Cerita Rakyat

Legenda Ciung Wanara, Kisah Kerajaan Sunda Galuh

Ciung wanara adalah cerita rakyat yang berasal dari Jawa Barat yang berlatar pada masa kerajaan Galuh. Kisah ini berfokus pada konflik keluarga, perebutan kekuasaan, serta perjalanan seorang putra mahkota bernama Ciung Wanara. Dahulu kala, Kerajaan Galuh dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Permana di Kusumah. Ia memiliki dua istri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. […]

Oleh Anisa Kurniawati

Legenda Ciung Wanara, Kisah Kerajaan Sunda Galuh
Ilustrasi: Candi Cangkuang di Garut, Jawa Barat, peninggalan penting dari Kerajaan Sunda Kuno Galuh, sekira abad ke-8 Masehi. Foto: Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata
Diterbitkan

Ciung wanara adalah cerita rakyat yang berasal dari Jawa Barat yang berlatar pada masa kerajaan Galuh. Kisah ini berfokus pada konflik keluarga, perebutan kekuasaan, serta perjalanan seorang putra mahkota bernama Ciung Wanara.

Dahulu kala, Kerajaan Galuh dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Permana di Kusumah. Ia memiliki dua istri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep.

Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. 

Aria Kebonan kemudian diubah menyerupai Prabu Permana di Kusumah. Dia juga mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Dia kemudian diperbolehkan menjadi raja sementara.

Kelahiran Dua Pangeran

Suatu malam kedua ratu bermimpi bahwa bulan jatuh di atas mereka. Hal ini aneh karena mimpiitut biasanya peringatan bagi wanita yang akan hamil. Sedangkan Prabu Barma Wijaya Kusumah merasa tak memperlakukan kedua ratu seperti istri sendiri.

Dia kemudian memanggil pertapa Ajar Sukaresi yang sebetulnya adalah Prabu Permana di Kusumah yang sedang menyamar. Ajar Sukaresi mengatakan, kedua permaisuri sedang hamil anak laki-laki. 

Prabu Barma Wijaya Kusumah tak terima dengan ucapan Ajar Sukaresi dan berusaha membunuhnya menggunakan keris. Namun, serangannya tidak mempan. Kendati demikian, tubuh Ajar Sukaresi menjelma menjadi seekor naga bernama Nagawiru. 

Sementara itu, kedua permaisuri itu benar hamil dan melahirkan. Dewi Pangrenyep melahirkan putra bernama Hariang Banga. Sementara itu Dewi Naganingrum belum melahirkan. 

Suatu ketika, bayi dalam kandungan Dewi Naganingrum bisa berbicara dan mengatakan bahwa kekuasaan Prabu Barma Wijaya Kusumah akan berakhir karena sikap jahat dan janji yang dilanggar.

Mendengar hal itu, Prabu Barma Wijaya Kusumah ketakutan. Dia kemudian bersekongkol dengan Dewi Pangrenyep. Mereka berencana menukar bayi Dewi Naganingrum dengan anak anjing setelah lahir untuk dilemparkan ke Sungai

Ciung Wanara Jadi Raja

Bayi yang dibuang itu hanyut di sungai hingga ditemukan seorang pasangan petani tua. Pasangan ini merawat bayi itu dengan kasih sayang. Dia tumbuh menjadi pemuda yang kuat, cerdas, dan pemberani bernama Ciung Wanara.

Ciung Wanara akhirnya mengetahui bahwa ia adalah keturunan bangsawan Galuh. Dengan tekad yang kuat, Ciung Wanara pergi ke istana untuk mencari orang tuanya. Di perjalanan, ia bertemu Nagawiru yang memberikan telur untuk ditetaskan. 

Saat melanjutkan perjalanan, Ciung Wanara turut membawa telur yang tak terasa telah menjadi ayam jantan. Sesampainya di istana, di Galuh sedang ada ajang sabung ayam besar-besaran. Ayam Ciung Wanara tak ketinggalan ikut serta, hingga menjadi ayam  yang tak terkalahkan.

Kehebatan ayam itu terdengar Prabu Barma Wijaya dan diajak untuk berduel. Ciung Wanara setuju, akan tetapi ia meminta satu permintaan kepada raja. Jika dia menang, sang raja harus menyerahkan setengah kerajaan. Sang Raja setuju. 

Ayam milik Ciung Wanara akhirnya menang, dia menjadi raja dari setengah kerajaan. Dia membangun penjara besi untuk mengurung orang-orang jahat, termasuk Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. 

Hariang Banga anak Dewi Pangrenyep tidak terima dan merencanakan pemberontakan. Akibatnya terjadi perang saudara. Di tengah pertempuran, tiba-tiba muncul sosok Raja Prabu Permana Di Kusumah. Dia melarang keduanya bertarung karena mereka adalah saudara. 

Sang Raja mengeluarkan titah bahwa keduanya akan menjadi pemimpin kerajaan, Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di negara baru yang terletak di timur Sungai Brebes. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat29 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati