Budaya

Gedung Indonesia Menggugat Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia

Gedung Indonesia Menggugat, bangunan bersejarah di Kota Bandung. Jawa Barat. Di gedung ini Sukarno dan rekannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) diadili pemerintah Hindia-Belanda. Letak persisnya berada di Jalan Perintis Kemerdekaan 5, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung. Bangunan bergaya neo-klasik ini awalnya adalah sebuah rumah biasa yang dibangun pada tahun 1907. Kemudian tahun 1917, Pemerintah […]

Oleh Anisa Kurniawati

Gedung Indonesia Menggugat Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia
Gedung bersejarah Indonesia Menggugat di Bandung, Jawa Barat. Foto: GoogleMaps/Denie Heriyadi
Diterbitkan

Gedung Indonesia Menggugat, bangunan bersejarah di Kota Bandung. Jawa Barat. Di gedung ini Sukarno dan rekannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) diadili pemerintah Hindia-Belanda. 

Letak persisnya berada di Jalan Perintis Kemerdekaan 5, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung. Bangunan bergaya neo-klasik ini awalnya adalah sebuah rumah biasa yang dibangun pada tahun 1907.  Kemudian tahun 1917, Pemerintah Belanda mengambil alih rumah ini. 

Bangunan ini direnovasi dan diperluas. Kemudian, pemerintah mengubahnya menjadi Landraad atau Pengadilan Negeri. Karena bangunan itu pada awalnya digunakan untuk tempat tinggal, maka desain ruangannya tidak seperti bangunan kantor pada umumnya. 

Bangunan ini terdiri dari sebuah bangunan induk dengan ruang makan dan ruang tamu di sisi kirinya serta dua kamar utama di sisi kanannya.

Ruangan Bersejarah

Dari bangunan ini terdapat sebuah ruangan yang berukuran 3 x 6. Ruangan belapis papan kayu jati itu menjadi tempat persidangan Soekarno dan rekan-rekannya dari Agustus hingga Desember 1930.

Soekarno dan rekan-rekannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yaitu Maskun Sumadireja, Gatot Mangkupraja, dan Supriadinata diadili pemerintah Hindia-Belanda. Soekarno dan rekan-rekannya sempat mendekam di Penjara Banceuy selama delapan bulan.

Mereka dituduh melakukan kegiatan politik yang dianggap sebagai aksi perlawanan terhadap Pemerintah Belanda. Tindakan mereka dianggap dapat mengakibatkan kekacauan dalam masyarakat. Di dalam penjara, Soekarno menyusun pleidoi atau pidato pembelaan.

Ruang sidang Soekarno di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Foto: GoogleMaps/Kawi Boedisetio

Pleidoi “Indonesia Menggugat” 

Dalam sidang, Soekarno membacakan pleidoinya yang ia beri judul “Indonesia Menggugat”. Isi pidato, mengatakan bahwa imperialisme Belanda telah membuat rakyat Indonesia menderita. Oleh karena itu, ia berusaha untuk memerdekakan Indonesia melalui aktivitas politik tanpa kekerasan.

“Indonesia Menggugat” menjadi pidato Soekarno yang fenomenal. Pleidoi ini tak hanya menyulut semangat nasionalisme rakyat Indonesia, tapi juga menginspirasi tokoh-tokoh di Asia untuk memperjuangkan kemerdekaan negara mereka.

Pembelaan Sukarno yang mematahkan tuduhan pemerintah Hindia-Belanda gagal. Mereka pun dijatuhi hukuman penjara. Empat tahun untuk Soekarno, dua tahun untuk Gatot Mangkupraja, satu 20 bulan untuk Maskun Sumadireja, satu tahun tiga bulan untuk Supriadinata. 

Koleksi Bersejarah

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Landraad sempat digunakan sebagai markas Palang Merah Indonesia dari tahun 1947-1949. Kemudian, digunakan juga sebagai kantor dinas Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2004, gedung ini mengalami pemugaran. 

Setelah selesai dipugar, pada tahun 2005, gedung ini diresmikan sebagai museum sejarah dengan nama Gedung Indonesia Menggugat. Di dalam museum ini, terdapat koleksi mengenai peristiwa Indonesia Menggugat. Ruang tempat Soekarno menjalani sidang juga masih dipertahankan sesuai dengan kondisi aslinya. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya14 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati