Danau Maninjau berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat menjadi danau terluas kesebelas di Indonesia. Dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi, Danau Maninjau menawarkan pemandangan alam dan ketenangan yang memukau.
Menurut sejarahnya, danau ini terbentuk akibat erupsi vulkanik dari Gunung Sitinjau. Namun ada juga legenda mengenai asal-usul Danau Maninjau yang berkembang di masyarakat. Legenda itu dikenal sebagai ‘Bujang Sembilan’, yang menceritakan kisah 10 bersaudara kakak beradik yang terdiri dari 9 orang bujang dan seorang gadis.
Bujang Sembilan
Konon, pada zaman dahulu di kaki Gunung Tinjau terdapat sebuah desa yang memiliki tanah subur. Di desa ini hidup sepuluh orang bersaudara yang sudah yatim piatu. Mereka memiliki seorang paman yang bernama Datuk Limbatang.
Paman mereka juga memiliki seorang anak bernama Giran. Ketika mengunjungi rumah Bujang Sembilan, Giran seringkali diajak Datuk Sembilan. Dari situlah, seiring berjalannya waktu, Giran jatuh hati terhadap adik bungsu Bujang Sembilan, yakni Sani.
Dengan kepribadian Giran yang baik hati, ternyata Sani juga merasakan hal yang sama. Akhirnya mereka saling jatuh cinta tanpa diketahui orang lain, termasuk Bujang Sembilan.
Dendam Kukuban
Suatu hari terdapat sebuah pertandingan silat di desa. Pertandingan silat ini diikuti semua pemuda desa, termasuk Giran dan Bujang Sembilan. Semua pemuda yang ada di desa saling bertarung dan mengalahkan lawannya masing-masing.
Sampai pada pertandingan final yang ternyata mempertemukan Giran dengan Kukuban, salah seorang dari Bujang Sembilan. Pada pertandingan tersebut, Giran dengan mudah mengalahkan Kukuban. Kekalahan ini membuat Kukuban merasa malu hingga dia menaruh dendam kepada Giran. Dendam itu ternyata bebgitu mendalam.
Setelah sekian lama memadu kasih, Giran datang ke rumah Bujang Sembilan dan bermaksud melamar Sani. Kukuban yang masih menyimpan dendam dengan lantang menolak lamaran Giran.
Melompat ke Kawah
Penolakan ini tentu saja membuat Giran dan Sani menjadi sedih. Kedua pasangan ini kemudian mencari cara agar pernikahan mereka bisa direstui. Keesokan harinya, Giran mengajak Sani ke sebuah tempat. Tujuannya untuk mendiskusikan masalah yang tengah dihadapi.
Ketika tengah berdiskusi, masyarakat desa melihat mereka. Tanpa mengetahui alasannya, masyarakat justru melihat hal tersebut secara negatif. Mereka menganggap Giran dan Sani hendak melakukan tindakan yang melanggar adat istiadat.
Akhirnya kedua sejoli ini diarak ke tepian kawah Gunung Tinjau. Warga menuntut Giran dan Sani dihukum karena dianggap melanggar moral. Melihat hal itu, keduanya tidak bisa berbuat banyak.
Kemudian Giran berdoa kepada Yang Maha Kuasa dan meminta kebenaran atas perbuatan mereka. Dia berkata, jika mereka memang melakukan kesalahan, maka kawah panas yang ada di Gunung Tinjau akan menghancurkan tubuh mereka berdua.
Sebaliknya jika mereka tidak melakukan kesalahan, maka Gunung Tinjau akan meletus. Selepas itu, Giran dan Sani melompat ke dalam kawah. Tidak lama kemudian tanah di sekitar kawah berguncang hebat dan Gunung Tinjau letusan dengan dahsyat.
Bekas letusan Gunung Tinjau ini memunculkan kawah yang berubah menjadi danau yang sangat besar. Danau bekas letusan Gunung Tinjau inilah yang kemudian diyakini sebagai asal usul Danau Maninjau yang dikenal hingga sekarang. (Dari berbagai sumber)