Di balik gumpalan kertas yang menguning dan goresan tinta aksara Arab Melayu yang mulai memudar, tersimpan dentum meriam dan riak gelombang Sungai Siak abad ke-18. Manuskrip itu tak sekadar merekam bait-bait puisi tua, melainkan teriakan perlawanan dan keberanian rakyat Melayu saat menentang dominasi kolonial.
Kini, kisah kepahlawanan yang terpatri dalam Syair Perang Siak itu akhirnya menemu jalan terang: diakui secara resmi sebagai bagian dari ingatan abadi bangsa Indonesia.
Penetapan naskah kuno Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menjadi kado paling berkesan menjelang Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Pengakuan ini membuktikan bahwa peradaban Melayu Riau tidak pernah padam, melainkan terus berdenyut memberi inspirasi bagi generasi mendatang.
Senandung Perlawanan di Tepian Sungai Siak
Syair Perang Siak bukanlah sekadar karya sastra hiburan. Naskah ini merupakan catatan sejarah lisan dan tertulis yang mengisahkan keberanian militer Kesultanan Siak Sri Indrapura saat berhadapan dengan kekuatan VOC Belanda.
Dalam bait-baitnya, tergambar bagaimana siasat perang maritim dirancang, bagaimana persatuan rakyat digalang, dan bagaimana harga diri sebuah bangsa dipertahankan di sepanjang perairan Riau.
Jejak sejarah ini berkelindan erat dengan kemegahan Istana Siak dan kejayaan para sultan terdahulu. Tanpa adanya naskah ini, sebagian kisah heroik mengenai bagaimana masyarakat lokal mempertahankan tanah kelahirannya mungkin akan terkikis oleh arus modernisasi.
Di balik gemerlap penghargaan tingkat nasional ini, ada jejak perjuangan sunyi dari para budayawan dan akademisi daerah.
Nama-nama seperti Tuk Budi, seorang budayawan Siak yang tekun merawat tradisi lisan, serta I-iek, filolog dari Universitas Lancang Kuning (Unilak), menjadi garda terdepan dalam menerjemahkan dan mengkaji ulang lembar demi lembar aksara gundul tersebut.
Membaca naskah kuno bukanlah perkara mudah. Butuh ketelitian tinggi, pemahaman bahasa Melayu klasik yang mendalam, serta dedikasi tanpa henti agar pesan moral di masa lalu dapat dituturkan kembali dengan utuh tanpa kehilangan makna aslinya.
Kado Istimewa untuk Negeri Istana
Penetapan melalui Keputusan Kepala Perpusnas RI Nomor 154 Tahun 2026 ini disambut hangat oleh masyarakat Kabupaten Siak.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Siak, Setya Hendro Wardana, menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja sama kolektif antara pemerintah daerah, Lembaga Adat Melayu (LAM), dan para akademisi.
“Prestasi ini bukan milik satu pihak, melainkan menjadi hadiah, kebanggaan, dan prestasi kita bersama untuk Kabupaten Siak dan Provinsi Riau. Semoga ini menjadi momentum untuk terus melestarikan naskah kuno sebagai sumber pengetahuan dan ingatan kolektif bangsa,” ujar Hendro.
Pengakuan sebagai Ingatan Kolektif Nasional memikul tanggung jawab moral yang besar. Naskah kuno kini tak lagi boleh hanya tersimpan rapi di dalam lemari kaca atau menjadi konsumsi terbatas para peneliti.
Ia harus dihidupkan kembali dalam bentuk digitalisasi, bahan ajar sekolah, hingga seni pertunjukan agar anak-anak muda Siak bangga akan identitas dan sejarah negerinya.
Melalui Syair Perang Siak, kita diajar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan bait-bait sejarahnya sendiri.
Di usianya yang ke-27 tahun, Kabupaten Siak tidak hanya bersolek dengan pembangunan fisik, tetapi juga berhasil mengukuhkan kembali fondasi kebudayaannya di panggung nasional. (Diolah dari InfoPublik)






