Pariwisata

Jejak Perjuangan Ki Hajar Dewantara di Museum Kirti Griya Yogyakarta

Museum Dewantara Kirti Griya, yang dulunya merupakan rumah pribadi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, kini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan pendidikan bangsa. Terletak di Jalan Taman Siswa No. 31, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta, museum ini tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menceritakan kisah perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Asal Usul […]

Oleh Achmad Aristyan

Jejak Perjuangan Ki Hajar Dewantara di Museum Kirti Griya Yogyakarta
Pendapa Taman Siswa di Museum Dewantara Kirti Griya. Foto: Wikipedia/Yanu Tri
Diterbitkan

Museum Dewantara Kirti Griya, yang dulunya merupakan rumah pribadi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, kini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan pendidikan bangsa.

Terletak di Jalan Taman Siswa No. 31, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta, museum ini tidak hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga menceritakan kisah perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Asal Usul Bangunan dan Peralihan Kepemilikan

Dilansir dari situs Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Budaya, awalnya rumah yang kini menjadi Museum Dewantara Kirti Griya ini dimiliki seorang wanita penguasa perkebunan Belanda bernama Mas Ajeng Ramsinah.

Pada 14 Agustus 1934, rumah ini dibeli Ki Hajar Dewantara, Ki Sudarminto, dan Ki Supratolo dengan harga sekitar 3.000 Gulden.

Baca Juga: Indonesia Dorong Pendirian Museum Haji dan Hadis dalam Forum Yayasan Hadis Madinah

Pembelian ini mencakup bangunan dengan luas tanah sekitar 5.594 meter persegi serta berbagai perabot rumah tangga yang ada di dalamnya.

Sejak saat itu, rumah ini menjadi tempat tinggal Ki Hajar Dewantara, yang kemudian menjadi pusat kegiatan dan gagasan pendidikan.

Arsitektur Bangunan yang Menawan

Dibangun pada tahun 1915, bangunan Museum Dewantara Kirti Griya mengusung gaya arsitektur indis, yaitu perpaduan antara desain Eropa dan unsur-unsur lokal Jawa.

Atap berbentuk limasan yang khas, serta ruangan-ruangan yang terbagi dengan rapi, memberikan nuansa khas dari masa kolonial dan tradisi lokal.

Museum ini memiliki sembilan bagian penting, antara lain ruang tamu, kamar kerja, ruang tengah, kamar tidur keluarga, kamar tidur Ki Hajar Dewantara, kamar tidur putri, emperan, kamar mandi/wc, dan dapur.

Bangunan ini juga tercatat dalam register Kraton Yogyakarta pada 26 Mei 1926 dengan nomor Angka 1383/1.H, menunjukkan betapa pentingnya situs ini dalam sejarah kota Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.

Salah satu ruangan di Museum Dewantara Kirti Griya. Foto: BPCB DIY via Kemdikbud

Dari Rumah Pribadi Menjadi Museum

Pada tahun 1958, dalam sebuah rapat Pamong Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara mencetuskan gagasan untuk menjadikan rumahnya sebagai museum.

Gagasan ini, meskipun baru terwujud setelah beliau wafat, mencerminkan visi Ki Hajar Dewantara untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat pelestarian dan pengembangan nilai-nilai pendidikan yang telah dia perjuangkan.

Setelah Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada tahun 1959, keluarga besar Tamansiswa bersama sejarawan dan keluarga Ki Hajar Dewantara mulai berusaha mewujudkan gagasan beliau.

Pada 1963, dibentuklah panitia pendiri Museum Tamansiswa yang terdiri dari keluarga Ki Hajar Dewantara, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, dan berbagai pihak terkait.

Pada 11 Oktober 1969, Ki Nayono menerima surat dari Nyi Hadjar Dewantara yang mendorongnya untuk segera meminta perhatian dari Majelis Luhur agar bekas rumah Ki Hajar Dewantara dijadikan sebagai museum.

Cita-cita besar itu akhirnya terwujud pada 2 Mei 1970, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, saat Museum Dewantara Kirti Griya resmi dibuka.

Nama “Dewantara Kirti Griya” dipilih dengan makna “rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara”, sebuah penghormatan atas perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan.

Museum Dewantara Kirti Griya Sebagai Warisan Sejarah

Kini, Museum Dewantara Kirti Griya bukan hanya sebuah tempat yang menyimpan barang-barang peninggalan sejarah, tetapi juga sebuah simbol penting dari perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam membangun sistem pendidikan yang merdeka dan berlandaskan pada nilai-nilai kebudayaan Indonesia.

Pengunjung dapat melihat koleksi foto, dokumen, dan peralatan yang digunakan Ki Hajar Dewantara, serta mempelajari pemikiran dan filosofi pendidikan yang dia perjuangkan.

Baca Juga: Museum Kailasa, Warisan Sejarah Peradaban Kuno Dieng

Museum ini juga menjadi tempat yang penuh makna, di mana setiap sudutnya menggambarkan tekad dan semangat Ki Hajar Dewantara untuk mengembangkan pendidikan yang mengutamakan kebebasan, keadilan, dan kebudayaan nasional.

Sebagai salah satu destinasi wisata edukasi, Museum Dewantara Kirti Griya memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perjalanan pendidikan Indonesia dan perjuangan tokoh-tokoh penting dalam sejarahnya.

Dengan kunjungan ke museum ini, kita diajak untuk mengenang dan mengapresiasi jasa-jasa Ki Hajar Dewantara yang telah meletakkan dasar bagi pendidikan di Indonesia, yang terus berkembang hingga kini.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan