Budaya

Jejak Stasiun Kereta Api di Indonesia yang Tak Lagi Beroperasi

Transportasi kereta api di Indonesia memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur di negara ini. Sejumlah stasiun kereta api yang dulunya memegang peran vital sebagai penghubung antar daerah kini telah ditutup, menyisakan kenangan berharga dan cerita sejarah yang menarik untuk dikenang. Mengapa Stasiun Kereta Api Ditutup? Berakhirnya operasi beberapa stasiun kereta api […]

Oleh Achmad Aristyan

Jejak Stasiun Kereta Api di Indonesia yang Tak Lagi Beroperasi
Jejak jembatan kereta api jalur Saketi-Bayah di Banten. Foto: Googlestreetview
Diterbitkan

Transportasi kereta api di Indonesia memiliki sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur di negara ini.

Sejumlah stasiun kereta api yang dulunya memegang peran vital sebagai penghubung antar daerah kini telah ditutup, menyisakan kenangan berharga dan cerita sejarah yang menarik untuk dikenang.

Mengapa Stasiun Kereta Api Ditutup?

Berakhirnya operasi beberapa stasiun kereta api di Indonesia terjadi karena berbagai faktor, seperti perubahan kebutuhan transportasi, pembangunan jalur baru, hingga modernisasi infrastruktur.

Beberapa stasiun bahkan memiliki hubungan erat dengan peristiwa sejarah besar, seperti masa pendudukan Jepang dan era kerja paksa Romusha.

Meski tak lagi beroperasi, stasiun-stasiun ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Dilansir dari keretaanakbangsa.com, kereta api pertama hadir di Indonesia pada masa kolonial 

Belanda dengan jalur awal Batavia (kini Jakarta) dengan Anyer Kidul di Banten. Namun, perkembangan jalan raya dan moda transportasi lain menyebabkan beberapa jalur dan stasiun ditutup, meninggalkan jejak bersejarah.

Stasiun-Stasiun Kereta Api yang Kini Tinggal Kenangan

Berikut beberapa stasiun kereta api di Indonesia yang kini sudah tidak beroperasi:  

  1. Stasiun Adan-Adan (Jawa Timur): Berada di bawah Daop VII Madiun, stasiun ini dulunya menjadi titik transit yang penting.  
  2. Stasiun Anyer Kidul (Banten): Sebagai bagian dari jalur pengangkutan hasil bumi, stasiun ini resmi ditutup pada tahun 1981.  
  3. Stasiun Saketi-Bayah (Banten): Dibangun pada masa pendudukan Jepang untuk mengangkut batu bara, jalur ini ditutup pada 1951.  
  4. Stasiun Banda Aceh (Aceh): Pernah menjadi pusat transportasi utama di Aceh, kini hanya menyisakan kenangan masa lalu.  
  5. Stasiun Banjarnegara (Jawa Tengah): Dahulu menjadi penghubung daerah pertanian dengan kota besar, kini hanya menjadi situs sejarah.  

Jalur Maut: Saketi-Bayah

Salah satu jalur kereta api yang penuh sejarah adalah jalur Saketi-Bayah, dibangun Jepang pada tahun 1943 untuk mengangkut batu bara dari tambang di Bayah.

Jalur ini dikenal sebagai “Jalur Maut” karena pembangunannya melibatkan kerja paksa Romusha. 

Jalur ini berhenti beroperasi pada tahun 1951 dan meninggalkan sisa-sisa sejarah berupa pondasi rel dan bekas stasiun. Saat ini, beberapa jalur kereta api nonaktif sedang dalam tahap pertimbangan untuk diaktifkan kembali. 

Contohnya, jalur Cigading-Anyer Kidul dan Rangkasbitung-Labuan di Banten.

Reaktivasi ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta menjadi langkah untuk melestarikan sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Baca juga: Melihat Perjalanan Sejarah Perkeretaapian di Lawang Sewu

Penutupan Stasiun, Saksi Bisu Sejarah Transportasi

Penutupan stasiun kereta api membawa dampak signifikan bagi masyarakat, seperti hilangnya akses transportasi mudah. Namun, ini juga membuka peluang pengembangan moda transportasi baru. 

Harapannya, langkah reaktivasi jalur nonaktif dapat menghidupkan kembali nilai sejarah dan mendukung pembangunan wilayah pedesaan. Walau tak lagi beroperasi, stasiun-stasiun ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Indonesia. 

Dengan pelestarian dan reaktivasi yang tepat, jejak sejarah transportasi kereta api dapat terus dikenang generasi mendatang.

TopikBudaya
Budaya24 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan