Tenun tidak hanya hadir sebagai kain ketika Bakul Budaya Nusantara (BBN) merayakan ulang tahun keempat sekaligus Hari Tenun Nasional 2026 di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, 12–13 September 2026. Wastra menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan budaya Kalimantan melalui tari, musik, kerajinan, kuliner, hingga cerita para pelestari yang bekerja langsung bersama komunitas.
Perayaan bertema “Kolaborasi dalam Aksi: Berkenalan dengan Tenun dan Budaya Kalimantan” itu didukung Kementerian Kebudayaan RI dan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Selatan. BBN memilih Kalimantan sebagai fokus perayaan tahun ini dengan membawa berbagai ekspresi budaya dari sejumlah wilayah di pulau tersebut.
Ketua Umum BBN Dewi Fajar Marhaeni mengatakan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjalankan misi organisasi. Menurut dia, budaya Kalimantan memiliki kekayaan yang dapat dikenalkan melalui kehidupan masyarakat, permainan tradisional, tari, musik, hingga wastra.
Tenun Membawa Cerita dari Kalimantan
Pembicaraan mengenai wastra mendapat ruang khusus melalui Bincang Budaya: Berkenalan dengan Tenun Kalimantan yang menghadirkan Dian Oerip dan Wilsen Willim. Keduanya membawa pengalaman berbeda dalam melihat bagaimana tenun bertahan di tengah masyarakat sekaligus berhadapan dengan perkembangan zaman.
Dian telah mengunjungi sejumlah sentra tenun, termasuk komunitas Iban di Kalimantan Barat dan penghasil ulap doyo di Kalimantan Timur. Dalam pertemuan itu, ia memperlihatkan tenun Dayak Iban dari kawasan Danau Sentarum, Putussibau, yang dibuat menggunakan teknik sungkit dengan tingkat pengerjaan yang rumit.
“Kalimantan sangat kaya dengan tenun,” kata Dian dalam diskusi tersebut. Ia juga menyoroti dimensi ekonomi para pembuat tenun karena hasil penjualan kain digunakan untuk menopang kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak.
Cerita itu menempatkan tenun tidak semata sebagai benda yang dipamerkan karena keindahan motifnya. Di balik selembar kain terdapat pekerjaan, pengetahuan, waktu, serta kehidupan keluarga yang ikut bergantung pada keberlanjutan keterampilan menenun.
Inovasi Tanpa Meninggalkan Pakem
Persoalan berbeda muncul ketika tenun harus berhadapan dengan pasar yang terus berubah dan generasi baru dengan selera berbeda. Wilsen Willim memilih pendekatan inovasi dengan menggunakan motif geometris non-sakral dari tenun Iban agar dapat dikembangkan untuk pasar yang lebih luas tanpa melanggar batas adat.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk berbasis tradisi membutuhkan pemahaman mengenai motif yang dapat digunakan dan unsur yang memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat asalnya. Inovasi dengan demikian tidak sekadar mengubah tampilan, tetapi juga memerlukan pengetahuan terhadap konteks budaya yang menyertai sebuah wastra.
Upaya mendekatkan tenun kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungannya. Ketika kain tradisional memperoleh ruang dalam kehidupan masa kini, peluang bagi keterampilan menenun untuk tetap digunakan dan diwariskan juga menjadi lebih terbuka.
Sebanyak 11 anggota BBN kemudian menampilkan Parade Tenun Kalimantan dengan iringan lagu “Paris Barantai”. Tenun yang sebelumnya menjadi bahan diskusi berpindah ke panggung dan diperlihatkan sebagai bagian dari ekspresi budaya yang masih dapat hadir di ruang kontemporer.
Tari dan Musik Membawa Ragam Kalimantan
Perayaan tidak berhenti pada wastra karena berbagai kesenian Kalimantan juga mendapat ruang selama dua hari kegiatan. Pada hari pertama, sekitar 100 peserta mengikuti workshop Tari Japin Rantauan dari Kalimantan Selatan yang dipandu Sri Hermina, kemudian dilanjutkan Tari Manasai dari Kalimantan Tengah bersama Sufiania Naya Subrata.
Panggung berikutnya menghadirkan Tari Bhawi karya Elsi Sastia, Tari Jepin Indung-indung dari Kalimantan Utara, Tari Enggang dari Kalimantan Timur, serta Tari Dadas Dayak Ma’anyan. Musik Sape Beruaan yang dibawakan Sanggar Slaras Budaya turut melengkapi pengenalan terhadap ragam ekspresi seni dari Kalimantan.
Rangkaian tersebut penting karena Kalimantan tidak ditempatkan sebagai satu kebudayaan yang seragam. Penyebutan asal setiap kesenian membantu menunjukkan keberagaman tradisi yang berkembang di wilayah dan komunitas berbeda.
Pengunjung juga dapat melihat pameran “Keliling Kalimantan” yang memuat koleksi kerajinan fotografer Ati Bachtiar dan Anjungan Kalimantan Selatan TMII. Bazar kuliner Nusantara serta sejumlah kegiatan lain turut melengkapi perayaan, sementara BBN menggalang donasi untuk penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Regenerasi Menjadi Pesan Penutup
Perayaan empat tahun BBN ditutup dengan simbol yang berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Prosesi syukur menggunakan Nasi Astakona khas Banjar, bukan tumpeng, sebagai bagian dari pengenalan budaya Kalimantan dalam rangkaian acara.
Nasi Astakona kemudian diserahkan kepada anggota tertua dan termuda BBN sebagai simbol regenerasi. Pesan tersebut sejalan dengan persoalan yang muncul sepanjang kegiatan: warisan budaya membutuhkan generasi berikutnya agar pengetahuan tidak berhenti bersama para pelaku yang menjaganya hari ini.
Dekan FIB UI sekaligus Pengawas BBN Untung Yuwono menyatakan kampus akan terus menjadi ruang bagi gerakan kebudayaan seperti yang dilakukan BBN. Ketua Dewan Pembina BBN sekaligus Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah juga menyoroti peran komunitas kampus dalam memberikan kontribusi terhadap pemajuan kebudayaan.
Dari tenun Iban hingga ulap doyo, dari Tari Enggang hingga bunyi sape, perayaan tersebut mempertemukan beragam ekspresi budaya Kalimantan dalam satu ruang. Di tengahnya, pesan mengenai regenerasi menjadi pengingat bahwa menjaga kebudayaan tidak cukup dengan mengenangnya, tetapi membutuhkan orang-orang yang terus mempelajari, menggunakan, dan meneruskannya.






