Tradisi

Tradisi Labuh Saji, Lestarikan Kekayaan Laut Sukabumi

Tradisi Labuh Saji atau sering juga disebut dengan syukuran nelayan adalah upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan hasil tangkapan laut yang cukup. Tradisi ini juga dilakukan dengan harapan dapat agar dijauhkan dari bencana atau musibah. Upacara Adat Labuh Saji diadakan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dalam Bahasa Sunda, “Labuh” memiliki makna […]

Oleh Anisa Kurniawati

Tradisi Labuh Saji
Tradisi Labuh Saji. Foto: kemenparekraf.go.id
Diterbitkan

Tradisi Labuh Saji atau sering juga disebut dengan syukuran nelayan adalah upacara sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberikan hasil tangkapan laut yang cukup. Tradisi ini juga dilakukan dengan harapan dapat agar dijauhkan dari bencana atau musibah.

Upacara Adat Labuh Saji diadakan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Dalam Bahasa Sunda, “Labuh” memiliki makna menjatuhkan benda. Dalam hal ini dimaksudkan melabuhkan/menjatuhkan sesajen  ke laut dengan harapan agar hasil tangkapan berlimpah setiap tahunnya. 

Tradisi sudah dilakukan masyarakat Pelabuhan Ratu secara turun-temurun, dari generasi ke generasi hingga saat ini . Mereka masih percaya adanya mitos penguasa pantai selatan yaitu Nyi Roro Kidul. Tradisi ini dilakukan setiap tahun untuk menghormatinya.

Baca juga; Mangupa Upa, Tradisi Doa dan Syukur Suku Batak

Konon, upacara yang disebut juga sebagai Hari Nelayan ini bermula dari kebiasaan Nyi Putri Mayangsagara selalu memberikan penghormatan kepada Nyi Roro Kidul yang saat itu dipercaya sebagai penguasa pantai selatan. Putri Mayangsagara juga dikenal karena perhatiannya terhadap kesejahteraan para nelayan.

Lestarikan Kekayaan Laut

Demi menghormati kebiasaan putri Mayangsagara, tradisi diteruskan kepada warga hingga sekarang. Menurut mitos masyarakat setempat, Putri Mayangsagara merupakan Putri Raden Kumbang Bagus Setra dan Ratu Purnamasari yang berkuasa di Kerajaan Dadap Malang.

Dalam syukuran nelayan ini, Nyi Putri Mayangsagara dan Raden Kumbang Bagus Setra diarak dari  Pendopo Kabupaten Sukabumi ke dermaga Pelabuhan Ratu. Dulunya, sesajen yang dilempar ke laut berupa kepala kerbau/sapi, namun saat ini sudah diganti dengan benih ikan atau udang. 

Baca juga; Tradisi Serak Gulo Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Seiring perkembangannya, tradisi Labuh Saji digelar bersamaan dengan rangkaian acara lain. Kegiatannya seperti Festival dan Gelar Budaya. Terakhir kalinya, acara Festival dan Gelar Budaya Hari Nelayan Pelabuhan Ratu digelar 24 Mei 2024 lalu.

Rangkaian Festival yang digelar di Pelabuhan Ratu ini, puncaknya menampilkan prosesi ritual yang menceritakan mengenai silsilah kerajaan Ratu Pantai Selatan dan beragam pagelaran budaya. 

Festival biasanya juga diramaikan berbagai perlombaan olahraga antara lain perlombaan seni budaya dan tradisi, hias perahu, ruang kreasi, pagelaran wayang golek. Adanya rangkaian festival ini tidak hanya dapat melestarikan tradisi Labuh Saji namun juga ikut membantu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi10 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati