Cerita Rakyat

Pulau Nusakambangan dan Legenda Kembang Wijayakusuma

Pulau Nusakambangan berada di selatan Kota Cilacap, Jawa Tengah, membentang dari barat ke timur dengan wilayah yang dipenuhi perbukitan dan hutan lebat. Di balik cerita mistis yang kerap terdengar tentang pulau ini, terdapat sebuah legenda yang berkembang di kalangan masyarakat, yang dipercaya berkaitan dengan asal-usul terbentuknya Nusakambangan. Di sisi lain, saat ini Pulau Nusakambangan dikenal […]

Oleh Achmad Aristyan

Pulau Nusakambangan dan Legenda Kembang Wijayakusuma
Panorama alam pesisir selatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Wikimedia Commons/Tyo Satriany
Diterbitkan

Pulau Nusakambangan berada di selatan Kota Cilacap, Jawa Tengah, membentang dari barat ke timur dengan wilayah yang dipenuhi perbukitan dan hutan lebat. Di balik cerita mistis yang kerap terdengar tentang pulau ini, terdapat sebuah legenda yang berkembang di kalangan masyarakat, yang dipercaya berkaitan dengan asal-usul terbentuknya Nusakambangan. 

Di sisi lain, saat ini Pulau Nusakambangan dikenal sebagai Lembaga Permasyarakatan (Lapas) dengan tingkat keamanan tertinggi di Indonesia. Penjara yang dibangun penjajah Belanda pada tahun 1908 ini,  bahkan kerap disebut sebagai penjara Alcatrazz-nya Indonesia.

Berdasarkan buku “Cerita Rakyat Jawa Tengah: Kabupaten Cilacap” karya Ery Agus Kurnianto dkk, cerita ini bermula pada zaman dahulu, ketika seorang raja sakti dari Jawa Timur, yang dikenal dengan gelar Prabu Aji Pramosa, memerintah di Kerajaan Kediri. Raja ini terkenal keras kepala dan tidak mau tunduk kepada siapa pun, termasuk raja-raja kerajaan lain.

Di wilayah kekuasaannya, ada seorang resi sakti bernama Resi Kano atau Kiai Jamur, yang sudah lama dikenal Prabu Aji Pramosa. Sang raja merasa terancam kesaktian sang resi. Merasa terganggu dan terancam,  Prabu Aji Pramosa mengadakan rapat dengan para penasihatnya, dan memutuskan  mengusir atau bahkan membunuh Resi Kano demi menjaga kekuasaannya.

Baca juga: Cerita Batu Ampar, Legenda Si Badang Yang Perkasa

Namun rencana itu didengar Resi Kano, hingga segera meninggalkan kerajaan. Ia berkelana menuju pantai selatan Pulau Jawa, melewati hutan belantara dan pegunungan. Sang Resi pun akhirnya tiba di daerah dekat Cilacap, tempat yang sunyi dan sulit dijangkau manusia.

Di sana, Resi Kano bertapa dan memohon keadilan kepada Tuhan atas perlakuan yang diterimanya. Tak lama setelah itu, Prabu Aji Pramosa bersama pengikutnya berhasil menemukan lokasi persembunyian sang resi. Tanpa ragu, Prabu Aji Pramosa langsung menyerang Resi Kano dengan senjatanya, dan resi pun binasa.

Namun, kejadian luar biasa terjadi. Tiba-tiba tubuh Resi Kano lenyap, disertai gemuruh angin dan suara mengerikan yang mengguncang bumi. Meski ketakutan, Prabu Aji Pramosa tetap bertahan berkat kemampuannya menguasai ilmu mantra.

Tiba-tiba, muncul seekor naga raksasa yang mengamuk dan membuat ombak di lautan semakin besar. Naga hampir menelan Prabu Aji Pramosa, namun dengan cepat, sang raja melepaskan anak panahnya yang tepat mengenai perut naga. Naga pun mati terbunuh, hanyut karena gelombang laut.

Setelah peristiwa itu, muncul seorang putri cantik bernama Dewi Wasowati. Ia mendekati Prabu Aji Pramosa dan mengatakan bahwa ia dikutuk Yang Maha Kuasa, dan berkat bantuan sang Prabu, ia telah kembali menjadi manusia. Sebagai bentuk terima kasih, Dewi Wasowati memberikan sebuah cangkok dari bunga wijayakusuma.

Baca juga: Legenda Batu Bagga, Cerita Anak Durhaka dan Kutukan Abadi

Konon, benda itu hanya bisa ditemukan di tempat yang sakral. Ia menjelaskan bahwa siapa yang memiliki bunga wijayakusuma, akan menurunkan raja-raja besar di Jawa. Diliputi rasa bahagia, Prabu Aji Pramosa menerima hadiah dan berusaha menempuh perjalanan laut untuk segera kembali ke tempat Dewi Wasowati. Namun, dalam perjalanan pulang, cangkok bunga wijayakusuma yang digenggamnya terlepas dan tenggelam ke dalam ombak.

Setelah kejadian itu, tersebar kabar, di atas karang Pulau Nusakambangan tumbuh sebuah pohon sangat ajaib. Prabu Aji Pramosa, yang mendengar berita itu segera menuju ke pulau itu untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bahwa pohon itu adalah pohon Wijayakusuma yang pernah diberikan Dewi Wasowati.

Pohon itu berkilauan, daunnya halus bagaikan kain beludru, dan bunga-bunganya berkilau cemerlang. Prabu Aji Pramosa merasa sangat menyesal, karena ia kini sadar bahwa bunga Wijayakusuma yang seharusnya dimilikinya telah hilang.

Ia pun sadar bahwa semua yang terjadi adalah takdir yang telah ditentukan Yang Maha Kuasa. Dengan hati yang berat, sang Prabu kembali ke istana, meninggalkan pulau yang kini dikenal dengan nama Nusakambangan. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat14 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan