Cerita Rakyat

Legenda Kelingking Sakti dan Sayembara Ajaib Pengubah Nasib

Legenda Kelingking Sakti merupakan salah satu cerita rakyat dari Kepulauan Riau yang mengisahkan perjalanan seorang pemuda miskin yang berhasil memenangkan sayembara dan menikahi putri raja. Kisah ini mengandung pesan moral tentang ketekunan, keberanian, dan nasib baik yang datang dari tindakan yang tidak terduga. Asal Usul Kelingking Sakti Berdasarkan buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Kelingking Sakti dan Sayembara Ajaib Pengubah Nasib
Ilustrasi Kelingking Sakti yang bertubuh kecil. Tangkapan Layar YouTube TV Anak Indonesia
Diterbitkan

Legenda Kelingking Sakti merupakan salah satu cerita rakyat dari Kepulauan Riau yang mengisahkan perjalanan seorang pemuda miskin yang berhasil memenangkan sayembara dan menikahi putri raja.

Kisah ini mengandung pesan moral tentang ketekunan, keberanian, dan nasib baik yang datang dari tindakan yang tidak terduga.  

Asal Usul Kelingking Sakti

Berdasarkan buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari Sabang sampai Merauke karya Irwan Rouf dan Shenia Ananda, pada zaman dahulu terdapat sebuah desa di Kepulauan Riau.

Di desa itu, hiduplah sepasang suami istri yang hidup dalam kemiskinan.  

Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yakni Salimbo, Ngah, dan Kelingking. Namun, ketika Kelingking masih berusia lima bulan, ibunya meninggal dunia.

Sejak saat itu, Kelingking dan kedua kakaknya diasuh ayah mereka yang berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka.  

Kepergian Kelingking untuk Merantau  

Seiring berjalannya waktu, Kelingking tumbuh dewasa dan menyadari bahwa kondisi keluarganya sulit. Ia pun bertekad untuk merantau agar bisa mengubah nasibnya.

Pada awalnya, sang ayah tidak setuju karena merasa Kelingking masih terlalu muda, tetapi akhirnya ia merestui keinginan putra bungsunya itu. 

Sebelum berangkat, sang ayah membekali Kelingking dengan tujuh buah ketupat sebagai makanan di perjalanan. Dengan semangat dan tekad yang kuat, Kelingking pun memulai perjalanannya menembus hutan belantara.  

Mimpi Ajaib di Tengah Perjalanan  

Saat tertidur di bawah pohon, Kelingking bermimpi mendengar suara misterius.

Suara itu mengatakan bahwa suatu hari ia akan menikahi seorang putri raja. Namun, sebelum itu, ia harus melakukan sebuah ritual tertentu.  

Kelingking diperintahkan untuk mengikat ketupatnya di akar tuba, lalu memasukkannya ke dalam sungai. Ia diberi tahu bahwa setelah beberapa saat, air sungai akan berbuih dan seekor ikan besar akan muncul dalam keadaan mati.  

Ketika terbangun, Kelingking mengikuti petunjuk mimpinya. Benar saja, seekor ikan besar mengapung di permukaan sungai. Ia pun mengambil ikan itu, lalu membakarnya dan memakannya. 

Namun, setelah ikan itu habis, tidak ada tanda-tanda munculnya seorang putri raja, sebagaimana yang dijanjikan dalam mimpinya. Kesal dan kecewa, Kelingking menendang kepala ikan itu sebelum melanjutkan perjalanannya.  

Sayembara Memindahkan Kepala Ikan  

Tak lama setelah meninggalkan sungai, Kelingking tiba di sebuah kampung yang sedang mengadakan sayembara.

Raja di kampung itu mengadakan lomba untuk memindahkan kepala ikan besar yang berada di depan istana. Pemenang sayembara ini akan dinikahkan dengan putri raja.  

Banyak yang ikut sayembara, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil mengangkat kepala ikan itu. Saat melihat kepala ikan itu, Kelingking menyadari, itu adalah kepala ikan yang tadi ia tendang.  

Walaupun bertubuh kecil, Kelingking percaya diri ikut serta dalam sayembara.

Orang-orang menertawakan dan meremehkannya, tetapi saat mencoba mengangkat kepala ikan itu, Kelingking justru berhasil mengangkatnya dengan mudah.  

Raja yang menyaksikan kejadian ini merasa takjub dan langsung mengumumkan Kelingking sebagai pemenang. Sesuai janjinya, sang raja menikahkan putrinya dengan Kelingking.  

Akhir Bahagia Kelingking Sakti  

Setelah menikahi putri raja, Kelingking menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia tidak melupakan keluarganya dan segera menjemput ayah serta kedua kakaknya untuk tinggal bersamanya di istana.  

Legenda ini mengajarkan bahwa keberuntungan bisa datang dari tindakan yang tidak terduga, serta pentingnya ketekunan dan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup.

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat11 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan