Pariwisata

Asal Usul Kulon Progo, Sempat Menjadi Bagian Kesultanan

Menelusuri sejarah nama dan asal usul Kulon Progo adalah hal yang menarik untuk dibahas. Sebagai salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kulon Progo memiliki posisi strategis yang berbatasan dengan beberapa daerah lain. Di timur, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, sementara di selatan menghadap langsung ke Samudera Hindia. Di sisi […]

Oleh Achmad Aristyan

Asal Usul Kulon Progo, Sempat Menjadi Bagian Kesultanan
Monumen Nyi Ageng Serang yang ada di Kulon Progo. Foto: dpad.jogjaprov.go.id
Diterbitkan

Menelusuri sejarah nama dan asal usul Kulon Progo adalah hal yang menarik untuk dibahas. Sebagai salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kulon Progo memiliki posisi strategis yang berbatasan dengan beberapa daerah lain.

Di timur, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, sementara di selatan menghadap langsung ke Samudera Hindia. Di sisi barat, Kulon Progo berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, dan di utara terdapat Kabupaten Magelang.

Sebelum resmi dibentuk pada 15 Oktober 1951, wilayah Kulon Progo terbagi menjadi dua kabupaten yang berbeda. Pertama adalah Kabupaten Kulon Progo yang merupakan bagian dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan kedua adalah Kabupaten Adikarta yang termasuk dalam wilayah Kadipaten Pakualaman.

Wilayah Kasultanan 

Laman Pemkab Kulon Progo menyebut, sebelum terjadinya Perang Diponegoro (1825-1830), daerah ini tidak memiliki pejabat pemerintahan yang secara resmi menguasai wilayah.

Saat itu, pemerintahan dipegang pepatih dalem yang berada di Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, setelah perang, muncul perubahan yang signifikan dengan dibentuknya empat kabupaten, masing-masing dipimpin seorang tumenggung. Kabupaten itu adalah Kabupaten Pengasih (1831), Kabupaten Sentolo (1831), Kabupaten Nanggulan (1851), dan Kabupaten Kalibawang (1855).

Selanjutnya, keempat kabupaten ini digabung menjadi satu pada tahun 1912 dan dinamai Kabupaten Kulon Progo, dengan ibu kota di Pengasih dan bupati pertama yang menjabat adalah Raden Tumenggung Poerbowinoto.

Wilayah Kadipaten Pakualaman

Di bagian selatan, terdapat wilayah yang dikenal sebagai Kabupaten Adikarto, merupakan bagian dari Keprajan Kejawen. Dalam catatan ‘Vorstenlanden’, sekitar tahun 1813, Pangeran Notokusumo, yang diangkat menjadi KGPA Ario Paku Alam I, mendapatkan palungguh di sebelah barat Sungai Progo.

Mengingat letak tanah pelungguh yang tersebar, Kyai Kawirejo I mengusulkan menyatukan daerah yang melahirkan Kabupaten Karang Kemuning. Di bawah pemerintahan bupati kedua, R. Rio Wasadirdjo, Paku Alam V memerintahkan pengeringan rawa-rawa di Kabupaten Karang Kemuning, yang kemudian dialihfungsikan menjadi lahan pertanian subur.  Sejak itu, nama Kabupaten Karang Kemuning diubah menjadi Kabupaten Adikarto oleh Sri Paduka Paku Alam V.

Baca Juga: Menggali Makna Sumbu Kosmologis Yogyakarta

Pada 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII menyepakati bahwa kedua daerah, baik Kasultanan maupun Pakualaman, merupakan wilayah yang berstatus istimewa dalam Negara Republik Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, mereka mulai mempertimbangkan penggabungan Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Adikarta. Kesepakatan itu melahirkan UU No. 18 tahun 1951 yang ditetapkan pada 12 Oktober 1951 dan diundangkan pada 15 Oktober 1951. Kesepakan mengatur penggabungan kedua kabupaten tersebut dalam lingkungan DIY menjadi satu kabupaten yang bernama Kulon Progo. Tanggal 15 Oktober ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo.

Asal Usul Nama Kulon Progo

Terkait asal usul nama Kulon Progo, ada satu penjelasan yang cukup populer di kalangan masyarakat. Dalam bahasa Jawa, ‘Kulon Progo’ berarti ‘barat Progo’, di mana ‘kulon’ berarti ‘barat’ dalam bahasa Indonesia. ‘Progo’ merujuk pada Sungai Progo yang membatasi wilayah ini di bagian timurnya. Hal ini menjelaskan mengapa daerah ini dikenal sebagai Kulon Progo. (Sumber: dpad.jogjaprov.go.id)

TopikPariwisata
Pariwisata31 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan