Pagi belum benar-benar ramai. Kopi masih mengepulkan sedikit uap ketika jari mulai menggulir layar telepon: satu seruput, satu video, lalu satu seruput lagi.
Ada musik dari Seoul, potongan kehidupan Tokyo, gaya berpakaian dari Barat, makanan dari negeri yang belum pernah kita datangi, sampai ungkapan bahasa asing yang perlahan terasa akrab di telinga. Tidak ada yang salah dengan semua itu; dunia memang sedang berada di telapak tangan kita.
Tetapi pagi ini, di antara pahit kopi dan layar yang terus bergerak, ada satu pertanyaan yang rasanya layak dibiarkan tinggal sedikit lebih lama. Seberapa sering budaya dari negeri sendiri datang kepada kita dengan cara yang sama menariknya?
Bukan ketika sekolah meminta anak mengenakan pakaian adat, bukan ketika panggung festival didirikan, dan bukan pula ketika tanggal tertentu membuat kita mendadak mengingat tarian, bahasa daerah, permainan tradisional, atau lagu yang dahulu hidup dekat dengan masyarakat. Kita sering meminta generasi muda mencintai budaya Indonesia, tetapi mungkin sebelum meminta mereka mencintainya ada pertanyaan yang lebih jujur: sudahkah kita membuat mereka benar-benar mengenalnya?
Sebab sulit meminta seseorang merindukan rumah yang bahkan belum sempat ia kenali. Barangkali persoalan kebudayaan kita hari ini bermula dari jarak kecil itu.
Dunia Datang Tanpa Mengetuk Pintu
Dahulu perjumpaan dengan kebudayaan negeri lain membutuhkan perjalanan, buku, televisi, bioskop, kaset, atau majalah. Hari ini kebudayaan dapat menyeberangi samudra dalam beberapa detik dan tiba langsung di kamar seorang anak di Wonosobo, Makassar, Ambon, Medan, Denpasar, atau Jayapura.
Ia tidak selalu datang sebagai pelajaran mengenai kebudayaan, bahkan sering kali tidak terasa sedang membawa kebudayaan. Ia hadir sebagai lagu yang enak didengar, serial yang membuat penasaran, makanan yang terlihat menggoda, permainan digital, gaya berpakaian, bahasa pergaulan, sampai wajah-wajah yang setiap hari semakin akrab.
Algoritma tidak mengenal batas negara seperti peta yang tergantung di ruang kelas. Apa yang menarik perhatian akan bergerak, diulang, direkomendasikan, lalu perlahan menjadi bagian dari keseharian.
Budaya populer Jepang telah lama menemukan penggemarnya melalui anime, manga, musik, permainan, makanan, fesyen, dan berbagai komunitas. Gelombang budaya populer Korea Selatan pun hadir melalui musik, drama, makanan, kosmetik, bahasa, fesyen, pariwisata, dan industri hiburan yang saling menguatkan.
Kita tidak perlu marah kepada dunia karena dunia datang, sebab sejak dahulu kebudayaan memang bertemu, bertukar, menyerap, memengaruhi, lalu melahirkan bentuk-bentuk baru. Yang berbeda hari ini adalah kecepatan, volume, dan kemampuan sebuah kebudayaan untuk hadir berulang kali di depan mata kita.
Budaya Asing Bukan Musuh
Ada jalan pintas yang terasa mudah ketika melihat anak muda lebih hafal nama artis luar negeri daripada nama seniman tradisi di daerahnya. Kita lalu tergoda mengatakan bahwa generasi sekarang tidak lagi mencintai budaya sendiri.
Kita juga dapat menyalahkan globalisasi, media sosial, Korea, Jepang, Barat, atau apa pun yang sedang populer. Namun perubahan kebudayaan dan identitas manusia tidak sesederhana menentukan siapa yang datang dan siapa yang harus disalahkan.
Seorang anak muda dapat menyukai K-pop tanpa otomatis berhenti menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Ia dapat menonton anime, mendengarkan musik Barat, mempelajari bahasa asing, kemudian tetap mempunyai kedekatan dengan bahasa, makanan, kesenian, tradisi, dan sejarah daerahnya.
Karena itu persoalannya bukan semata-mata apa yang datang dari luar. Pertanyaan yang lebih penting justru mengarah kepada kita sendiri: apa yang telah kita hadirkan dari dalam?
Kita Sedang Berebut Perhatian
Budaya hari ini tidak hanya berhadapan dengan budaya lain. Ia berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: perhatian manusia.
Dalam satu layar terdapat film, musik, permainan, olahraga, berita, komedi, belanja, percakapan, iklan, dan jutaan kreator yang semuanya meminta beberapa detik dari hidup kita. Kebudayaan yang ingin tetap hadir dalam kehidupan generasi baru harus menemukan jalannya di tengah ruang yang sangat padat itu.
Di sinilah pertanyaan mengenai pelestarian berubah. Tidak cukup lagi bertanya apakah sebuah tradisi masih ada; kita juga perlu bertanya apakah generasi berikutnya mempunyai kesempatan untuk bertemu, memahami, dan mengalaminya.
Budaya populer global memahami bahasa perhatian dengan sangat baik. Ia hadir melalui visual, musik, cerita, figur, komunitas, produk, pengalaman, dan distribusi digital yang hampir tidak pernah tidur.
Sementara sebagian budaya kita masih menunggu festival, hari jadi daerah, peringatan nasional, pertunjukan sekolah, atau seseorang yang bersedia datang ke museum. Mungkin bukan karena budaya kita kurang menarik, melainkan karena kita belum cukup tekun membawanya ke tempat generasi sekarang menjalani sebagian kehidupannya.
Ketika Budaya Hanya Datang Saat Ada Acara
Seorang anak dapat mengenakan pakaian adat pada suatu pagi, berfoto, mengikuti kegiatan sekolah, kemudian pulang tanpa pernah mengetahui siapa yang membuat pakaian itu dan mengapa bentuknya demikian. Secara visual budaya hadir, tetapi pengetahuan yang hidup di belakangnya belum tentu ikut sampai.
Hal serupa dapat terjadi pada tarian, rumah adat, makanan, permainan, bahasa, bahkan cerita rakyat. Kita dapat menjadi sangat pandai mempertunjukkan bentuk, tetapi kurang sabar menceritakan kehidupan yang membuat bentuk itu lahir.
Di sanalah budaya perlahan berisiko berubah menjadi dekorasi. Ia terlihat indah di panggung dan kamera, tetapi semakin jauh dari kehidupan orang yang menyaksikannya.
Padahal kebudayaan bukan hanya sesuatu yang dapat dipakai atau dipertontonkan. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, ingatan, hubungan sosial, cara membaca alam, pangan, pekerjaan, kegembiraan, kehilangan, dan pengalaman panjang manusia.
Jika bagian itu tidak ikut diwariskan, generasi berikutnya mungkin masih mengenali bentuknya. Namun mereka akan semakin sulit memahami mengapa bentuk tersebut pernah berarti.
Jangan Salahkan Anak-anak Kita
Bayangkan seorang anak tumbuh dengan telepon di tangannya dan setiap hari menerima potongan budaya global yang dikemas dengan musik, warna, cerita, humor, figur idola, dan komunitas. Semua itu datang bahkan sebelum ia meminta.
Kemudian setahun sekali kita memberinya pakaian adat dan mengatakan, “Kamu harus bangga dengan budaya Indonesia.” Setelah foto selesai, pakaian kembali disimpan dan percakapan mengenai budaya ikut berakhir.
Lalu ketika ia lebih mengenal budaya dari negeri lain, kita kecewa. Ada sesuatu yang rasanya kurang adil di sana.
Kebanggaan tidak dapat tumbuh hanya melalui perintah. Seseorang biasanya mencintai sesuatu setelah mengenalnya, mempunyai pengalaman dengannya, menemukan makna di dalamnya, lalu perlahan merasa bahwa sesuatu itu merupakan bagian dari dirinya.
Sebelum bertanya mengapa anak muda kurang mengenal budaya sendiri, generasi sebelumnya juga perlu bercermin. Berapa banyak cerita mengenai kampung halaman, bahasa keluarga, tradisi, makanan, kesenian, sejarah lokal, atau pengetahuan leluhur yang benar-benar pernah kita ceritakan kepada mereka?
Jika jawabannya belum banyak, mungkin masalahnya bukan mereka tidak mau mencintai. Mungkin kita terlambat memperkenalkan.
Dari Penonton Menjadi Pemilik Cerita
Ada kabar baik yang sering tenggelam di tengah kegelisahan mengenai globalisasi. Generasi muda bukan hanya konsumen budaya; mereka juga dapat menjadi pencipta, penerjemah, dan penyebar cerita kebudayaan.
Telepon yang membawa budaya global masuk ke kamar mereka adalah alat yang sama yang dapat membawa budaya Indonesia keluar menuju dunia. Kamera yang digunakan menonton negeri lain dapat digunakan merekam pengetahuan seorang nenek di desa, proses membuat alat musik, bahasa yang mulai jarang digunakan, kuliner, cerita rakyat, permainan, arsitektur, atau kehidupan seorang maestro.
Ruang digital dengan demikian tidak harus dipandang hanya sebagai pintu masuk budaya dari luar. Ia juga dapat menjadi jendela tempat kebudayaan dari berbagai penjuru Nusantara melihat dunia.
Ketika Tradisi Masuk ke Layar
Pakaian adat, tarian, bahasa daerah, musik tradisional, kuliner, sampai cerita rakyat kini dapat menemukan kehidupan baru melalui video pendek dan berbagai platform digital. Generasi muda bukan hanya penerima warisan, tetapi dapat ikut menentukan bagaimana warisan itu diceritakan kepada zamannya.
Namun di situlah tantangan berikutnya muncul. Budaya dapat disederhanakan menjadi sesuatu yang hanya indah secara visual, dilepaskan dari konteks, atau dipotong mengikuti kebutuhan algoritma agar mudah dikonsumsi.
Sebuah tarian tidak seharusnya berhenti menjadi gerakan, sebagaimana kain tidak hanya menjadi motif dan tradisi tidak semata-mata menjadi tontonan. Budaya boleh menjadi populer, tetapi popularitas tidak seharusnya menghapus ingatannya.
Ruang digital bukan musuh yang harus dijauhi. Justru di sanalah kreativitas dan literasi kebudayaan perlu berjalan bersama.
Kita Tidak Kekurangan Cerita
Indonesia tidak kekurangan bahan untuk diceritakan. Dari Aceh hingga Papua terdapat bahasa, manuskrip, musik, arsitektur, pengetahuan pangan, teknologi tradisional, pelayaran, tekstil, sastra lisan, permainan, cerita rakyat, tradisi, serta pengetahuan lingkungan yang tumbuh melalui sejarah panjang kepulauan ini.
Masalahnya bukan selalu karena kita tidak mempunyai cerita. Sering kali cerita itu belum diceritakan, atau sudah diceritakan tetapi menggunakan bahasa yang terasa terlalu jauh dari kehidupan generasi yang ingin kita ajak bicara.
Ada maestro yang menyimpan pengetahuan puluhan tahun tetapi belum pernah didokumentasikan dengan layak. Ada bahasa yang kehilangan penutur, permainan yang menghilang dari halaman rumah, serta keterampilan yang berhenti pada satu generasi karena tidak ada lagi yang datang untuk belajar.
Kita mempunyai warisan yang luar biasa banyak. Tetapi warisan tidak otomatis menjadi ingatan.
Belajar dari Mereka yang Membuat Budaya Terlihat
Kita tidak harus meniru Korea Selatan, Jepang, atau negara mana pun secara mentah. Namun kita dapat mempelajari bagaimana kebudayaan mereka hadir melalui banyak pintu yang saling berhubungan.
Seseorang dapat mengenal Jepang melalui anime, kemudian tertarik kepada bahasa, makanan, kota, sejarah, kerajinan, bahkan tradisinya. Seseorang dapat mendengar musik Korea, kemudian mengenal makanan, bahasa, fesyen, tempat wisata, dan berbagai produk yang tumbuh di sekeliling industri budayanya.
Pintu masuknya mungkin hanya sebuah lagu atau film. Tetapi perjalanan kebudayaannya dapat menjadi jauh lebih panjang.
Indonesia sebenarnya mempunyai kemungkinan yang sama dengan jalannya sendiri. Gamelan dapat berjumpa dengan musik elektronik, kain tradisional dengan fesyen, cerita rakyat dengan animasi, sejarah kota dengan gim, kuliner dengan video pendek, dan bahasa daerah dengan komedi.
Yang penting bukan memaksa bentuk lama untuk tetap diam. Yang harus dijaga adalah pengetahuan mengenai apa yang tidak boleh hilang ketika bentuknya berubah.
Budaya Tidak Harus Terlihat Kuno untuk Menjadi Otentik
Ada anggapan bahwa ketika budaya dikemas secara modern, ia otomatis kehilangan keasliannya. Padahal perjalanan kebudayaan sendiri dipenuhi perjumpaan, penyesuaian, penciptaan, pengaruh, dan perubahan.
Tradisi yang hidup mempunyai kemampuan beradaptasi bersama masyarakat pendukungnya. Namun adaptasi tentu berbeda dari menghilangkan konteks, menghapus asal-usul, atau mengarang sejarah agar sebuah konten terlihat lebih menarik.
Cerita rakyat dapat menjadi animasi tanpa mengubah legenda menjadi fakta sejarah. Musik tradisional dapat bertemu instrumen modern selama jejak, sumber, dan masyarakat yang melahirkannya tidak ikut dilupakan.
Di situlah kreativitas memperoleh tantangan yang sesungguhnya. Membuat sesuatu terasa dekat dengan zaman tanpa mencabut akarnya.
Bangga Tidak Bisa Diperintah
Kata “bangga” sering muncul ketika kita berbicara kepada generasi muda. Kita meminta mereka bangga menjadi orang Indonesia, bangga terhadap budaya sendiri, dan bangga kepada warisan yang ditinggalkan generasi sebelumnya.
Niatnya tentu baik. Namun kebanggaan yang hanya diperintahkan biasanya tidak mempunyai akar yang panjang.
Bangga tumbuh dari hubungan. Seorang anak dapat bangga kepada seorang maestro setelah mengetahui perjalanan hidupnya, sebagaimana ia dapat bangga terhadap kain dari daerahnya setelah memahami betapa rumit pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Pengetahuan melahirkan kedekatan, sementara kedekatan dapat menumbuhkan rasa memiliki. Dari rasa memiliki itulah kebanggaan mempunyai kesempatan tumbuh tanpa harus diteriakkan.
Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Kita sering menyerahkan urusan kebudayaan kepada sekolah, padahal beberapa jam pelajaran tidak mungkin menanggung seluruh beban pewarisan kebudayaan sebuah bangsa. Keluarga, komunitas, seniman, pemerintah, media, industri kreatif, perguruan tinggi, museum, desa, dan kreator digital mempunyai ruang masing-masing.
Jika semuanya bekerja sendiri-sendiri, kebudayaan mudah berubah menjadi proyek. Jika mereka dapat terhubung, budaya mempunyai peluang menjadi ekosistem.
Seorang anak dapat mengenalnya di rumah, memahaminya di sekolah, melihatnya di media, mengalaminya di ruang publik, lalu menemukan bentuk kreatifnya di internet. Pada titik itu kebudayaan tidak lagi hadir hanya ketika ada tugas atau acara.
Ia hadir dalam kehidupan.
Berikan Panggung kepada Mereka
Mungkin kita juga perlu berhenti selalu menempatkan generasi muda sebagai pihak yang harus “diedukasi”. Ada waktunya mereka justru perlu diberikan ruang untuk menerjemahkan budaya melalui bahasa generasinya sendiri.
Biarkan mereka membuat film, musik, gim, ilustrasi, komik, fesyen, podcast, fotografi, atau dokumenter pendek. Kreativitas mereka bukan ancaman selama pengetahuan, konteks, dan masyarakat pemilik kebudayaan tetap dihormati.
Namun jangan biarkan mereka bekerja sendirian. Pertemukan kreator muda dengan maestro, desainer dengan perajin, pembuat gim dengan sejarawan, pembuat film dengan masyarakat pemilik tradisi, dan teknologi dengan ingatan.
Dari perjumpaan seperti itu, budaya tidak hanya dipertontonkan kepada generasi baru. Budaya dikerjakan bersama mereka.
Jangan Jadikan Budaya Sekadar Konten
Ketika kebudayaan masuk ke media sosial, ukuran keberhasilan mudah bergeser menjadi jumlah penonton, tanda suka, pengikut, atau seberapa sering sebuah video dibagikan. Padahal sesuatu dapat menjadi viral tanpa membuat orang memahami apa pun.

Tarian berdurasi beberapa detik mungkin memperoleh jutaan penonton, tetapi masih ada pertanyaan mengenai siapa masyarakat pemiliknya, bagaimana sejarahnya, dan dalam konteks apa ia hidup. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membedakan dokumentasi kebudayaan dari sekadar produksi konten.
Visual dapat membuka pintu, tetapi pengetahuan perlu mengikuti setelahnya. Tanpa itu, kebudayaan berisiko menjadi latar yang cantik tetapi kehilangan suara masyarakat yang melahirkannya.
Di sinilah media kebudayaan mempunyai tanggung jawab. Cerita harus tetap mengikuti gambar agar perhatian tidak berhenti hanya pada apa yang indah dipandang.
Modern Tidak Berarti Harus Menjadi Orang Lain
Salah satu pekerjaan terbesar kita mungkin bukan melindungi generasi muda dari dunia. Dunia sudah berada di rumah mereka dan tidak mungkin dimasukkan kembali ke luar pintu.
Pekerjaan kita adalah membuat mereka mempunyai akar yang cukup kuat ketika bertemu dunia. Dengan akar itu, mengenal sesuatu yang berbeda tidak otomatis berarti kehilangan diri sendiri.
Karena itu kita tidak perlu memberikan pilihan palsu kepada mereka: menjadi modern atau menjadi Indonesia. Mereka dapat menjadi keduanya.
Mereka dapat mendengar musik dunia sambil mengenal bunyi dari kampungnya, berbicara bahasa asing tanpa merasa malu menggunakan bahasa daerah, serta menggunakan teknologi terbaru untuk mendokumentasikan pengetahuan yang telah hidup jauh sebelum mereka lahir. Mereka dapat pergi jauh tanpa harus kehilangan alamat untuk pulang.
Tugas Media Kebudayaan
Media juga perlu bercermin ketika membicarakan pewarisan budaya. Selama bertahun-tahun kebudayaan sering memperoleh ruang besar ketika ada festival, konflik, klaim budaya, kematian maestro, penetapan warisan, atau peristiwa besar.
Padahal pewarisan sering berlangsung dalam kehidupan yang sangat biasa. Ia dapat hidup di tangan seorang ibu yang mengajarkan resep, bengkel pembuat gamelan, ladang masyarakat adat, sanggar kecil, rumah seorang penutur bahasa, atau tangan perajin yang telah bekerja selama puluhan tahun.
Cerita-cerita seperti itu mungkin tidak selalu meledak dalam algoritma. Tetapi ketika tidak didokumentasikan, suatu hari kita mungkin baru mencarinya setelah orang terakhir yang mengetahui pengetahuan tersebut telah pergi.
Media kebudayaan karena itu tidak hanya bertugas mengejar apa yang sedang ramai. Kadang tugasnya justru menjaga sesuatu agar tidak hilang di tengah keramaian.
Dari Melestarikan Menjadi Menghidupkan
Kata “pelestarian” terkadang membuat budaya terdengar seperti benda rapuh yang harus diletakkan di balik kaca. Padahal banyak kebudayaan hanya dapat bertahan ketika tetap digunakan, dipelajari, dibicarakan, diciptakan kembali, dan mempunyai fungsi dalam kehidupan masyarakat.

DOK pexels-aprido
Bahasa bertahan karena digunakan, musik bertahan karena dimainkan, dan kerajinan bertahan karena ada orang yang membuat sekaligus ada orang yang menghargainya. Cerita bertahan karena diceritakan, sementara pengetahuan bertahan karena ada manusia yang bersedia mewariskan dan manusia lain yang bersedia menerima.
Karena itu tantangan kita mungkin bukan sekadar bagaimana melestarikan budaya Indonesia. Pertanyaannya adalah bagaimana membuat kebudayaan tetap mempunyai kehidupan.
Sebab sesuatu yang hidup tidak hanya disimpan. Ia tumbuh, berubah, berjumpa dengan zaman, lalu menemukan alasan baru untuk tetap berada di tengah manusia.
Dunia Boleh Masuk
Kopi pagi tadi mulai kehilangan hangatnya. Layar masih menyala, sementara musik dari negeri lain masih terdengar dan video dari kota ribuan kilometer jauhnya terus lewat di depan mata.
Mungkin setelah tulisan ini selesai kita kembali menonton film asing, menyantap makanan dari budaya lain, mendengar K-pop, menonton anime, atau mempelajari bahasa yang bukan bahasa ibu kita. Tidak ada yang harus kita takutkan dari semua itu.
Dunia boleh masuk. Jendela memang dibuat agar kita dapat melihat keluar.
Tetapi sebuah rumah tidak hanya membutuhkan jendela. Ia membutuhkan sesuatu yang membuat orang di dalamnya mengetahui bahwa tempat itu adalah rumahnya.
Mungkin itulah pekerjaan kebudayaan kita hari ini. Bukan membangun tembok agar generasi muda tidak mengenal dunia, tetapi membuat rumah ini cukup hidup sehingga mereka tidak malu mengakuinya sebagai tempat pulang.
Kita tidak perlu meminta mereka menutup TikTok, YouTube, Spotify, film, anime, drama, gim, atau segala hal yang mempertemukan mereka dengan dunia. Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika jari mereka terus menggulir layar, budaya dari tanah tempat mereka berpijak juga mempunyai kesempatan untuk hadir.
Bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai tugas sekolah, dan bukan sebagai kostum yang dikeluarkan setahun sekali. Tetapi sebagai cerita yang membuat mereka berhenti sejenak, melihat, mendengar, memahami, kemudian dengan kesadaran mereka sendiri berkata: ini juga milik saya.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini membahas perjumpaan budaya Indonesia dengan budaya global dalam konteks perubahan media, kehidupan generasi muda, dan pewarisan kebudayaan. Penyebutan budaya populer Korea Selatan, Jepang, Barat, maupun kawasan lain tidak dimaksudkan untuk menempatkan kebudayaan asing sebagai ancaman atau pihak yang berlawanan dengan budaya Indonesia.
Kebudayaan terus mengalami perjumpaan, pertukaran, penyesuaian, dan perubahan. Refleksi dalam artikel ini diarahkan pada bagaimana masyarakat Indonesia dapat memperluas ruang pengenalan dan pewarisan budayanya tanpa membatasi generasi muda untuk mengenal kebudayaan dunia.






