Budaya

Membaca Makna dan Filosofi di Balik Sembahyang Twan Yang

Perayaan Pehcun merupakan tradisi yang kaya akan nilai spiritual dan budaya. Salah satu bagian penting perayaan ini adalah Sembahyang Twan Yang, yang selalu digelar pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Khongcu Lek. Tradisi ini memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga harmoni dengan alam […]

Oleh Achmad Aristyan

Membaca Makna dan Filosofi di Balik Sembahyang Twan Yang
Prosesi Sembahyang Twan Yang di di Jalan Kali Besar, pinggir Sungai Cisadane, Tangerang, Jawa Barat. Foto: merahputih.com/Rizki Fitrianto
Diterbitkan

Perayaan Pehcun merupakan tradisi yang kaya akan nilai spiritual dan budaya. Salah satu bagian penting perayaan ini adalah Sembahyang Twan Yang, yang selalu digelar pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Khongcu Lek. 

Tradisi ini memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga harmoni dengan alam semesta.

Makna Filosofis Sembahyang Twan Yang

Melansir dari mediaindonesia.com, secara etimologi, istilah Twan Yang berasal dari kata “twan” yang berarti lurus, terkemuka, atau menjadi sumber, dan “yang” yang merujuk pada matahari serta segala hal yang bersifat positif.

Karena itu, Twan Yang dimkania saat di mana matahari memancarkan cahayanya yang paling terang. 

Sembahyang ini dilakukan pada waktu Twan Ngo, sekira pukul 11.00-13.00. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, tradisi ini juga bertujuan menghormati semesta alam. 

Saat itulah manusia diingatkan menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari. Perayaan pehcun merupakan tradisi leluhur yang masih dipegang teguh peranakan Tionghoa yang bermukim di sekitar Sungai Cisadane, Jawa Barat

Mitos dan Tradisi Telur Berdiri

Mitos menarik yang kerap dikaitkan dengan perayaan Pehcun adalah fenomena telur berdiri.

Diyakini bahwa pada waktu Twan Ngo, energi bumi dan matahari berada dalam posisi seimbang, sehingga memungkinkan telur untuk berdiri tegak tanpa bantuan. 

Fenomena ini dilakukan sebagai simbol harmonisasi antara manusia dan alam. Banyak masyarakat percaya, keberhasilan membuat telur berdiri membawa keberuntungan dan menolak bala.

Sejarah dan Tujuan Ritual

Dilansir dari spocjournal.com, sejarah sembahyang Twan Yang berakar pada kepercayaan bahwa jarak antara bumi dan matahari sangat dekat pada waktu tersebut, sehingga diyakini berpotensi mendatangkan bencana.

Untuk menangkalnya, leluhur sembahyang sebagai wujud permohonan perlindungan dan keseimbangan alam. 

Selain itu, tradisi ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menghargai sumber daya alam.

Pesan Harmoni antara Manusia dan Alam

Perayaan Pehcun tidak hanya sarat akan tradisi, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam. Masyarakat diajak untuk merenungkan peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. 

Tradisi seperti telur berdiri dan Sembahyang Twan Yang menjadi simbol bahwa keberadaan manusia tidak bisa dipisahkan dari semesta.

Melalui perayaan ini, nilai-nilai spiritual dan kesadaran lingkungan diharapkan dapat terus terjaga, membawa keberkahan bagi kehidupan manusia sekaligus melindungi alam sebagai rumah bersama. 

TopikBudaya
Budaya25 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan