Ada warisan yang dapat disimpan di dalam lemari kaca. Ada kain yang dapat dirawat, rumah tua yang dapat dipugar, naskah yang dapat didigitalisasi, lagu yang dapat direkam, dan tarian yang dapat diajarkan kembali dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Namun ada pula warisan yang tidak mempunyai bentuk untuk dipamerkan. Ia tidak dapat digantung di dinding, tidak mempunyai nomor inventaris, dan mungkin tidak pernah disebut kebudayaan ketika seseorang sedang menjalankannya.
Namanya budi pekerti.
Ia terlihat ketika seseorang mengetahui bagaimana berbicara tanpa merendahkan, bagaimana berbeda tanpa menghina, bagaimana menerima sesuatu tanpa merasa semuanya menjadi haknya. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak pernah mendapat tepuk tangan.
Dan justru karena tidak mempunyai bentuk itulah kita sering terlambat menyadari ketika sesuatu mulai berubah.
Bukan Sekadar Sopan Santun
Budi pekerti kerap dipersempit menjadi persoalan tata krama. Anak yang berbicara halus dianggap berbudi pekerti, seseorang yang menundukkan badan ketika melewati orang tua disebut santun, sementara penggunaan kata tertentu dianggap menjadi ukuran penghormatan.
Semua itu dapat menjadi bagian dari tata kehidupan suatu masyarakat, tetapi budi pekerti jauh lebih luas. Ia menyentuh hubungan antara pikiran, perasaan, kehendak, nilai, dan tindakan manusia.
Kajian mengenai pemikiran Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa pendidikan dalam pandangannya tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Tujuan pendidikan pun bukan semata-mata menghasilkan manusia pintar, tetapi manusia yang berkembang budi pekertinya.
Di sinilah kita menemukan perbedaan penting. Pengetahuan dapat membuat seseorang mengetahui apa yang baik, tetapi budi pekerti baru menemukan bentuknya ketika pengetahuan itu ikut hidup dalam tindakannya.
Seseorang dapat mengetahui bahwa menghina itu buruk, tetapi tetap melakukannya ketika marah. Seseorang dapat memahami pentingnya kejujuran, tetapi memilih berbohong ketika kebenaran terasa merugikan dirinya.
Budi pekerti hidup di ruang yang tidak selalu dapat diukur oleh nilai ujian.
Dahulu Tidak Selalu Diajarkan dengan Kata-kata
Ada generasi yang mungkin tidak pernah duduk mendengarkan penjelasan panjang mengenai pendidikan karakter. Tetapi setiap hari mereka hidup di dalam ruang tempat nilai dipertontonkan melalui tindakan.
Seorang anak melihat bagaimana orang tuanya menerima tamu. Ia memperhatikan bagaimana makanan dibagi ketika jumlahnya tidak banyak, bagaimana seseorang meminta izin, bagaimana orang dewasa menyelesaikan perselisihan, atau bagaimana tetangga datang membantu ketika sebuah keluarga sedang kesusahan.
Tidak ada papan tulis di sana.
Tidak ada ujian pada akhir bulan.
Namun seorang anak sedang belajar.
Ia belajar bahwa kehidupan mempunyai batas yang tidak selalu tertulis. Ada sesuatu yang boleh dilakukan meskipun tidak ada orang yang melihat, dan ada sesuatu yang sebaiknya tidak dilakukan meskipun tidak ada aturan yang melarangnya.
Nilai kemudian berpindah melalui kebiasaan.
Mungkin inilah salah satu alasan pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai lingkungan pendidikan tetap menarik dibaca hingga sekarang. Pembentukan manusia tidak diletakkan hanya di pundak sekolah, tetapi berlangsung melalui keluarga, perguruan, dan lingkungan sosial yang saling berhubungan.
Artinya, pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.
Rumah adalah Sekolah yang Pertama
Sebelum seorang anak mengenal guru, ia mengenal wajah orang-orang di rumahnya. Sebelum membaca buku tentang kejujuran, ia menyaksikan bagaimana orang dewasa berbicara ketika melakukan kesalahan.
Di sanalah sebuah persoalan menjadi rumit. Anak tidak hanya belajar dari apa yang kita perintahkan, tetapi juga dari apa yang kita lakukan ketika mengira mereka tidak sedang memperhatikan.
Kita dapat meminta seorang anak tidak berkata kasar sambil setiap hari memperdengarkan makian kepadanya. Kita dapat mengajarkan kejujuran, kemudian meminta anak mengatakan kepada tamu bahwa ayah atau ibunya tidak berada di rumah karena sedang tidak ingin ditemui.
Anak menyimpan kontradiksi itu.
Budi pekerti akhirnya tidak cukup diwariskan melalui nasihat. Ia membutuhkan keteladanan, sesuatu yang dalam gagasan pendidikan Ki Hadjar juga memperoleh tempat penting melalui hubungan antara pendidik dan mereka yang dididik.
Mungkin itulah bagian tersulitnya.
Mengajarkan nilai kepada anak sebenarnya memaksa orang dewasa bercermin kepada dirinya sendiri.
Kampung yang Dahulu Ikut Mendidik
Ada ungkapan bahwa dahulu seorang anak tidak hanya mempunyai orang tua di rumah. Ada tetangga, kerabat, guru, orang yang lebih tua, teman sepermainan, dan lingkungan yang ikut membentuk batas perilakunya.
Tentu kita tidak perlu meromantisasi masa lalu. Kampung dahulu juga mempunyai konflik, ketidakadilan, tekanan sosial, hierarki, dan kebiasaan yang belum tentu layak dipertahankan hari ini.
Namun struktur sosial yang rapat membuat interaksi manusia berlangsung dengan intensitas berbeda. Orang saling mengenal lebih dekat, kehidupan lebih sering bersinggungan, dan konsekuensi sosial sebuah tindakan dapat terasa langsung.
Urbanisasi, mobilitas, perubahan pola kerja, keluarga yang semakin kecil, lingkungan tempat tinggal yang semakin anonim, serta teknologi komunikasi kemudian mengubah sebagian ruang tersebut. Perubahan itu bukan dengan sendirinya buruk, tetapi ia mengubah tempat manusia belajar hidup bersama.
Seorang anak hari ini dapat mempunyai ratusan orang yang ia ikuti di internet tetapi tidak mengetahui nama orang yang tinggal dua rumah darinya.
Ia dapat mengetahui apa yang terjadi ribuan kilometer dari rumahnya dalam beberapa detik. Tetapi belum tentu pernah diminta mengantarkan sepiring makanan kepada tetangga yang sedang sakit.
Zamannya berubah.
Dan ruang belajar manusianya ikut berubah.
Apakah Generasi Sekarang Kehilangan Budi Pekerti?
Pertanyaan itu mudah dilontarkan. Hampir setiap generasi pernah mempunyai kegelisahan terhadap generasi setelahnya.
Anak muda dianggap terlalu bebas, terlalu berani berbicara, terlalu sibuk dengan gawai, terlalu individualistis, atau tidak lagi memahami tata krama. Tetapi menjadikan satu generasi sebagai terdakwa tidak membantu kita memahami persoalannya.
Generasi sekarang lahir ke dunia yang tidak mereka pilih.
Mereka tumbuh ketika telepon sudah menjadi perpanjangan tangan, informasi tidak lagi menunggu surat kabar pagi, hubungan sosial dapat dimulai dan berakhir melalui layar, sementara pendapat seseorang dapat disaksikan ribuan orang hanya dalam hitungan menit.
Karena itu pertanyaannya mungkin perlu dibalik.
Bukan hanya: mengapa anak-anak sekarang berubah?
Tetapi: ruang seperti apa yang kita berikan kepada mereka untuk belajar menjadi manusia?
Jika rumah semakin sibuk, lingkungan semakin individual, sekolah dibebani begitu banyak target akademik, sementara sebagian besar kehidupan sosial berpindah ke ruang digital, kita perlu memahami bahwa medan pewarisan budi pekerti juga telah berubah.
Bukan berarti nilainya harus hilang.
Cara mewariskannya yang harus menemukan bentuk baru.
Ketika Layar Menjadi Lingkungan Sosial
Dahulu sebuah kesalahan mungkin diketahui satu kampung. Hari ini potongan video beberapa detik dapat membawa seseorang ke hadapan jutaan manusia yang tidak pernah mengenalnya.
Ruang digital mempunyai kemampuan luar biasa untuk memperluas pengetahuan dan mempertemukan manusia. Namun ia juga menciptakan bentuk interaksi yang belum pernah dihadapi generasi-generasi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang.
Kajian mengenai representasi media sosial dan netizen Indonesia dalam film Budi Pekerti, misalnya, membaca bagaimana opini publik digital dapat mengambil peran sebagai pengontrol moral. Dalam representasi tersebut, potongan informasi, persepsi, dan penghakiman dapat membentuk citra seseorang dengan sangat cepat.
Di sini muncul sebuah ironi.
Kita dapat begitu bersemangat menuntut orang lain mempunyai moral, sementara cara kita menuntutnya justru kehilangan budi pekerti.
Seseorang melakukan kesalahan.
Lalu ribuan manusia yang tidak mengenalnya datang menghukum.
Nama dicaci, keluarga diseret, tubuh dihina, pekerjaan dicari, masa lalu dibongkar, dan kesalahan yang semula ingin dikoreksi berubah menjadi pesta penghukuman.
Semua merasa sedang membela kebaikan.
Tetapi apakah kebaikan masih menjadi kebaikan ketika diperjuangkan dengan merampas martabat manusia?
Budi Pekerti Bukan Kepatuhan
Ada bagian lain yang perlu kita bereskan ketika membicarakan budi pekerti. Masa lalu tidak selalu harus dipulihkan seluruhnya.
Ada masa ketika kesopanan dapat bercampur dengan ketakutan. Anak tidak membantah bukan karena memahami penghormatan, tetapi karena takut dihukum.
Orang yang lebih muda harus diam meskipun melihat sesuatu yang salah. Jabatan, usia, status sosial, bahkan kedudukan dalam keluarga terkadang membuat seseorang seolah tidak boleh dipertanyakan.
Itu bukan tujuan budi pekerti yang perlu kita wariskan.
Budi pekerti bukan membentuk manusia tanpa suara.
Menghormati orang tua tidak berarti membenarkan semua tindakan orang tua. Menghormati guru tidak berarti murid kehilangan hak bertanya, sebagaimana menghormati pemimpin tidak berarti masyarakat harus berhenti berpikir kritis.
Seseorang dapat berbeda pendapat dan tetap berbudi.
Ia dapat mengatakan tidak tanpa menghina.
Ia dapat mempertahankan hak tanpa merendahkan orang lain.
Barangkali justru di situlah kedewasaan nilai diuji: bukan ketika semua orang sepakat dengan kita, tetapi ketika kita berhadapan dengan manusia yang pandangannya berbeda.
Nusantara Tidak Hidup dengan Satu Tata Krama
Membicarakan budi pekerti sebagai kebudayaan Indonesia juga membutuhkan kehati-hatian. Nusantara bukan sebuah kampung dengan satu bahasa, satu adat, dan satu cara menunjukkan penghormatan.
Cara berbicara yang dianggap santun di satu masyarakat belum tentu sama dengan masyarakat lain. Ada budaya yang mengenal tingkat bahasa sangat rinci, sementara masyarakat lain mempunyai ekspresi penghormatan melalui hubungan kekerabatan, gestur, aturan adat, cara menerima tamu, pembagian makanan, atau kewajiban sosial.
Karena itu, budi pekerti Nusantara tidak semestinya dipaksa menjadi satu paket tata krama yang seragam.
Yang dapat kita temukan justru nilai-nilai yang muncul melalui bentuk berbeda: penghormatan kepada manusia lain, tanggung jawab kepada komunitas, kesadaran mengenai batas, penghargaan kepada orang tua, kejujuran, gotong royong, kesediaan menjaga hubungan, serta kemampuan menempatkan kepentingan diri di tengah kehidupan bersama.
Bentuk luarnya dapat berbeda.
Nilai di dalamnya dapat saling berjumpa.
Penelitian mengenai pendidikan karakter berbasis budaya Nusantara menunjukkan bahwa kebudayaan dan kesenian dapat menjadi medium penyampaian serta internalisasi nilai moral. Pendidikan formal, informal, dan nonformal semuanya mempunyai ruang dalam proses tersebut.
Maka budi pekerti tidak perlu dijadikan milik satu suku.
Ia adalah percakapan panjang berbagai masyarakat Nusantara tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama manusia lainnya.
Ketika Kebudayaan Lebih Mudah Difoto
Di sinilah kita kembali kepada kegelisahan yang pernah dibicarakan EMMANUS dalam “Ketika Budaya Tinggal Busana: Ke Mana Perginya Budi Pekerti Kita?”
Hari ini kebudayaan sangat mudah terlihat.
Anak-anak memakai pakaian adat di sekolah. Festival digelar, tarian direkam, rumah tradisional dipugar, kain daerah memperoleh panggung, dan media sosial membuat kekayaan visual Nusantara dapat berkeliling dunia dalam hitungan detik.
Semua itu penting.
Tetapi ada kebudayaan yang tidak pernah masuk kamera.
Tidak ada foto untuk kejujuran.
Tidak ada kostum untuk tanggung jawab.
Tidak ada tarian untuk kemampuan menahan diri ketika marah.
Tidak ada bangunan cagar budaya untuk sikap menghormati manusia yang berbeda.
Karena itulah kita dapat terlihat semakin kaya secara visual tetapi tetap perlu bertanya apakah kekayaan nilai bergerak pada arah yang sama.
Bukan untuk meremehkan pakaian adat, festival, atau warisan benda.
Melainkan untuk mengingat bahwa kebudayaan mempunyai lapisan yang jauh lebih dalam daripada apa yang dapat dipertontonkan.
Ketika Prestasi Mengalahkan Watak
Kita juga hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai hasil.
Anak dipuji karena nilai tinggi, orang dewasa dihormati karena jabatan, seseorang dianggap berhasil karena kekayaan, jumlah pengikut menjadi ukuran pengaruh, sementara sekolah dan keluarga berlomba mempersiapkan manusia agar mampu memenangkan persaingan.
Tidak ada yang salah dengan kepandaian.
Tidak ada yang salah dengan keberhasilan.
Tetapi Ki Hadjar Dewantara sejak lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada pembentukan manusia pintar. Dalam pemikirannya, kebudayaan dan pendidikan bertemu dalam proses membentuk manusia secara lebih utuh.
Pertanyaannya kemudian sederhana.
Untuk apa melahirkan generasi yang sangat pandai jika kepandaiannya digunakan untuk memperdaya?
Untuk apa seseorang menguasai teknologi paling mutakhir jika ia tidak mempunyai batas ketika menggunakannya untuk merusak kehidupan orang lain?
Untuk apa seseorang mempunyai pendidikan tinggi jika ia merasa pendidikan memberinya hak untuk merendahkan manusia yang tidak memperoleh kesempatan serupa?
Kecerdasan memberi manusia kemampuan.
Budi pekerti membantu menentukan ke mana kemampuan itu diarahkan.
Nilai Tidak Bisa Hanya Diceramahkan
Mungkin kita terlalu sering berharap pendidikan karakter selesai melalui slogan.
Kata-kata ditempel di dinding sekolah. Nasihat disampaikan pada upacara, seminar diadakan, modul disusun, lalu kita berharap manusia otomatis berubah setelah mendengarnya.
Padahal budi pekerti tumbuh melalui pengulangan tindakan.
Anak yang setiap hari melihat kejujuran mempunyai pengalaman berbeda dari anak yang hanya membaca definisinya. Anak yang dilibatkan membantu orang lain mengenal kepedulian melalui tubuh dan pengalaman, bukan sekadar kalimat.
Sistem Among yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidik sebagai pamong yang menuntun perkembangan anak, bukan sekadar pihak yang memaksakan kehendak. Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat konsep ini sebagai bagian penting dari pendidikan Taman Siswa.
Ada kata yang penting di sana: menuntun.
Bukan menyeret.
Sebab nilai yang hanya ditaati ketika seseorang sedang diawasi belum tentu telah menjadi bagian dari dirinya.
Budi pekerti menemukan kedalaman ketika manusia memahami mengapa ia memilih suatu tindakan bahkan ketika tidak seorang pun akan mengetahui pilihannya.
Kita Sedang Mewariskan Apa?
Suatu hari generasi kita akan menjadi masa lalu.
Rumah yang sekarang kita bangun mungkin menjadi bangunan tua. Foto-foto kita menjadi arsip, benda yang kita gunakan menjadi koleksi, sementara cara hidup kita dipelajari generasi yang belum lahir.
Mereka mungkin akan melihat bagaimana kita berpakaian.
Mereka akan mengetahui musik apa yang kita dengarkan, kendaraan apa yang kita gunakan, teknologi apa yang membuat kita takjub, dan makanan apa yang memenuhi meja kita.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab oleh benda-benda itu.
Manusia seperti apa kita?
Bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih lemah?
Apa yang kita lakukan ketika melihat seseorang membutuhkan pertolongan?
Bagaimana kita berbicara ketika marah?
Apakah kita tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan?
Bagaimana kita memperlakukan manusia yang berbeda suku, agama, status sosial, pekerjaan, pendidikan, atau pandangan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat budi pekerti menjadi warisan yang berbeda.
Ia tidak diwariskan melalui benda.
Ia diwariskan melalui manusia.
Warisan yang Tak Bisa Disimpan di Museum
Kita dapat membangun museum untuk menyimpan masa lalu.
Kain yang mulai rapuh dapat ditempatkan dalam ruang dengan suhu terjaga. Naskah tua dapat dipindai, rumah dapat direstorasi, musik direkam, tarian didokumentasikan, dan cerita dapat dituliskan sebelum penutur terakhirnya pergi.
Semua itu adalah pekerjaan penting.
Tetapi kita tidak dapat memasukkan budi pekerti ke dalam lemari kaca.
Kita tidak dapat menyimpan kejujuran untuk digunakan dua puluh tahun lagi.
Kita tidak dapat mengarsipkan rasa hormat lalu berharap cucu kita suatu hari menemukannya.
Budi pekerti hanya bertahan ketika dijalankan.
Ia berpindah ketika seorang anak melihat orang dewasa memberi contoh, ketika sekolah tidak hanya menghargai angka tetapi juga integritas, ketika masyarakat masih mempunyai ruang untuk saling menjaga, dan ketika teknologi digunakan tanpa kehilangan kesadaran bahwa di balik setiap layar terdapat manusia.
Mungkin inilah salah satu pekerjaan kebudayaan yang paling sunyi.
Bukan hanya memastikan generasi berikutnya mengetahui pakaian apa yang dikenakan leluhurnya, rumah seperti apa yang mereka bangun, atau tarian apa yang mereka mainkan.
Tetapi memastikan mereka juga mengetahui bagaimana manusia memperlakukan manusia.
Sebab sebuah bangsa dapat kehilangan bangunan lalu membangunnya kembali.
Ia dapat kehilangan sebuah naskah lalu menemukan salinannya.
Tetapi ketika cara memperlakukan sesama berhenti diwariskan, yang hilang bukan sekadar sebuah tradisi.
Yang perlahan berubah adalah watak manusianya.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini membahas budi pekerti dalam konteks pendidikan, kebudayaan, perubahan lingkungan sosial, dan kehidupan digital. Gambaran mengenai kehidupan masyarakat masa lalu digunakan sebagai refleksi dan tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa generasi terdahulu secara keseluruhan lebih bermoral atau bahwa generasi sekarang telah kehilangan budi pekerti.
Praktik kesopanan, penghormatan, hubungan keluarga, dan tata kehidupan masyarakat berbeda menurut daerah, zaman, serta komunitas di Indonesia. EMMANUS menempatkan budi pekerti sebagai ruang pembicaraan mengenai nilai dan perilaku manusia, bukan sebagai satu standar adat yang harus diberlakukan secara seragam kepada seluruh masyarakat Nusantara.






