Berita

Menbud Fadli Zon Kunjungi Situs Manusia Purba Sangiran

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengunjungi Situs Manusia Purba Sangiran di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs bersejarah ini dikenal sebagai pusat peradaban awal manusia. Situs Sangiran ini menyimpan bukti arkeologi yang tersebar di lima klaster utama, yaitu Bukuran, Krikilan, Manyarejo, Ngebung, dan Dayu. Disamping itu juga memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, […]

Oleh Anisa Kurniawati

Menbud Fadli Zon Kunjungi Situs Manusia Purba Sangiran
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya Situs Manusia Purba di Sangiran sebagai sumber pengetahuan bagi generasi muda dan masyarakat. Foto: instagram/ @fadlizon
Diterbitkan

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengunjungi Situs Manusia Purba Sangiran di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Situs bersejarah ini dikenal sebagai pusat peradaban awal manusia.

Situs Sangiran ini menyimpan bukti arkeologi yang tersebar di lima klaster utama, yaitu Bukuran, Krikilan, Manyarejo, Ngebung, dan Dayu.

Disamping itu juga memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, dengan urutan geologi yang mencakup periode Pliosen atas hingga akhir Pleistosen Tengah. 

Kawasan ini menjadi saksi evolusi manusia, fauna, dan budaya dalam kurun waktu 2,4 juta tahun terakhir. Selain itu, Sangiran juga menjadi lokasi lantai hunian arkeologi dari Pleistosen Bawah, yang berusia sekitar 1,2 juta tahun.

“Berbagai temuan di kawasan ini seperti Sangiran 17 atau S17, yang merupakan temuan Homo erectus terlengkap di Asia Tenggara, serta ratusan temuan Homo erectus lainnya yang berasal dari setidaknya 1,5 juta tahun yang lalu menunjukkan betapa tuanya peradaban manusia di Indonesia,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/2/2025) dikutip dari detik.com. 

Lima Klaster Sangiran

Di Klaster Bukuran, ditemukan fosil Homo erectus dalam jumlah besar, menjadikannya sebagai situs utama dalam penelitian manusia purba. Klaster ini juga menampilkan fosil dari berbagai situs paleoantropologi dunia.

Situs ini juga menampilkan narasi audio visual yang menggambarkan kehidupan flora dan fauna purba. Lalu ada diorama rekonstruksi 3 tipe Homo erectus, yaitu Arkaik, Tipik, dan Progresif, yang pernah hidup di Jawa. 

Sementara itu, Klaster Krikilan menjadi tempat dipamerkannya rekonstruksi Homo erectus berdasarkan fosil Sangiran 17. Serta berbagai fosil fauna purba seperti gajah dari jenis Mastodon, Stegodon, dan Elephas, serta hewan lainnya seperti kerbau, banteng, rusa. 

Museum Lapangan Manyarejo menjadi contoh unik kolaborasi antara pengetahuan ilmiah dan tradisi lokal dalam proses penggalian fosil. Di lokasi ini ditemukan berbagai fragmen tulang rusuk dan panggul gajah serta tengkorak banteng.

Klaster Ngebung, yang merupakan titik keempat dalam kawasan Sangiran. Klaster ini menyimpan berbagai artefak budaya dan fosil yang merepresentasikan kehidupan manusia purba dari periode Pleistosen Bawah hingga Pleistosen Tengah. 

Berbeda dengan klaster lain, Museum Dayu di Karanganyar fokus pada evolusi lingkungan Sangiran.

Museum ini menampilkan lima lapisan geologi yang mencerminkan perubahan lingkungan dari rawa, pengangkatan daratan akibat aktivitas vulkanik, hingga pembentukan daratan baru.

Baca juga: Menbud Fadli Zon Ingin Jadikan Sangiran Pusat Prasejarah Dunia

Bermanfaat Bagi Literasi

Fadli Zon menekankan bahwa berbagai penemuan di Sangiran membuktikan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kontribusi besar dalam sejarah peradaban dunia.

Ia juga menyoroti pentingnya Sangiran sebagai sumber pengetahuan generasi muda dan masyarakat.

Ia menambahkan, ”Sangat menarik menelusuri lorong waktu jejak peradaban awal sejarah peradaban manusia di Sangiran. Melalui jelajah museum, kita mampu menggali berbagai kisah masa lampau yang tidak hanya bermanfaat bagi literasi namun juga memperkuat bukti ilmiah bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia yang patut menjadi laboratorium alam yang sangat lengkap dan saya rasa sangat langka untuk ditemukan di Asia, bahkan dunia.”

Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO,5 Desember 1996, Sangiran menyumbang lebih 50% dari total temuan fosil Homo erectus di dunia. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat ditemukannya fosil manusia purba Meganthropus Paleojavanicus.

TopikBerita
Berita08 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Berita

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati