Dinamika

Papat Kiblat Lima Pancer, Memahami Falsafah Jawa

Empat penjuru dan satu pusat mengungkap beragam pandangan Jawa tentang manusia, kelahiran, dan kehidupan.

Oleh Narendra

Papat Kiblat Lima Pancer, Memahami Falsafah Jawa
Ilustrasi empat penjuru mata angin dan satu titik pusat yang digunakan dalam sejumlah penafsiran Papat Kiblat Lima Pancer.
Diterbitkan

Dalam sebuah video TikTok, istilah Papat Kiblat Limo Pancer muncul bersama penjelasan mengenai empat penjuru mata angin yang mengelilingi manusia. Sekilas, gagasan itu tampak seperti cara sederhana untuk menggambarkan arah dan kedudukan seseorang.

Namun, dalam pengetahuan Jawa, susunan empat penjuru dan satu pusat mempunyai makna yang lebih luas. Ia ditemukan dalam kajian tentang tata ruang Yogyakarta, penafsiran naskah, tradisi kelahiran, serta kehidupan spiritual sejumlah komunitas.

Istilah ini juga kerap berhubungan dengan Sedulur Papat Lima Pancer. Hubungan keduanya perlu dipahami secara hati-hati karena kesamaan susunan belum tentu menunjukkan kesamaan makna dalam setiap penggunaannya.

Empat Penjuru dan Kedudukan Manusia

Secara harfiah, papat berarti empat dan pancer berarti pusat. Kiblat papat menunjuk empat arah utama, yakni timur, selatan, barat, dan utara, sedangkan unsur kelima menempati titik tengah.

Dalam sejumlah penafsiran kosmologi Jawa, susunan tersebut digunakan untuk memahami hubungan manusia dengan lingkungan dan alam semesta. Diri manusia dipandang sebagai jagat kecil atau mikrokosmos yang mempunyai hubungan dengan jagat besar, yakni makrokosmos.

Arah mata angin dengan demikian dapat menjadi lambang keteraturan. Melalui gambaran ruang, masyarakat mengungkapkan gagasan tentang kedudukan manusia, hubungan dengan alam, serta upaya menjaga keseimbangan kehidupan.

Penggunaan kata kiblat dalam istilah ini tidak berarti terdapat empat arah untuk pelaksanaan salat. Ketentuan kiblat dalam ibadah Islam dan penggunaan istilah arah dalam kosmologi Jawa berada dalam konteks yang berbeda.

Jejaknya dalam Tata Ruang Yogyakarta

Salah satu contoh penerapan konsep tersebut dapat ditemukan dalam kajian mengenai Masjid Pathok Negara di Yogyakarta. Penelitian Aminah dan Lukis Alam yang diterbitkan dalam jurnal Humanika pada 2024 menghubungkan keberadaan masjid-masjid tersebut dengan penataan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta.

Empat Masjid Pathok Negara berada di Plosokuning, Babadan, Dongkelan, dan Mlangi. Dalam pembacaan kosmologis penelitian tersebut, Masjid Gede Kauman menjadi pusat yang dihubungkan dengan keempat penjuru.

Susunan ini mempunyai hubungan dengan sejarah pembentukan wilayah kasultanan setelah Perjanjian Giyanti. Para peneliti juga membahas fungsi masjid sebagai bagian dari kehidupan keagamaan, pengembangan masyarakat, serta sistem pertahanan wilayah pada masa awal kerajaan.

Keterangan itu memperlihatkan bagaimana gagasan mengenai pusat dan penjuru dapat digunakan untuk membaca ruang pemerintahan. Akan tetapi, penafsiran simbolis sebuah bangunan tetap perlu dibedakan dari fakta sejarah mengenai pembangunan dan fungsi administratifnya.

Warna yang Dihubungkan dengan Sifat Manusia

Kajian Masjid Pathok Negara tersebut juga memuat pemetaan arah, warna, unsur alam, pasaran Jawa, dan sifat manusia. Susunannya memperlihatkan bagaimana satu sistem simbol dapat menghubungkan ruang fisik dengan gagasan mengenai kehidupan batin.

Dalam tabel penelitian itu, Plosokuning di utara dikaitkan dengan hitam, tanah, Pon, dan lawamah. Babadan di timur dihubungkan dengan putih, air, Legi, serta mutmainah.

Dongkelan di selatan diasosiasikan dengan merah, api, Pahing, dan amarah. Sementara Mlangi di barat dikaitkan dengan kuning, angin, Wage, serta supiyah.

Pusatnya, Masjid Gede Kauman, ditempatkan dalam hubungan dengan Kliwon dan budi pekerti yang baik. Susunan tersebut merupakan pemetaan yang digunakan dalam kajian ini, bukan ketentuan tunggal yang dapat diberlakukan pada seluruh penafsiran Jawa.

Warna dan sifat di sini bekerja sebagai lambang. Tidak ada dasar untuk menjadikannya metode ilmiah dalam menentukan watak seseorang berdasarkan arah mata angin.

Dari Kiblat Papat Menuju Sedulur Papat

Jika pembahasan sebelumnya berkaitan dengan arah dan tata ruang, Sedulur Papat Lima Pancer membawa perhatian kepada asal kehidupan manusia. Dalam salah satu penafsiran tradisional, empat saudara dihubungkan dengan unsur-unsur yang menyertai proses kelahiran.

Unsur tersebut dikenal sebagai kakang kawah, adhi ari-ari, getih, dan puser. Istilah-istilah itu berkaitan dengan air ketuban, plasenta, darah, serta pusar atau tali pusat.

Manusia yang dilahirkan menempati kedudukan sebagai unsur kelima. Dari hubungan inilah muncul penjelasan mengenai empat saudara dan satu pusat dalam sejumlah lingkungan masyarakat Jawa.

Penggunaan kata sedulur menunjukkan bahwa unsur kelahiran diberi arti yang melampaui fungsi fisiknya. Sebutan saudara menjadi bagian dari cara masyarakat memahami kedekatan antara manusia dan proses awal kehidupannya.

Mengapa Disebut Kakang dan Adhi?

Dalam penjelasan tradisional, air ketuban disebut kakang kawah karena dikaitkan dengan sesuatu yang mendahului kelahiran bayi. Plasenta dikenal sebagai adhi ari-ari, yang dipahami sebagai unsur yang menyusul setelah bayi dilahirkan.

Urutan itu mempunyai arti dalam simbolisme Jawa, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai aturan medis. Ketuban tidak selalu pecah sebelum bayi lahir, dan proses persalinan dapat berlangsung dengan variasi yang berbeda.

Secara biologis, air ketuban membantu melindungi janin selama kehamilan. Plasenta memungkinkan pertukaran zat antara ibu dan janin, sedangkan tali pusat menghubungkan janin dengan plasenta.

Fungsi tersebut dapat dijelaskan melalui ilmu kedokteran. Adapun keyakinan bahwa unsur-unsur kelahiran mempunyai keberadaan spiritual setelah persalinan merupakan persoalan kepercayaan, bukan kesimpulan dari anatomi manusia.

Kidungan Purwajati dan Saudara Spiritual

Pemahaman mengenai Sedulur Papat juga diteliti melalui sumber tertulis. Dalam tesis magister filsafat Universitas Gadjah Mada tahun 2019, Luthfin Mahamida mengkaji Kidungan Purwajati yang dihimpun oleh R. Tanojo.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan hermeneutika untuk memahami konsep saudara spiritual manusia. Hasil kajiannya menunjukkan adanya pengelompokan saudara gaib dalam beberapa kategori menurut hubungannya dengan kelahiran.

Selain membahas keyakinan spiritual, penelitian itu mengidentifikasi nilai kerukunan, penghormatan, kebijaksanaan, kehati-hatian, dan introspeksi. Penulis kemudian menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan pendidikan karakter.

Kajian tersebut membantu menjelaskan isi pemikiran yang terdapat dalam sumber yang diteliti. Namun, keberadaan suatu gagasan dalam naskah tidak sama dengan pembuktian empiris atas keberadaan entitas spiritual yang disebutkan di dalamnya.

Praktik yang Berbeda Antardaerah

Sedulur Papat bukan semata istilah yang muncul dalam buku atau naskah. Penelitian lapangan memperlihatkan bahwa konsep tersebut juga hadir dalam praktik keluarga dan komunitas.

Di Dusun Kedungwungkal, Kabupaten Grobogan, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Kawruh pada 2020 mendokumentasikan upacara Sedulur Papat Lima Pancer dalam sebuah keluarga. Tradisi itu dilaksanakan ketika seorang anak dianggap telah dewasa, dengan sesajen yang mempunyai makna simbolis menurut pelakunya.

Sementara di Candi Kalicilik, Kabupaten Blitar, penelitian Nadia Ilfah Hanifah pada 2020 membahas ritual macapat dalam lingkungan penganut aliran kepercayaan Kiblat Papat Limo Pancer. Dalam komunitas yang diteliti, gagasan tentang saudara yang menyertai manusia berkaitan dengan pengendalian perilaku dan hubungan dengan Tuhan.

Dua penelitian tersebut menggambarkan praktik yang tidak sepenuhnya sama. Perbedaan waktu pelaksanaan, bentuk ritual, dan penjelasan pelaku menunjukkan bahwa istilah serupa dapat mempunyai kehidupan sosial yang berlainan.

Karena itu, tidak tepat menyusun satu tata cara Sedulur Papat lalu menganggapnya berlaku bagi seluruh keluarga Jawa. Pengetahuan mengenai sebuah tradisi harus memperhatikan siapa pelakunya dan di lingkungan mana ia dijalankan.

Hubungannya dengan Keyakinan Islam

Papat Kiblat Lima Pancer juga memperoleh penafsiran dalam kehidupan sebagian masyarakat Muslim Jawa. Penelitian Rohmatunnisa di Desa Adipala, Kabupaten Cilacap, pada 2022 mendokumentasikan pemahaman konsep tersebut di lingkungan pengrajin batu bata.

Melalui observasi dan wawancara, peneliti menemukan hubungan antara empat penjuru, manusia sebagai pusat, serta nilai pendidikan Islam yang dipahami masyarakat setempat. Nilai tersebut dibahas melalui aspek akidah, syariah, dan akhlak, termasuk hubungan dengan Allah, kehidupan sosial, serta penghormatan kepada orang tua.

Temuan itu menunjukkan bagaimana sebuah komunitas menafsirkan pengetahuan lokal dalam kehidupan beragama. Namun, penelitian etnografi mengenai satu lingkungan masyarakat bukanlah fatwa yang menetapkan kedudukan seluruh praktik Sedulur Papat dalam Islam.

Dalam ajaran Islam, persoalan perlindungan, permohonan pertolongan, dan perkara gaib mempunyai landasan teologis tersendiri. Karena itu, pembelajaran nilai moral dalam tradisi perlu dibedakan dari keyakinan mengenai keberadaan serta kekuasaan pendamping spiritual.

Penilaian terhadap praktik tertentu harus melihat apa yang dilakukan dan diyakini oleh pelakunya. Menghormati kebiasaan keluarga tidak dapat begitu saja disamakan dengan meminta perlindungan kepada kekuatan gaib.

Penafsiran dalam Lingkungan Keagamaan Lain

Hubungan antara konsep Jawa dan kehidupan beragama juga terlihat dalam kajian lain. Artikel yang diterbitkan pada September 2026 meneliti Sêrat Manikmaya serta praktik komunitas Hindu Jawa.

Penelitian tersebut membahas susunan kosmologis yang lebih luas, termasuk delapan penjuru dan satu pusat dalam narasi Dewata Nawa Sanga. Penulis kemudian mengkaji hubungannya dengan tata ruang, praktik ritual, dan kehidupan spiritual komunitas yang menjadi subjek penelitian.

Karena cakupannya berbeda, isi Sêrat Manikmaya tidak dapat dipadatkan menjadi satu penjelasan sederhana tentang empat arah. Kajian tersebut justru memperlihatkan adanya hubungan antara beberapa sistem simbol dalam sejarah pemikiran Jawa.

Sementara itu, Gerardus Chrisdinando dan Edison R. L. Tinambunan dalam Jurnal Teologi tahun 2024 membandingkan gagasan kakang kawah dan adhi ari-ari dengan konsep malaikat pelindung dalam tradisi Kristiani. Penelitian itu menawarkan kemungkinan pembacaan untuk keperluan inkulturasi, bukan kesimpulan yang mewakili seluruh pandangan umat Kristen.

Beragam kajian tersebut memperlihatkan bagaimana konsep lokal dapat memperoleh tafsir baru ketika bertemu dengan lingkungan keagamaan yang berbeda. Setiap hasil penafsiran tetap harus dibaca sesuai sumber dan kerangka keyakinannya.

Dari Falsafah Menjadi Karya Tari

Papat Kiblat Lima Pancer juga digunakan sebagai bahan penciptaan seni. Dalam publikasi jurnal Solah tahun 2018, Dyas Kirana Khomariah menjelaskan karya tari Catur Nyawiji yang terinspirasi oleh konsep tersebut dan kesenian Sandur.

Karya ini menggunakan gerak, warna, pola lantai, iringan, serta penataan panggung untuk menyampaikan hubungan antara empat penjuru dan pusat. Gagasan tentang kecenderungan manusia diterjemahkan ke dalam bahasa koreografi.

Contoh itu menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional dapat memasuki bentuk penciptaan baru. Sebuah konsep yang semula dikenal melalui ajaran, simbol, atau praktik masyarakat dapat menjadi sumber pengembangan seni pertunjukan.

Namun, karya tari tetap merupakan interpretasi artistik. Penonton dapat mempelajari gagasan yang melatarbelakanginya tanpa harus menganggap seluruh simbol panggung sebagai ketentuan ritual.

Mengapa Penjelasannya Sering Berbeda?

Keragaman sumber menjadi salah satu alasan Papat Kiblat Lima Pancer tidak selalu dijelaskan dengan cara yang sama. Ada penelitian yang berangkat dari arsitektur, ada yang membaca kidung, sedangkan kajian lain mendokumentasikan kehidupan komunitas tertentu.

Masing-masing mempunyai pertanyaan dan bahan yang berbeda. Peneliti tata ruang akan memberi perhatian pada pusat wilayah, sementara kajian filsafat dapat lebih menonjolkan persoalan sifat manusia dan nilai kehidupan.

Di tingkat masyarakat, pemaknaan juga dipengaruhi pengalaman keluarga, lingkungan keagamaan, dan tradisi yang diwariskan. Perbedaan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa salah satu pihak sedang memalsukan ajaran.

Yang perlu diperiksa ialah apakah suatu penjelasan sesuai dengan sumber yang digunakan. Sebuah tafsir lokal dapat sah sebagai dokumentasi keyakinan komunitas, tetapi tidak boleh diubah menjadi klaim tentang seluruh orang Jawa tanpa bukti tambahan.

Membaca Kembali Pengetahuan Jawa

Kajian kontemporer masih menemukan kemungkinan pemaknaan baru dari Sedulur Papat Lima Pancer. Dalam artikel tahun 2025, Ahmad Fatkhur Rohman membahasnya sebagai sumber refleksi mengenai kesadaran diri, kesabaran, kewaspadaan, dan hubungan manusia dengan alam.

Pembacaan tersebut menawarkan relevansi moral bagi kehidupan sekarang. Akan tetapi, ia merupakan hasil analisis filosofis, bukan bukti bahwa seluruh pelaku tradisi sejak dahulu memahami Sedulur Papat dengan kerangka yang identik.

Bagi masyarakat yang mempelajarinya sebagai sejarah pemikiran, konsep ini dapat membuka pemahaman mengenai hubungan tubuh, ruang, alam, dan kehidupan sosial. Bagi komunitas yang masih menjalankannya sebagai keyakinan, kedudukannya mungkin jauh lebih khusus.

Perbedaan cara memandang itu perlu dihormati tanpa mengaburkan batas pengetahuan. Mencatat sebuah kepercayaan tidak berarti mengesahkannya sebagai fakta ilmiah, sebagaimana meneliti simbol budaya tidak harus berujung pada penilaian agama.

Empat Arah Tidak Menyimpan Satu Jawaban

Papat Kiblat Lima Pancer memperlihatkan keluasan cara masyarakat Jawa memberikan makna kepada susunan ruang yang sederhana. Empat penjuru dan satu pusat dapat muncul dalam tata wilayah, cerita kelahiran, pembacaan sifat manusia, praktik keagamaan, serta penciptaan seni.

Penelitian yang tersedia membantu menjelaskan beberapa penggunaannya, tetapi belum menetapkan satu asal-usul pasti atau tafsir yang berlaku bagi seluruh masyarakat Jawa. Karena itu, memahami konsep ini memerlukan perhatian pada naskah, tempat, pelaku, dan masa ketika suatu penjelasan digunakan.

Video pendek dapat memperkenalkan istilahnya. Untuk mengetahui maknanya, kita perlu melihat lebih jauh daripada satu pernyataan mengenai arah mata angin.

CATATAN REDAKSI 

Artikel ini membahas Papat Kiblat Lima Pancer sebagai bagian dari pemikiran dan praktik kebudayaan Jawa yang memiliki sejumlah penafsiran. Pembahasan mencakup kosmologi, tata ruang, simbol kelahiran, ajaran moral, praktik komunitas, dan keyakinan spiritual berdasarkan penelitian yang dapat ditelusuri.

Papat Kiblat Lima Pancer dan Sedulur Papat Lima Pancer mempunyai hubungan dalam sejumlah sumber, tetapi tidak selalu digunakan dengan makna yang sama. Pemetaan warna, arah, pasaran, dan sifat manusia yang dibahas dalam artikel berasal dari penelitian tertentu dan tidak dimaksudkan sebagai susunan universal seluruh tradisi Jawa.

Penjelasan mengenai kakang kawah, adhi ari-ari, getih, dan puser ditempatkan sebagai pengetahuan simbolis yang berkembang dalam masyarakat. Fungsi biologis unsur kelahiran dapat dijelaskan secara medis, sedangkan keyakinan mengenai pendamping spiritual merupakan persoalan kepercayaan yang tidak dibuktikan melalui anatomi.

Pembahasan mengenai Islam, Hindu Jawa, dan teologi Kristiani didasarkan pada kajian akademik dengan cakupan masing-masing. Penafsiran suatu komunitas atau kesimpulan seorang peneliti tidak mewakili seluruh penganut agama terkait. Artikel ini bukan fatwa atau penetapan kebenaran teologis.

Tangkapan layar TikTok yang menjadi pemicu pembahasan tidak digunakan sebagai sumber sejarah maupun bukti kebenaran konsep. Karena rekaman lengkapnya tidak tersedia, EMMANUS tidak memberikan penilaian terhadap keseluruhan pandangan pembicara.

Artikel ini tidak menetapkan tanggal kemunculan pertama Papat Kiblat Lima Pancer atau mengklaim adanya satu ajaran baku yang dianut seluruh masyarakat Jawa. EMMANUS menempatkan keragaman penafsiran sebagai bagian dari sejarah pengetahuan yang perlu dipahami menurut sumber dan konteksnya.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait