Budaya

Pesta Lomban Jepara, Pelestarian Tradisi Budaya Nelayan

Dikenal juga dengan sebuatan Bakda Kupat atau Bakda Lomban, Pesta Lomban, merupakan tradisi tahunan masyarakat Jepara, yang berakar dari budaya nelayan dalam bentuk sedekah laut. Meskipun awalnya hanya menjadi tradisi masyarakat nelayan, kini Pesta Lomban telah menjadi bagian dari perayaan seluruh masyarakat Jepara, Jawa Tengah sekaligus event penting pariwisata. Melansir dari laman kemdikbud.go.id, pusat utama […]

Oleh Achmad Aristyan

Pesta Lomban Jepara, Pelestarian Tradisi Budaya Nelayan
Pesta Lomban telah menjadi bagian dari perayaan seluruh masyarakat Jepara. Foto: jatengprov.go.id
Diterbitkan

Dikenal juga dengan sebuatan Bakda Kupat atau Bakda Lomban, Pesta Lomban, merupakan tradisi tahunan masyarakat Jepara, yang berakar dari budaya nelayan dalam bentuk sedekah laut.

Meskipun awalnya hanya menjadi tradisi masyarakat nelayan, kini Pesta Lomban telah menjadi bagian dari perayaan seluruh masyarakat Jepara, Jawa Tengah sekaligus event penting pariwisata. 

Melansir dari laman kemdikbud.go.id, pusat utama perayaan ini berlangsung di Pantai Kartini, namun juga dapat disaksikan di berbagai lokasi lain seperti Ujung Gelam, Pantai Koin, dan Karimunjawa.

Diselenggarakan pada tanggal 7 Syawal atau satu minggu setelah Idulfitri, Pesta Lomban menjadi puncak dari Pekan Syawalan di daerah pesisir utara Pulau Jawa, khususnya Jepara. 

Tradisi ini dipenuhi kegembiraan masyarakat Jepara dan sekitarnya sebagai bentuk syukur setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.  

Asal Usul Nama Lomban  

Nama “Lomban” diyakini berasal dari kata “Lelumban,” yang bermakna bersenang-senang, baik di laut maupun di pantai.

Aktivitas seperti lomba menangkap bebek dan angsa yang dilepas ke tengah laut, hingga lomba menyelam untuk mengambil barang yang dilempar dari perahu, masih menjadi bagian dari tradisi ini. 

Acara ini melambangkan kegembiraan bersama sebagai wujud perayaan 7 hari setelah Idulfitri.  

Prosesi dan Kegiatan Pesta Lomban  

Dilansir dari jatengprov.go.id. Pesta Lomban dimulai sejak pagi hari di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu, Jepara. Upacara ini dipimpin Bupati Jepara dan disertai doa yang dipimpin pemuka agama.

Acara diawali dengan upacara pelepasan sesaji berupa kepala kerbau yang dilarung ke laut sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT. 

Setelah pelarungan, masyarakat nelayan memulai tradisi “Perang Teluk,” yaitu saling lempar ketupat, lepet, dan kolang-kaling antarperahu yang diiringi suara gamelan tradisional Kebogiro. 

Seusai perang simbolis ini, peserta mendarat di Pulau Kelor (sekarang bagian dari daratan Pantai Kartini) untuk menikmati bekal makanan sambil disuguhi hiburan dari para pedagang yang menjajakan berbagai kebutuhan.

Para nelayan juga berziarah ke makam Cik Lanang di Pulau Kelor sebelum kembali ke daratan. 

Tradisi ini berlanjut dengan berbagai hiburan seperti lomba dayung, perahu hias, dan tarian tradisional seperti Gambyong yang menjadi daya tarik utama.  

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Pesta Lomban  

Pesta Lomban di Jepara, tidak hanya menjadi ajang perayaan semata, tetapi juga sarat dengan berbagai nilai penting yang edukatif dan religius.

Tradisi ini mencerminkan nilai ketuhanan dan religius melalui kegiatan sedekah laut dan doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang dilimpahkan. 

Selain itu, Pesta Lomban mempererat silaturahmi dan kekeluargaan dengan menciptakan momen kebersamaan antarwarga melalui berbagai kegiatan tradisional.

Nilai pelestarian lingkungan juga tergambar dalam tradisi larung sesaji, yang menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian laut dan sumber daya alam agar terus bermanfaat. 

Dampak Tradisi Pesta Lomban  

Tak hanya itu, perayaan ini berdampak positif dari sisi ekonomi, di mana kehadiran ribuan pengunjung meningkatkan pendapatan pedagang lokal, mulai dari penjual makanan hingga suvenir.

Pelaksanaan Pesta Lomban membawa dampak positif di berbagai bidang. Secara sosial, tradisi ini mempererat solidaritas masyarakat. Dari segi ekonomi, kegiatan ini membuka peluang usaha baru bagi warga lokal, terutama pedagang kecil.

Dalam bidang budaya, Pesta Lomban menjadi sarana melestarikan warisan budaya lokal. Tradisi yang digelar sejak era Haji Sidik di tahun 1920-an ini terus bertahan sebagai warisan budaya masyarakat Jepara yang penuh nilai dan makna.

TopikBudaya
Budaya16 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan