Perhelatan Erau Adat Kutai 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi berlangsungnya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tetapi juga mempertemukan beragam produk budaya yang hidup di Kalimantan Timur. Di antara deretan pelaku usaha yang hadir di kawasan depan Kedaton, produk kerajinan Dayak Kenyah ikut mengambil tempat melalui stan RJ Manik asal Kelurahan Jahab, Tenggarong.
Pakaian adat, kerajinan manik, topi rotan hingga beragam aksesori menjadi bagian dari produk yang diperkenalkan kepada pengunjung. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai motif, bahan, dan keterampilan tradisional dapat bergerak dari ruang komunitas menuju kegiatan ekonomi tanpa sepenuhnya melepaskan identitas budaya yang melatarinya.
Ketika Kerajinan Menjadi Pembawa Identitas
Salah satu produk yang ditampilkan RJ Manik adalah Sapei Ta’a, pakaian adat perempuan Dayak Kenyah yang antara lain digunakan dalam kegiatan tari. Produk tersebut hadir bersama aneka kerajinan lain seperti gelang, kalung, anting, bando, topi, serta berbagai jenis tas berbahan rotan maupun manik.
Bagi kerajinan yang berangkat dari tradisi, nilai sebuah produk tidak hanya berada pada fungsi bendanya. Di balik proses pembuatannya terdapat keterampilan memilih bahan, menyusun bentuk, mengolah motif, dan pengetahuan yang berkembang bersama masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Kerumitan pengerjaan turut menentukan nilai ekonomi produk yang dipasarkan. RJ Manik menawarkan produk dengan harga beragam sesuai bahan, kualitas, serta tingkat kerumitan motif, sementara beberapa kerajinan tertentu dapat bernilai hingga sekitar Rp1,9 juta.
Tidak seluruh barang tersebut diproduksi langsung oleh RJ Manik. Sebagian diperoleh dari pengrajin dengan mempertimbangkan kualitas dan harga, sehingga keberadaan usaha semacam ini sekaligus dapat menjadi bagian dari mata rantai pemasaran bagi pembuat kerajinan.
Erau Membuka Ruang bagi Pelaku Lokal
RJ Manik telah sekitar lima tahun menjadi bagian dari pembinaan Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara. Selama periode tersebut, usaha ini memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pameran dan bazar, termasuk kegiatan Erau pada tahun-tahun sebelumnya.
Pada Erau Adat Kutai 2026, sebanyak 24 UMKM binaan Diskop-UKM Kukar dilibatkan dalam bazar di kawasan depan Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Panitia menyediakan 12 tenda dengan masing-masing ditempati dua UMKM, dan fasilitas tersebut diberikan tanpa biaya kepada para peserta.
Mayoritas UMKM yang mengikuti kegiatan bergerak di sektor kuliner, tetapi ruang juga diberikan kepada pelaku usaha yang membawa produk kerajinan dan aksesori. Bazar berlangsung selama rangkaian Erau hingga Sabtu malam, 26 September 2026.
Pertemuan antara perayaan adat dan pelaku usaha lokal menjadi penting karena sebuah festival budaya tidak hanya menghadirkan pertunjukan. Perputaran pengunjung juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang memproduksi makanan, kerajinan, busana, hingga benda-benda yang berkaitan dengan identitas daerah.
Tantangan Menjual Kerajinan di Tengah Kondisi Ekonomi
Meski berada di tengah perhelatan besar, keramaian tidak selalu berbanding lurus dengan penjualan produk kerajinan. Resna, pelaku UMKM RJ Manik, mengakui penjualan pada penyelenggaraan Erau tahun ini belum seramai tahun sebelumnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi turut memengaruhi keputusan pengunjung ketika berbelanja. Produk seperti aksesori dan kerajinan bukan kebutuhan pokok sehingga masyarakat dapat lebih mempertimbangkan pengeluaran dibandingkan ketika membeli makanan atau minuman.
Peluang pasar tetap terbuka melalui pengunjung yang datang dari luar daerah. RJ Manik mencatat pembeli dari Jawa Timur, Banjarmasin, dan Kalimantan Barat yang memilih sejumlah produk untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Situasi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi produk kerajinan tradisional pada masa sekarang. Nilai budaya dan keterampilan pembuatnya perlu berjalan berdampingan dengan kemampuan membaca pasar agar produk tetap memiliki pembeli dan para pengrajin memperoleh ruang untuk mempertahankan pekerjaannya.
Dari Panggung Budaya Menuju Pasar Digital
Pembinaan kepada pelaku UMKM tidak hanya dilakukan dengan menyediakan ruang berjualan ketika festival berlangsung. Resna mengatakan dirinya juga beberapa kali mengikuti pelatihan, terutama mengenai pemasaran digital yang semakin mengandalkan telepon seluler sebagai pintu menuju konsumen.
Perubahan tersebut membuka peluang baru bagi kerajinan berbasis budaya karena jangkauan pasarnya tidak lagi terbatas pada pengunjung yang datang langsung ke Tenggarong. Produk dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas selama cerita mengenai asal, pembuat, bahan, dan identitas budayanya tetap disampaikan secara bertanggung jawab.
Bagi kerajinan Dayak Kenyah, ruang digital juga dapat menjadi tempat memperkenalkan pengetahuan yang berada di balik benda. Konsumen tidak hanya melihat sebuah tas, pakaian atau susunan manik, tetapi memperoleh kesempatan memahami bahwa produk tersebut mempunyai hubungan dengan tradisi dan keterampilan masyarakat yang membuatnya.
Budaya yang Tetap Hidup melalui Keterampilan
Erau memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berlangsung melalui banyak jalan. Pertunjukan menjaga gerak dan bunyi, sementara pengrajin mempertahankan keterampilan melalui benda-benda yang terus dibuat, digunakan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Kehadiran produk Dayak Kenyah di tengah Erau Adat Kutai juga menunjukkan keberagaman budaya yang hidup di Kalimantan Timur. Identitas masing-masing tradisi tetap perlu ditempatkan sesuai konteksnya, sementara ruang perjumpaan seperti festival memungkinkan masyarakat saling mengenal tanpa harus meleburkan perbedaan tersebut.
Ketika pakaian adat, anyaman rotan, dan kerajinan manik memperoleh ruang ekonomi, yang bergerak bukan hanya sebuah barang dari penjual kepada pembeli. Bersamanya ikut bergerak keterampilan, cerita, dan pengetahuan yang membuat sebuah produk budaya memiliki hubungan dengan masyarakat tempat ia berasal.






