Budaya

Keripik Kelakai, Camilan Suku Dayak dengan Ragam Manfaat

Salah satu tumbuhan yang memiliki banyak khasiat adalah kelakai, tanaman sejenis ganggang yang tumbuh subur di hutan rawa-rawa pulau Kalimantan dan bisa dibikin Keripik Kelakai. Di antara masyarakat Suku Dayak, kelakai sudah dikenal luas dan digunakan dalam berbagai cara untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Sejak zaman dahulu, nenek moyang bangsa Indonesia hidup harmonis […]

Oleh Achmad Aristyan

Keripik Kelakai, Camilan Suku Dayak dengan Ragam Manfaat
Keripik Kelakai khas suku Dayak dikenal memiliki beragam khasiat. Foto: cookpad.com
Diterbitkan

Salah satu tumbuhan yang memiliki banyak khasiat adalah kelakai, tanaman sejenis ganggang yang tumbuh subur di hutan rawa-rawa pulau Kalimantan dan bisa dibikin Keripik Kelakai.

Di antara masyarakat Suku Dayak, kelakai sudah dikenal luas dan digunakan dalam berbagai cara untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.

Sejak zaman dahulu, nenek moyang bangsa Indonesia hidup harmonis dengan alam, memanfaatkan hutan sebagai sumber penghidupan utama. Berbagai flora yang tumbuh di hutan mampu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. 

Tanaman dengan Beragam Khasiat

Melansir dari laman indonesiakaya.com, Kelakai dengan nama ilmiah Stenochlaena palustris, dikenal memiliki beragam khasiat bagi kesehatan tubuh manusia.

Di antara berbagai khasiat dari tanaman ini adalah kemampuannya untuk meredakan diare, menambah darah, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Bahkan, banyak orang Dayak meyakini mengonsumsi kelakai rutin dapat menjadikan tubuh awet muda dan memperpanjang umur. Hal ini karena kelakai mengandung antioksidan dan senyawa alami yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kelakai dapat dengan mudah ditemukan. Biasanya, satu ikat kelakai dijual dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000. 

Tanaman ini juga dapat ditemukan di hutan-hutan rawa di wilayah Kalimantan Tengah, namun pencariannya memerlukan kejelian karena tanaman ini tumbuh di antara vegetasi lain.

Meski demikian, kelakai bukan tanaman langka dan tumbuh subur di daerah rawa yang lembab.

Tanaman Kelakai. Foto: Wikipedia/Wibowo Djatmiko (Wie146) – Gawian saurang

 Camilan Khas dengan Berbagai Manfaat

Masyarakat Kapuas, Kalimantan Tengah memiliki beberapa cara unik dalam mengolah kelakai menjadi makanan lezat, salah satunya keripik kelakai. Keripik kelakai memanfaatkan daun kelakai yang masih muda sebagai bahan utamanya. 

Proses pembuatannya pun terbilang mudah. Daun kelakai muda yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam adonan tepung bumbu dengan kekentalan tertentu. 

Selanjutnya, daun yang sudah dilumuri bumbu digoreng dalam minyak panas dan penuh. Setelah proses penggorengan, keripik kelakai siap disajikan dengan tekstur renyah dan rasa gurih yang khas.

Keripik kelakai ini tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Kabupaten dengan harga berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000 per bungkus. 

Keripik kelakai tidak hanya populer di pasar tradisional, tetapi juga sering ditemukan di berbagai acara dan perayaan adat Dayak, baik sebagai suguhan tamu maupun bagian dari upacara adat.

Masyarakat Dayak percaya bahwa konsumsi keripik kelakai dapat membawa keberuntungan dan memberikan energi positif, sesuai dengan khasiat yang diyakini dari tanaman ini. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya09 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan