Tradisi

Pesan Kedamaian di Balik Pertarungan Tradisi Presean

Suara gamelan khas Lombok, Nusa Teggara Barat mengalun lembut sebagai pembuka sebuah tradisi yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun yakni Presean. Tradisi ini merupakan sebuah seni pertarungan yang menjadi simbol kejantanan lelaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Presean bukan hanya sekadar adu fisik, tetapi juga sarat akan makna budaya dan nilai spiritual. Asal […]

Oleh Achmad Aristyan

Pesan Kedamaian di Balik Pertarungan Tradisi Presean
Dua orang lelaki sedang berduel dalam tradisi Presean. Foto: Wikipedia/RaiyaniM
Diterbitkan

Suara gamelan khas Lombok, Nusa Teggara Barat mengalun lembut sebagai pembuka sebuah tradisi yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun yakni Presean.

Tradisi ini merupakan sebuah seni pertarungan yang menjadi simbol kejantanan lelaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Presean bukan hanya sekadar adu fisik, tetapi juga sarat akan makna budaya dan nilai spiritual.  

Asal Usul Presean  

Tradisi Presean berakar dari kebiasaan para prajurit Sasak yang merayakan kemenangan setelah kembali dari medan perang. Selain itu, tradisi ini juga digunakan sebagai upacara meminta hujan pada bulan ketujuh dalam kalender Sasak. 

Seiring berjalannya waktu, Presean bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan seni budaya yang sering menghiasi perayaan kesenian di Lombok. Dalam Presean, dua lelaki yang disebut pepadu saling berhadapan di sebuah arena terbuka. 

Para pemain tradisi ini dilengkapi dengan senjata tongkat rotan yang disebut pejalin dan tameng bernama ende, yang terbuat dari bahan kulit kerbau.

Pertarungan ini dipimpin dua wasit, yaitu pakembar sedi di sisi lapangan dan pakembar tengaq di tengah arena, yang memastikan jalannya pertarungan berlangsung adil dan sesuai aturan.  

Setiap pertandingan berlangsung selama lima ronde, masing-masing berdurasi tiga menit. Suasana mendebarkan mengiringi setiap aksi yang ditampilkan. 

Pepadu saling melancarkan pukulan rotan yang terkadang menyebabkan luka serius, seperti bocor di kepala atau memar di tubuh. Ketika luka parah terjadi, pertandingan dihentikan, dan pepadu baru dipilih untuk melanjutkan tradisi ini.  

Prosesi Sebelum Pertarungan  

Dilansir dari aman.or.id, sebelum bertarung para pepadu mengenakan kain khas Lombok yang diikatkan di kepala dan pinggang. Dengan arahan dari pakembar sedi, mereka diberikan doa serta instruksi agar pertandingan berjalan lancar. 

Iringan musik tradisional, seperti gendang, petuk, rencek, gong, dan suling, menambah semarak suasana pertarungan.  

Nilai Damai di Balik Laga

Walaupun Presean tampak keras dan brutal, tradisi ini memiliki pesan moral yang mendalam. Setiap pepadu diajarkan untuk menjunjung tinggi keberanian, rendah hati, dan menghindari dendam. 

Setelah bertarung, para pepadu akan saling berpelukan sebagai simbol perdamaian dan penghormatan. Presean bukan hanya sebuah tontonan, tetapi juga cerminan budaya Sasak yang kaya akan nilai-nilai luhur. 

Tradisi ini mengajarkan bahwa keberanian sejati tidak hanya terletak pada kekuatan fisik, tetapi juga pada kemampuan menjaga harmoni dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Bagi yang berkunjung ke Lombok, menyaksikan Presean adalah cara terbaik untuk memahami jiwa dan karakter masyarakat Sasak yang begitu menghargai keberanian, budaya, dan kedamaian.  (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi07 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan