Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil tembakau berkualitas tinggi.
Salah satu produk unggulannya adalah Cerutu Swating, yang diproduksi Industri Kecil Menengah (IKM) Tembakau Swating.
Ahmad Fauzi, Ketua IKM Tembakau Swating, mengungkapkan bahwa cerutu ini hadir sebagai inovasi baru yang diharapkan dapat mengangkat perekonomian petani tembakau setempat.
“Nama Swating sendiri berasal dari istilah ‘Soto-ne Wong Asli Tieng’, yang berarti ‘Tembakaunya Orang Asli Tieng’. Tembakau ini sudah ada sejak tahun 1915 dan menjadi bagian dari sejarah panjang desa kami,” ujar Ahmad Fauzi.
Baca Juga: Peci Sobo Al-Masykur, Inovasi Peci Tahan Air dari Wonosobo
Menurutnya, meskipun awalnya tembakau diperkenalkan bangsa Portugis, penyebaran dan pemasaran di wilayah ini lebih banyak dilakukan komunitas Tionghoa.
Seiring waktu, tembakau dari Desa Tieng semakin dikenal karena memiliki aroma khas dan rasa yang lebih kuat dibandingkan dengan tembakau dari daerah lain.
Proses Produksi yang Panjang
Cerutu Swating dibuat dengan proses yang cukup panjang dan teliti.
Ahmad Fauzi menjelaskan bahwa tembakau yang digunakan harus melewati masa penyimpanan minimal satu tahun sebelum diproses lebih lanjut.
“Kami menanam varietas Jawa Kenongo khusus untuk cerutu. Daun tembakau yang dipilih harus memiliki tingkat ketebalan yang sesuai agar menghasilkan cerutu berkualitas tinggi,” katanya.
Proses pembuatan cerutu ini meliputi beberapa tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, pengeringan, hingga pembuatan cerutu secara manual.
Setelah daun tembakau kering dan siap digunakan, proses berikutnya adalah pemilihan bagian daun sesuai fungsinya, yaitu filler (isi cerutu), binder (lapisan pertama), dan wrapper (pembungkus luar).
“Filler dimasukkan ke dalam cetakan dan dipres selama 3–7 hari agar kepadatannya ideal. Setelah itu, cerutu harus melalui proses penyimpanan di freezer selama satu minggu untuk membunuh bakteri, lalu dikeringkan dalam pemanas listrik sebelum akhirnya masuk tahap penyortiran dan pengemasan,” jelasnya.
Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhkan dari awal penanaman hingga cerutu siap jual mencapai lebih dari satu tahun.

Varian dan Harga Cerutu Swating
IKM Tembakau Swating saat ini telah memproduksi beberapa varian cerutu yang sudah beredar di pasaran, di antaranya Robusto seharga Rp40.000 per batang, Corona Super dengan harga Rp30.000 per batang, serta Corona Standar yang dibanderol Rp25.000 per batang.
Selain itu, tersedia juga Cerutu Mini seharga Rp10.000 per batang, serta pilihan paket seperti Paket Corona isi 3 batang seharga Rp100.000 dan Paket Corona isi 6 batang yang dijual Rp180.000.
Menurut Ahmad Fauzi, keunggulan Cerutu Swating terletak pada aroma khasnya yang berbeda dari cerutu lainnya.
“Kami sudah melakukan uji coba kepada para penikmat cerutu, dan mereka merasakan perbedaannya. Faktor tanah serta embun di Desa Tieng memberikan keunikan tersendiri pada rasa cerutu ini,” ungkapnya.
Baca Juga: KH Manshur, Sosok Dibalik Berdirinya Masjid Al-Manshur Wonosobo
Pemasaran dan Tantangan yang Dihadapi
Saat ini, pemasaran Cerutu Swating masih dilakukan secara terbatas melalui outlet resmi yang juga menjual produk tembakau lainnya, seperti tembakau garangan, lembutan, dan rajikan.
Meskipun banyak permintaan dari agen-agen, distribusi luas masih menunggu penyelesaian legalitas usaha yang kini telah mencapai 80%.
Selain itu, cerutu ini mulai dikenalkan ke pasar internasional.
Beberapa konsumen dari Jakarta telah membawa Cerutu Swating ke luar negeri, termasuk ke China, sebagai upaya memperkenalkan produk tembakau khas Wonosobo.
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku.
“Daun tembakau untuk cerutu harus disimpan minimal satu tahun sebelum digunakan. Jika stok habis sebelum panen berikutnya, kami harus mencari bahan baku dari luar daerah, yang terkadang kualitasnya berbeda dengan tembakau asli Tieng,” kata Ahmad Fauzi.
Dampak Positif bagi Petani Lokal
Masyarakat Desa Tieng, khususnya para petani tembakau, menyambut baik inovasi ini.
Dengan meningkatnya produksi cerutu, permintaan terhadap tembakau kering dari Tieng juga meningkat.
Baca Juga: Desa Buntu Kejajar Resmi Jadi Contoh Desa Damai Berkelanjutan
“Kami selalu membeli daun tembakau dari warga dengan harga lebih tinggi dari rata-rata pasar. Harapannya, dengan berkembangnya cerutu Swating, kesejahteraan petani lokal juga ikut meningkat,” pungkasnya.
Dengan terus berkembangnya industri cerutu di Desa Tieng, Ahmad Fauzi berharap produk lokal ini dapat semakin dikenal luas dan menjadi ikon baru tembakau Wonosobo di tingkat nasional maupun internasional.