Budaya

Dari Bunga Durian Jadi Hidangan Tumis Cengkaruk Khas Betawi

Masyarakat Betawi, sejak lama telah berhasil mengolah bunga durian menjadi tumis bunga cengkaruk, hidangan sederhana yang mengandung nilai budaya dan kearifan lokal. Tidak hanya buahnya yang lezat, bunga durian juga memiliki nilai guna yang luar biasa. Bunga durian yang biasanya dianggap bagian yang terbuang, ternyata dapat diolah menjadi hidangan yang menggugah selera. Bagi masyarakat Betawi, […]

Oleh Achmad Aristyan

Dari Bunga Durian Jadi Hidangan Tumis Cengkaruk Khas Betawi
Tumis Bunga Cengkaruk yang merupakan kuliner khas Betawi berbahan dasar bunga durian. Foto: cookpad.com/Tesa Desanda Eldida
Diterbitkan

Masyarakat Betawi, sejak lama telah berhasil mengolah bunga durian menjadi tumis bunga cengkaruk, hidangan sederhana yang mengandung nilai budaya dan kearifan lokal.

Tidak hanya buahnya yang lezat, bunga durian juga memiliki nilai guna yang luar biasa. Bunga durian yang biasanya dianggap bagian yang terbuang, ternyata dapat diolah menjadi hidangan yang menggugah selera. 

Bagi masyarakat Betawi, pemanfaatan sumber daya alam adalah bagian kehidupan sehari-hari. Sejak zaman dahulu, mereka telah terbiasa menanam berbagai jenis tanaman, termasuk durian. 

Asal Usul dan Manfaat Bunga Durian

Durian dikenal sebagai “Raja Buah” karena rasanya kaya dan khas. Namun, selain buahnya legendaris, durian juga menawarkan bagian lain yang tak kalah menarik untuk dimanfaatkan, yaitu bunga durian. 

Selain digunakan dalam masakan seperti tumis bunga cengkaruk, bunga durian juga dikenal memiliki sejumlah manfaat. Dalam pengobatan tradisional, bunga durian digunakan untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan, seperti demam atau radang tenggorokan.

Masakan Khas Tak Tergantikan

Melansir dari senibudayabetawi.com, bunga durian memiliki ciri khas dengan warna putih cerah dan bentuk yang memikat. Masyarakat Betawi menyebutnya karuk atau cengkaruk. 

Ketika bunga durian mulai bermekaran dan jatuh dari pohonnya, anak-anak Betawi akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memungut bunga-bunga itu. Dengan cepat, mereka mengumpulkan bunga durian yang masih segar dan harum, untuk kemudian diberikan kepada ibu mereka di rumah, atau dijual ke pasar.

Tumis bunga durian menjadi hidangan musiman yang sangat dinantikan. Selain rasanya yang lezat, hidangan ini juga menjadi simbol kearifan masyarakat Betawi dalam memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal. 

Tumis bunga cengkaruk seringkali ditambahkan dengan bahan pelengkap seperti ikan teri, petai, dan cabai, yang menambah kekayaan rasa. Kombinasi rasa pedas, gurih, dan sedikit manis dari petai menjadikan hidangan ini tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengingatkan kita pada kehangatan tradisi kuliner Betawi yang penuh makna.

Resep Tumis Bunga Durian

Dilansir dari cookpad.com, Tumis bunga durian adalah hidangan khas Betawi yang tidak hanya lezat, tetapi juga menggambarkan keanekaragaman kuliner daerah ini. Untuk membuatnya, pertama-tama cuci bunga durian hingga bersih, kemudian rebus hingga matang dan tiriskan. 

Sementara itu, iris halus bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit, dan potong dadu tomat. Setelah semua bahan siap, panaskan minyak goreng dalam wajan dan tumis bawang merah serta bawang putih hingga harum. 

Masukkan lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan laos, lalu tumis hingga bumbu meresap. Selanjutnya, tambahkan bunga durian yang sudah direbus dan ikan teri Medan yang digoreng garing. 

Aduk rata dan tuangkan secangkir air, masak hingga bumbu meresap dan air sedikit menguap. Tumis bunga durian pun siap disajikan bersama nasi putih hangat untuk sensasi rasa khas dan nikmat. 

TopikBudaya
Budaya30 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan