Tradisi

Ritual Adat Dandan Kali Demi Hormati Leluhur di Sleman

Dandan Kali, yang juga dikenal dengan sebutan “becekan” adalah sebuah ritual adat yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ritual ini merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dijalankan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, khususnya meminta berkah hujan yang dapat memberikan kesuburan bagi tanah pertanian di […]

Oleh Achmad Aristyan

Ritual Adat Dandan Kali Demi Hormati Leluhur di Sleman
Upacara Dandan Kali di Desa Kepuharjo. Foto: Instagram/@dinaskebudayaandiy
Diterbitkan

Dandan Kali, yang juga dikenal dengan sebutan “becekan” adalah sebuah ritual adat yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ritual ini merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dijalankan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, khususnya meminta berkah hujan yang dapat memberikan kesuburan bagi tanah pertanian di wilayah itu. 

Upacara ini dilaksanakan di sekitar kawasan Lereng Gunung Merapi, tepatnya di beberapa dusun, antara lain Dusun Kepuh, Dusun Manggong, dan Dusun Pagerjuang, yang terletak di Desa Kepuharjo.

Asal-Usul Upacara Dandan Kali

Melansir dari kebudayaan.slemankab.go.id, istilah “Dandan Kali” berasal dari kata “dandan” yang berarti merias atau menghias, dan “kali” yang berarti sungai dalam bahasa Jawa.

Upacara ini dilaksanakan di kawasan aliran sungai yang berada di Lereng Gunung Merapi dan Sungai Gendol, serta beberapa sungai di sekitarnya seperti Sungai Kretek dan Sungai Kebeng. 

Konon, upacara ini dimulai ketika Desa Kepuharjo mengalami kemarau panjang yang berlangsung hingga delapan bulan.

Sebagai upaya untuk meminta hujan, masyarakat desa melaksanakan ritual dengan membawa sesajen dan menyembelih kambing di Sungai Gendol. Tidak lama setelah itu, hujan lebat pun turun, yang membawa kesuburan bagi desa.

Peraturan Upacara Dandan Kali

Dilansir dari budaya-indonesia.org, upacara Dandan Kali memiliki aturan dan tata cara yang telah dijalankan masyarakat Desa Kepuharjo secara turun-temurun.

Salah satu aturan yang unik adalah bahwa hanya laki-laki yang diperbolehkan mengikuti prosesi ini, sementara perempuan tidak diperkenankan untuk ikut. 

Namun, perempuan tetap terlibat dalam persiapan upacara, seperti membuat nasi tumpeng dan sesajen lainnya. Peserta laki-laki harus membawa sesajen yang telah dipersiapkan sebelumnya serta seekor kambing jantan jenis Kambing Jawa. 

Kambing ini harus disembelih dalam prosesi upacara sebagai simbol dari tiga dusun di desa itu.

Tujuan Upacara Dandan Kali

Tujuan utama dari upacara Dandan Kali adalah untuk memohon berkah, khususnya agar turun hujan yang dapat membawa kesuburan bagi tanah pertanian.

Upacara ini juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diterima. 

Masyarakat Desa Kepuharjo percaya bahwa upacara ini dapat menjaga keselamatan mereka, baik dalam pekerjaan sehari-hari, seperti bertani, maupun dalam kehidupan sosial mereka.

Selain itu, upacara ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada arwah leluhur yang dianggap telah melindungi mereka selama ini.

Prosesi Upacara

Upacara Dandan Kali dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yakni pada Hari Jumat Kliwon pagi hari, biasanya dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Prosesinya dimulai dengan pembakaran kemenyan di belik yang dianggap keramat, diikuti dengan tirakatan (doa-doa) kepada leluhur. 

Selanjutnya, dilaksanakan kenduri atau makan bersama di rumah Kepala Dusun. Setelah itu, prosesi penyembelihan kambing dimulai, diikuti dengan masak-memasak daging kambing untuk dihidangkan kepada warga. 

Gulai kambing atau “becekan” menjadi hidangan utama yang disajikan dalam upacara ini.

Masyarakat Desa Kepuharjo percaya bahwa doa-doa yang dipanjatkan selama prosesi ini akan dikabulkan Tuhan, dan jika upacara ini tidak dilakukan, maka malapetaka atau bencana akan menimpa desa mereka. 

Karena itu, meskipun sudah menjadi tradisi yang telah berlangsung lama, Dandan Kali tetap dilestarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan untuk menjaga kesejahteraan serta keselamatan masyarakat. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi22 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan