Desa Timbang, yang terletak di Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo dikenal sebagai produsen rebung (bambu muda) terbesar di wilayahnya. Salah satu pengusaha rebung di desa ini adalah Rusmeni yang telah menjalankannya usaha ini selama lebih dari 50 tahun.
Dengan geografis yang subur dan iklim yang mendukung, desa ini telah berhasil mengembangkan usaha rebung dalam skala besar. Sehingga menjadi pemasok utama ke kota-kota besar seperti Semarang dan Jakarta.
Perjalanan Usaha Rebung Rusmeni
Selain meningkatkan perekonomian desa, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Salah satu pengusaha rebung di Desa Timbang adalah Rusmeni yang telah menjalankan usaha ini kurang lebih 50 tahun.
“Dulu awalnya saya itu jualan sayur, terus ada orang Semarang datang kesini cari rebung. Dari situlah akhirnya saya keterusan jualan rebung saja. Sampai saat ini sudah sekitar 50 tahunan.” jelas Rusmeni.
Usaha ini, dulunya dikelola sendiri oleh Rusmeni. Namun, karena faktor umur, kini usahanya dikelola bersama anaknya. Ada dua jenis rebung yang dijual Rusmeni, yaitu dalam bentuk glondongan dan rajangan atau irisan.
Proses Pengolahan Rebung
Dalam pengolahannya, rebung yang dibeli dari petani lokal dan sudah dikupas terlebih dahulu direbus selama empat jam. Hal ini dilakukan supaya tidak cepat membusuk dan tetap dalam kondisi baik selama pengiriman.
Setelah direbus rebung kemudian direndam dalam drum. Setelah dingin drum ditutup rapat sebelum akhirnya dikirim kepada pembeli. Jika dalam bentuk rajangan, maka gelondongan rebung diiris tipis-tipis menggunakan pisau yang digunakan untuk membuat keripik.
Baru setelah itu diiris panjang dan kecil. Nantinya irisan ini juga harus dimasukkan ke dalam plastik yang rapat supaya kondisinya tetap baik. Biasanya rebung yang berbentuk glondongan maupun rajangan digunakan untuk isian lumpia.

Pemasaran Rebung
Setiap bulan, Rusmeni mampu memasarkan hasilnya ke beberapa daerah di luar Wonosobo, seperti Jakarta dan Semarang. Awalnya, pembeli dari Semarang datang langsung ke desa Timbang untuk membeli dalam jumlah besar, berkisar antara 2 hingga 5 kuintal per transaksi.
Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan, kini pengiriman dilakukan langsung ke Semarang dan Jakarta dalam skala yang lebih besar.
“Setiap bulan pengirimannya ke Semarang itu bisa mencapai 4,5 ton. Kalau yang di Jakarta biasanya beli yang sudah diiris-iris sekitar 6 kwintal kalau ramai ya sampai 10 kwintal.” kata Rusmeni.
Baca juga: Cerutu Swating, Inovasi Berkelas dari Tembakau Khas Tieng
Regenerasi dan Harapan ke Depan
Sebagai pengusaha yang telah berusia 70 tahun, Rusmeni kini melibatkan anak-anaknya dalam menjalankan bisnis keluarga. Dengan demikian, Rusmeni berharap usaha ini tetap berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Ke depan, harapannya adalah usaha rebung di Desa Timbang dapat terus berkembang. Di samping itu juga menjangkau pasar yang lebih luas, dan tetap menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat desa.
Dengan segala potensinya, Desa Timbang telah membuktikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Keberhasilan para pengusaha rebung di desa ini menjadi contoh nyata bagaimana usaha berbasis alam dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.