Budaya

Kolaborasi Musik, Tari dan Religi dalam Rampak Bedug Banten

Rampak Bedug, kreasi seni permainan alat musik khas dari daerah Banten, Jawa Barat. Rampak Bedug merupakan gendang besar yang berfungsi sebagai media informasi. Dengan memadukan musik tradisional, modern, seni tari, serta unsur religi, alat musik ini kini sering digunakan dalam perayaan berbagai acara. Dilansir dari Indonesia.go.id, kata “rampak” mengandung arti “serempak”. Secara harfiah, rampak bedug […]

Oleh Anisa Kurniawati

Kolaborasi Musik, Tari dan Religi dalam Rampak Bedug Banten
sSaat ini, para penari perempuan juga turut serta memeriahkan pertunjukkan Rampak Bedug. Foto: wikimedia commons
Diterbitkan

Rampak Bedug, kreasi seni permainan alat musik khas dari daerah Banten, Jawa Barat. Rampak Bedug merupakan gendang besar yang berfungsi sebagai media informasi. Dengan memadukan musik tradisional, modern, seni tari, serta unsur religi, alat musik ini kini sering digunakan dalam perayaan berbagai acara.

Dilansir dari Indonesia.go.id, kata “rampak” mengandung arti “serempak”. Secara harfiah, rampak bedug adalah “banyak” bedug yang ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.

Kesenian tradisional dari Banten ini memadukan musik tradisional, modern, seni tari, serta unsur religi. Saat bulan Ramadan, kesenian ini juga dikenal dengan tradisi adu bedug. Menurut sejarah, kesenian ini pertama kali digelar pada tahun 1950, untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan. 

Bahkan saat itu, di Pandeglang, sempat diadakan rampak bedug antar kampung. Hingga 1960, rampak bedug masih menjadi hiburan rakyat dan menyebar ke sejujmlah daerah di Banten.

Seiring perkembangannya, rampak bedug menjadi ajang rekreasi bagi masyarakat setempat. Unsur seni dalam rampak bedug dipelopori seniman asli Pandeglang yang bernama Haji Ilen. Ide, konsep tarian, musik pendukung hingga kostum merupakan ide dari Haji Ilen. 

Haji Ilen, dan dibantu oleh tiga sahabatnya, yaitu Burhata, Rahmat dan Juju kemudian mengembangkan kesenian ini menjadi lebih luas lagi. Awalnya kesenian ini hanya dimainkan laki-laki saja. Alasannya karena kekuatan laki-laki saat memukul bedug jauh lebih. 

Namun, sekarang ini para penari perempuan juga turut serta memeriahkan pertunjukkan rampak bedug. Kesenian ini awalnya ditampilkan 10 orang yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Akan tetapi, ada juga yang menampilkan dengan personil yang lebih banyak. Hal ini tergantung dengan jenis pertunjukan yang akan ditampilkan. 

Kostum Religi

Dalam pertunjukan kesenian ini, ada satu bedug besar berfungsi sebagai bass. Set bedug yang kecil berfungsi sebagai pengatur irama, tempo, dan dinamika musik yang dimainkan. Lalu ada tingtir, yang terbuat dari batang pohon kelapa berfungsi sebagai penyelaras irama lagu. 

Alat musik tingtir ini menghasilkan musik dengan nuansa spiritual, serta berfungsi sebagai melodi seperti takbiran. Ada juga anting caram dan anting karam yang terbuat dari pohon jambu dan dililit kulit kendang. Fungsinya sebagai pengiring lagu dan tari. 

Tidak ada pakem khusus dalam pertunjukan kesenian ini. Setiap pemain pemukul bedug mengkreasikan sesuai dengan kreatifitas masing-masing. Kostum yang digunakan para pemainnya merupakan busana muslim dan muslimah. 

Terkadang juga kostum yang digunakan memasukkan unsur budaya tradisional dan modern. Namun, tidak melanggar unsur religius yang ada. Untuk pemain laki-laki menggunakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten.

Sedangkan perempuan menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dan di dalamnya mengenakan celana panjang pesilat. Warna-warna yang dipilih tidak hanya hitam putih saja, namun ada juga warna yang lebih modern. 

Saat ini, kesenian rampak bedug tidak hanya dimainkan saat Ramadhan saja. Akan tetapi juga dimainkan pada saat perayaan-perayaan besar lainnya. Misalkan seperti acara pernikahan, khitanan, pagelaran budaya, bahkan hari peringatan kedaerahan maupun nasional.

Rampak Bedug adalah warisan budaya Indonesia yang tidak hanya menawarkan keindahan seni, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual. Melalui suara bedug yang harmonis dan gerakan serempak, seni ini mengajarkan kebersamaan, kerja sama, dan kedisiplinan.

TopikBudaya
Budaya30 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati