Nama guru itu mungkin sudah lama tidak terdengar. Tetapi sebagian orang yang bersekolah pada dekade 1970-an, 1980-an, hingga 1990-an masih dapat mengingat cara ia memasuki kelas, suara sepatunya di lorong, atau tatapannya ketika menemukan pekerjaan rumah yang belum selesai.
Ada yang dahulu berharap tidak dipanggil ke depan. Ada yang pernah dimarahi karena terlambat, disuruh mengulang pekerjaan, atau pulang membawa nilai buruk sambil memikirkan bagaimana menjelaskannya kepada orang tua.
Puluhan tahun berlalu. Anehnya, beberapa nama yang dahulu membuat dada berdebar justru menjadi nama yang paling sering muncul ketika teman-teman lama berkumpul.
“Kalau bukan karena beliau, mungkin saya tidak akan seperti sekarang.”
Kalimat semacam itu hidup dalam banyak ingatan. Tetapi sebelum menjadikannya alasan untuk mengatakan pendidikan masa lalu lebih baik, ada pertanyaan yang lebih menarik untuk diajukan: sebenarnya apa yang mereka rindukan?
Nama yang Tertinggal Setelah Puluhan Tahun
Ingatan manusia mempunyai cara sendiri memilih apa yang ingin disimpannya. Kita dapat melupakan isi sebuah pelajaran, tetapi masih mengingat orang yang dahulu memaksa kita mengulangnya sampai benar.
Ada guru yang tidak membiarkan tulisan dibuat sembarangan. Ada yang meminta murid datang tepat waktu, mengembalikan sesuatu ke tempatnya, menyelesaikan pekerjaan sendiri, atau mengakui kesalahan tanpa berlindung di belakang orang lain.
Tentu tidak semua guru masa lalu seperti itu. Ada pula pengalaman pendidikan yang keras, mempermalukan, bahkan melukai, dan bagian tersebut tidak seharusnya diputihkan hanya karena telah berubah menjadi nostalgia.
Namun di antara cerita-cerita itu terdapat satu unsur yang terus berulang: guru mempunyai batas yang dapat dirasakan murid. Ada sesuatu yang harus dipenuhi, ada tanggung jawab yang tidak dapat begitu saja dipindahkan kepada orang lain.
Mungkin itulah yang sebenarnya tinggal dalam ingatan.
Galak Bukan Kata yang Tepat
Kita sering menyebutnya “guru galak”. Padahal setelah dibongkar lebih jauh, yang dirindukan belum tentu kemarahannya.
Ilmu pendidikan mempunyai istilah yang lebih berguna: struktur. Guru memberikan arahan yang jelas, menetapkan harapan, memantau perkembangan, memberi umpan balik, konsisten terhadap aturan, dan membuat murid memahami konsekuensi dari tindakannya.
Meta-analisis terhadap 94 studi yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa struktur dan dukungan terhadap otonomi siswa justru saling memperkuat. Keduanya berhubungan positif dengan motivasi, keterlibatan, rasa mampu, dan kemandirian siswa. Springer Nature Link
Artinya, ketegasan tidak harus menjadi lawan dari kemerdekaan anak. Seorang guru dapat mengatakan, “Ini tanggung jawabmu,” sambil tetap memberi ruang kepada murid untuk berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan akhirnya mampu berjalan sendiri.
Mandiri Tidak Lahir dari Semua yang Dimudahkan
Ada pengalaman kecil yang dahulu terasa biasa. Buku tertinggal berarti murid harus menghadapi pelajaran hari itu tanpa bukunya, pekerjaan yang belum selesai tetap harus diselesaikan, sementara kesalahan tertentu tidak selalu dapat dibereskan dengan telepon orang tua.
Hal-hal kecil semacam itu sebenarnya mempunyai sebuah pesan: ada bagian kehidupan yang harus kamu tanggung sendiri.
Kemandirian tidak berarti anak dibiarkan menghadapi semua persoalan sendirian. Ia tumbuh ketika bantuan tersedia, tetapi tidak mengambil alih seluruh pekerjaan yang seharusnya dapat dipelajari seorang anak.
Penelitian pendidikan modern justru menunjukkan bahwa struktur yang diberikan guru dapat berjalan beriringan dengan otonomi. Guru tetap memberi batas, arahan, ekspektasi dan umpan balik, tetapi murid memperoleh ruang untuk mempunyai inisiatif dan mengambil kepemilikan atas proses belajarnya. Springer Nature Link
Di situlah disiplin menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan membuat anak takut melakukan kesalahan, melainkan membuatnya belajar apa yang harus dilakukan setelah kesalahan terjadi.
Jangan Romantisasi Penggaris di Tangan Guru
Tetapi nostalgia mempunyai kelemahan. Ia sering menyimpan bagian yang hangat dan perlahan mengaburkan bagian yang menyakitkan.
Sekolah pada masa lalu juga mempunyai cerita mengenai hukuman fisik, bentakan, penghinaan, dan cara mendisiplinkan anak yang tidak seluruhnya layak dibawa kembali. Menjadikan keberhasilan sebagian orang dewasa hari ini sebagai bukti bahwa kekerasan dahulu bermanfaat adalah kesimpulan yang tidak mempunyai dasar kuat.
Bahkan gagasan pendidikan Ki Hadjar Dewantara jauh sebelum generasi 1970-an bersekolah tidak dibangun di atas pemaksaan. Sistem Among menempatkan pendidik sebagai pamong yang memberi tuntunan agar anak dapat tumbuh dan berkembang, sementara kemerdekaan menjadi bagian penting agar manusia kelak mampu berdiri sendiri. Kebudayaan Kemdikbud
Karena itu kita tidak perlu membawa kembali penggaris yang dahulu membuat tangan gemetar.
Yang mungkin perlu kita bawa pulang adalah kesungguhan orang dewasa dalam menuntun.
Mengajar dan Mendidik Tidak Selalu Sama
Seorang guru dapat menyelesaikan seluruh materi dalam buku dan tetap belum selesai mendidik. Sebab pendidikan selalu berurusan dengan sesuatu yang lebih panjang daripada satu jam pelajaran.
Ada anak yang pintar tetapi tidak jujur. Ada yang nilainya tinggi tetapi mudah menyerah, ada yang mampu menghafal tetapi tidak berani mengambil keputusan, dan ada yang mengetahui banyak hal tetapi belum belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Di sinilah makna guru menjadi lebih luas daripada orang yang memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala murid. Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara, pendidik ditempatkan sebagai pamong yang memberi teladan, membangun kemauan, dan memberi dorongan agar anak berkembang dengan kekuatannya sendiri. Kebudayaan Kemdikbud
Pendidikan dengan demikian tidak berhenti ketika murid mengetahui jawabannya.
Ada pekerjaan lain yang lebih sunyi: membantu seorang manusia belajar menjalani hidupnya.
Ketika Mengajar Menjadi Sebuah Pekerjaan
Di sinilah kegelisahan mengenai guru hari ini perlu dibicarakan dengan hati-hati. Ada kesan di sebagian masyarakat bahwa hubungan guru dan murid semakin transaksional: datang, mengajar, memenuhi kewajiban, lalu pulang.
Tidak adil apabila kesan itu diubah menjadi kesimpulan bahwa guru zaman sekarang hanya mengejar pekerjaan atau gaji. Di berbagai tempat masih ada guru yang mendampingi murid jauh melampaui jam pelajaran, membeli kebutuhan belajar dengan uang sendiri, mengunjungi keluarga murid, atau terus memikirkan anak yang tertinggal.
Tetapi pertanyaan mengenai perubahan makna profesi guru tetap sah diajukan.
Apakah sistem pendidikan hari ini masih memberi cukup ruang kepada guru untuk merasa bertanggung jawab terhadap tumbuhnya seorang manusia, bukan hanya terhadap selesainya materi, laporan, penilaian, dan berbagai kewajiban institusional?
Pertanyaan itu tidak seharusnya diarahkan hanya kepada guru.
Meja Guru Juga Semakin Penuh
Menjadi guru hari ini bukan pekerjaan sederhana. Di luar kelas terdapat penilaian, administrasi, komunikasi dengan orang tua, penyesuaian terhadap perubahan kebijakan, kebutuhan murid yang semakin beragam, teknologi, pengembangan profesional, dan berbagai tanggung jawab sekolah lainnya.
Data internasional TALIS 2024 menunjukkan pekerjaan administratif menjadi salah satu sumber tekanan besar bagi guru. Rata-rata di sistem pendidikan yang disurvei OECD, sekitar separuh guru menyebut pekerjaan administratif berlebihan sebagai sumber stres kerja. OECD
Analisis OECD juga menemukan tambahan waktu pada pekerjaan administratif, pemeriksaan tugas, dan komunikasi dengan orang tua berkaitan dengan penurunan kesejahteraan guru yang lebih besar dibanding tambahan waktu untuk beberapa aktivitas inti pengajaran. Temuan itu tidak secara khusus membuktikan keadaan setiap guru Indonesia, tetapi memberi gambaran bahwa pekerjaan di luar mengajar dapat menyita energi yang seharusnya juga tersedia untuk hubungan pendidikan. OECD
Maka ketika seorang guru terlihat seperti sekadar menyelesaikan pekerjaan, mungkin kita perlu menahan tuduhan sebentar.
Bisa jadi ada sistem yang juga sedang membuatnya kehabisan ruang untuk menjadi guru.
Wibawa Tidak Sama dengan Ketakutan
Dahulu seorang guru memasuki kelas dan suasana dapat berubah dalam beberapa detik. Banyak orang menyebutnya wibawa.
Tetapi wibawa yang layak dirawat bukan kemampuan membuat anak gemetar. Ia tumbuh ketika perkataan seorang pendidik mempunyai bobot karena murid melihat konsistensi antara apa yang dikatakan dan dilakukan.
Guru meminta murid tepat waktu karena ia sendiri menghargai waktu. Ia menuntut kejujuran tetapi tidak mempermalukan anak yang mengakui kesalahan, dan ketika memberikan konsekuensi, murid mengetahui alasan di belakangnya.
Penelitian mengenai struktur dan dukungan otonomi menunjukkan keduanya bukan dua kutub yang harus dipilih salah satu. Struktur yang jelas justru dapat membantu murid merasa mampu ketika diberikan tanpa pendekatan yang menekan. Springer Nature Link
Jadi sekolah tidak membutuhkan ketakutan untuk memperoleh ketertiban.
Ia membutuhkan orang dewasa yang dapat dipercaya ketika mengatakan: ini batasnya.
Orang Tua Juga Berubah
Cerita mengenai guru tidak pernah berdiri sendiri. Di sisi lain meja pendidikan selalu ada keluarga.
Dahulu, ketika seorang anak pulang dan mengatakan dimarahi guru, sebagian orang tua mungkin terlebih dahulu bertanya, “Kamu melakukan apa?”
Hari ini hubungan keluarga, sekolah, dan anak jauh lebih beragam. Kesadaran mengenai perlindungan anak juga berkembang, dan itu merupakan kemajuan yang penting ketika mencegah kekerasan atau perlakuan yang merendahkan.
Namun perlindungan tidak seharusnya berarti menghapus semua konsekuensi dari kehidupan seorang anak. Jika setiap kesalahan segera dibereskan orang dewasa, setiap ketidaknyamanan dihilangkan, dan setiap kegagalan selalu dicarikan jalan keluar, anak dapat kehilangan kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang tidak tersedia dalam buku pelajaran.
Bahwa tindakan mempunyai akibat.
Dan suatu hari, ia sendiri yang harus menanggungnya.
Guru Tidak Harus Menjadi Orang Tua Kedua
Kita juga perlu berhenti menaruh seluruh persoalan pendidikan kepada guru. Satu orang dapat menghadapi puluhan murid dalam satu kelas, sementara pendidikan seorang anak berlangsung jauh lebih lama daripada jam sekolah.
Guru tidak mungkin menggantikan keluarga. Sebaliknya, keluarga juga tidak selalu mempunyai kemampuan menggantikan peran profesional seorang pendidik.
Yang diperlukan bukan perlombaan menentukan siapa paling bertanggung jawab. Anak membutuhkan orang-orang dewasa di sekelilingnya mengirimkan pesan yang tidak saling membatalkan.
Jika sekolah mengajarkan tanggung jawab tetapi rumah selalu menghapus konsekuensinya, anak menerima dua bahasa yang berbeda. Jika rumah mengajarkan kesantunan tetapi sekolah membiarkan penghinaan, kebingungan yang sama terjadi.
Mendidik memang tidak pernah menjadi pekerjaan satu orang.
Barangkali Kita Salah Merindukan
Generasi 1970-an, 1980-an, dan 1990-an mempunyai pengalaman sekolah yang berbeda-beda. Bahkan dua murid yang duduk di kelas yang sama dapat membawa pulang ingatan yang sama sekali berbeda tentang seorang guru.
Karena itu masa lalu tidak perlu dijadikan zaman keemasan. Ada banyak hal dalam pendidikan hari ini yang lebih baik, termasuk semakin besarnya perhatian terhadap kebutuhan anak, kesehatan psikologis, perbedaan kemampuan, serta hak anak untuk memperoleh lingkungan belajar yang aman.
Namun kemajuan tidak membuat kita dilarang menengok sesuatu yang mungkin pernah bekerja dengan baik.
Kita dapat meninggalkan kekerasannya tetapi mempertahankan ketegasannya. Kita dapat membuang rasa takutnya tetapi membawa kembali tanggung jawabnya, serta menolak penghinaan tanpa membuat batas antara benar dan salah menjadi kabur.
Mungkin itulah cara paling adil membaca guru-guru masa lalu.
Bukan mengembalikan zamannya, melainkan mengambil pelajarannya.
Guru yang Membawa Murid Sampai Rumah
Ada jenis guru yang keberadaannya tidak selesai bersama bunyi bel.
Bukan berarti ia benar-benar mengikuti murid pulang. Tetapi ia masih memikirkan mengapa seorang anak yang biasanya ramai mendadak diam, mengapa nilai seorang murid terus turun, atau mengapa seseorang mulai sering tidak masuk.
Di situlah kegelisahan mengenai profesi guru menemukan bentuknya yang paling manusiawi. Kita tentu tidak dapat menuntut setiap guru mengorbankan seluruh kehidupan pribadinya untuk murid.
Tetapi pendidikan akan kehilangan sesuatu apabila hubungan itu sepenuhnya berubah menjadi daftar kewajiban: materi selesai, nilai masuk, administrasi lengkap, pekerjaan selesai.
Sebab seorang murid bukan laporan yang dapat ditutup setelah kolom terakhir terisi.
Ia adalah manusia yang sedang tumbuh.
Yang Sebenarnya Kita Minta Kembali
Barangkali setelah semua perdebatan mengenai guru dulu dan guru sekarang, permintaan kita ternyata sederhana.
Kita tidak membutuhkan guru yang lebih pandai membentak. Kita membutuhkan guru yang berani mengatakan tidak ketika sesuatu memang salah, cukup sabar menjelaskan mengapa, lalu tetap berada di sana ketika murid harus belajar memperbaikinya.
Kita membutuhkan sekolah yang memberi guru ruang untuk melakukan itu. Kita membutuhkan keluarga yang tidak menyerahkan seluruh pendidikan kepada sekolah, dan sistem yang tidak membuat energi pendidik habis sebelum sempat mengenali manusia di balik daftar hadir.
Anak tidak membutuhkan dunia yang selalu membuat segala sesuatu mudah baginya. Ia membutuhkan tempat yang cukup aman untuk gagal, cukup tegas untuk mengajarkan akibat, dan cukup peduli untuk tidak meninggalkannya ketika sedang belajar berdiri.
Puluhan tahun kemudian, ia mungkin tidak lagi ingat rumus yang pernah ditulis di papan.
Ia bahkan mungkin pernah takut kepada orang yang mengajarkannya.
Tetapi ketika hidup akhirnya memberinya persoalan yang tidak dapat diselesaikan ayah, ibu, guru, atau siapa pun, mungkin ada satu pelajaran lama yang tiba-tiba kembali.
Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu.
Dan barangkali pada saat itulah ia mengerti mengapa nama seorang guru masih tinggal dalam ingatannya.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini berangkat dari ingatan yang kerap muncul di kalangan sebagian orang yang mengalami sekolah pada dekade 1970-an, 1980-an, dan 1990-an tentang guru yang dianggap lebih tegas serta pengalaman pendidikan yang mereka rasakan ikut membentuk kemandirian. Ingatan semacam itu merupakan pengalaman sosial dan personal yang tidak dapat dianggap mewakili seluruh murid, guru, sekolah, maupun keadaan pendidikan Indonesia pada masa tersebut. Tidak semua guru dahulu memiliki pendekatan yang sama, sebagaimana tidak semua guru hari ini mempunyai cara mendidik yang sama.
Istilah “guru galak” dalam artikel ini karena itu diperlakukan sebagai bahasa nostalgia yang perlu diperiksa kembali, bukan sebagai model pendidikan yang dianjurkan EMMANUS. Ketegasan, struktur, konsistensi, tuntutan tanggung jawab, dan pemberian konsekuensi dibedakan secara tegas dari kekerasan fisik, penghinaan, intimidasi, serta tindakan lain yang merendahkan anak. Pengalaman seseorang yang merasa berhasil meskipun pernah menerima perlakuan keras tidak cukup untuk membuktikan bahwa kekerasan merupakan penyebab keberhasilannya atau metode pendidikan yang layak diterapkan kembali.
Artikel ini juga tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa guru generasi sekarang kurang berdedikasi atau hanya memandang mengajar sebagai pekerjaan. Masih banyak pendidik yang menjalankan profesinya dengan tanggung jawab besar, sementara guru masa lalu pun tidak seluruhnya dapat dijadikan teladan. Perubahan hubungan guru dan murid perlu dilihat bersama perubahan sistem pendidikan, perlindungan anak, kondisi keluarga, beban kerja, administrasi, teknologi, tuntutan profesional, kesejahteraan guru, serta perubahan masyarakat yang lebih luas.
Ketika artikel mempertanyakan apakah ruang bagi tanggung jawab personal seorang guru terhadap pertumbuhan murid semakin menyempit, pertanyaan tersebut merupakan refleksi editorial, bukan kesimpulan bahwa motivasi guru Indonesia secara umum telah menurun. Bukti penelitian yang digunakan menunjukkan pentingnya struktur, dukungan terhadap otonomi, motivasi guru, dan kondisi kerja bagi pengalaman pendidikan, tetapi tidak dapat digunakan untuk membuktikan bahwa guru dekade tertentu lebih baik daripada guru pada masa lainnya.
EMMANUS memandang pendidikan sebagai proses membentuk manusia, bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Karena itu nilai yang hendak dibawa dari perbandingan antargenerasi ini bukan kembalinya rasa takut kepada guru, melainkan kemungkinan mempertemukan ketegasan dengan penghormatan terhadap anak, disiplin dengan kemerdekaan, tuntutan dengan pendampingan, serta profesi mengajar dengan kesadaran bahwa di hadapan seorang guru selalu ada manusia yang sedang belajar berdiri sendiri.






