Event

Museum Gedong Kirtya Gelar Pameran Alat Musik Tradisional Bali

Bali memiliki beragam warisan budaya, tak terkecuali alat musik tradisional. Secara umum, seni tabuh atau gamelan yang dimiliki masyarakat Bali tidak bisa dilepaskan dari adat tradisinya. Penguatan dan kecintaan terhadap seni tabuh patut untuk terus dijaga dan dilestarikan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, melalui tema “Ketahanan Budaya dalam Bingkai Alat Musik Tradisional Bali di […]

Oleh Ridwan

Museum Gedong Kirtya Gelar Pameran Alat Musik Tradisional Bali
Pameran Alat Musik Tradisional Bali di Museum Soenda Ketjil, bekas Pelabuhan Buleleng Foto: infopublik.id
Diterbitkan

Bali memiliki beragam warisan budaya, tak terkecuali alat musik tradisional. Secara umum, seni tabuh atau gamelan yang dimiliki masyarakat Bali tidak bisa dilepaskan dari adat tradisinya. Penguatan dan kecintaan terhadap seni tabuh patut untuk terus dijaga dan dilestarikan kepada generasi berikutnya.

Oleh karena itu, melalui tema “Ketahanan Budaya dalam Bingkai Alat Musik Tradisional Bali di Era Milenial” Pemerintah Kabupaten Buleleng menggelar Pameran Alat Musik Tradisional Bali di Museum Soenda Ketjil, bekas Pelabuhan Buleleng, Senin, (21/10/2024). Acara ini juga berkolaborasi dengan UPTD Gedong Kirtya Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng yang bertugas di bidang seni budaya. 

Baca juga: Alunan Musik Rindik Bali Lebih dari Suara Alat Musik

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, dengan didampingi oleh Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya Nyoman Widarma serta perwakilan OPD lingkup Pemkab Buleleng.

Wisandika menyampaikan kegiatan ini adalah bentuk pengenalan kembali tradisi adat dan budaya, khususnya alat musik tradisional Bali. Tujuannya supaya dapat dikenali oleh masyarakat, generasi muda maupun siswa siswi yang ada di Kabupaten Buleleng. 

“Tahun lalu kita sudah melalukan pameran prasi, tahun ini alat musik tradisional. Mungkin tahun depan dengan tema yang berbeda sesuai dengan lontar yang kita miliki kemudian kita visualisasikan ke dalam bentuk pameran,” ucap Wisandika.

Pihaknya juga mengatakan, selain memperkenalkan kembali tradisi adat budaya, kegiatan ini juga sebagai upaya penguatan, pengembangan dan pelestarian kebudayaan Bali secara berkesinambungan. 

Wisandika berharap melalui pameran ini masyarakat selalu dapat mempopulerkan alat musik tradisional dalam berbagai kegiatan baik sakral maupun sebagai hiburan. 

“Kita tahu, napas kehidupan masyarakat Bali tidak akan lepas dari adat, tradisi, seni, budaya, agama dan kearifan lokalnya. Ini juga salah satu upaya untuk terus mengenalkan dan melestarikan warisan budaya,” tuturnya.

Baca juga: Desa Wisata Jatiluwih Bali Raih Prestasi Internasional

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Nyoman Widarma, menyampaikan bahwa pameran ini sebagai bentuk upaya menggali potensi yang ada di masyarakat serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. 

“Kami perkenalkan jenis-jenis alat musik tradisional Bali melalui pameran diantaranya, pepatutan suling, pupuh gending legong, pupuh gending gong, serta alat musik tradisional Bali berbahan bambu, kayu, kerang dan perunggu,” paparnya.

Pameran Alat Musik Tradisional Bali ini digelar selama tujuh hari, yakni 21 hingga 27 Oktober 2024 dengan menampilkan beragam alat musik yang berbeda. (Anisa Kurniawati-Sumber: infopublik.id)

TopikEvent
Event22 OKT 2024

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Event

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →