Warisan Budaya

Belangiran, Tradisi Masyarakat Lampung Menyucikan Diri Menjelang Ramadan

Menjelang datangnya Ramadan, masyarakat Lampung mengenal Belangiran atau Blangikhan sebagai salah satu tradisi untuk mempersiapkan diri memasuki bulan puasa. Tradisi ini dilakukan melalui prosesi membersihkan diri menggunakan air dan sejumlah perlengkapan tertentu yang memiliki fungsi dalam tata cara adat. Belangiran bukan sekadar kegiatan mandi bersama. Dalam tradisi masyarakat pendukungnya, membersihkan tubuh menjadi simbol untuk menata […]

Oleh Narendra

Belangiran, Tradisi Masyarakat Lampung Menyucikan Diri Menjelang Ramadan
Belangiran atau Blangikhan merupakan tradisi masyarakat Lampung menjelang Ramadan yang menggunakan air langir dan sejumlah perlengkapan tradisional sebagai bagian dari prosesi penyucian diri. Foto: Ilustrasi
Diterbitkan

Menjelang datangnya Ramadan, masyarakat Lampung mengenal Belangiran atau Blangikhan sebagai salah satu tradisi untuk mempersiapkan diri memasuki bulan puasa. Tradisi ini dilakukan melalui prosesi membersihkan diri menggunakan air dan sejumlah perlengkapan tertentu yang memiliki fungsi dalam tata cara adat.

Belangiran bukan sekadar kegiatan mandi bersama. Dalam tradisi masyarakat pendukungnya, membersihkan tubuh menjadi simbol untuk menata kembali diri sebelum menjalani ibadah selama Ramadan.

Dari Langir Menjadi Belangiran

Nama Belangiran berkaitan dengan kata langir yang merujuk pada kegiatan mandi atau membersihkan diri. Namun mandi dalam Belangiran mempunyai tujuan dan tata cara tertentu sehingga berbeda dengan kegiatan mandi sehari-hari.

Tradisi ini juga dikenal dengan penyebutan Blangikhan dalam sejumlah dokumentasi di Lampung. Keduanya merujuk pada tradisi penyucian diri yang dilakukan menjelang datangnya Ramadan.

Belangiran secara tradisional dapat dilakukan di sungai atau tempat pemandian. Hubungan dengan air menjadi bagian penting karena keseluruhan prosesi memang berpusat pada kegiatan membersihkan tubuh sekaligus membawa makna simbolis mengenai kebersihan diri.

Air Langir Menjadi Unsur Utama

Salah satu bagian penting dalam Belangiran adalah air langir. Dalam dokumentasi kebudayaan, air yang digunakan dapat berasal dari tujuh sungai atau sumber mata air berbeda yang kemudian dipersiapkan sebelum pelaksanaan prosesi.

Air tersebut kemudian dicampurkan dengan sejumlah bahan seperti bunga tujuh rupa, daun pandan dan setanggi. Beberapa dokumentasi pelaksanaan Belangiran juga mencatat penggunaan jeruk nipis dan tangkai padi sebagai bagian dari perlengkapan tradisi.

Pemilihan bahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan bentuk prosesi. Bunga, tanaman, wewangian dan air memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lalu memanfaatkan unsur-unsur yang tersedia di lingkungan sekitarnya untuk kebutuhan membersihkan tubuh.

Catatan mengenai bentuk Belangiran terdahulu juga menyebut penggunaan merang atau bagian tanaman padi yang dibakar. Abu maupun hasil olahannya kemudian digunakan bersama air dan bahan lain sebagai bagian dari proses membersihkan diri.

Prosesi Menjelang Ramadan

Tata cara Belangiran dapat mengalami variasi berdasarkan tempat dan masyarakat yang menjalankannya. Secara umum, air langir yang telah dipersiapkan digunakan untuk membasuh atau menyiram tubuh sebelum peserta melanjutkan proses membersihkan diri.

Dalam sejumlah pelaksanaan, prosesi diawali dengan doa sebelum peserta menerima siraman air langir. Air yang telah disiapkan kemudian digunakan oleh keluarga atau masyarakat yang mengikuti Belangiran.

Muli dan mekhanai atau muda-mudi Lampung juga dikenal terlibat dalam pelaksanaan tradisi ini. Keterlibatan generasi muda mempunyai arti penting karena pengetahuan mengenai bahan, tata cara dan makna Belangiran bergantung pada proses pewarisan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Meski dilaksanakan menjelang Ramadan, Belangiran berada dalam ranah tradisi budaya masyarakat Lampung. Karena itu, pelaksanaannya perlu dibedakan dari ketentuan ibadah dalam Islam dan tidak ditempatkan sebagai kewajiban agama sebelum menjalankan puasa.

Makna Membersihkan Lahir dan Batin

Makna yang paling kuat dalam Belangiran terletak pada gagasan mengenai kebersihan sebelum memasuki Ramadan. Membersihkan tubuh dengan air kemudian berkembang menjadi simbol untuk mempersiapkan batin menghadapi bulan yang memiliki kedudukan penting bagi masyarakat Muslim.

Dalam dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tujuan Belangiran juga dikaitkan dengan upaya membersihkan diri dari rasa benci, dendam, kesombongan, iri hati dan dengki. Dengan demikian, pengertian bersih dalam tradisi ini tidak berhenti pada keadaan fisik seseorang.

Ada nilai sosial yang ikut hadir di dalamnya. Ketika dilakukan bersama, Belangiran menciptakan ruang pertemuan masyarakat menjelang Ramadan sekaligus menjadi kesempatan untuk kembali membangun hubungan antarsesama.

Tradisi seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara mengembangkan ekspresi budaya di sekitar momentum keagamaan. Nilai agama dan kebiasaan lokal kemudian bertemu dalam praktik yang diwariskan melalui keluarga serta lingkungan masyarakat.

Dari Sungai hingga Ruang Masyarakat Modern

Cara masyarakat menjalankan Belangiran ikut berubah seiring perkembangan zaman. Jika tradisi tersebut dahulu lekat dengan sungai dan bahan pembersih yang tersedia dari lingkungan sekitar, pelaksanaannya kini juga dapat dijumpai di tempat pemandian atau ruang lain yang memungkinkan prosesi dilakukan.

Perubahan juga terjadi pada perlengkapan yang digunakan. Kehadiran produk kebersihan modern membuat fungsi praktis sejumlah bahan tradisional tidak lagi sama seperti pada masa ketika masyarakat mengandalkan bahan-bahan alam untuk membersihkan tubuh.

Namun air langir dan sejumlah perlengkapan adat tetap dipertahankan dalam berbagai pelaksanaan sebagai bagian dari identitas tradisi. Unsur tersebut membantu masyarakat mengenali Belangiran sebagai praktik budaya yang berbeda dari kegiatan mandi biasa.

Perubahan semacam ini menjadi bagian dari perjalanan tradisi. Sebuah kebiasaan dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat tanpa harus menghilangkan seluruh pengetahuan yang membentuknya.

Warisan Budaya Lampung yang Tetap Dikenal

Belangiran telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Lampung pada 2019. Pencatatan tersebut menempatkannya dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan.

Status tersebut menjadi bagian dari dokumentasi resmi terhadap praktik budaya yang berkembang di Lampung. Namun keberlangsungan sebuah tradisi tidak hanya bergantung pada pencatatan atau pengakuan administratif.

Pengetahuan mengenai cara mempersiapkan air langir, bahan yang digunakan, tata pelaksanaan hingga makna yang menyertainya tetap membutuhkan masyarakat yang memahami tradisi tersebut. Tanpa proses pewarisan, sebuah tradisi dapat terus dikenal namanya tetapi perlahan kehilangan pengetahuan yang berada di baliknya.

Di sinilah keterlibatan generasi muda menjadi penting. Dokumentasi melalui tulisan, foto dan video dapat membantu merekam tradisi, tetapi pengalaman melihat atau mempelajari langsung dari masyarakat yang menjalankannya tetap memiliki nilai tersendiri.

Belangiran pada akhirnya menjadi salah satu contoh pertemuan antara tradisi lokal Lampung dan momentum Ramadan. Air, bunga, pandan serta berbagai perlengkapan yang digunakan membawa jejak cara masyarakat terdahulu memaknai kebersihan dan persiapan diri.

Di tengah perubahan kehidupan, tradisi ini terus dikenali melalui satu gagasan sederhana yang bertahan lintas generasi: memasuki Ramadan tidak hanya dengan membersihkan tubuh, tetapi juga dengan mempersiapkan diri dan hubungan dengan sesama.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT