Tradisi

Denyut Ekonomi di Pasar Panggotan Kaliwiro pada Pasaran Pahing

Di balik hiruk-pikuk pedesaan Kaliwiro, sebuah pasar tradisional masih bertahan sebagai pusat perdagangan yang ramai dan khas. Pasar Tradisional Panggotan, yang berlokasi di Panggotan, Kemokos, Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jaw bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat. Pasar ini juga dikenal dengan nama Pasar Hewan dan Buah Kaliwiro. Setiap […]

Oleh Achmad Aristyan

Denyut Ekonomi di Pasar Panggotan Kaliwiro pada Pasaran Pahing
Pintu masuk menuju Pasar Tradisional Panggotan. Foto: Aristyan
Diterbitkan

Di balik hiruk-pikuk pedesaan Kaliwiro, sebuah pasar tradisional masih bertahan sebagai pusat perdagangan yang ramai dan khas.

Pasar Tradisional Panggotan, yang berlokasi di Panggotan, Kemokos, Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jaw bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Pasar ini juga dikenal dengan nama Pasar Hewan dan Buah Kaliwiro.

Setiap lima hari sekali, tepatnya pada hari pasaran Pahing, pasar ini menjadi magnet bagi pedagang dan pembeli dari berbagai daerah.

Dari pisang-pisang segar yang dikirim hingga ke Semarang dan Yogyakarta, hingga kambing Jawarandu yang diperdagangkan oleh peternak lokal, semuanya membentuk denyut ekonomi Kaliwiro yang terus berputar.

Sejarah dan Perkembangan Pasar Buah Panggotan

Lurah Kaliwiro, Supriyadi, S.E., mengisahkan bahwa pasar buah di Kaliwiro pada awalnya berlokasi di Kantor Desa Kaliwiro sebelum berubah menjadi kelurahan

“Dulu, pasar buah ini berada di Kantor Desa Kaliwiro, tetapi setelah desa ini menjadi kelurahan, kantor desa dipindahkan ke sini, sementara pasar buahnya dipindahkan ke Panggotan,” ungkapnya.

Baca Juga: Batik Carica Lestari, Pionir Batik Wonosobo dengan Motif Khas Lokal

Menurutnya, pasar buah Panggotan telah beroperasi selama lebih dari 26 tahun, sejak awal tahun 2000.

Pasar ini dikenal sebagai pusat penjualan hasil bumi seperti pisang, petai, kelapa, jahe, dan rempah-rempah lainnya.

“Buah-buahan hasil panen dari Kaliwiro, Wadaslintang semuanya dikumpulkan di sini. Pembelinya pun banyak dari luar daerah, seperti Solo dan Semarang,” tambahnya.

Uniknya, pasar ini tidak buka setiap hari, melainkan hanya pada hari pasaran Pahing dalam kalender Jawa.

“Dari dulu memang tidak ada pasar harian di sini, jadi mengikuti sistem pasaran Jawa yang berputar setiap lima hari sekali,” jelas Supriyadi.

Para pedagang mulai berdatangan sejak sore sebelum hari pasaran, membawa hasil bumi mereka.

“Biasanya, mulai sore para pembeli dari luar kota sudah berdatangan, dan aktivitas jual beli berlangsung hingga sekitar jam 11 siang pada hari Pahing,” lanjutnya.

Salah satu komoditas utama di pasar ini adalah pisang, yang setiap harinya bisa mencapai enam truk besar yang dikirim ke berbagai daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, dan Solo.

Jenis pisang yang paling banyak dijual antara lain pisang kepok, pisang nangka, dan pisang ambon. Harga pisang pun bervariasi tergantung ukuran dan kualitasnya.

“Saat ini, harga pisang kepok berkisar Rp40.000 hingga Rp80.000 per tandan, sementara pisang ambon bisa mencapai Rp150.000. Namun, harga kelapa sedang naik hingga Rp8.000 per biji karena stok panen menurun,” jelas Supriyadi.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap fasilitas pasar agar lebih nyaman bagi pedagang dan pembeli.

“Kalau hujan, kondisi pasar becek. Mudah-mudahan ke depan ada perbaikan infrastruktur supaya aktivitas jual beli lebih lancar,” harapnya.

Hasil bumi seperti pisang dan kelapa banyak dijual di Pasar Tradisional Panggotan. Foto: Aristyan

Pasar Hewan Kaliwiro: Tempat Jual Beli Kambing dan Ayam

Selain pasar buah, di lokasi yang sama juga terdapat pasar hewan yang beroperasi pada hari pasaran Pahing.

Menurut Supriyadi, pasar ini khusus untuk jual beli kambing dan ayam, sementara sapi jarang diperjualbelikan di sini.

“Pasar hewan ini biasanya lebih lama beroperasi, bisa sampai jam 12 atau jam 1 siang,” katanya.

Seorang pedagang kambing, Muslim, mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama berdagang di pasar hewan Kaliwiro.

“Saya dari Trimulyo, Gawaran. Pasar ini buka setiap Pahing. Kalau hitungan Jawa, kita pakai pasaran, bukan hari biasa,” ujarnya.

Baca Juga: TPS 3R Talunombo Sukses Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pedagang kambing di sini berasal dari wilayah lokal, khususnya Kaliwiro.

“Hampir semua pedagang dan pembeli berasal dari sekitar Kaliwiro,” katanya.

Jenis kambing yang paling banyak dijual adalah Jawarandu dan Jawa Komploh.

“Harganya bervariasi tergantung spek dan kualitasnya. Kisaran harga kambing biasanya Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung ukuran dan kondisi kambingnya,” jelas Muslim.

Muslim juga menyampaikan harapannya agar pasar hewan tetap berkembang tanpa banyak persaingan dari kambing luar daerah.

“Kalau bisa, jangan terlalu banyak kambing dari luar masuk, biar pasarnya tetap ramai dan harga stabil,” katanya.

Selain hasil bumi, kambing juga menjadi komoditas yang diperdagangkan di Pasar Tradisional Panggotan. Foto: Aristyan

Harapan Pedagang di Pasar Panggotan

Selain pedagang buah dan ternak, ada juga pedagang hasil bumi lainnya, seperti kelapa dan rempah-rempah.

Seorang pedagang dari Ngadirejo mengatakan bahwa dirinya rutin membawa dagangan ke Pasar Panggotan sejak pagi buta.

“Saya berangkat dari rumah sekitar jam 3.30 pagi dan tiba di pasar jam 4 pagi,” ujarnya.

Menurutnya, harga yang stabil sangat penting bagi pedagang.

“Kalau naik turun terus, kasihan pedagang di sini. Harapan kami, pasar ini tetap ramai dan banyak pembeli dari luar daerah,” tuturnya.

Baca Juga: SMP Negeri 3 Wonosobo: Lestarikan Budaya, Cetak Atlet Pencak Silat

Pasar Tradisional Panggotan memang menjadi pusat perdagangan yang penting bagi warga Kaliwiro dan sekitarnya.

Dengan aktivitas yang sudah berjalan selama lebih dari dua dekade, para pedagang berharap pasar ini terus berkembang dengan fasilitas yang lebih baik, sehingga perdagangan hasil bumi dan ternak di Wonosobo bisa semakin maju.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan