Budaya

Keunikan Arsitektur Gedung Sate di Kantor Gubernur Jawa Barat

Gedung Sate merupakan salah satu bangunan tua di Kota Bandung. Bangunan yang kini difungsikan menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat, dibangun sejak tahun 1920-1924. Salah satu keunikan arsitektur bangunan ini adalah ornamen tusuk sate yang ternyata memiliki makna khusus. Beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kota Bandung, bangunan ini memiliki 4 lantai, basement, dan ruang pada […]

Oleh Anisa Kurniawati

Keunikan Arsitektur Gedung Sate di Kantor Gubernur Jawa Barat
Gedung Sate dibangun sejak tahun 1920-1924 dan kini menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat. Foto: bandung.go.id
Diterbitkan

Gedung Sate merupakan salah satu bangunan tua di Kota Bandung. Bangunan yang kini difungsikan menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat, dibangun sejak tahun 1920-1924. Salah satu keunikan arsitektur bangunan ini adalah ornamen tusuk sate yang ternyata memiliki makna khusus. 

Beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kota Bandung, bangunan ini memiliki 4 lantai, basement, dan ruang pada puncak gedung. Pembangunan gedung ini merupakan bagian dari program pemindahan pemerintahan Hindia Belanda, dari Batavia (Jakarta) ke Bandung.

Gedung ikon Jawa Barat ini merupakan satu bangunan bagian dari pembangunan kompleks pemerintahan. Dulu dinamakan Gouvernement Bedrijven (GB). Sedangkan gedungnya sendiri merupakan kantor Departemen Pekerja Umum dan Pengairan. 

Namun karena krisis moneter pada 1930, gagal dibangun. Kemudian bangunan yang berhasil diselesaikan yaitu Gedung Sate dan Kantor Pos. Bangunan ini mengusung konsep Moor Spanyol. Sedangkan pada bagian atap mengadopsi gaya Asia seperti pura di Bali. 

Baca juga: 7 Gedung Bersejarah di Bandung Jadi Bangunan Cagar Budaya

Ornamen Tusuk Sate

Arsitektur bangunan yang kini menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat ini disebut unik karena memadukan arsitektur tradisional Indonesia dengan kemahiran konstruksi barat. Keunikan ini juga dapat dilihat dari puncak atap gedung yang memiliki ornamen enam tusuk sate. 

Ornamen ini membentuk menara atap bersusun yang disebut “tumpang”. Gaya ini mengadopsi seperti Meru di Bali atau atap Pagoda. Di bagian atas atap, terdapat bagian yang menjulang menyerupai tusukan sate. Karena hal itu, masyarakat memberi nama gedung itu “Gedung Sate”.

Menurut beberapa sumber, keenam ornamen tusuk sate ini melambangkan 6 juta Gulden yang digunakan untuk membangun gedung ini. Kemudian besi yang menyerupai tusuk sate di puncak gedung tersebut berfungsi sebagai penangkal petir.

Secara keseluruhan bangunan ini bercirikan tradisional seperti pada bangunan candi-candi Hindu. Hal ini dapat dilihat dari dinding fasad depan gedung. Hal unik lainnya, menurut petugas setempat, di ruang puncak gedung ini, terdapat sebuah alarm. 

Secara otomatis alarm ini akan menyala ketika ada serangan dari musuh. Suara alarm ini mampu menjangkau hingga di luar Kota Bandung. Namun saat ini, alarm hanya dinyalakan sekali dalam setahun selama 10 menit saja. Dan suara alarm hanya terdengar di sekitar gedung.

Bangunan ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Gedung Sate sendiri merupakan bangunan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, serta kebudayaan. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya21 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati