Pariwisata

Sejarah Blora, Dari Kadipaten Jipang hingga Gerakan Samin

Kota Blora di Jawa Tengah memiliki sejarah dan kisah masa lalu yang menarik ditelusuri. Nama Blora memiliki beberapa asal usul yang berkembang dalam masyarakat. Secara etimologi, Blora berasal dari kata Jawa “belor” yang berarti lumpur. Dalam perkembangannya, istilah “mbeloran” muncul untuk menggambarkan wilayah ini sebelum akhirnya dikenal dengan sebutan Blora yang ada seperti sekarang. Dikutip […]

Oleh Achmad Aristyan

Sejarah Blora, Dari Kadipaten Jipang hingga Gerakan Samin
Tugu Pancasila yang ada di Kota Blora. Foto: X/@info_Blora
Diterbitkan

Kota Blora di Jawa Tengah memiliki sejarah dan kisah masa lalu yang menarik ditelusuri. Nama Blora memiliki beberapa asal usul yang berkembang dalam masyarakat. Secara etimologi, Blora berasal dari kata Jawa “belor” yang berarti lumpur. 

Dalam perkembangannya, istilah “mbeloran” muncul untuk menggambarkan wilayah ini sebelum akhirnya dikenal dengan sebutan Blora yang ada seperti sekarang. 

Dikutip dari laman blorakab.go.id, ada juga interpretasi lain yang menyebutkan bahwa nama Blora berasal dari gabungan kata “wai” yang berarti air dan “lorah” yang berarti jurang atau tanah rendah. 

Dalam bahasa Jawa, huruf “W” sering berganti dengan “B” tanpa mengubah arti, sehingga “wailorah” bertransformasi menjadi “bailorah,” kemudian “balora,” dan akhirnya “Blora”. 

Nama ini mengacu pada wilayah yang berair dan berlumpur, mencerminkan karakteristik tanah rendah yang subur di daerah tersebut.

Blora pada Era Kerajaan

  1. Di Bawah Kadipaten Jipang

Pada abad ke-16, Blora berada di bawah kekuasaan Kadipaten Jipang yang dipimpin oleh Aryo Penangsang, juga dikenal sebagai Aria Jipang. Pada masa itu, Kadipaten Jipang masih menjadi bagian dari Kerajaan Demak, yang wilayahnya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang. 

Namun, setelah Jaka Tingkir atau Hadiwijaya mewarisi takhta Kerajaan Demak dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, Blora kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Pajang.

  1. Di Bawah Kerajaan Mataram

Setelah Kerajaan Pajang jatuh, Blora bagian Kerajaan Mataram berpusat di Kotagede, Yogyakarta. 

Pada masa Paku Buwana I (1704-1719), Blora diberikan kepada Pangeran Blitar yang menjabat Adipati. Blora pada saat itu memiliki luas wilayah 3.000 karya (setara dengan hektar). 

Ketika Mataram dipimpin Amangkurat IV pada tahun 1719-1727, Blora berada di kekuasaannya.

Baca juga: Menelisik Ajaran Unik Komunitas Samin Sedulur Sikep di Blora

  1. Perang Mangkubumi

Pada era Paku Buwana II (1727-1749), terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangku Bumi dan Mas Sahid. Mangku Bumi berhasil merebut wilayah Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta, hingga akhirnya ia diangkat sebagai raja di Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 1749. Sejalan dengan pengangkatannya, Wilatikta diangkat menjadi Bupati Blora.

  1. Blora di Bawah Kasultanan

Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Blora menjadi bagian dari Kasunanan Surakarta, namun Wilatikta, Bupati Blora saat itu, menolak untuk berada di bawah kekuasaan Kasunanan dan memilih mundur dari jabatannya.

Sejarha Blora sebagai Kabupaten

Sejak zaman Kerajaan Pajang hingga Mataram, Blora dikenal sebagai daerah penting karena hutan jati yang dimilikinya. 

Pada 11 Desember 1749, status Blora rberubah dari apanage menjadi kabupaten, dengan Wilatikta sebagai Bupati pertama. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Blora.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, rakyat Blora melakukan perlawanan terhadap penjajahan kolonial yang dipelopori oleh petani. Salah satu tokoh penting adalah Samin Surosentiko, yang memimpin gerakan protes petani anti-kolonial dengan metode protes pasif. 

Penyebab utama perlawanan ini adalah kebijakan pajak yang berat dan pembatasan hak masyarakat atas tanah dan hasil hutan oleh penjajah. Gerakan Samin memiliki corak milenarisme, yaitu perlawanan terhadap ketidakadilan sambil mengharapkan hadirnya “zaman emas” yang sejahtera. 

TopikPariwisata
Pariwisata01 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan