Tradisi Labuh Saji atau sering juga disebut dengan syukuran nelayan adalah upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan hasil tangkapan laut yang cukup. Tradisi ini juga dilakukan dengan harapan dapat agar dijauhkan dari bencana atau musibah.
Upacara Adat Labuh Saji diadakan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dalam Bahasa Sunda, “Labuh” memiliki makna menjatuhkan benda. Dalam hal ini dimaksudkan melabuhkan/menjatuhkan sesajen ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan berlimpah setiap tahunnya.
Tradisi sudah dilakukan masyarakat Pelabuhan Ratu secara turun-temurun, dari generasi ke generasi hingga saat ini . Mereka masih percaya adanya mitos penguasa pantai selatan yaitu Nyi Roro Kidul. Tradisi ini dilakukan setiap tahun untuk menghormatinya.
Baca juga; Mangupa Upa, Tradisi Doa dan Syukur Suku Batak
Konon, upacara yang disebut juga sebagai Hari Nelayan ini bermula dari kebiasaan Nyi Putri Mayangsagara selalu memberikan penghormatan kepada Nyi Roro Kidul yang saat itu dipercaya sebagai penguasa pantai selatan. Putri Mayangsagara juga dikenal karena perhatiannya terhadap kesejahteraan para nelayan.
Lestarikan Kekayaan Laut
Demi menghormati kebiasaan putri Mayangsagara, tradisi diteruskan kepada warga hingga sekarang. Menurut mitos masyarakat setempat, Putri Mayangsagara merupakan Putri Raden Kumbang Bagus Setra dan Ratu Purnamasari yang berkuasa di Kerajaan Dadap Malang.
Dalam syukuran nelayan ini, Nyi Putri Mayangsagara dan Raden Kumbang Bagus Setra diarak dari Pendopo Kabupaten Sukabumi ke dermaga Pelabuhan Ratu. Dulunya, sesajen yang dilempar ke laut berupa kepala kerbau/sapi, namun saat ini sudah diganti dengan benih ikan atau udang.
Baca juga; Tradisi Serak Gulo Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda
Seiring perkembangannya, tradisi Labuh Saji digelar bersamaan dengan rangkaian acara lain. Kegiatannya seperti Festival dan Gelar Budaya. Terakhir kalinya, acara Festival dan Gelar Budaya Hari Nelayan Pelabuhan Ratu digelar 24 Mei 2024 lalu.
Rangkaian Festival yang digelar di Pelabuhan Ratu ini, puncaknya menampilkan prosesi ritual yang menceritakan mengenai silsilah kerajaan Ratu Pantai Selatan dan beragam pagelaran budaya.
Festival biasanya juga diramaikan berbagai perlombaan olahraga antara lain perlombaan seni budaya dan tradisi, hias perahu, ruang kreasi, pagelaran wayang golek. Adanya rangkaian festival ini tidak hanya dapat melestarikan tradisi Labuh Saji namun juga ikut membantu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. (Diolah dari berbagai sumber)