Dinamika

Ketika Kasih Mulai Menjauh: Bahasa-Bahasa Nusantara yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Ada masa ketika seseorang sakit dan tetangga mengetahuinya sebelum kabar itu sampai kepada keluarga yang tinggal jauh. Bukan karena ada grup percakapan atau pemberitahuan di telepon genggam, melainkan karena kehidupan manusia masih cukup dekat untuk mendengar pintu rumah sebelah yang beberapa hari tidak terbuka. Ketika ada kematian, kursi berdatangan dari rumah-rumah sekitar. Ketika dapur sebuah […]

Oleh Narendra

Ketika Kasih Mulai Menjauh: Bahasa-Bahasa Nusantara yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia
Kasih kepada sesama tidak mempunyai satu bahasa. Dari welas asih, silih asih hingga berbagai nilai persaudaraan Nusantara, semuanya mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Diterbitkan

Ada masa ketika seseorang sakit dan tetangga mengetahuinya sebelum kabar itu sampai kepada keluarga yang tinggal jauh. Bukan karena ada grup percakapan atau pemberitahuan di telepon genggam, melainkan karena kehidupan manusia masih cukup dekat untuk mendengar pintu rumah sebelah yang beberapa hari tidak terbuka.

Ketika ada kematian, kursi berdatangan dari rumah-rumah sekitar. Ketika dapur sebuah keluarga tidak lagi mengepul karena kesulitan, terkadang ada piring yang datang tanpa banyak pertanyaan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima.

Tidak berarti kehidupan dahulu selalu lebih baik. Kemiskinan, pertengkaran, ketidakadilan dan kekerasan juga menjadi bagian dari sejarah masyarakat kita, sehingga masa lalu tidak perlu dihias menjadi zaman yang sepenuhnya indah.

Namun ada sesuatu yang layak direnungkan dari cara banyak masyarakat Nusantara membangun kehidupan bersama. Di tengah perbedaan bahasa, agama dan adat, muncul beragam cara untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan orang lain tidak sepenuhnya berada di luar kehidupan kita.

Kita mengenalnya secara universal sebagai kasih sayang, belas kasih, kepedulian atau empati. Tetapi Nusantara ternyata mempunyai banyak bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang kurang lebih bergerak menuju kegelisahan yang sama: jangan kehilangan rasa kepada sesama.

Kasih yang Tidak Mempunyai Satu Bahasa

Kata welas asih begitu akrab dalam kebudayaan Jawa sehingga ketika mendengarnya, kita mudah menganggap pembicaraan tentang kasih semacam ini adalah pembicaraan mengenai nilai Jawa. Padahal perasaan untuk mengasihi, menjaga dan merasakan kehidupan orang lain tidak pernah mempunyai satu alamat kebudayaan.

Di tanah Sunda, misalnya, terdapat silih asah, silih asih, silih asuh. Penelitian mutakhir tentang falsafah tersebut menempatkan silih asih sebagai unsur kasih atau afeksi timbal balik, berdampingan dengan saling belajar dan saling membimbing dalam hubungan sosial masyarakat Sunda.

Di Bali, ada jalan yang berbeda melalui Tat Twam Asi. Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama menjelaskannya melalui gagasan “ia adalah engkau”: menyayangi orang lain sebagaimana diri sendiri, dengan kesadaran bahwa menolong orang lain pada hakikatnya juga menyentuh kehidupan kita sendiri.

Di tempat lain, bahasa kasih tidak selalu hadir sebagai kata yang secara harfiah berarti “kasih sayang”. Ia dapat muncul sebagai persaudaraan, kebersamaan, penghormatan, kewajiban sosial atau cara memandang martabat manusia.

Mungkin justru di situlah Nusantara terasa begitu luas. Kita tidak mempunyai satu kata untuk menjadi manusia, tetapi mempunyai banyak jalan untuk mengingatkan manusia agar tidak hidup hanya bagi dirinya.

Jawa Menyebutnya Welas Asih

Welas asih bukan sekadar merasa kasihan. Di dalam pemaknaan yang lebih dalam, ia membawa seseorang mendekati penderitaan manusia lain dan membuat penderitaan itu cukup berarti untuk menggugah tindakan.

Ada jarak yang tipis tetapi penting antara kasihan dan kasih. Kasihan dapat berhenti ketika mulut mengatakan, “kasihan sekali”, sementara kasih mulai bergerak ketika tangan bertanya, “apa yang dapat saya lakukan?”

Karena itu welas asih tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Ia dapat hadir ketika seseorang menunggu orang tua menyeberang jalan, membawakan makanan untuk tetangga yang sakit atau memilih tidak mengucapkan kalimat yang diketahuinya akan melukai.

Tidak ada panggung di sana. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sebuah kebaikan baru saja dilakukan.

Barangkali justru karena itulah ia disebut budi. Sesuatu yang tetap dilakukan meskipun tidak ada mata yang sedang menilai.

Di Tanah Sunda, Kasih Harus Saling Mengalir

Ada keindahan kecil pada penggunaan kata silih dalam falsafah Sunda. Ia tidak menempatkan kasih sebagai sesuatu yang hanya bergerak dari orang yang lebih kuat kepada mereka yang dianggap lemah.

Silih asih berbicara tentang saling mengasihi. Silih asah membawa gagasan saling mengembangkan pengetahuan, sedangkan silih asuh berbicara tentang saling membimbing dan memelihara; penelitian tentang nilai Sunda ini menghubungkannya dengan hubungan sosial, kepedulian dan pembangunan karakter.

Artinya, manusia tidak selalu menjadi pemberi. Pada hari tertentu kita mungkin menjadi tangan yang menolong, tetapi pada hari lain bisa jadi tangan kitalah yang membutuhkan genggaman.

Kesadaran itu membuat kasih kehilangan sedikit kesombongannya. Kita membantu bukan karena selalu lebih tinggi, melainkan karena kehidupan dapat menukar posisi manusia tanpa pernah meminta izin.

Hari ini seseorang mempunyai cukup banyak untuk berbagi. Besok mungkin ia mengetuk pintu orang yang dahulu pernah dibantunya.

Bali Mengingatkan: Ia Adalah Engkau

Tat Twam Asi membawa kita lebih jauh ke dalam diri. Penjelasan Bimas Hindu Kementerian Agama menghubungkan ajaran ini dengan kemampuan merasakan keadaan orang lain, dengan pengertian bahwa menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri.

Ada sesuatu yang sangat sederhana sekaligus berat dalam gagasan tersebut. Jika manusia di hadapan kita tidak sepenuhnya asing, kebencian menjadi sedikit lebih sulit dilakukan.

Orang yang lapar tidak lagi hanya menjadi “mereka”. Orang yang dihina, kehilangan pekerjaan, ditinggalkan keluarganya atau sedang menanggung kesedihan juga mempunyai ketakutan dan harapan sebagaimana kita.

Agama dan kebudayaan mempunyai penjelasan masing-masing mengenai manusia. Namun di tengah perbedaan itu, kemampuan melihat diri pada penderitaan orang lain terasa seperti jembatan yang dapat dimengerti siapa saja.

Barangkali belas kasih memang bermula dari sana. Bukan dari kemampuan menyelesaikan semua persoalan, melainkan dari kesediaan mengakui bahwa luka orang lain juga layak dirasakan.

Bugis-Makassar dan Jalan untuk Memanusiakan

Dalam kebudayaan Bugis-Makassar dikenal gagasan sipakatau. Istilah ini kerap dijelaskan sebagai sikap saling memanusiakan atau memperlakukan manusia sesuai martabatnya, dan dalam berbagai kajian ditempatkan bersama nilai relasional lain dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Ada kedalaman tersendiri pada gagasan “memanusiakan manusia”. Sebab seseorang tidak selalu kehilangan kemanusiaannya ketika dipukul; terkadang ia kehilangannya ketika direndahkan, dipermalukan atau diperlakukan seolah hidupnya tidak mempunyai nilai.

Kasih karena itu tidak selalu berupa pemberian. Terkadang bentuk kasih yang paling sederhana adalah tidak mengambil martabat seseorang ketika kita sebenarnya mempunyai kekuatan untuk melakukannya.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan kemiskinannya. Tetapi kita masih dapat memberikan bantuan tanpa menjadikan wajah sedihnya sebagai harga yang harus dibayar untuk menerima pertolongan.

Mungkin di zaman kamera berada di setiap tangan, cara memanusiakan manusia justru memperoleh ujian yang baru. Bukan lagi hanya tentang apakah kita membantu, tetapi bagaimana kita membantu.

Di Maluku, Orang Lain Bisa Menjadi Saudara

Maluku mempunyai bahasa kebudayaan yang lain melalui pela dan gandong. Kajian mengenai tradisi ini menunjukkan bagaimana ikatan persaudaraan dapat melampaui desa bahkan agama, termasuk hubungan antarkomunitas Muslim dan Kristen serta kerja bersama dalam kehidupan sosial.

Penelitian terbaru terhadap hubungan Hitu Lama dan Galala bahkan mencatat kerja sama yang terwujud dalam pembangunan rumah ibadah. Di sana persaudaraan tidak berhenti sebagai kata, tetapi memperoleh tubuh melalui pekerjaan yang dilakukan bersama.

Ini penting karena kasih sering terasa mudah ketika diberikan kepada mereka yang sama dengan kita. Ujiannya menjadi berbeda ketika manusia di hadapan kita mempunyai agama, asal, pilihan hidup atau cara memandang dunia yang berbeda.

Pela-gandong tidak perlu dijadikan romantisme bahwa masyarakat Maluku tidak pernah mengalami konflik. Justru sejarah menunjukkan luka pernah begitu nyata, dan karena itulah nilai persaudaraan memperoleh makna yang semakin penting.

Kasih yang tidak pernah diuji oleh perbedaan mungkin memang terasa indah. Tetapi kasih yang mampu menemukan jalan pulang setelah perpecahan menyimpan pelajaran yang berbeda.

Dayak dan Rumah yang Mengajarkan Kebersamaan

Di Kalimantan Tengah, Huma Betang bukan hanya bangunan panjang tempat banyak manusia tinggal. Kajian mengenai filosofi tersebut menemukan nilai kebersamaan, kesetaraan, toleransi, gotong royong dan kehidupan berdampingan sebagai bagian dari sistem nilai yang mengelilinginya.

Bayangkan kehidupan di sebuah rumah panjang. Manusia dengan kebutuhan dan watak berbeda berada di bawah atap yang sama, sehingga kebebasan seseorang hampir selalu bertemu dengan ruang hidup orang lain.

Di sana kasih tidak harus disebut kasih. Ia dapat berbentuk kesediaan berbagi ruang, bekerja bersama, menghormati perbedaan dan menyadari bahwa ketenteraman pribadi sulit bertahan ketika seluruh rumah sedang gaduh.

Penelitian mengenai Huma Betang juga mencatat handep atau gotong royong, belom bahadat yang berkaitan dengan etika, serta musyawarah sebagai nilai yang hidup dalam interaksi sosial masyarakat Dayak.

Rumah modern kita mungkin semakin kecil dan tertutup. Namun pelajaran rumah panjang tetap relevan: manusia dapat mempunyai kamar sendiri, tetapi tidak pernah benar-benar mempunyai dunia sendiri.

Minangkabau dan Kehidupan yang Diikat Tanggung Jawab

Di Minangkabau, pembicaraan tentang nilai sosial tidak dapat dilepaskan begitu saja dari hubungan adat dan agama. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah berkembang sebagai kerangka yang menghubungkan kehidupan adat dengan ajaran Islam dan menjadi pedoman sosial, budaya serta kehidupan masyarakat.

Ia bukan padanan literal bagi kata welas asih, sehingga tidak tepat memaksanya menjadi terjemahan kasih sayang. Namun di dalam kehidupan nagari terdapat gagasan tentang tanggung jawab bersama, kerja sama unsur masyarakat dan kehidupan yang diarahkan menuju kesejahteraan serta ketenteraman bersama.

Perbedaan itu penting. Jika setiap falsafah daerah dipaksa mempunyai arti yang sama, kita justru menghilangkan kekayaan Nusantara yang ingin kita rayakan.

Kasih tidak harus selalu mempunyai kata yang berarti kasih. Ia dapat hidup sebagai kewajiban terhadap kaum, tanggung jawab kepada masyarakat, persaudaraan, gotong royong atau larangan membiarkan seseorang menghadapi persoalannya sendirian.

Nama dan bentuknya berubah. Tetapi manusia selalu mencari cara agar kehidupan bersama tidak berubah menjadi kehidupan sendiri-sendiri.

Mungkin Nusantara Tidak Pernah Kekurangan Bahasa Kasih

Dari Jawa ke Sunda, dari Bali menuju Sulawesi, Kalimantan, Sumatra hingga Maluku, kita menemukan sesuatu yang menarik. Tidak ada satu rumus kebudayaan yang dapat mewakili seluruh kepulauan ini.

Dan memang tidak perlu ada.

Nusantara tidak menjadi indah karena seluruh masyarakatnya mengatakan hal yang sama. Ia menjadi kaya karena manusia yang hidup berjauhan menemukan bahasa berbeda untuk menghadapi pertanyaan yang ternyata mirip: bagaimana kita hidup bersama tanpa kehilangan rasa terhadap kehidupan manusia lain?

Ada yang menjawab melalui kasih. Ada yang menjawab melalui persaudaraan, penghormatan, tanggung jawab, keseimbangan, kebersamaan atau kesadaran bahwa manusia lain mempunyai martabat yang sama.

Jadi mungkin istilah yang paling aman ketika berbicara secara universal memang sederhana: kasih kepada sesama.

Welas asih adalah salah satu bahasanya. Bukan satu-satunya.

Lalu Kita Sampai pada Zaman Sekarang

Kita hidup pada masa ketika penderitaan manusia lain belum pernah sedekat ini dengan mata. Bencana ribuan kilometer jauhnya dapat muncul di layar beberapa menit setelah terjadi, sementara tangisan seseorang yang tidak pernah kita kenal dapat hadir di telapak tangan sebelum makan pagi selesai.

Teknologi telah membuka kemungkinan kasih yang luar biasa. Donasi dapat dikumpulkan dalam hitungan jam, donor darah ditemukan melalui media sosial, orang hilang dicari bersama dan biaya pengobatan seseorang dapat ditanggung oleh ribuan manusia yang bahkan tidak mengetahui nama lengkapnya.

Maka mengatakan generasi sekarang kehilangan kasih sepenuhnya tentu tidak adil. Justru kita mempunyai bukti bahwa manusia masih dapat tergerak oleh penderitaan orang asing.

Tetapi kedekatan itu membawa paradoks yang lain. Karena terlalu sering melihat penderitaan, kita juga dapat terbiasa dengannya.

Satu video membuat kita sedih. Video berikutnya datang beberapa detik kemudian, kemudian iklan, hiburan, makanan, tarian dan berita lain menutup kesedihan tadi sebelum hati sempat benar-benar tinggal di sana.

Ketika Orang Jatuh dan Kamera Terangkat

Ada pemandangan yang semakin akrab di zaman digital. Sebuah kecelakaan terjadi, kerumunan terbentuk, lalu beberapa telepon genggam terangkat hampir bersamaan.

Tidak adil menganggap semua orang yang merekam tidak mempunyai kepedulian. Dokumentasi dapat membantu identifikasi, menjadi bukti peristiwa atau menyebarkan kebutuhan pertolongan.

Tetapi tetap ada pertanyaan yang tidak nyaman. Ketika manusia sedang berada pada keadaan paling rapuh, apakah naluri pertama kita masih mendekat untuk menolong atau mulai bergeser menjadi keinginan untuk menyaksikan?

Pertanyaan serupa muncul ketika bantuan diberikan kepada orang miskin. Kamera dapat membawa lebih banyak bantuan, tetapi kamera juga dapat mengambil sesuatu yang tidak pernah diberikan penerimanya secara sukarela: martabat.

Welas asih, silih asih, sipakatau, atau apa pun nama yang kita gunakan, mungkin diuji tepat di sana. Kebaikan bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi apakah manusia yang menerimanya tetap merasa sebagai manusia setelah kita pergi.

Kita Tahu Banyak Orang, tetapi Mungkin Semakin Sedikit Mengenal Tetangga

Kota mengajarkan manusia hidup berdekatan tanpa selalu saling mengenal. Dalam satu gedung dapat tinggal ratusan keluarga, sementara seseorang tidak mengetahui nama orang yang pintunya hanya beberapa langkah dari rumahnya.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dalam perubahan tersebut. Mobilitas, pekerjaan, keamanan, bentuk hunian dan ritme kehidupan modern membuat hubungan sosial tidak mungkin selalu menyerupai kampung masa lalu.

Namun ketika seseorang sakit sendirian beberapa meter dari rumah kita dan baru diketahui berhari-hari kemudian, ada pertanyaan yang layak tinggal lebih lama. Seberapa dekat sebenarnya manusia yang disebut “dekat” pada zaman ini?

Kita dapat mengetahui kegiatan seorang selebritas di benua lain setiap hari. Tetapi terkadang tidak mengetahui bahwa seorang lansia di ujung gang sudah beberapa malam makan sendirian.

Teknologi tidak menciptakan jarak itu sendirian. Bisa jadi kehidupan kita memang sedang bergerak terlalu cepat untuk memperhatikan pintu yang tidak lagi terbuka di sebelah rumah.

Kasih yang Mulai Memerlukan Penonton

Media sosial juga memperkenalkan bentuk baru dari kebaikan. Pertolongan dapat menjadi inspirasi dan satu tindakan sederhana dapat menggerakkan ribuan manusia untuk melakukan hal serupa.

Itu adalah sisi terang yang tidak boleh diabaikan. Banyak kehidupan benar-benar terselamatkan karena seseorang memilih menceritakan penderitaan orang lain kepada publik.

Namun di antara kebaikan itu terdapat garis yang sangat tipis. Pada titik tertentu, orang yang ditolong dapat berubah dari manusia menjadi latar bagi citra baik seseorang.

Kita mungkin perlu belajar kembali bahwa tidak semua kebaikan membutuhkan bukti. Ada kasih yang justru menjadi lebih utuh ketika nama pemberinya tidak pernah diketahui.

Leluhur kita tidak mempunyai istilah personal branding. Tetapi banyak kebudayaan mereka mengenal rasa malu ketika kebaikan digunakan untuk merendahkan orang yang menerimanya.

Kasih Tidak Hilang, Ia Mungkin Sedang Kelelahan

Mungkin terlalu mudah mengatakan manusia sekarang semakin tidak peduli. Kehidupan modern membawa tekanan yang tidak sederhana: pekerjaan, perjalanan, biaya hidup, persaingan, informasi tanpa henti dan kecemasan tentang masa depan.

Orang yang tampak tidak peduli mungkin sedang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Seseorang yang tidak datang membantu tetangganya mungkin sedang bekerja dua pekerjaan agar anaknya tetap sekolah.

Karena itu artikel ini tidak hendak mengadili zaman. Kasih tidak tumbuh dari penghakiman terhadap mereka yang dianggap kurang mengasihi.

Tetapi justru karena kehidupan semakin berat, kasih kepada sesama menjadi semakin penting. Manusia yang kelelahan membutuhkan masyarakat yang tidak membuatnya merasa harus menanggung semuanya sendirian.

Mungkin welas asih tidak hilang. Ia hanya semakin sering kalah cepat dari kesibukan.

Dunia yang Mengajarkan Kita untuk Menang

Sejak kecil kita mengenal perlombaan. Nilai tertinggi, sekolah terbaik, pekerjaan terbaik, rumah lebih besar, bisnis lebih maju dan kehidupan yang terlihat lebih berhasil.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berkembang. Peradaban tidak akan bergerak apabila manusia berhenti mempunyai cita-cita.

Tetapi setiap perlombaan mempunyai seseorang yang berada di belakang. Pertanyaan kebudayaannya adalah apakah kita masih dapat melihatnya setelah mencapai garis depan.

Kasih tidak meminta manusia berhenti mengejar keberhasilan. Ia hanya mengingatkan bahwa keberhasilan tidak harus membuat penderitaan orang lain terlihat semakin kecil.

Barangkali masyarakat yang beradab bukan masyarakat tanpa orang kuat. Ia adalah masyarakat tempat kekuatan tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan memperhatikan mereka yang sedang lemah.

Ada Hal yang Tidak Dapat Diukur oleh Algoritma

Dunia digital menyukai sesuatu yang dapat dihitung. Pengikut, tayangan, suka, komentar, jangkauan dan berbagai angka memberi kita cara mengetahui seberapa jauh sebuah tindakan terlihat.

Kasih bekerja dengan ukuran yang berbeda. Sering kali tindakan yang paling berarti justru tidak pernah menghasilkan satu pun angka.

Seseorang mengantar tetangganya ke rumah sakit pukul dua pagi. Seorang anak muda menunda perjalanan karena melihat orang tua kebingungan, sementara seorang pedagang diam-diam memberi makan seseorang yang tidak mempunyai uang.

Tidak ada yang menjadi viral. Dunia bahkan tidak mengetahui kejadian itu pernah ada.

Namun bagi manusia yang menerimanya, mungkin hari itu dunia berubah sedikit. Dan barangkali kebudayaan bertahan melalui kejadian-kejadian kecil semacam itu.

Jangan Sampai Kita Hanya Mewariskan Katanya

Hari ini kita mempunyai kesempatan luar biasa untuk menyimpan kebudayaan. Kamus dapat didigitalisasi, cerita rakyat direkam, naskah kuno dipindai, bahasa daerah didokumentasikan dan filosofi leluhur dapat dipelajari kembali dari layar.

Mungkin kata welas asih akan bertahan sangat lama. Silih asih, Tat Twam Asi, sipakatau, pela-gandong, Huma Betang dan berbagai pengetahuan lokal juga dapat terus ditemukan oleh generasi yang belum lahir.

Tetapi kebudayaan mempunyai satu kelemahan yang tidak dapat diselesaikan oleh server sebesar apa pun. Nilai tidak benar-benar hidup hanya karena definisinya masih tersimpan.

Anak dapat mengetahui arti kasih tanpa pernah melihat orang dewasa mengasihi. Ia dapat menghafal gotong royong tetapi tumbuh di lingkungan yang mengajarkannya untuk tidak peduli pada kehidupan di balik pagar rumah.

Kita dapat menyimpan seluruh kata. Namun kita tidak dapat mengarsipkan rasa lalu berharap generasi berikutnya otomatis memilikinya.

Rasa harus diperlihatkan.

Barangkali Kasih Memang Tidak Pernah Pergi

Ketika bencana datang, kita masih melihat orang memasak untuk mereka yang tidak dikenalnya. Ketika seorang anak membutuhkan biaya pengobatan, ribuan manusia yang tidak pernah bertemu dengannya masih dapat mengirimkan sedikit dari apa yang mereka punya.

Ketika rumah terbakar, masih ada tetangga berlari membawa ember. Ketika kendaraan mogok, masih ada orang asing yang berhenti meskipun sebenarnya ia sedang terburu-buru.

Mungkin itu berarti sesuatu yang penting. Kasih kepada sesama belum hilang dari Nusantara.

Ia masih berada di sana, kadang dalam bentuk lama dan kadang menggunakan jalan yang sama sekali baru. Ia dapat datang melalui semangkuk makanan dari rumah sebelah atau melalui transfer dari seseorang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya.

Yang berubah adalah dunia di sekelilingnya. Dan setiap zaman akan menentukan apakah kasih memperoleh cukup ruang untuk terus hidup.

Ketika Namanya Berbeda, Rasanya Tetap Sampai

Jawa boleh menyebutnya welas asih. Sunda mengenal silih asih, sementara Bali mempunyai Tat Twam Asi sebagai salah satu jalan untuk memahami kedekatan manusia dengan kehidupan lainnya.

Bugis-Makassar mempunyai bahasa tentang memanusiakan manusia. Dayak melalui kehidupan Huma Betang menyimpan nilai kebersamaan, kesetaraan dan gotong royong, sementara Maluku mempunyai pela-gandong yang dapat menjadikan mereka yang berbeda sebagai saudara.

Minangkabau mempunyai perjalanan sendiri dalam mempertemukan adat, agama dan tanggung jawab kehidupan bersama. Berbagai masyarakat lain dari Aceh sampai Papua tentu mempunyai ungkapan, praktik dan ingatan kebudayaan yang tidak mungkin selesai ditampung dalam satu tulisan.

Kita tidak perlu memaksanya menjadi sama. Sebab kasih justru menjadi indah ketika manusia menemukan banyak bahasa untuk mengucapkannya.

Yang perlu dijaga bukan keseragaman istilah. Yang perlu dijaga adalah kemampuan merasakan manusia lain.

Sebelum Kita Benar-Benar Kehilangan Rasa

Mungkin suatu hari anak-anak kita tidak lagi menggunakan kata welas asih dalam percakapan sehari-hari. Bisa jadi silih asih hanya mereka temui dalam pelajaran kebudayaan, sementara sebagian bahasa persaudaraan dari kampung-kampung Nusantara perlahan menjadi kosakata yang harus dicari artinya.

Bahasa berubah dan tidak semua perubahan harus ditangisi. Generasi baru berhak mempunyai kata-kata sendiri untuk menjelaskan dunia yang mereka tinggali.

Yang lebih mengkhawatirkan bukan ketika sebuah kata berhenti diucapkan. Yang patut kita takutkan adalah ketika maknanya ikut pergi.

Ketika seseorang menangis dan kita tidak lagi merasa perlu berhenti. Ketika orang tua hidup sendirian beberapa rumah dari kita tetapi kesepiannya terasa bukan urusan siapa-siapa.

Ketika orang jatuh lebih menarik untuk direkam daripada ditolong. Ketika kemiskinan seseorang menjadi latar untuk membuktikan kebaikan kita, atau ketika manusia yang berbeda keyakinan terasa terlalu asing untuk disebut saudara.

Mungkin pada saat itu museum kita masih penuh dengan kebudayaan. Pakaian adat tetap indah, tarian masih dipentaskan, rumah tradisional masih berdiri dan kata-kata luhur masih tercetak rapi dalam buku.

Namun kasih tidak tinggal di museum.

Ia tinggal dalam cara kita memperlakukan manusia yang tidak dapat memberikan apa pun kepada kita. Dalam kemampuan merasakan luka yang bukan luka kita, dan dalam tangan yang bergerak meskipun tidak ada kamera yang sedang merekam.

Jawa boleh menyebutnya welas asih. Sunda dapat menyebutnya silih asih, Bali mempunyai jalannya sendiri melalui Tat Twam Asi, dan berbagai masyarakat Nusantara menyimpan bahasa serta cara yang berbeda untuk mengingatkan manusia agar tetap memanusiakan manusia.

Nama-nama itu boleh berubah. Sebagian bahkan mungkin suatu hari tidak lagi terdengar.

Tetapi jangan sampai kita masih mengenal semua katanya, sementara tidak lagi mengenal rasanya.

 

 

CATATAN REDAKSI

Artikel ini menggunakan istilah “kasih sayang Nusantara” sebagai payung editorial untuk membicarakan berbagai nilai kepedulian, persaudaraan, penghormatan dan hubungan antarmanusia di sejumlah kebudayaan Indonesia. Istilah tersebut bukan nama sebuah konsep budaya tunggal yang secara historis digunakan oleh seluruh masyarakat Nusantara.

Welas asih tidak ditempatkan sebagai istilah universal untuk seluruh Indonesia. Ia dibahas sebagai salah satu bahasa kebudayaan yang kuat dalam tradisi Jawa, sementara masyarakat lain mempunyai istilah, falsafah dan praktik sosial dengan sejarah serta maknanya masing-masing.

Silih asih dalam kebudayaan Sunda, Tat Twam Asi dalam ajaran Hindu yang hidup kuat di Bali, Sipakatau dalam kebudayaan Bugis-Makassar, Pela-Gandong di Maluku dan nilai Huma Betang masyarakat Dayak tidak dinyatakan identik. Masing-masing mempunyai konteks filosofis, sosial, budaya dan dalam beberapa kasus keagamaan yang berbeda.

Artikel sengaja tidak memaksakan setiap daerah mempunyai satu kata yang secara literal berarti “welas asih”. Pada sejumlah kebudayaan, gagasan kemanusiaan justru lebih kuat ditemukan melalui persaudaraan, gotong royong, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap martabat, toleransi atau kehidupan bersama.

Pembahasan Minangkabau melalui Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah juga tidak dimaksudkan sebagai terjemahan kasih sayang. Falsafah tersebut digunakan untuk memperlihatkan bagaimana adat, agama dan tanggung jawab kehidupan sosial mempunyai hubungan khas dalam masyarakat Minangkabau.

Artikel tidak menyatakan masyarakat Indonesia masa lalu lebih penuh kasih daripada masyarakat masa kini. Kehidupan masa lalu juga mempunyai konflik, kekerasan, ketidakadilan dan berbagai persoalan sosial, sehingga nostalgia tidak digunakan sebagai dasar kesimpulan.

Kritik terhadap penggunaan kamera, media sosial dan perubahan hubungan bertetangga tidak dimaksudkan untuk menyalahkan teknologi. Teknologi juga memungkinkan solidaritas berkembang dalam bentuk baru, termasuk penggalangan dana, pencarian donor, bantuan bencana dan pertolongan antarmanusia yang sebelumnya dipisahkan jarak.

Pernyataan bahwa kasih kepada sesama “mulai luntur” ditempatkan sebagai kegelisahan dan pertanyaan editorial, bukan kesimpulan statistik bahwa masyarakat Indonesia saat ini secara objektif kurang berbelas kasih dibandingkan generasi sebelumnya. Artikel sengaja memperlihatkan bukti-bukti keseharian bahwa solidaritas masih hidup dalam berbagai bentuk.

EMMANUS memandang perbedaan bahasa kasih di Nusantara sebagai kekayaan, bukan sesuatu yang harus diseragamkan. Tujuan tulisan ini adalah mengajak pembaca melihat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya menyimpan istilah dan simbolnya, tetapi juga membutuhkan praktik nyata yang menjaga martabat serta kepedulian kepada manusia lain.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT