Di balik hiruk-pikuk pedesaan Kaliwiro, sebuah pasar tradisional masih bertahan sebagai pusat perdagangan yang ramai dan khas.
Pasar Tradisional Panggotan, yang berlokasi di Panggotan, Kemokos, Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jaw bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Pasar ini juga dikenal dengan nama Pasar Hewan dan Buah Kaliwiro.
Setiap lima hari sekali, tepatnya pada hari pasaran Pahing, pasar ini menjadi magnet bagi pedagang dan pembeli dari berbagai daerah.
Dari pisang-pisang segar yang dikirim hingga ke Semarang dan Yogyakarta, hingga kambing Jawarandu yang diperdagangkan oleh peternak lokal, semuanya membentuk denyut ekonomi Kaliwiro yang terus berputar.
Sejarah dan Perkembangan Pasar Buah Panggotan
Lurah Kaliwiro, Supriyadi, S.E., mengisahkan bahwa pasar buah di Kaliwiro pada awalnya berlokasi di Kantor Desa Kaliwiro sebelum berubah menjadi kelurahan
“Dulu, pasar buah ini berada di Kantor Desa Kaliwiro, tetapi setelah desa ini menjadi kelurahan, kantor desa dipindahkan ke sini, sementara pasar buahnya dipindahkan ke Panggotan,” ungkapnya.
Baca Juga: Batik Carica Lestari, Pionir Batik Wonosobo dengan Motif Khas Lokal
Menurutnya, pasar buah Panggotan telah beroperasi selama lebih dari 26 tahun, sejak awal tahun 2000.
Pasar ini dikenal sebagai pusat penjualan hasil bumi seperti pisang, petai, kelapa, jahe, dan rempah-rempah lainnya.
“Buah-buahan hasil panen dari Kaliwiro, Wadaslintang semuanya dikumpulkan di sini. Pembelinya pun banyak dari luar daerah, seperti Solo dan Semarang,” tambahnya.
Uniknya, pasar ini tidak buka setiap hari, melainkan hanya pada hari pasaran Pahing dalam kalender Jawa.
“Dari dulu memang tidak ada pasar harian di sini, jadi mengikuti sistem pasaran Jawa yang berputar setiap lima hari sekali,” jelas Supriyadi.
Para pedagang mulai berdatangan sejak sore sebelum hari pasaran, membawa hasil bumi mereka.
“Biasanya, mulai sore para pembeli dari luar kota sudah berdatangan, dan aktivitas jual beli berlangsung hingga sekitar jam 11 siang pada hari Pahing,” lanjutnya.
Salah satu komoditas utama di pasar ini adalah pisang, yang setiap harinya bisa mencapai enam truk besar yang dikirim ke berbagai daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, dan Solo.
Jenis pisang yang paling banyak dijual antara lain pisang kepok, pisang nangka, dan pisang ambon. Harga pisang pun bervariasi tergantung ukuran dan kualitasnya.
“Saat ini, harga pisang kepok berkisar Rp40.000 hingga Rp80.000 per tandan, sementara pisang ambon bisa mencapai Rp150.000. Namun, harga kelapa sedang naik hingga Rp8.000 per biji karena stok panen menurun,” jelas Supriyadi.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap fasilitas pasar agar lebih nyaman bagi pedagang dan pembeli.
“Kalau hujan, kondisi pasar becek. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan infrastruktur supaya aktivitas jual beli lebih lancar,” harapnya.

Pasar Hewan Kaliwiro: Tempat Jual Beli Kambing dan Ayam
Selain pasar buah, di lokasi yang sama juga terdapat pasar hewan yang beroperasi pada hari pasaran Pahing.
Menurut Supriyadi, pasar ini khusus untuk jual beli kambing dan ayam, sementara sapi jarang diperjualbelikan di sini.
“Pasar hewan ini biasanya lebih lama beroperasi, bisa sampai jam 12 atau jam 1 siang,” katanya.
Seorang pedagang kambing, Muslim, mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama berdagang di pasar hewan Kaliwiro.
“Saya dari Trimulyo, Gawaran. Pasar ini buka setiap Pahing. Kalau hitungan Jawa, kita pakai pasaran, bukan hari biasa,” ujarnya.
Baca Juga: TPS 3R Talunombo Sukses Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pedagang kambing di sini berasal dari wilayah lokal, khususnya Kaliwiro.
“Hampir semua pedagang dan pembeli berasal dari sekitar Kaliwiro,” katanya.
Jenis kambing yang paling banyak dijual adalah Jawarandu dan Jawa Komploh.
“Harganya bervariasi tergantung spek dan kualitasnya. Kisaran harga kambing biasanya Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung ukuran dan kondisi kambingnya,” jelas Muslim.
Muslim juga menyampaikan harapannya agar pasar hewan tetap berkembang tanpa banyak persaingan dari kambing luar daerah.
“Kalau bisa, jangan terlalu banyak kambing dari luar masuk, biar pasarnya tetap ramai dan harga stabil,” katanya.

Harapan Pedagang di Pasar Panggotan
Selain pedagang buah dan ternak, ada juga pedagang hasil bumi lainnya, seperti kelapa dan rempah-rempah.
Seorang pedagang dari Ngadirejo mengatakan bahwa dirinya rutin membawa dagangan ke Pasar Panggotan sejak pagi buta.
“Saya berangkat dari rumah sekitar jam 3.30 pagi dan tiba di pasar jam 4 pagi,” ujarnya.
Menurutnya, harga yang stabil sangat penting bagi pedagang.
“Kalau naik turun terus, kasihan pedagang di sini. Harapan kami, pasar ini tetap ramai dan banyak pembeli dari luar daerah,” tuturnya.
Baca Juga: SMP Negeri 3 Wonosobo: Lestarikan Budaya, Cetak Atlet Pencak Silat
Pasar Tradisional Panggotan memang menjadi pusat perdagangan yang penting bagi warga Kaliwiro dan sekitarnya.
Dengan aktivitas yang sudah berjalan selama lebih dari dua dekade, para pedagang berharap pasar ini terus berkembang dengan fasilitas yang lebih baik, sehingga perdagangan hasil bumi dan ternak di Wonosobo bisa semakin maju.