Ada pemandangan yang begitu akrab di banyak rumah Indonesia. Seseorang duduk membelakangi anggota keluarganya, minyak dioleskan ke punggung, lalu sekeping uang logam digerakkan berulang sampai garis-garis merah mulai terlihat.
Orang Indonesia mengenalnya sebagai kerokan. Biasanya kebiasaan ini muncul setelah seseorang mengatakan dirinya “masuk angin”: badan pegal, meriang, lelah, kembung, atau sekadar terasa tidak enak.
Peralatannya sederhana. Koin atau benda tumpul, minyak sebagai pelicin, lalu tangan seseorang yang bersedia membantu sering dianggap sudah cukup.
Zaman telah berubah. Rumah sakit dan puskesmas semakin mudah dijangkau, obat tersedia di apotek, sementara informasi kesehatan dapat ditemukan dalam hitungan detik, tetapi kerokan belum benar-benar meninggalkan rumah-rumah Indonesia.
Menariknya, praktik yang lama hidup sebagai pengetahuan keluarga ini juga telah masuk ke ruang penelitian. Para peneliti mencoba melihat kerokan dan teknik scraping serupa bukan hanya dari cerita turun-temurun, melainkan melalui perubahan biologis yang dapat diukur.
Kebiasaan yang Dipelajari dari Rumah
Tidak mudah menunjuk satu tahun atau satu tempat sebagai awal kerokan di Indonesia. Sumber-sumber yang tersedia lebih banyak merekamnya sebagai praktik kesehatan tradisional yang diwariskan daripada memberikan satu titik kelahiran sejarah yang dapat dipastikan.
Pewarisannya pun nyaris tidak membutuhkan ruang belajar khusus. Banyak orang mengenal kerokan bukan dari buku, melainkan karena melihatnya dilakukan di rumah.
Seorang anak melihat ayahnya dikerok ketika badannya terasa kurang nyaman. Ia memperhatikan bagaimana minyak dioleskan, bagaimana koin digenggam, bagian punggung mana yang dikerok, dan kapan orang yang melakukan kerokan berhenti.
Bertahun-tahun kemudian, pengetahuan sederhana itu dapat berpindah lagi kepada keluarga berikutnya.
Penelitian antropologi terhadap masyarakat Melayu di Kubu Raya, Kalimantan Barat, memperlihatkan bagaimana kerokan tetap dipilih sebagai praktik tradisional karena dianggap sebagai pengetahuan yang diwariskan, mudah dilakukan, serta menggunakan peralatan sederhana seperti koin, sendok, dan minyak.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa kerokan bukan hanya persoalan tubuh. Ia juga hidup melalui proses belajar sosial yang terjadi antargenerasi.
Koin, Minyak, dan Garis Merah
Cara melakukan kerokan dapat berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Namun bentuk yang paling dikenal adalah mengoleskan minyak atau bahan pelicin pada kulit, kemudian menggesekkan uang logam atau benda tumpul secara berulang.
Punggung dan leher menjadi bagian tubuh yang paling sering dikerok. Garis-garis merah yang tertinggal kemudian menjadi ciri yang mudah dikenali.
Dalam pemahaman populer, kemerahan tersebut terkadang disebut sebagai tanda bahwa “angin” sedang keluar dari tubuh. Bahkan ada anggapan bahwa semakin merah kulit setelah dikerok, semakin banyak pula angin yang sebelumnya berada di dalam badan.
Penjelasan fisiologis tidak bekerja seperti itu.
Warna merah yang muncul berhubungan dengan respons jaringan terhadap gesekan dan tekanan pada permukaan kulit. Teknik scraping memang sengaja menghasilkan perubahan sementara pada kulit, termasuk kemerahan serta pada tekanan tertentu dapat menimbulkan petechiae atau titik perdarahan kecil di bawah kulit.
Jadi, garis merah yang terlihat bukan bukti bahwa angin secara harfiah keluar melalui pori-pori.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Dikerok?
Pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi setelah kulit digesek berulang telah menarik perhatian peneliti.
Sebuah studi eksperimental yang diterbitkan pada 2007 menggunakan Laser Doppler Imaging untuk mengamati mikrosirkulasi setelah perlakuan gua sha, teknik scraping yang mempunyai prinsip mekanis serupa dengan kerokan. Penelitian dilakukan terhadap 11 orang sehat.
Hasilnya menunjukkan peningkatan mikrosirkulasi pada jaringan permukaan di daerah yang mendapat perlakuan. Pada 7,5 menit pertama, peningkatannya tercatat sekitar empat kali dibandingkan kondisi awal, sementara peningkatan mikrosirkulasi yang signifikan masih teramati selama periode pengamatan 25 menit.
Para peserta juga melaporkan penurunan rasa nyeri otot setelah perlakuan. Namun jumlah peserta penelitian tersebut kecil, sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai petunjuk mengenai kemungkinan mekanisme fisiologis daripada bukti final mengenai manfaat klinis scraping.
Penelitian lain terhadap 23 orang sehat yang diterbitkan pada 2012 juga mengamati perubahan setelah scraping. Dengan Laser Doppler dan termografi inframerah, peneliti menemukan peningkatan perfusi darah lokal pada area yang mendapat perlakuan hingga periode pengamatan 90 menit, disertai peningkatan temperatur permukaan sekitar satu derajat Celsius dibandingkan area yang tidak dikerok.
Temuan-temuan tersebut memberi penjelasan yang lebih masuk akal mengenai rasa hangat yang kerap dirasakan setelah kerokan. Ada perubahan lokal pada aliran darah dan temperatur permukaan kulit yang memang dapat diukur.
Kerokan Indonesia Juga Pernah Diteliti
Penelitian tidak hanya dilakukan terhadap gua sha di luar Indonesia. Kerokan yang dikenal masyarakat Indonesia juga pernah diteliti secara khusus.
Salah satunya dilakukan Didik Gunawan Tamtomo dalam penelitian doktoral di Universitas Airlangga mengenai kerokan untuk mialgia atau nyeri otot. Penelitian eksperimental tersebut melibatkan 38 perempuan berusia 40–50 tahun yang memenuhi kriteria penelitian, kemudian dibagi secara acak menjadi kelompok perlakuan dan kontrol.
Penelitian itu mengamati sejumlah mediator biologis, termasuk IL-1, C1q, C3, beta-endorfin, dan prostaglandin E2 atau PGE2.
Hasil penelitian menemukan perbedaan bermakna pada PGE2 dan beta-endorfin antara kelompok perlakuan dan kontrol. PGE2 berkaitan dengan proses sensitisasi nyeri, sedangkan beta-endorfin berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam memodulasi rasa nyeri.
Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa kerokan memicu respons biologis yang dapat diamati, bukan sekadar perubahan warna pada permukaan kulit.
Namun hasil satu penelitian tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kerokan merupakan terapi yang terbukti untuk berbagai penyakit. Sampelnya terbatas pada kelompok tertentu dan fokus penelitiannya adalah mialgia, bukan seluruh kondisi yang dalam percakapan sehari-hari disebut “masuk angin”.
Penelitian Menemukan Sinyal, Bukan Jawaban untuk Semuanya
Di sinilah penelitian ilmiah perlu dibaca dengan hati-hati.
Kajian sistematis terhadap gua sha untuk nyeri muskuloskeletal yang diterbitkan pada 2010 menemukan beberapa penelitian yang melaporkan hasil positif terhadap nyeri. Namun para peneliti menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia ketika itu belum cukup karena kualitas metodologi penelitian umumnya rendah.
Kajian yang lebih baru mengenai scraping therapy untuk nyeri punggung bawah kronis, diterbitkan pada 2021, menganalisis 10 penelitian dengan total 627 peserta. Analisisnya menemukan indikasi penurunan nyeri dan perbaikan fungsi pada beberapa kelompok yang mendapatkan scraping therapy.
Tetapi peneliti juga memberikan batas yang penting. Jumlah penelitian masih terbatas, terdapat persoalan metodologi pada sebagian studi, dan penelitian acak terkontrol berskala besar dengan kualitas lebih tinggi masih diperlukan.
Artinya, sains tidak mengatakan bahwa kerokan “tidak mempunyai efek sama sekali”. Ada perubahan fisiologis yang dapat diukur dan terdapat penelitian yang menemukan potensi manfaat untuk kondisi tertentu.
Tetapi sains juga belum memberikan dasar untuk mengatakan bahwa kerokan menyembuhkan semua keluhan yang masyarakat sebut sebagai masuk angin.
Lalu, Apa Sebenarnya “Masuk Angin”?
Kerokan di Indonesia hampir tidak dapat dipisahkan dari dua kata ini.
“Masuk angin” sangat mudah dipahami dalam percakapan sehari-hari, tetapi bukan nama satu diagnosis medis yang spesifik. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan berbagai keluhan yang dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Seseorang dapat mengatakan masuk angin ketika tubuhnya pegal. Orang lain menggunakannya ketika merasa kembung, meriang, lelah, pusing, atau tidak nyaman setelah bepergian.
Karena keluhannya begitu luas, penyebab sebenarnya juga dapat berbeda.
Di sinilah batas antara bahasa budaya dan diagnosis medis perlu dipahami. “Masuk angin” mempunyai tempat yang nyata dalam cara masyarakat Indonesia menjelaskan kondisi tubuh, tetapi istilah tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab medis dari keluhan seseorang.
Kerokan kemudian hidup sebagai salah satu respons budaya terhadap keadaan tersebut.
Apakah Kerokan Hanya Ada di Indonesia?
Kerokan sangat Indonesia dalam nama, kebiasaan, serta hubungannya dengan konsep “masuk angin”. Namun teknik menggesek kulit dengan benda tumpul bukan hanya ditemukan di Indonesia.
Di Tiongkok terdapat gua sha. Di Vietnam dikenal praktik cao gio atau coining, sementara teknik scraping dan spooning juga tercatat dalam berbagai masyarakat Asia.
Ada persamaan yang mudah terlihat: permukaan tubuh digesek menggunakan alat tertentu sampai terjadi perubahan warna pada kulit. Tetapi latar budaya, istilah, alat, teknik, serta penjelasan tradisional yang menyertainya dapat berbeda.
Karena itu, mengatakan kerokan hanya ada di Indonesia akan mengabaikan praktik serupa yang berkembang di tempat lain.
Yang khas justru cara masyarakat Indonesia menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Kerokan tumbuh bersama bahasa “masuk angin”, minyak kayu putih, uang logam, dan kebiasaan saling merawat di rumah.
Kerokan Bukan Hanya Soal Tubuh
Jika kerokan hanya dilihat sebagai tindakan menggesek kulit dengan koin, barangkali ia memang terlihat sangat sederhana.
Tetapi perhatikan siapa yang biasanya memegang koin itu.
Ada ibu yang mengerok punggung anaknya. Ada pasangan yang saling membantu setelah salah satunya pulang bekerja dengan badan lelah, atau anak yang kini mengerok punggung orang tuanya seperti dahulu orang tua melakukan hal yang sama kepadanya.
Kerokan hampir selalu membutuhkan orang lain.
Di ruang kecil itulah tradisi memperoleh lapisan lain. Yang berpindah bukan hanya teknik menggerakkan uang logam, tetapi juga kebiasaan merawat seseorang ketika tubuhnya sedang tidak nyaman.
Tidak mudah mengukurnya di laboratorium. Namun dari sudut kebudayaan, hubungan manusia semacam itulah yang membuat sebuah kebiasaan dapat bertahan jauh lebih lama daripada alat yang digunakannya.
Tradisi Tetap Memerlukan Batas
Usianya yang panjang tidak membuat sebuah praktik otomatis bebas risiko.
Gesekan dan tekanan pada kerokan dapat menyebabkan kemerahan, petechiae, memar, iritasi, atau cedera kulit apabila dilakukan terlalu keras. Kondisi kulit dan kesehatan seseorang juga tidak selalu sama.
Lebih penting lagi, rasa nyaman setelah kerokan tidak dapat digunakan untuk menentukan penyebab sebuah penyakit.
Keluhan yang dianggap sebagai masuk angin bisa saja ringan, tetapi gejala tertentu juga dapat menjadi tanda kondisi medis yang membutuhkan pemeriksaan. Kerokan tidak semestinya menjadi alasan menunda pertolongan ketika seseorang mengalami gejala berat, menetap, atau tidak biasa.
Tradisi dan pengetahuan medis tidak harus dipertentangkan. Satu dapat menjelaskan bagaimana masyarakat merawat tubuh selama bergenerasi, sementara yang lain terus menguji apa yang terjadi pada tubuh dan kapan sebuah tindakan aman atau tidak dilakukan.
Ketika Tradisi Bertemu Laboratorium
Mungkin bagian paling menarik dari kerokan hari ini justru berada pada pertemuan dua dunia tersebut.
Selama beberapa generasi, masyarakat melakukannya karena pengalaman. Orang merasa lebih hangat, pegal berkurang, tubuh lebih nyaman, lalu kebiasaan tersebut diteruskan.
Laboratorium datang jauh kemudian dengan pertanyaan yang berbeda.
Apakah aliran darah berubah? Apa yang terjadi pada temperatur kulit? Bagaimana tubuh merespons gesekan? Adakah perubahan mediator yang berhubungan dengan rasa nyeri?
Sebagian pertanyaan mulai mendapatkan jawaban, sebagian lainnya belum.
Kerokan tidak perlu diberi klaim berlebihan agar layak disebut sebagai bagian dari tradisi Indonesia. Nilai budayanya sudah terlihat dari caranya bertahan: melalui keluarga, bahasa sehari-hari, pengalaman tubuh, dan kebiasaan merawat orang terdekat.
Kini penelitian ilmiah menambahkan satu lapisan baru pada cerita itu.
Sekeping koin yang selama puluhan tahun bergerak di punggung orang Indonesia ternyata dapat membawa kita dari ruang keluarga menuju antropologi, mikrosirkulasi, mediator nyeri, hingga laboratorium modern.
Tradisinya sudah lama ada.
Ilmu pengetahuan masih terus mencoba memahaminya.
CATATAN REDAKSI
Kerokan dalam artikel ini ditempatkan sebagai praktik kesehatan tradisional dan kebiasaan sosial yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Teknik menggesek kulit dengan prinsip serupa juga ditemukan pada sejumlah tradisi kesehatan masyarakat Asia lainnya, sehingga EMMANUS tidak menempatkan kerokan sebagai praktik yang secara eksklusif hanya terdapat di Indonesia.
Penelitian yang disebutkan dalam artikel menunjukkan adanya respons fisiologis terhadap kerokan atau teknik scraping sejenis serta potensi manfaat pada kondisi tertentu, tetapi tingkat dan kualitas bukti berbeda antarp研究 dan tidak dapat digeneralisasi sebagai bukti bahwa kerokan menyembuhkan “masuk angin” atau penyakit tertentu. EMMANUS membedakan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat dari kesimpulan medis; keluhan berat, menetap, atau tidak biasa tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan.






