Berita

Macan Tutul Jawa Terekam Memangsa Kucing di Hutan Muria

Kamera jebak yang terpasang di kawasan hutan Gunung Muria, Jawa Tengah, berhasil mengabadikan momen langka yang mengejutkan para peneliti terkait eksistensi Macan Tutul. Dua ekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam membawa kucing kecil di mulutnya. Melansir dari mongabay.co.id, temuan ini menambah daftar panjang keanekaragaman mangsa macan tutul jawa, yang selama ini diketahui memangsa […]

Oleh Achmad Aristyan

Macan Tutul Jawa Terekam Memangsa Kucing di Hutan Muria
Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Gunung Ciremai tertangkap kamera. Foto: Conservation International/TN Ciremai
Diterbitkan

Kamera jebak yang terpasang di kawasan hutan Gunung Muria, Jawa Tengah, berhasil mengabadikan momen langka yang mengejutkan para peneliti terkait eksistensi Macan Tutul.

Dua ekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam membawa kucing kecil di mulutnya. 

Melansir dari mongabay.co.id, temuan ini menambah daftar panjang keanekaragaman mangsa macan tutul jawa, yang selama ini diketahui memangsa hewan berukuran lebih besar seperti rusa, babi hutan, dan monyet.

Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, kedua macan tutul dipastikan sebagai individu yang berbeda berdasarkan pola tutul atau roset khas mereka.  

Foto pertama diperoleh 12 Oktober 2022, sementara foto kedua diambil 15 Oktober 2022.

Kedua gambar itu berasal dari stasiun pemantauan yang terletak di bagian utara dan timur laut Hutan Gunung Muria, Jawa Tengah, tepatnya pada pukul 4.19 dan 4.25 pagi.  

Kucing Kuwuk Jadi Mangsa Baru?

Sebelumnya, macan tutul jawa diketahui memangsa berbagai hewan seperti rusa, babi hutan, banteng, kerbau, monyet, kukang jawa, burung, dan lemur terbang.

Di Gunung Muria, mangsa potensial mereka terdiri dari rusa, babi hutan, monyet ekor panjang, lutung jawa, ayam hutan merah, landak, tikus, dan musang. 

Dengan temuan terbaru ini, para peneliti mengusulkan untuk memasukkan kucing kuwuk (Prionailurus javanensis) ke dalam daftar makanan macan tutul jawa.

Dalam laporan yang diterbitkan Cat News tahun 2024, Alya Faryanti Purbahapsari dan tim SINTAS Indonesia mengungkapkan, macan tutul jawa di Gunung Muria masih bertahan meskipun tertekan habitat akibat deforestasi.  

“Gunung Muria, Jawa Tengah, merupakan satu dari 29 lanskap yang sesuai untuk macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terancam punah, spesies endemik Pulau Jawa,” tulis laporan itu.  

Baca juga: Macan Tutul Jawa Terekam di TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS)

Analisis Temuan: Kucing Kuwuk atau Anak Macan Tutul?

Salah satu pertanyaan yang muncul dari temuan ini adalah apakah kucing yang dibawa macan tutul adalah anaknya atau mangsanya. Dalam beberapa spesies kucing besar, induk sering kali memindahkan anaknya dengan menggigit tengkuk mereka. 

Namun, dalam foto yang diambil, kedua macan tutul yang membawa kucing adalah individu jantan dewasa, bukan induk betina.

Setelah dilakukan perbandingan dengan foto berkualitas tinggi yang diambil selama survei, para peneliti memastikan bahwa kucing yang dibawa itu memiliki karakteristik yang lebih mirip dengan kucing kuwuk, bukan anak macan tutul. 

Kucing itu memiliki pola warna gelap di dahi serta bintik-bintik bulat di tubuhnya yang berbeda dari roset khas macan tutul jawa.  

Kondisi Habitat Macan Tutul Jawa di Gunung Muria

Gunung Muria saat ini merupakan kawasan hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani. Namun, sejak 1990 hingga 2006, sekitar 85,5% hutan alaminya telah hilang, berubah menjadi lahan pertanian, perkebunan, permukiman, dan infrastruktur. Pada 2010, luas tutupan hutan di kawasan ini hanya tersisa 1.892 hektar.  

Meskipun hutannya menyusut, Gunung Muria tetap menjadi habitat penting bagi macan tutul Jawa.

Dari 80 unit kamera jebak yang dipasang di 40 stasiun selama September 2022 hingga Maret 2023, para peneliti berhasil mengidentifikasi 13 individu macan tutul jawa dari 172 foto yang diambil dengan total 7.200 hari jebak.

Survei Macan Tutul Jawa di Jawa

Selain survei di Gunung Muria, penelitian lebih luas mengenai macan tutul jawa juga dilakukan di berbagai wilayah lain di Pulau Jawa.

Dalam jurnal Global Ecology and Conservation edisi September 2024, para peneliti menganalisis data dari kamera jebak yang dipasang di empat taman nasional, yaitu Ujung Kulon, Gunung Gede Pangrango, Meru Betiri, dan Alas Purwo.  

Sebanyak 201 kamera jebak yang aktif selama periode 2020 hingga 2022 menangkap 7.461 foto dari 12.983 hari jebak.

Dari hasil analisis, ditemukan bahwa keberadaan macan tutul jawa di suatu kawasan menunjukkan adanya keberagaman spesies dan kelimpahan populasi satwa di wilayah itu.  

Temuan ini diperkuat program Java Wide Leopard Survey yang dimulai sejak Februari 2024.

Program ini dilakukan pemerintah bekerja sama dengan SINTAS Indonesia dengan memasang 600 kamera jebak di 10 taman nasional, 24 suaka alam, dan 55 kawasan hutan lainnya.  

Sejumlah laporan awal menyebutkan bahwa sekitar 24 individu macan tutul jawa ditemukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Selain itu, macan tutul jawa juga terdeteksi di kawasan hutan Sindoro-Dieng. 

Hingga saat ini, estimasi sementara populasi macan tutul jawa di seluruh Pulau Jawa diperkirakan mencapai 336 individu dewasa dengan rentang populasi antara 192 hingga 701 individu.  

Masa Depan Macan Tutul Jawa

Penemuan langka terkait perilaku makan macan tutul jawa ini menjadi bukti bahwa spesies ini masih mampu beradaptasi dengan kondisi habitatnya yang semakin terfragmentasi.

Namun, tekanan terhadap habitat akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan tetap menjadi tantangan besar bagi kelangsungan hidup mereka.  

Dengan terus dilakukan pemantauan dan upaya konservasi, diharapkan populasi macan tutul jawa dapat bertahan dan berkembang di habitatnya yang tersisa.

Upaya pelestarian ini tidak hanya penting bagi spesies itu sendiri, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem hutan-hutan di Pulau Jawa. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBerita
Berita16 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Berita

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan