Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai Bajong Banyu.
Tradisi ini untuk mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan puasa.
Perang Air dalam Tradisi Bajong Banyu
Setiap tahun, prosesi ini dimulai dengan pengambilan air dari sumber Sendang Kedawung oleh puluhan warga, termasuk tokoh masyarakat dan perangkat desa setempat.
Mereka datang dengan membawa kendi, sementara para tokoh masyarakat mengambil air di Sendang Kedawung dengan pengawalan pasukan Bregada.
Perjalanan menuju sumber air yang berjarak sekitar 100 meter dilakukan dengan penuh khidmat, disertai suara bonang dan kenong. Sebelum mengambil air, para penari melakukan tarian sebagai bagian dari ritual tersebut.
Air yang dianggap suci itu kemudian dibawa kembali ke pusat dusun.
Sesepuh desa menuangkan air tersebut ke dalam gentong dan menyiramkan serta melemparkannya kepada masyarakat, sehingga terciptalah perang air yang menjadi inti dari tradisi Bajong Banyu.
Menjaga Sumber Mata Air
Ketua Karangtaruna Dusun Dawung, Gepeng Nugroho, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan setiap menjelang Ramadhan, bertujuan untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci tersebut.
Menurut Gepeng, terdapat banyak makna filosofis yang terkandung dalam Tradisi Bajong Banyu ini, termasuk pentingnya keberadaan air di Sendang Kedawung yang memberikan kehidupan bagi masyarakat setempat.
Gepeng menambahkan bahwa sumber air ini tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau, sehingga keberlanjutan sumber air tersebut harus terus dijaga demi kehidupan masyarakat desa.
“Sejak dahulu, mata air di Sendang Kedawung unik karena tetap mengalir meski musim kemarau. Ritual ini juga mengingatkan pentingnya menjaga sumber mata air bagi masyarakat,” ujarnya.
Dilestarikan Menjelang Bulan Ramadhan
Selain itu, Bajong Banyu diadakan untuk memberikan kemasan lebih menarik pada tradisi padusan menjelang Ramadhan, sekaligus menjadi daya tarik seni dan budaya yang menarik wisatawan.
Gepeng menegaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk mengemas padusan dengan lebih menarik, menggabungkan atraksi budaya agar mampu menarik minat para pengunjung.
Salah seorang warga, Suparno, menyatakan bahwa selain berfungsi sebagai padusan, tujuan dari Bajong Banyu adalah untuk merayakan kebersamaan.
Dalam acara ini, masyarakat dapat bersatu dan merayakan semangat kebersamaan melalui permainan air. “Kami saling bersama-sama dan bergembira menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh semangat,” ujarnya.
Selain kesenian tradisional, rangkaian acara ini juga mencakup peragaan busana dengan kostum unik hasil kreasi masyarakat Dusun Dawung dan sekitarnya.
Dengan adanya berbagai elemen ini, Tradisi Bajong Banyu semakin menarik dan terus dilestarikan setiap menjelang bulan Ramadhan. (Achmad Aristyan- Sumber: magelangkab.go.id)