Cerita Rakyat

Asal-Usul Gerhana Matahari dan Bulan di Mata Dayak Wehea

Suku Dayak Wehea yang mendiami Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur memiliki cerita rakyat yang terkenal. Legenda ini berkisah mengenai asal-usul gerhana matahari dan bulan. Cerita ini mengisahkan pasangan suami istri. Akan tetapi, terjadi kesalahpahaman antara pasangan itu yang kemudian berujung fatal. Dirangkum dari indonesiakaya.com, Dikisahkan di Kabupaten Kutai Timur, tinggalah sepasang suami istri dengan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Asal-Usul Gerhana Matahari dan Bulan di Mata Dayak Wehea
Ilustrasi Cerita Rkayat Dea Pey dan Weluen Long suku Waheea, Kutai Timur, Kaltim. Foto: Indonesiakaya.com
Diterbitkan

Suku Dayak Wehea yang mendiami Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur memiliki cerita rakyat yang terkenal. Legenda ini berkisah mengenai asal-usul gerhana matahari dan bulan. Cerita ini mengisahkan pasangan suami istri. Akan tetapi, terjadi kesalahpahaman antara pasangan itu yang kemudian berujung fatal. 

Dirangkum dari indonesiakaya.com, Dikisahkan di Kabupaten Kutai Timur, tinggalah sepasang suami istri dengan nama Dea Pey dan Weluen Long. Keduanya adalah jelmaan dari matahari dan bulan yang hidup di bumi. Pasangan itu hidup bahagaia bersama buah hati mereka. 

Ketika musim bercocok tanam tiba, sang suami Dea Pey, berniat untuk menanam padi. Karena persiapan ladang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, Dea Pey memohon bantuan para emta. Dalam bahasa Dayak Wehea, emta adalah ahli spiritual. 

Hari yang dinanti telah tiba. Para emta berdatangan membantu Dea Pey. Sebagai istri, Weluen Long mempersiapkan bahan-bahan untuk disajikan pada saat makan siang. Namun, dia tidak bisa menemukan lauk bersama sayur-mayur. 

Baca juga: Tradisi Unik Perkawinan Dayak Meratus Masih Lestari

Lauk Penyebab Petaka 

Kemudian Weluen Long bertanya kepada sang suami yang tengah bekerja di ladang. Dea Pey yang sebelumnya telah memancing ikan gabus, mengatakan untuk memotong ikan itu. Namun, Weluen Long termenung mendengar perkataan suaminya. Dalam pendengarannya, sang suami mengutusnya untuk memotong putri semata wayang mereka sebagai lauk makan siang. 

Dengan kebingungan luar biasa, Weluen Long berulang kembali memastikan dan bertanya kepada suaminya. Jawaban yang didengar Weluen Long tetap sama yaitu untuk memotong putri semata wayang mereka. Meski bingung, ia pun menuruti perintah suaminya. 

Weluen Long kemudian membunuh putri semata wayangnya. Setelah memotong tubuh dan memasaknya, ia meletakkan tulang belulang sang putri di samping tungku kompor. Sekembalinya bercocok tanam, Dea Pey dan para emta menyantap makan siang yang telah tersaji. 

Dea Pey tampak terlihat puas dengan santapan itu. Kemudian dia bertanya kepada istrinya mengenai apa yang disajikan untuk lauk. Dengan heran istrinya menjawab, “Bukankah kau memerintahkan saya untuk memotong anak kita dan menjadikannya lauk?”

Dea Pey terperanjat dan bergegas menuju dapur untuk menemukan deretan tulang belulang sang putri. Dirundung amarah, Dea Pey spontan menuangkan kuah sayur yang panas mendidih ke arah Weluen Long hingga kulitnya melepuh dan berbekas menjadi luka bakar.

Baca juga: Mengenal Aruh Baharin, Ritual Adat Dayak Meratus Halong

Kedatangan Sang Perungguk 

Setelah pertikain, Dea Pey kembali ke angkasa, ia kembali menjadi matahari. Sementara itu, Weluen Long terus mengobati luka bakar yang dideritanya. Salah satu luka di bagian punggungnya tak kunjung juga sembuh, bahkan lukanya mulai membusuk. 

Suatu seekor burung perungguk menemukan Weluen Long sedang terisak. Setelah menceritakan keadaannya ia meminta tolong kepada sang perungguk membersihkan sisa luka di punggungnya. Dengan iba, sang perungguk mulai membersihkan luka di punggung Weluen Long setiap hari. 

Seiring berjalannya waktu, perungguk mulai jatuh hati pada Weluen Long. Dia bahkan sampai mengutarakan niat memperistrinya. Namun, lamaran ini ditolak Weluen Long secara halus . Karena sudah terlanjur jatuh hati, perungguk tidak menerima penolakan Weluen Long.

Ia pun bersikeras tinggal dan menemani Weluen Long di pondok. Disisi lain Weluen Long telah memiliki niat pergi ke angkasa dan meninggalkan perungguk. Weluen Long pun memutar otak mencari cara meninggalkan perungguk. 

Gerhana Matahari

Untuk mengelabuhi perungguk, Weluen Long menyembunyikan sepotong bambu yang biasa ia gunakan untuk mencari kutu. Dia kemudian meminta perungguk untuk mencarinya di sekeliling pondok. Ketika perungguk sibuk mencari barang tersebut. Weluen Long terbang ke langit. 

Melihat hal itu, Perungguk berteriak marah dan mengejar Weluen Long yang terbang, namun tak sampai. Setelah itu, setiap merindukan Weluen Long, ia hanya bisa duduk termenung pada malam hari menunggu kemunculan bulan. 

Sementara itu, Weluen Long kembali menjelma menjadi bulan. Konon bekas luka bakar di punggung Weluen Long, menjadi permukaan tidak rata yang terdapat pada bulan. Setelah keduanya kembali ke angkasa, pertemuan antara Dea Pey dan Weluen Long tidak pernah terjadi. 

Konon keduanya hanya dapat bertemu saat gerhana matahari atau bulan. Terjadinya gerhana matahari atau bulan adalah gambaran dari Weluen Long yang berhasil mengejar Dea Pey untuk melepas rindu. Inilah cerita rakyat yang  masih lestari di kehidupan suku Dayak Wehea.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat06 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati