Dinamika

Ketika Budaya Tinggal Busana: Ke Mana Perginya Budi Pekerti Kita?

Ada hari-hari ketika Indonesia terlihat begitu kaya akan budaya. Anak-anak mengenakan pakaian adat di sekolah, tarian tradisional kembali memenuhi panggung, batik dipakai dengan bangga, rumah-rumah tua dipugar, sementara festival kebudayaan semakin ramai didokumentasikan melalui layar telepon. Semua itu penting dan patut dirawat. Tetapi kebudayaan sesungguhnya tidak selalu dapat difoto. Ada warisan yang tidak mempunyai warna […]

Oleh Narendra

Ketika Budaya Tinggal Busana: Ke Mana Perginya Budi Pekerti Kita?
Ketika Budaya Tinggal Busana: Budi Pekerti dan Welas Asih Nusantara
Diterbitkan

Ada hari-hari ketika Indonesia terlihat begitu kaya akan budaya. Anak-anak mengenakan pakaian adat di sekolah, tarian tradisional kembali memenuhi panggung, batik dipakai dengan bangga, rumah-rumah tua dipugar, sementara festival kebudayaan semakin ramai didokumentasikan melalui layar telepon.

Semua itu penting dan patut dirawat. Tetapi kebudayaan sesungguhnya tidak selalu dapat difoto.

Ada warisan yang tidak mempunyai warna kain, bentuk bangunan, atau bunyi alat musik. Ia hidup dalam cara seseorang menundukkan sedikit kepala ketika melewati orang lain, memilih kata sebelum berbicara, mengulurkan tangan kepada tetangga yang kesusahan, dan merasa tidak nyaman ketika kebahagiaannya dibangun di atas penderitaan orang lain.

Dahulu kita mungkin menyebutnya dengan kata yang sangat sederhana: budi pekerti. Sebuah istilah yang terdengar semakin tua di tengah zaman yang begitu gemar menciptakan istilah baru.

Padahal barangkali justru di sanalah salah satu inti kebudayaan berada. Bukan hanya pada apa yang dikenakan manusia, tetapi pada bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Budaya yang Tidak Bisa Dipajang di Museum

Kita terbiasa mengenali kebudayaan dari sesuatu yang dapat dilihat. Sebuah keris dapat disimpan, naskah kuno dapat didigitalisasi, rumah adat dapat dipugar, sementara sebuah tarian dapat direkam agar gerakannya tidak hilang.

Tetapi bagaimana menyimpan rasa sungkan agar tidak menyakiti orang lain? Di museum mana kita dapat meletakkan tenggang rasa agar generasi berikutnya dapat melihatnya?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mungkin jauh lebih sulit daripada menyelamatkan benda-benda peninggalan. Sebab nilai hidup hanya dapat bertahan ketika manusia masih menjalankannya.

Ketika seorang anak melihat ayahnya berhenti untuk membantu orang yang jatuh, sebenarnya sedang berlangsung pewarisan kebudayaan. Ketika seorang ibu mengingatkan anaknya agar tidak mempermalukan seseorang di depan orang banyak, sebuah nilai sedang berpindah generasi tanpa seminar dan tanpa panggung.

Begitulah sebagian kebudayaan dahulu bertahan. Ia tidak selalu diajarkan sebagai teori, melainkan diperlihatkan sebagai kebiasaan.

Budi: Kata Kecil yang Menyimpan Dunia Besar

Dalam bahasa sehari-hari, budi pekerti sering dipahami sebagai perilaku baik. Namun di dalam kehidupan sosial Nusantara, gagasan tentang budi berkembang melalui banyak istilah, falsafah, adat, dan kebiasaan yang berbeda antardaerah.

Karena itu, tidak tepat apabila seluruh Indonesia dipadatkan ke dalam satu falsafah daerah. Nusantara terlalu luas untuk mempunyai hanya satu cara mengatakan kebaikan.

Orang Jawa mengenal tepa selira, andhap asor, unggah-ungguh, empan papan, dan welas asih. Masyarakat Sunda mempunyai gagasan silih asah, silih asih, silih asuh, sementara masyarakat lain mempunyai bahasa etiknya sendiri.

Di Minangkabau, adat dan kehidupan sosial berkembang dalam hubungan panjang dengan Islam melalui falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kajian mengenai falsafah tersebut menggambarkannya sebagai kerangka yang menghubungkan adat, moral, kehidupan sosial, dan ajaran agama, meskipun penerapannya dalam kehidupan kontemporer juga menghadapi berbagai tantangan.

Di Bali dikenal Tri Hita Karana, yang meletakkan keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sebagai satu kesatuan. Direktorat Jenderal Kebudayaan menjelaskan prinsip itu melalui hubungan parhyangan, pawongan, dan palemahan—sebuah pandangan yang tidak memisahkan manusia dari manusia lainnya maupun dari alam tempatnya hidup.

Pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, filosofi Huma Betang juga dibahas sebagai ruang nilai untuk hidup bersama dalam perbedaan. Penelitian terhadap relasi Muslim-Dayak di Palangka Raya, misalnya, menemukan relevansi nilai toleransi Huma Betang dalam interaksi antaragama sehari-hari.

Nama-namanya berbeda. Tetapi dari tempat-tempat yang berjauhan itu muncul gema yang terasa dekat: manusia tidak pernah hidup sendirian.

Tepa Selira, Sebelum Kita Mengenal Kata Empati

Ada satu ungkapan Jawa yang tampaknya sederhana: tepa selira. Dalam pengertian sehari-hari, ia kerap diterjemahkan sebagai tenggang rasa atau kemampuan menempatkan diri pada keadaan orang lain.

Penelitian kontemporer menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Kajian 2026 mengenai tepa selira mengidentifikasi dimensi empati berupa kemampuan mengambil perspektif orang lain, merasakan keadaan mereka, menghormati perbedaan, dan menjaga hubungan sosial.

Penelitian lain bahkan membawa tepa selira ke persoalan yang sangat modern: perundungan di sekolah. Nilai menghormati hak orang lain, menyayangi sesama, serta menjaga sikap, perkataan, dan tingkah laku dinilai relevan untuk membangun empati dan mencegah perilaku agresif.

Tiba-tiba istilah yang terdengar tua itu terasa sangat dekat dengan persoalan hari ini. Anak yang dipermalukan di sekolah mungkin hidup di zaman digital, tetapi luka karena tidak adanya tenggang rasa sama tuanya dengan manusia.

Bahkan kajian lain menempatkan tepa selira sebagai pendekatan terhadap konflik interpersonal melalui perspective-taking, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap orang lain.

Kita sekarang mempunyai banyak istilah akademik untuk menjelaskannya. Leluhur mungkin hanya mengatakan: cobalah rasakan jika kamu berada di tempatnya.

Welas Asih Bukan Sekadar Rasa Kasihan

Ada perbedaan tipis tetapi penting antara merasa kasihan dan memiliki welas asih. Kasihan dapat berhenti di dalam perasaan, sedangkan welas asih seharusnya membuat penderitaan orang lain terasa cukup dekat untuk menggerakkan manusia melakukan sesuatu.

Barangkali karena itu kata welas dan asih terasa begitu lembut. Tidak ada perintah keras di dalamnya, tetapi ada dorongan untuk tidak membiarkan manusia lain sendirian ketika kehidupan sedang tidak ramah kepadanya.

Dalam kehidupan kampung, nilai semacam itu dahulu dapat terlihat dalam hal yang sangat biasa. Ada rumah yang sedang mempunyai hajatan, tetangga datang membantu memasak; ada keluarga berduka, orang-orang datang tanpa menunggu undangan; ada pekerjaan terlalu berat untuk satu orang, tangan lain menyusul.

Kita kemudian mengenalnya melalui istilah besar: gotong royong. Tetapi mungkin kekuatan gotong royong justru terletak pada kenyataan bahwa dahulu ia tidak selalu dianggap sesuatu yang besar.

Orang membantu karena merasa memang seharusnya begitu.

Ketika Pertolongan Belum Membutuhkan Kamera

Zaman berubah dan perubahan tidak selalu berarti kemunduran. Teknologi telah memungkinkan pertolongan datang dari orang yang bahkan tidak pernah saling bertemu, penggalangan dana dapat menjangkau ribuan manusia, dan penderitaan di sebuah tempat dapat diketahui dunia dalam hitungan menit.

Tetapi zaman yang sama juga menghadirkan sebuah keganjilan. Kadang kamera telah menyala sebelum tangan terulur.

Seseorang sedang kesusahan, kemudian manusia lain datang membawa bantuan sekaligus telepon genggam. Ada kebaikan yang sungguh-sungguh di sana, tetapi sesekali muncul pertanyaan yang sulit dihindari: kapan membantu berubah menjadi tontonan?

Tidak semua dokumentasi pertolongan merupakan sesuatu yang buruk. Publikasi bahkan dapat menggerakkan lebih banyak orang untuk membantu, selama martabat orang yang menerima bantuan tidak dikorbankan.

Persoalannya mungkin terletak pada batas yang semakin tipis. Kita ingin menunjukkan bahwa kebaikan masih ada, tetapi jangan sampai orang yang sedang rapuh harus membayar kebaikan itu dengan kehilangan harga dirinya.

Budi pekerti terkadang justru bekerja ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kita Semakin Pandai Berbicara, Tetapi Apakah Semakin Pandai Menjaga Kata?

Tidak pernah dalam sejarah manusia biasa mempunyai panggung sebesar sekarang. Satu kalimat yang dahulu hanya terdengar di sebuah warung kini dapat dibaca puluhan ribu orang beberapa menit setelah ditulis.

Kebebasan itu membawa banyak kebaikan. Orang yang dahulu tidak mempunyai ruang bicara kini dapat menyampaikan pengalaman, kritik, ilmu, bahkan meminta pertolongan kepada dunia.

Namun setiap kebebasan selalu membawa ujian terhadap budi. Ketika wajah lawan bicara berubah menjadi foto profil, kita lebih mudah lupa bahwa di balik layar ada manusia yang dapat terluka.

Kata-kata yang mungkin tidak sanggup kita ucapkan ketika duduk berhadapan dapat meluncur begitu ringan melalui jari. Penghinaan menjadi komentar, kemarahan menjadi unggahan, dan penderitaan orang lain terkadang menjadi bahan hiburan.

Di sinilah tepa selira yang dianggap kuno tiba-tiba terasa sangat modern. Kemampuan membayangkan apa yang dirasakan manusia di seberang layar mungkin merupakan salah satu kecakapan yang paling dibutuhkan zaman digital.

Unggah-Ungguh Bukan Berarti Membungkam yang Muda

Sebagian orang mungkin melihat tata krama tradisional sebagai sisa masyarakat hierarkis. Kritik itu perlu didengar karena penghormatan kepada orang yang lebih tua memang tidak boleh berubah menjadi pembenaran ketika mereka melakukan kesalahan.

Budi pekerti bukan ketaatan buta. Anak muda tetap berhak bertanya, berbeda pendapat, mengkritik, bahkan menolak sesuatu yang tidak adil.

Yang mungkin mulai hilang justru kemampuan melakukan semua itu tanpa merendahkan manusia. Kita semakin sering menganggap ketegasan harus terdengar kasar, seolah kesantunan merupakan tanda kelemahan.

Padahal manusia dapat berbeda pendapat tanpa kehilangan martabat. Bahkan mungkin salah satu ukuran kedewasaan adalah kemampuan mengatakan “tidak” tanpa harus menghancurkan orang yang berada di hadapan kita.

Di situlah konsep empan papan menemukan tempatnya. Tidak setiap kebenaran harus disampaikan dengan cara yang sama, pada tempat yang sama, dan pada waktu yang sama.

Budaya Tidak Harus Dibenturkan dengan Agama

Ada pula kecenderungan melihat kebudayaan dan agama seolah keduanya selalu berdiri berhadapan. Padahal sejarah Nusantara memperlihatkan hubungan yang jauh lebih rumit, penuh dialog, penyesuaian, penerimaan, sekaligus batas-batas yang terus dirundingkan.

Minangkabau memberikan salah satu contoh bagaimana adat dan Islam dirumuskan sebagai dua unsur yang diidealkan untuk berjalan beriringan melalui Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kajian kontemporer mencatat falsafah itu sebagai integrasi adat dengan nilai Islam dalam kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan.

Ini tidak berarti setiap adat otomatis merupakan ajaran agama. Sebaliknya, beragama juga tidak mengharuskan manusia kehilangan seluruh bahasa kebudayaan tempat ia dilahirkan.

Welas asih tidak menjadi kurang bernilai ketika diucapkan dalam bahasa daerah. Menghormati orang tua, menjaga tetangga, tidak mempermalukan orang lain, membantu yang lemah, dan berlaku adil tidak perlu dipertentangkan hanya karena sebagian nilai tersebut juga diwariskan melalui adat.

Barangkali kita terlalu sering sibuk mencari garis pemisah. Padahal di kehidupan sehari-hari, seorang manusia dapat sekaligus beriman, berbudaya, menjadi warga negara, dan menjadi bagian dari keluarganya.

Kita Mengirim Anak Belajar Karakter

Hari ini pendidikan karakter menjadi pembicaraan penting. Sekolah berbicara tentang empati, toleransi, pengendalian emosi, kerja sama, antiperundungan, dan kemampuan menyelesaikan konflik.

Semua itu dibutuhkan. Namun ada ironi kecil ketika banyak istilah tersebut sebenarnya mempunyai saudara yang telah lama hidup dalam kebudayaan lokal.

Perspective-taking terasa dekat dengan tepa selira. Social awareness mengingatkan pada kemampuan membaca keadaan, sedangkan compassion mempunyai gema yang akrab dalam welas asih.

Tentu keduanya tidak boleh disamakan begitu saja secara ilmiah. Konsep psikologi modern lahir melalui kerangka penelitian tertentu, sementara kearifan lokal berkembang melalui pengalaman historis masyarakat dengan konteksnya masing-masing.

Tetapi pertemuan keduanya terlalu menarik untuk diabaikan. Mungkin pendidikan masa depan tidak selalu harus memilih antara pengetahuan modern dan kebijaksanaan lama.

Anak dapat mempelajari istilah empati sekaligus memahami tepa selira. Ia dapat mempelajari kecerdasan sosial sambil mengetahui bahwa nenek moyangnya mempunyai bahasa sendiri untuk mengingatkan manusia agar tidak hidup hanya untuk dirinya.

Apa yang Terjadi Ketika Rasa Malu Berubah Makna?

Banyak masyarakat Nusantara mengenal bentuk pengendalian sosial yang bertumpu pada rasa malu, kehormatan, atau martabat. Dalam bentuk terbaiknya, perasaan itu mencegah manusia melakukan sesuatu yang dianggap merendahkan dirinya sekaligus melukai masyarakat.

Namun rasa malu pun dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat jika digunakan untuk menekan korban, membungkam perbedaan, atau mempertahankan ketidakadilan. Tidak semua warisan masa lalu harus diterima tanpa pemeriksaan.

Inilah alasan melestarikan budaya tidak sama dengan membekukan masa lalu. Kebudayaan yang hidup mempunyai kemampuan menimbang dirinya sendiri.

Yang adil dipertahankan. Yang melukai manusia dapat ditinggalkan, sementara nilai yang masih memberikan kebaikan diberi bahasa baru agar dapat hidup bersama generasi yang berbeda.

Mungkin di situlah budi pekerti menemukan bentuk terbaiknya. Bukan kepatuhan kepada masa lalu, tetapi kemampuan mengambil kebijaksanaan darinya tanpa kehilangan keberanian untuk memperbaiki yang keliru.

Rumah Panjang dan Pelajaran tentang Hidup Bersama

Di Kalimantan, filosofi Huma Betang memberi gambaran menarik tentang kehidupan bersama. Rumah panjang bukan sekadar arsitektur, tetapi dalam kajian sosial juga dibaca sebagai ruang nilai tentang kebersamaan dan hidup di tengah perbedaan.

Bayangkan banyak keluarga hidup di bawah satu atap. Perbedaan tidak dapat diselesaikan dengan selalu menjauh karena esok pagi mereka tetap akan bertemu.

Maka kehidupan memerlukan aturan yang tidak tertulis dalam batu: tahu batas, menghormati orang lain, berbagi ruang, dan memahami bahwa kebebasan seseorang selalu bersentuhan dengan kehidupan manusia lainnya.

Dunia modern mungkin membuat kita tinggal dalam rumah-rumah yang semakin terpisah. Namun secara digital, kita justru berada di sebuah rumah panjang yang jauh lebih besar.

Jutaan manusia tinggal di layar yang sama. Ironisnya, semakin dekat teknologi membawa kita, semakin besar pula kebutuhan belajar kembali bagaimana hidup bersama.

Tri Hita Karana dan Manusia yang Tidak Berdiri Sendiri

Dari Bali datang pengingat lain. Tri Hita Karana melihat keharmonisan melalui hubungan dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan, sebuah prinsip yang juga tercermin dalam sistem Subak serta kehidupan sosial budaya Bali.

Pandangan itu terasa relevan ketika kehidupan modern sering memisahkan semuanya. Manusia mengejar kesejahteraan ekonomi, tetapi dapat melupakan lingkungan; membangun tempat ibadah, tetapi bertengkar dengan tetangga; berbicara tentang alam, tetapi tidak memikirkan manusia yang menggantungkan hidup kepadanya.

Kebudayaan lama tentu tidak mempunyai jawaban teknis untuk seluruh persoalan abad ke-21. Tetapi ia dapat meninggalkan pertanyaan yang masih berguna: apakah kehidupan yang baik mungkin dibangun ketika salah satu hubungan itu dihancurkan?

Kemajuan akhirnya bukan hanya soal seberapa tinggi sesuatu dapat dibangun. Ada pertanyaan lain tentang apakah manusia masih dapat hidup selaras setelah pembangunan itu selesai.

Kebudayaan yang Cantik di Panggung

Kita sangat pandai merayakan kebudayaan ketika ia tampil indah. Kostum tradisional mudah mengundang kamera, tarian mudah mengisi festival, makanan daerah mudah menjadi promosi pariwisata.

Tidak ada yang salah dengan itu. Kebudayaan memang pantas dirayakan.

Namun persoalan muncul ketika budaya berhenti pada apa yang dapat dijual sebagai pengalaman. Sebuah daerah dapat mempunyai festival budaya setiap tahun tetapi masyarakatnya semakin kehilangan ruang untuk bergotong royong.

Anak-anak dapat mengenakan pakaian adat tanpa mengetahui mengapa orang dahulu diajarkan menjaga perkataan. Rumah tradisional dapat berdiri megah sebagai destinasi wisata, sementara filosofi hidup yang pernah membuat manusia bertahan di dalamnya perlahan tidak lagi dikenal.

Pada saat itulah budaya masih mempunyai tubuh. Tetapi mungkin jiwanya mulai mencari tempat lain.

Budi Pekerti Tidak Pernah Berarti Zaman Dulu Lebih Baik

Romantisme mudah membuat masa lalu terlihat sempurna. Padahal masyarakat dahulu juga mengenal konflik, ketidakadilan, kekerasan, hierarki, diskriminasi, dan berbagai persoalan manusia yang tidak perlu diwariskan.

Karena itu tulisan ini bukan ajakan untuk kembali hidup seperti seratus tahun lalu. Tidak ada alasan untuk menolak kemajuan hanya karena sesuatu dianggap tradisional.

Pertanyaannya lebih sederhana: dari seluruh perubahan yang kita terima, adakah sesuatu yang terlalu berharga untuk ikut dibuang?

Teknologi boleh berubah. Cara bekerja boleh berubah, bentuk keluarga dapat berubah, bahasa berkembang, kota tumbuh, dan generasi baru berhak menciptakan kebudayaannya sendiri.

Tetapi kemampuan merasakan penderitaan orang lain mungkin tidak pernah menjadi barang kuno. Menjaga perkataan agar tidak melukai juga tidak mempunyai tanggal kedaluwarsa.

Ketika Kita Tidak Lagi Mengenal Tetangga

Kota-kota tumbuh dengan pagar semakin tinggi. Ribuan manusia dapat tinggal dalam satu kompleks, apartemen, atau kawasan perumahan tanpa benar-benar mengetahui siapa yang hidup beberapa meter dari pintunya.

Ini bukan semata kesalahan manusia modern. Pola kerja, mobilitas, urbanisasi, keamanan, teknologi, dan perubahan struktur keluarga ikut membentuk cara baru kita hidup.

Namun ada sesuatu yang patut direnungkan ketika keadaan darurat terjadi. Sering kali orang pertama yang dapat menolong bukan pemerintah, aplikasi, atau institusi besar, melainkan manusia yang kebetulan tinggal paling dekat.

Tetangga dahulu bukan sekadar alamat di sebelah rumah. Ia adalah bagian dari sistem sosial yang membuat seseorang tidak sepenuhnya sendirian ketika mengalami kesulitan.

Mungkin bentuknya tidak harus kembali sama. Tetapi gagasan bahwa kehidupan orang lain di sekitar kita juga mempunyai sedikit tempat dalam perhatian kita terasa terlalu penting untuk dibiarkan hilang.

Welas Asih di Tengah Dunia yang Mengajarkan Persaingan

Kita hidup dalam zaman yang sangat menghargai pencapaian. Anak diajarkan menjadi yang terbaik, perusahaan mengejar pertumbuhan, individu membangun personal branding, sementara angka menjadi bahasa yang semakin sering digunakan untuk menentukan keberhasilan.

Ambisi tidak selalu buruk. Banyak kemajuan lahir karena manusia ingin bergerak lebih jauh daripada generasi sebelumnya.

Tetapi ada pertanyaan yang jarang muncul di lembar penilaian: setelah menjadi yang terbaik, apakah kita masih mampu berhenti ketika melihat seseorang tertinggal?

Welas asih tidak meminta manusia berhenti berkembang. Ia hanya mengingatkan bahwa kemenangan yang membuat kita kehilangan kemampuan melihat penderitaan orang lain mungkin mempunyai harga yang terlalu mahal.

Peradaban tidak hanya dibangun oleh manusia yang mampu mencapai puncak. Ia juga ditentukan oleh bagaimana mereka memperlakukan manusia yang tidak pernah sampai ke sana.

Mungkin yang Hilang Tidak Pernah Terlihat

Jika sebuah rumah adat roboh, kita dapat memotretnya. Jika bahasa daerah kehilangan penutur, jumlahnya dapat dihitung; ketika naskah kuno rusak, kita dapat melihat halaman yang hancur.

Tetapi kehilangan budi pekerti hampir tidak pernah mempunyai tanggal kejadian. Tidak ada pagi ketika masyarakat bangun kemudian menemukan bahwa tenggang rasa telah resmi hilang.

Ia pergi sedikit demi sedikit.

Mungkin dimulai ketika mempermalukan orang lain terasa lucu. Ketika orang tua dianggap pantas dihormati hanya jika mempunyai uang, ketika orang miskin dijadikan konten, ketika berbeda pendapat berarti harus saling merendahkan, atau ketika penderitaan orang lain hanya mampu menahan perhatian kita beberapa detik sebelum jari kembali menggulir layar.

Tidak ada museum yang akan mengeluarkan alarm ketika itu terjadi. Tidak ada benda yang hilang dari etalase.

Yang berubah hanya manusia.

Kalau Begitu, Apa yang Sebenarnya Harus Dilestarikan?

Kita tetap perlu menjaga candi, rumah adat, tarian, musik, bahasa, naskah, pakaian, ritual, kuliner, dan seluruh peninggalan yang membuat Indonesia mempunyai ingatan. Kehilangan semuanya berarti kehilangan bagian penting dari perjalanan bangsa.

Tetapi mungkin definisi pelestarian perlu diperluas. Kebudayaan tidak selesai ketika sebuah benda berhasil dimasukkan ke daftar warisan.

Kita juga perlu mewariskan kemampuan hidup bersama.

Tepa selira tidak harus dipertahankan karena ia Jawa. Tri Hita Karana tidak berharga hanya karena berasal dari Bali, Huma Betang tidak penting hanya untuk masyarakat Dayak, dan falsafah Minangkabau tidak perlu dipelajari semata karena ia tua.

Nilai-nilai itu layak dibaca kembali karena masing-masing menyimpan pengalaman manusia tentang pertanyaan yang tidak pernah selesai: bagaimana hidup tanpa menghancurkan kehidupan orang lain?

Kita tidak perlu menyeragamkannya menjadi satu “falsafah Nusantara”. Justru keindahannya terletak pada kenyataan bahwa masyarakat berbeda menemukan bahasa berbeda untuk berbicara tentang martabat, keseimbangan, tanggung jawab, kebersamaan, dan hubungan antarmanusia.

Jika Kelak Semuanya Masih Ada

Bayangkan Indonesia beberapa puluh tahun dari sekarang. Museum-museum kita mungkin jauh lebih canggih, tarian tradisional tersimpan dalam arsip digital beresolusi tinggi, bahasa daerah direkam dengan kecerdasan buatan, dan pakaian adat dapat direproduksi sampai detail terkecil.

Mungkin kita berhasil menyelamatkan semuanya.

Batik masih ada. Keris masih ada, gamelan masih berbunyi, rumah adat masih berdiri, upacara masih digelar, dan anak-anak masih dapat menyebut nama tarian dari puluhan daerah.

Tetapi kebudayaan tidak hanya tinggal pada benda yang berhasil diselamatkan.

Ia juga hidup pada tangan yang spontan terulur ketika seseorang terjatuh. Pada suara yang direndahkan agar tidak mempermalukan orang lain, pada kemampuan meminta maaf, pada rasa malu mengambil yang bukan haknya, pada kesediaan berbagi ruang, serta keberanian membela manusia yang diperlakukan tidak adil.

Ia tinggal pada seseorang yang mampu berbeda agama tanpa membenci. Pada anak muda yang dapat mengkritik orang tua tanpa menghina, dan orang tua yang bersedia mendengar anak muda tanpa merasa kehilangan kehormatan.

Ia hidup ketika manusia masih mempunyai ruang di dalam dirinya untuk penderitaan manusia lain.

Barangkali itulah warisan yang paling sulit diselamatkan. Ia tidak dapat disimpan di lemari kaca, tidak bisa didaftarkan hanya dengan sebuah sertifikat, dan tidak dapat dipertahankan hanya melalui festival tahunan.

Ia harus dilakukan.

Hari demi hari, manusia demi manusia.

Sebab mungkin suatu hari kita masih mempunyai seluruh warisan budaya yang dapat dilihat mata. Dunia bahkan mungkin datang dari jauh untuk mengaguminya.

Tetapi jika tangan tidak lagi ringan membantu, lidah tidak lagi mengenal batas, perbedaan selalu berakhir dengan kebencian, dan penderitaan orang lain tidak lagi mampu mengetuk hati, kita mungkin perlu mengajukan pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan sebuah tarian.

Kita masih mempunyai budaya. Tetapi masihkah kita mempunyai budi?

CATATAN REDAKSI

Tulisan ini memandang kebudayaan bukan hanya sebagai benda, kesenian, pakaian, upacara atau peninggalan fisik, tetapi juga sebagai nilai dan praktik sosial yang diwariskan melalui kehidupan sehari-hari. Istilah budi pekerti digunakan sebagai pintu masuk untuk membicarakan cara manusia memperlakukan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan.

EMMANUS tidak bermaksud menyatakan masyarakat masa lalu lebih bermoral dibandingkan masyarakat sekarang. Kehidupan masa lalu juga mempunyai konflik, hierarki, diskriminasi dan berbagai praktik yang tidak harus diwariskan hanya karena dianggap tradisional.

Artikel ini juga tidak menyamakan seluruh falsafah daerah sebagai satu sistem nilai yang seragam. Tepa selira, Tri Hita Karana, Huma Betang, falsafah Minangkabau dan berbagai nilai lokal lainnya lahir dari sejarah, masyarakat dan konteks yang berbeda.

Penggunaan berbagai contoh tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa masyarakat di banyak wilayah Nusantara mempunyai cara masing-masing dalam membicarakan hubungan antarmanusia, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab dan kehidupan sosial. Persamaan yang ditemukan tidak menghapus perbedaan sejarah maupun makna masing-masing tradisi.

Istilah psikologi modern seperti empati, perspective-taking, compassion dan social awareness tidak dinyatakan identik dengan konsep budaya lokal. Sejumlah penelitian kontemporer digunakan untuk menunjukkan adanya dimensi yang beririsan, khususnya dalam pembahasan tepa selira, tanpa menghapus konteks epistemologis masing-masing.

Tulisan ini tidak menempatkan budaya dan agama sebagai dua kekuatan yang harus dipertentangkan. Dalam berbagai masyarakat Indonesia, adat dan agama mempunyai sejarah hubungan yang kompleks, termasuk dialog, integrasi, penyesuaian dan batas yang berbeda menurut komunitas masing-masing.

Kritik terhadap kehidupan digital, dokumentasi kegiatan sosial dan perubahan hubungan bertetangga tidak dimaksudkan untuk menyatakan teknologi sebagai penyebab tunggal kemunduran budi pekerti. Teknologi juga membuka ruang baru bagi solidaritas, pendidikan, penggalangan bantuan dan hubungan antarmanusia yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

EMMANUS memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang hidup dan karena itu dapat berubah. Pelestarian tidak berarti membekukan seluruh kebiasaan masa lalu, melainkan memahami nilai yang masih relevan, mengkritisi praktik yang tidak adil, dan meneruskan kebijaksanaan yang dapat menjaga martabat manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan utama tulisan ini bukan apakah generasi sekarang lebih buruk daripada generasi sebelumnya. Pertanyaannya adalah apakah di tengah keberhasilan menjaga bentuk-bentuk kebudayaan, kita juga masih memberikan ruang bagi budi pekerti, welas asih, tenggang rasa dan kemampuan merasakan kehidupan manusia lain.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT