Media dakwah bisa beragam bentuknya, salah satunya seperti melalui Gambus Lunik, sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Lampung.
Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik dan bentuknya menyerupai anak buaya
Asal-Usul Gambus Lunik
Alat musik ini disebut juga “Anak Buha” atau “Gambus Anak Buaya” karena bentuknya menyerupai anak buaya. Menurut legenda setempat, alat musik ini berkaitan dengan kisah seorang gadis yang meninggal di sungai akibat dimangsa buaya.
Hal ini tercermin dalam penamaan bagian-bagian Gambus Lunik yang menyerupai organ tubuh buaya. Bagian alat musik ini seperti Hulu (kepala), Cuping (telinga), Galah (leher), Betong (perut atau badan), dan Puntut (ekor).
Di balik legendanya, Gambus Lunik juga memiliki akar sejarah yang panjang.
Menurut Edi Pulampas, seorang seniman Lampung, Gambus Lunik diperkirakan diperoleh dari pengaruh bangsa Arab, melalui Kerajaan Banten sekitar abad ke-16, bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Lampung.
Pada masa itu, alat musik gambus digunakan para penyebar agama Islam sebagai sarana dakwah. Awalnya alat musik ini berukuran lebih besar dibandingkan Gambus Lunik yang ada saat ini.
Pertunjukan Gambus Lurik
Gambus versi awal berukuran besar dan tidak memiliki membran.
Masyarakat adat Saibatin di Lampung kemudian mengadaptasi alat musik ini dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk fisiknya menyerupai setengah semangka dengan leher yang lebih kecil.
Alat musik khas Lampung ini dibuat dari kayu Lemasa atau kayu Nangka. Kayu ini dipercaya dapat menghasilkan suara yang merdu serta memiliki daya tahan yang baik. Materialnya kemudian mengalami perubahan.
Dulunya dawai dibuat dari serat nanas atau benang, kini lebih umum menggunakan kawat atau nilon. Tujuannya agar lebih tahan lama dan menghasilkan suara yang lebih stabil. Saat dimainkan, Gambus Lunik menghasilkan nada-nada indah.
Gambus Lunik dimainkan dengan cara dipetik, mirip dengan gitar.
Alat musik ini menghasilkan bunyi kordofon dari dawai. Suaranya sangat khas dan dapat dikombinasikan dengan instrumen lain seperti gendang untuk menciptakan harmoni yang indah.
Peran Gambus Lunik
Gambus Lunik sering digunakan mengiringi lagu-lagu tradisional seperti Penayuhan, Salimpat, dan Humbak Moloh. Seiring perkembangannya, Gambus Lunik berfungsi sebagai alat musik hiburan.
Disamping itu juga digunakan sebagai media komunikasi, khususnya di kalangan anak muda-mudi, serta dalam upacara adat dan ritual. Selain itu, Gambus Lunik juga bagian seni dakwah Islam dan pertunjukan Gawi Adat di Lampung.
Gambus juga digunakan dalam pertunjukan musik zapin dan ghazal, serta berfungsi sebagai media pengenalan nilai-nilai budaya Islam. Sebagai salah satu alat musik tradisional, Gambus Lunik menjadi bagian dari identitas budaya Lampung.