Budaya

Gambus Lunik Lampung, Media Dakwah dan Identitas Budaya

Media dakwah bisa beragam bentuknya, salah satunya seperti melalui Gambus Lunik, sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Lampung. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik dan bentuknya menyerupai anak buaya Asal-Usul Gambus Lunik Alat musik ini disebut juga “Anak Buha” atau “Gambus Anak Buaya” karena bentuknya menyerupai anak buaya. Menurut legenda setempat, alat […]

Oleh Anisa Kurniawati

Gambus Lunik Lampung, Media Dakwah dan Identitas Budaya
Gambus Lunik diperkirakan diperoleh dari pengaruh bangsa Arab, melalui Kerajaan Banten sekitar abad ke-16. Foto: Tangkapan layar youtube Anas Nurhada
Diterbitkan

Media dakwah bisa beragam bentuknya, salah satunya seperti melalui Gambus Lunik, sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Lampung.

Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik dan bentuknya menyerupai anak buaya 

Asal-Usul Gambus Lunik

Alat musik ini disebut juga “Anak Buha” atau “Gambus Anak Buaya” karena bentuknya menyerupai anak buaya. Menurut legenda setempat, alat musik ini berkaitan dengan kisah seorang gadis yang meninggal di sungai akibat dimangsa buaya. 

Hal ini tercermin dalam penamaan bagian-bagian Gambus Lunik yang menyerupai organ tubuh buaya.  Bagian alat musik ini seperti Hulu (kepala), Cuping (telinga), Galah (leher), Betong (perut atau badan), dan Puntut (ekor).

Di balik legendanya, Gambus Lunik juga memiliki akar sejarah yang panjang.

Menurut Edi Pulampas, seorang seniman Lampung, Gambus Lunik diperkirakan diperoleh dari pengaruh bangsa Arab, melalui Kerajaan Banten sekitar abad ke-16, bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Lampung.

Pada masa itu, alat musik gambus digunakan para penyebar agama Islam sebagai sarana dakwah. Awalnya alat musik ini berukuran lebih besar dibandingkan Gambus Lunik yang ada saat ini. 

Pertunjukan Gambus Lurik 

Gambus versi awal berukuran besar dan tidak memiliki membran.

Masyarakat adat Saibatin di Lampung kemudian mengadaptasi alat musik ini dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk fisiknya menyerupai setengah semangka dengan leher yang lebih kecil. 

Alat musik khas Lampung ini dibuat dari kayu Lemasa atau kayu Nangka. Kayu ini dipercaya dapat menghasilkan suara yang merdu serta memiliki daya tahan yang baik. Materialnya kemudian mengalami perubahan. 

Dulunya dawai dibuat dari serat nanas atau benang, kini lebih umum menggunakan kawat atau nilon. Tujuannya agar lebih tahan lama dan menghasilkan suara yang lebih stabil. Saat dimainkan, Gambus Lunik menghasilkan nada-nada indah.

Gambus Lunik dimainkan dengan cara dipetik, mirip dengan gitar.

Alat musik ini menghasilkan bunyi kordofon dari dawai. Suaranya sangat khas dan dapat dikombinasikan dengan instrumen lain seperti gendang untuk menciptakan harmoni yang indah.

Peran Gambus Lunik

Gambus Lunik sering digunakan mengiringi lagu-lagu tradisional seperti Penayuhan, Salimpat, dan Humbak Moloh. Seiring perkembangannya, Gambus Lunik berfungsi sebagai alat musik hiburan.

Disamping itu juga digunakan sebagai media komunikasi, khususnya di kalangan anak muda-mudi, serta dalam upacara adat dan ritual. Selain itu, Gambus Lunik juga bagian seni dakwah Islam dan pertunjukan Gawi Adat di Lampung.

Gambus juga digunakan dalam pertunjukan musik zapin dan ghazal, serta berfungsi sebagai media pengenalan nilai-nilai budaya Islam. Sebagai salah satu alat musik tradisional, Gambus Lunik menjadi bagian dari identitas budaya Lampung.

TopikBudaya
Budaya23 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati