Budaya

Mengenal Tinutuan, Sajian Bubur Sayuran Lezat dari Manado

Tinutuan, atau yang lebih dikenal dengan nama Bubur Manado, adalah salah satu makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Manado, Sulawesi Utara. Hidangan enak ini juga diklaim sebagai bagian dari salah satu warisan kuliner daerah Minahasa. Tinutuan merupakan sajian berbahan dasar campuran sayuran, tanpa kandungan daging, sehingga dapat dinikmati berbagai kelompok masyarakat. Ciri Khas Bubur […]

Oleh Achmad Aristyan

Mengenal Tinutuan, Sajian Bubur Sayuran Lezat dari Manado
Tinutuan, bubur sayur khas Manado yang disajikan dengan pelengkap ikan asin. Foto: Wikipedia/Midori
Diterbitkan

Tinutuan, atau yang lebih dikenal dengan nama Bubur Manado, adalah salah satu makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Manado, Sulawesi Utara.

Hidangan enak ini juga diklaim sebagai bagian dari salah satu warisan kuliner daerah Minahasa.

Tinutuan merupakan sajian berbahan dasar campuran sayuran, tanpa kandungan daging, sehingga dapat dinikmati berbagai kelompok masyarakat.  

Ciri Khas Bubur Manado Tinutuan

Melansir dari Kumparan, Tinutuan dikenal sebagai bubur yang kaya akan sayuran. Bahan-bahannya meliputi labu kuning, beras, singkong, bayam, kangkung, daun gedi, jagung, dan kemangi. 

Kombinasi bahan-bahan ini menciptakan tekstur lembut dan rasa segar khas. Tinutuan biasa disajikan saat sarapan pagi, namun hidangan ini tersedia di rumah makan sepanjang hari.  

Sejarah Tinutuan  

Dilansir dari Wikipedia, asal-usul nama dan waktu munculnya Tinutuan tidak diketahui secara pasti. Beberapa sumber menyebutkan makanan ini mulai dikenal di Manado pada tahun 1970-an, sementara yang lain menyebut tahun 1981. 

Keunikan Tinutuan menjadikannya simbol budaya Kota Manado. Pada masa kepemimpinan Wali Kota Jimmy Rimba Rogi (2005–2010), moto Kota Manado diubah menjadi “Tinutuan,” menggantikan moto sebelumnya, “Berhikmat.”  

Pada tahun 2004, Pemerintah Kota Manado menjadikan Kawasan Wakeke di Kecamatan Wenang sebagai destinasi wisata kuliner khas yang mempromosikan Tinutuan. Langkah ini untuk melestarikan tradisi sekaligus menarik wisatawan.  

Penyajian Tinutuan  

Melansir dari Kompas, Di Manado, Tinutuan biasanya disajikan dengan beragam pelengkap yang menggugah selera, seperti perkedel nike, yaitu gorengan berbahan dasar ikan nike; sambal roa, sambal khas berbahan ikan roa yang diasapi; ikan cakalang fufu, yaitu ikan cakalang asap yang disuwir; serta perkedel jagung, gorengan jagung yang renyah dan menambah cita rasa.

Hidangan ini juga bisa dipadukan dengan mi, yang disebut midal, atau dengan sup kacang merah (brenebon). Pada acara-acara khusus, brenebon ini sering ditambahkan kaki babi, terutama di komunitas Kristen Manado untuk merayakan hari pengucapan syukur.  

Makna Sosial dan Budaya  

Sebagai makanan yang tidak mengandung daging, Tinutuan memiliki peran sebagai kuliner inklusif, yang dapat dinikmati semua kalangan tanpa memandang latar belakang agama atau budaya. Hal ini menjadikannya simbol keberagaman dan persatuan di Manado.

Hidangan ini kian dikenal di luar Sulawesi Utara. Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Solo juga  menyajikan Tinutuan di berbagai rumah makan khas Nusantara. Popularitasnya tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga bentuk promosi budaya Indonesia. 

TopikBudaya
Budaya02 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan