Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bertemu dengan CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim, untuk mempelajari pengalaman Grand Egyptian Museum (GEM) dalam membangun dan mengelola museum modern berskala internasional.
Pertemuan tersebut membahas berbagai aspek pengelolaan GEM, mulai dari konsep museum, pengelolaan koleksi dan pameran, operasional, pemeliharaan, keamanan, keberlanjutan pembiayaan, hingga pemanfaatan energi.
Pengalaman tersebut menjadi sangat relevan bagi Indonesia yang saat ini tengah mendorong transformasi dan modernisasi permuseuman nasional.
“Indonesia sedang mengembangkan museum-museum modern. Karena itu, kami ingin belajar dari Grand Egyptian Museum, terutama mengenai bagaimana museum dengan koleksi yang sangat besar dapat dikelola secara profesional, modern, menarik bagi masyarakat, sekaligus memiliki posisi di tingkat internasional,” ujar Menbud Fadli Zon di Kairo, Mesir, Senin (21/9/2026).
Tiga Fungsi Utama dan Konsep Museum Modern
CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim, menjelaskan bahwa GEM dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yaitu:
Pengembangan Grand Egyptian Museum berlandaskan pada tiga pilar utama yang saling melengkapi. Pertama, Egyptology and Research difungsikan sebagai pusat penelitian serta pengembangan pengetahuan mengenai peradaban Mesir secara mendalam.
Kedua, Global Tourism and Heritage menempatkan museum ini sebagai bagian integral dari ekosistem pariwisata dan pelestarian warisan budaya dunia.
Ketiga, Cultural Communication berperan sebagai ruang komunikasi kebudayaan yang menghubungkan peradaban Mesir dengan masyarakat dari berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, kekuatan museum tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah artefak yang dimiliki, melainkan bagaimana koleksi diteliti, dikonservasi, dikurasi, dan disajikan secara komunikatif kepada publik.
Skala Investasi, Keberlanjutan Finansial, dan Efisiensi Energi
Dalam pertemuan tersebut terungkap fakta mengenai skala operasional dan finansial GEM:
Skala operasional dan finansial Grand Egyptian Museum memberikan gambaran nyata mengenai pembangunan institusi kebudayaan kelas dunia.
Biaya pembangunan GEM tercatat mencapai sekitar US$1,2 miliar sebelum museum ini resmi dibuka. Meskipun membutuhkan investasi yang sangat besar, GEM terbukti mampu menjaga keberlanjutan finansialnya dengan mencatatkan profit hingga sekitar US$15 juta per tahun.
Selain itu, operasional museum berfasilitas raksasa ini didukung oleh penerapan efisiensi energi yang matang, seperti pemanfaatan energi surya serta optimasi sistem pendingin udara dan pencahayaan.
Langkah ini menjadi rujukan penting agar tata kelola museum berfasilitas besar dapat tetap berjalan ramah lingkungan sekaligus hemat biaya.
Isu Repatriasi dan Legalisasi Artefak Warisan Budaya
Selain tata kelola, pembahasan menyentuh isu keberadaan warisan budaya Mesir di luar negeri (seperti di Swiss). Hal ini mencakup aspek legalitas, provenance (asal-usul artefak), serta prosedur pengembalian (repatriasi) yang melibatkan diplomasi lintas kementerian dan pemerintah.
Kunjungan ini memperkuat komitmen Indonesia untuk menjadikan museum sebagai ruang yang mempertemukan warisan budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan masyarakat.
Pertemuan ini dihadiri oleh Dubes RI untuk Mesir Kuncoro Giri Waseso, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Ahli Menteri Rachmanda Primayuda, Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara, Penasihat Menteri Putu Supadma Rudana, serta Kasubdit Hubungan Media Andhini Widyasari.
“Kita bisa melihat bahwa museum modern membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan koleksi. Ada tata kelola, penelitian, konservasi, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, efisiensi energi, dan yang paling penting adalah bagaimana museum memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat,” tutup Menbud Fadli Zon.






