TENGGARONG — Sebuah gasing berputar di arena, sementara orang-orang yang mengelilinginya menunggu dengan mata tertuju pada benda kecil yang terus mempertahankan keseimbangan. Di tempat lain, para peserta menyiapkan logo, sumpit, dan ketapel, menghadirkan kembali permainan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan.
Pemandangan itu hadir dalam Festival Olahraga Tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di kawasan parkir Pulau Kumala, olahraga tradisional kembali ditempatkan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai bagian dari perayaan kebudayaan yang mempertemukan masa lalu dengan generasi hari ini.
Festival tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, Sunggono, pada Senin, 21 September 2026. Pembukaan ditandai dengan memutar gasing, salah satu permainan tradisional yang memiliki akar panjang dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan.
Dalam rangkaian tahun ini, sejumlah olahraga tradisional seperti belogo, begasing, menyumpit, dan ketapel dipertandingkan. Permainan-permainan itu membawa karakter berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: semuanya tumbuh dari pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Permainan yang Menyimpan Ingatan
Olahraga tradisional sering kali terlihat sederhana karena menggunakan peralatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan keterampilan, aturan, istilah, serta pengetahuan yang terbentuk melalui perjalanan panjang masyarakat pendukungnya.
Begasing menjadi salah satu contoh bagaimana benda sederhana dapat berkembang menjadi permainan dengan teknik yang tidak sederhana. Pemain harus memahami cara melilitkan tali, menentukan kekuatan lemparan, membaca permukaan arena, hingga menjaga gasing agar mampu berputar sesuai tujuan permainan.
Begitu pula dengan belogo yang telah lama dikenal dalam kebudayaan masyarakat Kalimantan. Permainan tersebut membutuhkan ketepatan, perhitungan, konsentrasi, serta kemampuan pemain dalam mengarahkan alat permainan menuju sasaran.
Menyumpit membawa hubungan yang lebih jauh dengan pengetahuan masyarakat Kalimantan mengenai lingkungan dan keterampilan tradisional. Sementara dalam arena olahraga modern sumpit digunakan sebagai alat permainan dengan aturan keselamatan tertentu, keberadaannya mengingatkan pada salah satu keterampilan yang telah dikenal dalam kehidupan masyarakat di Pulau Kalimantan.
Ketapel tradisional mempunyai cerita yang berbeda tetapi tetap berangkat dari benda yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari permainan sehari-hari, keterampilan membidik kemudian berkembang menjadi aktivitas yang memiliki aturan, teknik, serta ruang kompetisi.
Ketika permainan-permainan tersebut ditempatkan dalam sebuah festival, yang dipertandingkan sebenarnya bukan hanya kemampuan untuk menang. Di sana terdapat pengetahuan mengenai bagaimana sebuah tradisi dimainkan, bagaimana aturan diteruskan, dan bagaimana masyarakat mempertahankan hubungan dengan warisan yang mereka miliki.
Erau dan Ruang Bertemunya Tradisi
Festival olahraga tradisional berlangsung di tengah rangkaian Erau Adat Kutai, sebuah perhelatan budaya yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Kutai. Erau mempertemukan rangkaian adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan berbagai kegiatan masyarakat yang berkembang di sekelilingnya.
Erau 2026 berlangsung dengan rangkaian panjang yang mencakup prosesi adat, kegiatan seni, bazar, UMKM, hingga olahraga tradisional. Sejumlah prosesi seperti Beluluh, Bepelas, Beseprah, Mengulur Naga, dan Belimbur menjadi bagian dari rangkaian kebudayaan tersebut.
Keberadaan olahraga tradisional di dalam Erau membuat festival tidak hanya berbicara tentang ritual dan seremoni. Masyarakat dapat memasuki kebudayaan melalui sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari: bermain, menonton, bertanding, dan berkumpul.
Di sinilah olahraga tradisional menemukan ruang sosialnya. Ia menjadi titik pertemuan antara peserta, keluarga, penonton, penggiat budaya, komunitas, dan masyarakat yang datang dari berbagai tempat.
Anak-anak dapat melihat permainan yang mungkin sebelumnya hanya mereka dengar dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Generasi yang lebih tua, pada saat yang sama, dapat kembali menemukan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Dari Halaman Kampung Menuju Arena Festival
Pada masa ketika ruang hiburan belum dipenuhi perangkat digital, permainan tradisional tumbuh di halaman rumah, tanah lapang, tepian kampung, dan ruang-ruang tempat masyarakat berkumpul. Peralatan permainan dibuat dari benda yang tersedia di sekitar, sementara keterampilan sering dipelajari dengan melihat orang lain bermain.
Proses pewarisannya berlangsung secara alami karena anak belajar dari anak yang lebih besar dan generasi muda melihat bagaimana orang dewasa memainkan permainan tersebut. Tidak selalu diperlukan buku petunjuk karena pengetahuan berpindah melalui praktik, pengulangan, dan kebersamaan.
Perubahan cara hidup kemudian membuat sebagian ruang tersebut semakin sulit ditemukan. Urbanisasi, perubahan lingkungan permukiman, teknologi digital, serta munculnya bentuk hiburan baru membuat banyak permainan tradisional tidak lagi hadir setiap hari.
Kondisi itulah yang membuat festival dan kompetisi mempunyai fungsi baru. Arena perlombaan bukan hanya tempat mencari pemenang, tetapi juga ruang untuk memastikan pengetahuan tentang permainan tetap dipraktikkan.
Ketika sebuah permainan memiliki jadwal pertandingan, peserta, juri, aturan, serta komunitas yang terus menghidupkannya, peluang untuk bertahan menjadi lebih besar. Tradisi tidak berhenti menjadi cerita tentang masa lalu karena masih ada orang yang mengetahui bagaimana cara memainkannya.
Belajar dari Sebuah Permainan
Dalam sambutan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri yang disampaikan Sekda Sunggono, olahraga tradisional dalam rangkaian Erau ditempatkan sebagai bagian dari upaya merawat ingatan budaya dan meneruskan warisan kepada generasi berikutnya. Permainan tersebut juga dipandang membawa nilai pendidikan dan pembentukan karakter.
Ketangkasan menjadi salah satu unsur yang segera terlihat ketika peserta memainkan olahraga tradisional. Namun kemampuan fisik saja tidak cukup karena pemain juga membutuhkan konsentrasi, kesabaran, perhitungan, dan pengendalian diri.
Pada permainan beregu, terdapat pula pelajaran mengenai kerja sama dan komunikasi. Seorang pemain tidak berdiri sendiri karena hasil pertandingan dapat bergantung pada bagaimana anggota kelompok memahami peran masing-masing.
Kompetisi juga mengajarkan cara menerima kemenangan dan kekalahan. Dalam ruang seperti inilah sportivitas menjadi nilai yang dapat dipraktikkan secara langsung, bukan hanya dijelaskan sebagai sebuah konsep.
Nilai-nilai tersebut membuat olahraga tradisional mempunyai kemungkinan untuk ditempatkan dalam ruang pendidikan yang lebih luas. Permainan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah lokal, lingkungan, bahasa, keterampilan, hingga hubungan sosial masyarakat kepada generasi muda.
Regenerasi Menjadi Kunci
Sebuah tradisi dapat terdokumentasi melalui tulisan, foto, dan rekaman video, tetapi dokumentasi tidak selalu cukup untuk membuatnya tetap hidup. Permainan membutuhkan orang yang mengetahui cara membuat alat, memahami aturan, menguasai teknik, serta bersedia mengajarkannya kembali.
Karena itu, regenerasi menjadi bagian penting dari pelestarian olahraga tradisional. Tanpa pemain baru, sebuah permainan perlahan dapat berubah dari praktik budaya menjadi sekadar catatan sejarah.
Pembinaan berkelanjutan menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan olahraga tradisional di Kukar. Ruang latihan, kaderisasi pelatih dan juri, dokumentasi aturan, serta kompetisi berjenjang dapat membantu permainan memiliki ekosistem yang lebih kuat.
Generasi muda juga membutuhkan kesempatan untuk mengenalnya secara langsung. Mengajak mereka menyentuh gasing, mencoba belogo, memegang sumpit olahraga, atau belajar membidik jauh lebih memungkinkan membangun kedekatan dibanding hanya memperlihatkan gambar permainan dalam buku.
Di sinilah festival mempunyai kekuatan yang sulit digantikan oleh dokumentasi. Tradisi hadir sebagai pengalaman yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan dirasakan bersama-sama.
Pulau Kumala Menjadi Ruang Pertemuan
Pemilihan kawasan Pulau Kumala sebagai salah satu pusat pertandingan membawa olahraga tradisional ke ruang yang mudah didatangi masyarakat. Kawasan tersebut selama ini juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Tenggarong.
Pertandingan kemudian menciptakan pergerakan manusia yang lebih luas daripada sekadar peserta dan panitia. Keluarga peserta, penonton, wisatawan, pedagang, serta komunitas berkumpul dalam ruang yang sama.
Kehadiran mereka membuka hubungan antara kebudayaan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika sebuah festival mendatangkan orang, kebutuhan terhadap makanan, minuman, transportasi, akomodasi, suvenir, dan berbagai produk lokal ikut muncul.
Karena itu, perhelatan budaya dapat memberikan dampak yang melampaui panggung pertunjukan. Tradisi menjadi bagian dari pengalaman berkunjung sekaligus membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi.
Namun hubungan antara budaya dan pariwisata tetap membutuhkan keseimbangan. Tradisi memperoleh manfaat ketika dikenal lebih luas, tetapi nilai dan pengetahuan yang menjadi fondasinya tetap perlu ditempatkan sebagai bagian utama dari penyelenggaraan.
Olahraga Tradisional sebagai Pengalaman Wisata Budaya
Wisata budaya tidak selalu harus berbentuk kunjungan ke museum atau menyaksikan pertunjukan dari kejauhan. Pengalaman yang memungkinkan pengunjung melihat langsung bagaimana masyarakat memainkan tradisinya dapat menghadirkan hubungan yang lebih dekat dengan sebuah tempat.
Olahraga tradisional mempunyai potensi tersebut karena sifatnya yang partisipatif. Pengunjung dapat menyaksikan teknik permainan, mengenal istilah lokal, memahami aturan, serta melihat interaksi masyarakat yang terjadi di sekitar arena.
Bagi Tenggarong, pengalaman seperti ini dapat memperkaya wajah Erau sebagai perhelatan budaya. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan satu prosesi, melainkan menemukan rangkaian pengalaman yang saling terhubung.
Festival olahraga tradisional juga memungkinkan cerita mengenai Kutai disampaikan melalui cara yang berbeda. Kebudayaan tidak hanya tampil melalui pakaian, tari, musik, atau upacara, tetapi juga melalui cara masyarakat bermain.
Kompetisi yang Menjaga Standar Permainan
Ketika permainan tradisional berkembang menjadi kompetisi, kebutuhan terhadap aturan yang jelas menjadi semakin penting. Ukuran arena, alat yang digunakan, sistem penilaian, kategori peserta, hingga keputusan juri perlu dipahami bersama.
Standardisasi tersebut membantu permainan dipertandingkan secara lebih teratur tanpa harus menghilangkan akar budayanya. Pada saat yang sama, dokumentasi aturan memungkinkan pengetahuan diwariskan kepada komunitas lain dan generasi berikutnya.
Peran pelatih dan juri kemudian menjadi sama pentingnya dengan pemain. Mereka menjadi penjaga pengetahuan teknis yang memastikan sebuah permainan tetap dimainkan berdasarkan aturan yang telah disepakati.
Pembinaan terhadap perangkat pertandingan juga membuat olahraga tradisional memiliki peluang berkembang melampaui festival lokal. Kompetisi antardaerah dapat menjadi ruang pertemuan untuk bertukar pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring komunitas.
Dari Kukar Bertemu Kalimantan
Antusiasme terhadap olahraga tradisional dalam rangkaian Erau tidak hanya datang dari Tenggarong. Peserta dan penggiat dari berbagai wilayah ikut menjadikan pertandingan sebagai tempat bertemunya komunitas olahraga tradisional.
Pada persiapan penyelenggaraan 2026, Dispora Kukar menyebut peserta berasal dari berbagai kecamatan di Kutai Kartanegara serta sejumlah daerah di Kalimantan Timur dan luar provinsi. Kehadiran peserta lintas daerah menunjukkan bahwa permainan tradisional masih mempunyai komunitas yang aktif.
Pertemuan tersebut penting karena tradisi tidak berkembang dalam ruang yang sepenuhnya terpisah. Berbagai daerah di Kalimantan dapat memiliki permainan yang serupa, tetapi mempunyai nama, teknik, aturan, atau kebiasaan yang berbeda.
Festival memberi kesempatan kepada perbedaan tersebut untuk saling bertemu. Alih-alih menyeragamkan seluruh tradisi, perjumpaan dapat membuka ruang untuk memahami keragaman yang berkembang di masing-masing wilayah.
Warisan yang Harus Dimainkan
Ada perbedaan besar antara mengetahui sebuah tradisi dan mampu mempraktikkannya. Seseorang dapat membaca sejarah begasing, tetapi pengetahuan itu berbeda dengan kemampuan melilit tali, melempar gasing, dan membuatnya berputar dengan baik.
Hal yang sama berlaku pada belogo, menyumpit, dan berbagai permainan tradisional lainnya. Pengetahuan praktis berada pada tangan, gerak tubuh, pengalaman, dan kebiasaan yang terbentuk melalui latihan.
Karena itulah olahraga tradisional termasuk warisan yang membutuhkan pelaku. Ia akan bertahan bukan semata karena disimpan, tetapi karena terus dimainkan.
Festival seperti yang berlangsung dalam rangkaian Erau menyediakan panggung untuk proses tersebut. Para pemain senior mempunyai tempat memperlihatkan keterampilan, sementara generasi yang lebih muda mempunyai kesempatan melihat standar permainan secara langsung.
Ketika Tradisi Tidak Berhenti Menjadi Nostalgia
Pembicaraan mengenai permainan tradisional sering terjebak pada nostalgia tentang masa ketika anak-anak bermain di halaman hingga sore. Kenangan tersebut penting, tetapi pelestarian membutuhkan sesuatu yang lebih jauh daripada kerinduan terhadap masa lalu.
Tradisi harus menemukan alasan untuk tetap hadir dalam kehidupan masyarakat hari ini. Kompetisi, pendidikan, komunitas, festival, dan pariwisata budaya menjadi beberapa ruang yang memungkinkan permainan memperoleh fungsi baru tanpa kehilangan asal-usulnya.
Olahraga tradisional bahkan dapat hidup berdampingan dengan teknologi yang sering dianggap sebagai pesaingnya. Dokumentasi digital, video tutorial, arsip pertandingan, dan media sosial justru dapat memperluas akses generasi muda terhadap pengetahuan tersebut.
Yang terpenting adalah memastikan teknologi tidak menggantikan pengalaman bermain itu sendiri. Sebab inti dari sebuah permainan tetap berada pada manusia yang bertemu, bergerak, berkompetisi, dan berinteraksi.
Erau dan Ingatan yang Terus Bergerak
Rangkaian Erau memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat hidup melalui banyak bentuk. Ritual adat menjaga hubungan dengan sejarah dan nilai spiritual, seni menghadirkan ekspresi, sementara permainan membawa tradisi ke ruang yang lebih partisipatif.
Olahraga tradisional menempati ruang yang unik karena mampu menghubungkan warisan dengan kegembiraan. Orang mungkin datang untuk bertanding atau menonton, tetapi pada saat yang sama mereka sedang berhadapan dengan sebuah pengetahuan budaya.
Di tengah perubahan Tenggarong dan Kalimantan Timur yang berlangsung cepat, keberadaan ruang semacam ini memperoleh arti tersendiri. Modernisasi tidak harus membuat masyarakat meninggalkan seluruh praktik yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Sebaliknya, tradisi dapat terus bergerak selama masyarakat menemukan cara untuk memberinya tempat. Arena pertandingan menjadi salah satu tempat di mana proses itu berlangsung.
Putaran yang Belum Selesai
Ketika gasing dilemparkan ke tanah, ia hanya dapat bertahan selama memiliki tenaga dan keseimbangan. Gambaran sederhana itu seolah menjadi metafora bagi perjalanan olahraga tradisional yang membutuhkan energi baru agar terus bergerak.
Energi tersebut datang dari pemain yang berlatih, orang tua yang mengenalkan permainan kepada anaknya, komunitas yang mengadakan pertandingan, juri yang menjaga aturan, dan masyarakat yang bersedia hadir menyaksikannya.
Festival olahraga tradisional dalam Erau Adat Kutai 2026 menjadi salah satu ruang tempat energi itu dikumpulkan. Di sana, permainan lama tidak diperlakukan sebagai benda yang selesai pada masa lalu, tetapi sebagai bagian dari kebudayaan yang masih mempunyai kehidupan.
Ketika seorang anak melihat gasing berputar untuk pertama kali, ketika pemain muda belajar mengarahkan logo, atau ketika penonton mengenali kembali permainan masa kecilnya, proses pewarisan itu sebenarnya sedang berlangsung. Tradisi menemukan generasi berikutnya bukan melalui sebuah pidato, melainkan melalui pengalaman yang tinggal dalam ingatan.
Pada akhirnya, pelestarian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia dimulai dari seutas tali, sebilah sumpit, sebuah logo, sebuah ketapel, dan gasing yang kembali dilemparkan ke tanah.
Selama masih ada tangan yang bersedia memainkannya dan generasi yang ingin mempelajarinya, putaran itu belum selesai.






