Budaya

Kain Tenun Corak Insang, Representasi Nelayan Melayu Pontianak

Salah satu warisan budaya masyarakat Melayu Pontianak yang masih lestari hingga kini adalah Kain tenun corak insang. Ciri khasnya terletak pada motifnya yang menggambarkan kehidupan nelayan Melayu Pontianak. Penggunaan kain tenun ini tidak hanya dalam berbagai acara adat, namun juga kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dikenakan orang tua, tetapi juga anak-anak dan remaja. Sebagai warisan budaya […]

Oleh Anisa Kurniawati

Kain Tenun Corak Insang, Representasi Nelayan Melayu Pontianak
Kain tenun corak insang memiliki keunikan dibandingkan dengan kain tenun Melayu lainnya, seperti tenun Cual dari Sambas. Foto. sitimustiani.com
Diterbitkan

Salah satu warisan budaya masyarakat Melayu Pontianak yang masih lestari hingga kini adalah Kain tenun corak insang. Ciri khasnya terletak pada motifnya yang menggambarkan kehidupan nelayan Melayu Pontianak. 

Penggunaan kain tenun ini tidak hanya dalam berbagai acara adat, namun juga kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dikenakan orang tua, tetapi juga anak-anak dan remaja.

Sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi, kain tenun corak insang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung sejarah dan filosofi yang mendalam. 

Sejarah Tenun Corak Insang

Tenun corak insang telah dikenal sejak masa Kesultanan Kadriah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadrie tahun 1771. Awalnya, kain ini hanya digunakan kaum bangsawan di Istana Kadriah. 

Tujuannya sebagai identitas status sosial dalam masyarakat maupun dalam pertemuan antar kerajaan. Kain tenun corak insang mulai dikenal luas pada tahun 1930-an.

Kain ini juga berfungsi sebagai cinderamata yang diberikan kepada raja pada hari keputraan, serta sebagai bagian dari hantaran dalam upacara pernikahan. 

Salah satu momen penting dalam sejarah kain ini adalah saat Sultan Sy Muhammad Al Qadrie (Sultan ke-VI). Saat itu dia membawa serta kain tenun corak insang dalam lawatannya ke Belanda.

Istrinya, Syarifah Maryam Assegaf, mengenakan kain tersebut dalam acara kerajaan yang dihadiri raja-raja dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Pada tahun 1942, kain ini kembali diperkenalkan Sultan Sy Muhammad Al Qadrie.

Dia melakukan perjalanan ke Kwitang, Batavia, dalam rangka Salat Idul Adha. Seiring waktu, kain corak insang yang awalnya hanya digunakan keluarga kesultanan dan bangsawan, kini telah merambah ke masyarakat luas. 

Melalui jalur perdagangan dan hubungan antar daerah, kain ini semakin dikenal dan menjadi bagian dari identitas budaya Melayu Pontianak. Kain ini juga menjadi semakin dikenal dan digunakan masyarakat luas.

Keunikan dan Perbedaan dengan Tenun Lainnya

Kain tenun corak insang memiliki keunikan dibanding kain tenun Melayu lainnya, seperti tenun Cual dari Sambas. Perbedaannya, pada motif khas insang ikan yang menjadi ciri utama kain ini. 

Selain itu, kain corak insang umumnya tidak menggunakan benang emas. Beberapa motif yang berkembang dan dikenal luas meliputi corak insang berantai, insang bertangkup, insang delima, insang awan, dan insang berombak. 

Motif-motif ini menjadi ekspresi seni masyarakat Pontianak yang menggambarkan kehidupan mereka sebagai nelayan di sepanjang Sungai Kapuas. Motif insang ikan yang diadopsi dalam kain ini melambangkan alat kehidupan (bernafas).

Dahulu, kain corak insang dibuat menggunakan bahan alami yang diperoleh dari tumbuhan.

Pewarnaannya pun menggunakan bahan-bahan alami. Namun, dalam perkembangannya, mulai digantikan pewarna sintetis yang lebih praktis dan tahan lama.

Meski begitu, kain tenun corak insang, tetap menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi masyarakat Melayu Pontianak. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya23 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati