Budaya

Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau

Mak Yong, sebuah seni teater tradisional yang mengandung unsur-unsur ritual. Mak yong sangat di gemari oleh masyarakat Riau, terutama di wilayah Kepulauan Riau. Kesenian ini awalnya merupakan bentuk pertunjukan rakyat yang kemudian digemari kalangan istana. Menurut sumber laman kemdikbuk.go.id, asal mula pertunjukan Mak Yong adalah Dewa Hindu Jawa yang bernama Semar dan puteranya Turas. Sumber […]

Oleh Anisa Kurniawati

Menyelisik Mak Yong, Kesenian Teater Tradisional Riau
Foto: wikimedia commons/ Amrivadibahar
Diterbitkan

Mak Yong, sebuah seni teater tradisional yang mengandung unsur-unsur ritual. Mak yong sangat di gemari oleh masyarakat Riau, terutama di wilayah Kepulauan Riau. Kesenian ini awalnya merupakan bentuk pertunjukan rakyat yang kemudian digemari kalangan istana. 

Menurut sumber laman kemdikbuk.go.id, asal mula pertunjukan Mak Yong adalah Dewa Hindu Jawa yang bernama Semar dan puteranya Turas. Sumber lain mengatakan, Makyong berasal dari “Mak Hyang”, yaitu Dewi Sri, sebutan bagi orang jawa. 

Bentuk kesenian Mak Yong masuk ke Kepulauan Riau semasa kekuasaan Sultan Sulaiman pada abad ke-18 Masehi. Cerita-cerita dalam pertunjukan ini merupakan warisan lisan para tukang cerita. 

Dialog antar pemain di lakukan secara improvisasi dan tanpa patokan tetap. Cerita Mak Yong berkembang sesuai kekuatan imajinatif sang pemain. Beberapa cerita yang biasa ditampilkan adalah “Tuan Putri Ratna Emas, Gunung Intan, Putri Makyang Emas, Timun Muda. 

Cerita Mak Yong berkisar tentang kehidupan kerajaan. Misalkan cerita raja, permaisuri, atau tuan putri, putri mahkota yang tertimpa musibah, kemudian berjuang dan berakhir dengan kemenangan. 

Baca juga:Ginggung, Seni Musik Tiup Tradisional dari Madura

Pertunjukan Makyong

Peralatan dalam pertunjukan adalah rotan, parang, keris, kapak, panah, tongkat kayu (untuk dijadikan sakti), cangai (kuku palsu yang panjang) di buat dari bahan yang berkilat seperti emas dan lain-lain. 

Sedangkan alat-alat musik yang di perlukan adalah nafiri, gong, gedombak, gendang, mong dan breng-breng. Bertabik, selendang awang, timang-timang anak, dan saridam. Tari yang dibawakan yakni menjunjung sambah, gembak, memanggil awang, tanduk dan lain-lain.

Penampilan tari dan lagu diiringi alat-alat musik yang disesuaikan dengan cerita. Terkadang setiap pemeran Mak Yong memegang peran lebih dari satu. Pemain laki-laki biasanya memakai topeng.

Macam topeng tersebut adalah topeng nenek betara guru, topeng awang pengasuh, topeng wak dukun, topeng raja jin dan topeng pembatak. Sementara pakaian yang digunakan tidak terlalu mengikat. Pakaian tersebut yang penting dapat di bedakan setiap perannya. 

Baca juga: Festival Pacu Jalur, Tradisi Dayung Tradisional Riau

Dulunya, Pertunjukan tradisional ini biasanya dapat berlanjutnya hingga berhari-hari bahkan sampai 15 dan 44 malam. Saat ini, sebuah cerita Makyong berlangsung hanya 1-3 jam saja. Sebelum di tampilkan, terlebih dahulu harus di adakan upacara semah atau “ buka tanah “. Upacara dipimpin seorang Syekh atau alim ulama.

Saat ini, pertunjukan Mak Yong dibawakan semenarik mungkin. Misalkan dengan diberi diberi pencahayaan. Ceritanya yang dibawakan juga boleh kekinian namun tak meninggalkan tradisi asli. Sehingga generasi muda dapat banyak mengetahui teater Mak Yong. Beberapa kabupaten/kota di Riau, seperti Batam sudah mulai rutin mengadakan pertunjukan ini. Hal ini dimaksudkan supaya seni bersejarah ini etap lestari.

TopikBudaya
Budaya12 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati