penuturan dan kemudian hadir pula dalam berbagai bentuk tulisan serta pengolahan kembali, sehingga rincian tokoh dan rangkaian peristiwanya tidak selalu seragam.

Salah satu jejak dokumentasinya berasal dari penuturan juru pantun Ki Subarma dari Ciwidey yang kemudian diterbitkan dalam lingkungan Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda. Jejak semacam ini penting untuk memahami bahwa Ciung Wanara merupakan bagian dari perjalanan sastra dan ingatan budaya Sunda yang terus mengalami penceritaan kembali.

Karena itulah, kisah Ciung Wanara tidak harus dibaca hanya sebagai cerita tentang siapa yang memenangkan kekuasaan. Di balik perebutan hak terdapat persoalan mengenai keluarga, identitas, kasih orang tua, persaudaraan, dan akibat ketika luka satu generasi diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ciung Wanara menemukan darah yang menghubungkannya dengan Galuh. Namun darah bukan satu-satunya hal yang membentuk dirinya.

Kasih orang-orang yang menemukannya di tepian sungai ikut menentukan manusia seperti apa yang akhirnya kembali ke Galuh. Perjalanan itu membuat arti keluarga menjadi jauh lebih luas daripada garis keturunan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar cerita ini bukan sekadar siapa yang berhak memperoleh takhta. Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan seseorang ketika kekuasaan akhirnya berada di tangannya.

Ciung Wanara memperoleh kembali hak yang selama ini tidak diketahuinya. Namun kemenangan yang lebih sulit terjadi ketika ia tidak membiarkan luka lama menentukan seluruh tindakannya.

 

CATATAN REDAKSI

Ciung Wanara hidup dalam khazanah carita pantun dan tradisi tutur Sunda yang diwariskan lintas generasi. Seperti banyak cerita yang bertahan melalui penuturan, kisah ini berkembang dalam sejumlah versi; nama tokoh, hubungan keluarga, urutan kejadian, hingga detail mengenai Galuh dapat berbeda menurut sumber, naskah, saduran, maupun tradisi penceritaan yang digunakan. Karena itu, keberadaan nama kerajaan, tokoh, tempat, atau kemiripan dengan keterangan dalam sumber lama tidak serta-merta membuat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita dapat diperlakukan sebagai catatan sejarah literal.

EMMANUS mengolah kisah ini sebagai fiksi edukasi yang berpijak pada cerita Ciung Wanara, dengan tetap mempertahankan motif-motif penting yang dikenal dalam tradisinya. Sejumlah dialog, pertemuan, pergulatan batin, hubungan emosional, dan adegan dalam versi ini dikembangkan untuk kebutuhan penceritaan, terutama untuk mendalami pengalaman seorang anak yang kehilangan asal-usul, kerinduan seorang ibu, konflik antarsaudara, serta akibat perebutan kekuasaan terhadap generasi berikutnya.

Pengembangan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan versi yang hidup di tengah masyarakat Sunda maupun menetapkan satu tafsir sebagai yang paling benar. EMMANUS menempatkan Ciung Wanara sebagai bagian dari warisan cerita dan ingatan budaya yang dapat terus dibaca, dituturkan, dan dipelajari, sembari membedakan unsur tradisi tutur, pengembangan sastra, dan keterangan sejarah yang memang dapat diverifikasi.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait