Cerita Rakyat

Asal-Usul Padi dalam Legenda Beru Dayang Tanah Karo

Legenda Beru Dayang merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Sumatra Utara. Kisah ini dipercaya sebagai asal-usul tanaman padi, makanan pokok masyarakat Indonesia. Cerita ini juga menggambarkan penderitaan akibat kelaparan serta pengorbanan seorang anak demi kelangsungan hidup banyak orang yang ada di sekelilingnya. Awal Mula Kisah Beru Dayang Dikisahkan dalam buku Rangkuman 100 Cerita […]

Oleh Achmad Aristyan

Asal-Usul Padi dalam Legenda Beru Dayang Tanah Karo
Ilustrasi Beru Dayang dari Sumatra Utara yang menceritakan asal-usul tanaman padi. Gambar: sdn13.bimakota.sch.id
Diterbitkan

Legenda Beru Dayang merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Sumatra Utara. Kisah ini dipercaya sebagai asal-usul tanaman padi, makanan pokok masyarakat Indonesia.

Cerita ini juga menggambarkan penderitaan akibat kelaparan serta pengorbanan seorang anak demi kelangsungan hidup banyak orang yang ada di sekelilingnya.

Awal Mula Kisah Beru Dayang

Dikisahkan dalam buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: dari Sabang sampai Merauke karya Irwan Rouf dan Shenia Ananda dan kanal YouTube CERITA KITA, pada zaman dahulu di Tanah Karo terjadi kemarau panjang yang menyebabkan krisis pangan. Masyarakat menderita kelaparan akibat kekeringan yang melanda daerah itu.

Di antara mereka, terdapat seorang anak yatim bernama Beru Dayang yang tinggal bersama ibunya. Kehidupan mereka sangat sulit karena persediaan makanan telah habis. 

Beru Dayang terus menangis di pangkuan ibunya, meminta makanan yang tak lagi tersedia. Sang ibu, yang juga kelaparan, tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan putrinya.

Seiring berjalannya waktu, kondisi Beru Dayang semakin memburuk. Tubuhnya menjadi kurus dan lemah hingga akhirnya ia meninggal dunia akibat kelaparan. 

Kehilangan putrinya membuat sang ibu tenggelam dalam kesedihan yang mendalam.

Karena tak sanggup menahan penderitaan, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Tak ada seorang pun yang mengetahui tentang kematian mereka.

Baca juga: Legenda Arjuna dan Asal Usul Gunung Arjuno di Jawa Timur

Penemuan Buah Misterius

Beberapa bulan setelah kejadian tragis itu, kemarau masih terus berlangsung di Tanah Karo. Suatu hari, dua anak kecil yang sedang bermain di padang luas menemukan sebuah buah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. 

Mereka membawa buah itu pulang dan menyerahkannya kepada orang tua mereka. Namun, tidak ada seorang pun yang mengenali jenis buah itu, termasuk para tetua di desa. 

Akhirnya, masyarakat memutuskan untuk membawa buah itu ke istana agar raja dapat memberikan keputusan terkait temuan itu. Ketika masyarakat dan raja sedang memperhatikan buah itu, tiba-tiba terdengar suara asing dari langit. 

Suara itu mengungkapkan bahwa buah itu adalah jelmaan dari Beru Dayang, anak kecil yang meninggal akibat kelaparan. Suara itu juga memberi pesan agar buah itu ditanam dan dirawat dengan baik, karena nantinya akan menjadi sumber makanan utama bagi masyarakat.

Suara misterius itu juga menyampaikan, ibu Beru Dayang telah menjelma menjadi ikan di sungai.

Karena itu, ketika buah itu telah berbuah dan menjadi makanan, masyarakat disarankan untuk memakannya bersama ikan agar mereka terbebas dari kelaparan.

Munculnya Tanaman Padi

Mendengar pesan dari suara langit itu, raja segera memerintahkan rakyatnya untuk menanam buah itu. Dengan penuh harapan, masyarakat bekerja sama menanam dan merawat buah yang dipercaya sebagai anugerah dari Beru Dayang.

Setelah tiga bulan berlalu, buah itu tumbuh menjadi tanaman padi yang menguning dan siap dipanen. Masyarakat pun mulai memanen hasilnya dan memasaknya menjadi nasi. 

Sesuai pesan dari suara langit, mereka juga menangkap ikan dari sungai untuk dijadikan lauk. Akhirnya, berkat tanaman padi yang berasal dari jelmaan Beru Dayang, masyarakat berhasil mengatasi kelaparan yang melanda Tanah Karo. 

Sejak saat itu, padi menjadi makanan utama bagi masyarakat, dan mereka selalu menyantapnya dengan lauk ikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Beru Dayang dan ibunya. (Diolah dari beberapa sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat06 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan