Profil

Perjalanan Novelis Fira Basuki, Dari Jendela-Jendela hingga Atap

Karya- karya novelis Fira Basuki dikenal luas banyak mengangkat tema problema kehidupan sehari-hari dengan gaya penulisannya yang santai. Meski demikian, novelnya sarat dengan makna serta pelajaran hidup berharga. Fira Basuki atau lengkapnya Dwifira Maharani Basuki lahir di Surabaya, Jawa Timur, 7 Juni 1972. Fira diketahui menyelesaikan pendidikan di SMA Regina Pacis Bogor tahun 1991. Studinya […]

Oleh Anisa Kurniawati

Perjalanan Novelis Fira Basuki, Dari Jendela-Jendela hingga Atap
Novelis Fira Basuki. Tangkaan Layar Youtube SASC
Diterbitkan

Karya- karya novelis Fira Basuki dikenal luas banyak mengangkat tema problema kehidupan sehari-hari dengan gaya penulisannya yang santai. Meski demikian, novelnya sarat dengan makna serta pelajaran hidup berharga. 

Fira Basuki atau lengkapnya Dwifira Maharani Basuki lahir di Surabaya, Jawa Timur, 7 Juni 1972.

Fira diketahui menyelesaikan pendidikan di SMA Regina Pacis Bogor tahun 1991. Studinya berlanjut ke bangku kuliah di Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (UI).

Setahun kemudian, ia pindah kuliah ke Jurusan Communication-Journalism, di Pittsburg State University, Pittsburg-Kansas, Amerika Serikat.

Di sana, Fira meneruskan studi master di Jurusan Cummunication-Public Relation, Pittsburg State University (1995) dan mengambil lagi studi yang sama di Wichita State University (1996).

Novel Trilogi Probelmatika Rumah Tangga

Sejak masih belia, Fira Basuki sudah memiliki minat kuat dalam menulis.

Saat duduk di bangku SMU, Fira terbilang rajin mengikuti berbagai lomba menulis yang digelar majalah-majalah seperti Tempo dan Gadis maupun berbagai instansi, seperti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, LIPI, dan FISIP-UI.

Karya pertamanya adalah novel berjudul Jendela-jendela, yang berkisah tentang kehidupan pasangan suami istri dengan segala problematika rumah tangga yang tidak bahagia. Novel itu sukses direspon positif publik dan penggemar sastra. 

Fira kemudian menulis lanjutan kisah novel Jendela-Jendela. Sekuel novel itu kemudian diberi judul Pintu (2002). Setahun kemudian, menyusul novel Atap yang kelanjutan dari novel trilogi. 

Hampir semua karyanya mengambil latar tempat di negara-negara dimana ia pernah menetap, seperti Amerika, Singapura, dan Indonesia. Alasannya sederhana, supaya ia dapat mendalami dan mendeskripsikan budaya setempat dengan jelas. 

Penulis Novel dengan Riset yang Mendalam

Setelah sukses dengan novel trilogi, Fira merilis karya yang berjudul Biru (2003) dan Rojak (2004).

Novel Biru menceritakan tentang reuni SMA yang menguak kembali kisah masa lalu dan cinta masa lalu. Sedangkan Rojak bercerita seputar masalah keluarga berlatar kawin campur yang berbeda bangsa dan budaya.

Dalam proses menulis novel Rojak, Fira menunjukkan totalitasnya dengan melakukan riset hingga menyambangi asosiasi peranakan di Singapura. 

Novel itu menceritakan terjadinya perkawinan campur antara Janice Wong yang merupakan keturunan Cina yang tinggal di Singapura dan Setyo Putra Hadiningrat yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di Yogyakarta.

Selain menulis, Fira menulis novel yang diadaptasi dari skenario film. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo itu, mendapat tiga piala citra pada Festival Film Indonesia 2005.

Novel Brownies (2004), berasal dari skenario film “Brownies”. Filmnya sendiri dirilis pada bulan Desember tahun 2004, lebih belakangan dari peluncuran novelnya, November 2004. 

Fira kemudian melanjutkan lagi menulis novel adaptasinya yang kedua berjudul Cinta dalam Sepotong Roti (2005) yang diadaptasi dari skenario film berjudul sama yang sudah dirilis tahun 1991. 

Menulis Untuk Selamanya

Di kehidupan pribadinya, Fira menikah dengan Palden T. Galang dan dikaruniai seorang putri, namun kemudian berpisah. Setelah cukup lama hidup sendiri,  Fira menikah dengan Hafez Agung Baskoro. 

Akan tetapi, pernikahan itu hanya berlangsung singat, karena suaminya pergi untuk selama-lamanya, 16 Maret 2012. Kisahnya itu diabadikan Fira dalam bukunya yang berjudul Fira dan Hafez.

Buku tersebut cukup sukses dan sempat dicetak ulang. Pada cetakan yang ke-3, novel itu berganti judul menjadi Cinta Selamanya (2014). Buku itu lalu diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.

Selain menulis novel, ia juga pernah menjadi host CAPS-3 TV, Pittsburg, Kansas dan produser paruh waktu di Radio Singapure Intermational.

Fira pernah bekerja di majalah Dewi dan menjadi kontributor di beberapa media asing, seperti Sunflower, Collegia, dan Morning Sun (ketiganya di Kansas, USA), menjadi Pemimpin Redaksi majalah Cosmopolitan dan kontributor eksekutif di Harper’s Bazaar, Indonesia.

Sejumlah karya lain yang dibikin Fira Basuki dari sedikitnya 36 buku yang ditulisnya antara lain:

  • Capitan Pedang Panjang (2010)
  • Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspiratif (2013)
  • Catching Star (2014)
  • Ms. B: “Will U Marry Me” (2014)

Sampai saat ini Fira terus menulis, tiada henti. Karena bagi Fira menulis adalah kebutuhan. (Dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil31 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati