Dinamika

Meneropong Wonosobo 10 Tahun ke Depan: Ketika Pariwisata Tumbuh, Apa yang Tersisa untuk Anak Cucu Kita?

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan seseorang yang lahir dan mengenal Wonosobo bukan hanya sebagai titik pada peta wisata, melainkan sebagai rumah. Rumah dengan gunung, kabut, mata air, ladang, tradisi, cerita, makanan dan cara hidup yang selama berabad-abad membentuk identitas masyarakatnya. Hari ini Wonosobo sedang bergerak cepat. Pariwisata berkembang, tempat menginap bertambah, destinasi baru bermunculan, coffee […]

Oleh Narendra

Meneropong Wonosobo 10 Tahun ke Depan: Ketika Pariwisata Tumbuh, Apa yang Tersisa untuk Anak Cucu Kita?
Pertumbuhan pariwisata membawa peluang ekonomi besar bagi Wonosobo. Di saat yang sama, pembangunan perlu menjaga bentang alam, sumber air, tradisi dan identitas lokal agar Dieng tidak kehilangan karakter yang membuatnya berbeda.
Diterbitkan

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan seseorang yang lahir dan mengenal Wonosobo bukan hanya sebagai titik pada peta wisata, melainkan sebagai rumah. Rumah dengan gunung, kabut, mata air, ladang, tradisi, cerita, makanan dan cara hidup yang selama berabad-abad membentuk identitas masyarakatnya.

Hari ini Wonosobo sedang bergerak cepat. Pariwisata berkembang, tempat menginap bertambah, destinasi baru bermunculan, coffee shop menjamur dan semakin banyak orang melihat pegunungan Wonosobo sebagai ruang ekonomi yang menjanjikan.

Tidak ada yang salah dengan kemajuan, tetapi pertanyaan yang perlu diajukan adalah Wonosobo sedang maju menuju ke mana. Pertanyaan itu menjadi semakin penting jika pandangan tidak hanya diarahkan pada tahun depan, melainkan lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Bayangkan Wonosobo pada 2031 atau 2036 apabila pola pembangunan yang terlihat hari ini terus berlangsung tanpa koreksi berarti. Apakah anak-anak Wonosobo kelak masih mengenali daerahnya sendiri, atau mereka akan tinggal di sebuah kawasan wisata pegunungan yang indah dan dingin tetapi perlahan kehilangan alasan mengapa tempat itu dahulu begitu istimewa?

Pariwisata Wonosobo Sedang Berlari

Kegelisahan tersebut tidak berarti menutup mata terhadap keberhasilan ekonomi pariwisata. Data justru menunjukkan Wonosobo mempunyai daya tarik yang sangat besar dan sektor wisata telah menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo mencatat lebih dari dua juta kunjungan wisatawan hingga Agustus 2025. Dieng masih menjadi magnet utama, disusul berbagai destinasi alam dan wisata baru yang berkembang di sejumlah wilayah.

Arus wisata tersebut berarti perputaran ekonomi. Warung hidup, penginapan mendapatkan tamu, kendaraan wisata bergerak, pedagang memperoleh pembeli, tenaga kerja terserap dan produk lokal mendapatkan pasar yang semakin luas.

Pertumbuhan itu tentu patut disyukuri, tetapi jumlah wisatawan seharusnya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pariwisata. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah berapa banyak nilai ekonomi yang tinggal di masyarakat, berapa besar tekanan yang harus ditanggung lingkungan, dan seberapa banyak identitas Wonosobo tetap bertahan setelah jutaan perjalanan wisata terjadi.

Penginapan Bertambah, Pegunungan Berubah

Perubahan yang paling mudah terlihat adalah pertumbuhan akomodasi. Dokumen perencanaan jangka panjang Kabupaten Wonosobo menunjukkan sektor penginapan berkembang seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan kebutuhan wisatawan terhadap tempat bermalam.

Pertumbuhan penginapan merupakan konsekuensi logis dari perkembangan wisata. Wisatawan membutuhkan tempat tidur, pelaku usaha melihat peluang, pemilik tanah melihat nilai ekonomi baru, investasi datang dan masyarakat memperoleh kesempatan membuka usaha.

Namun pembangunan di wilayah pegunungan tidak pernah hanya berbicara tentang sebuah bangunan. Setiap vila membutuhkan tanah dan air, menghasilkan limbah serta sampah, memerlukan akses kendaraan dan sedikit banyak mengubah bentang ruang di sekitarnya.

Satu vila mungkin tidak terasa dan sepuluh vila mungkin baru mulai terlihat. Ketika jumlahnya terus bertambah selama lima atau sepuluh tahun, masyarakat bisa saja baru menyadari besarnya perubahan setelah lanskap yang dahulu dianggap biasa tidak lagi dapat dikembalikan.

Ketika Wonosobo Mulai Meminjam Wajah Orang Lain

Ada kegelisahan lain yang jauh lebih sulit dihitung dengan statistik, yaitu arsitektur. Di kawasan wisata pegunungan semakin mudah menemukan vila, glamping, kafe atau penginapan yang mengambil inspirasi dari berbagai gaya global, termasuk bangunan yang mengejar citra Eropa, Victorian, kabin Barat atau estetika yang sedang populer di media sosial.

Secara bisnis, pilihan tersebut dapat dipahami karena tempat yang terlihat berbeda mudah difoto dan dipromosikan. Bangunan yang dianggap Instagramable juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman visual.

Namun pertanyaan kebudayaannya jauh lebih dalam: mengapa orang harus datang jauh-jauh ke Wonosobo jika yang akhirnya ditawarkan justru tiruan tempat lain? Jika wisatawan tidur di vila bergaya Eropa, makan di kafe yang interiornya dapat ditemukan di kota lain dan pulang tanpa memahami Wonosobo, transaksi ekonomi memang terjadi tetapi pengalaman lokal perlahan menghilang.

Pakaian, ornamen dan nama lokal tidak cukup apabila keseluruhan ruang kehilangan hubungan dengan tempat ia berdiri. Wonosobo seharusnya tidak hanya menjadi lokasi pembangunan, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan itu sendiri.

Arsitektur Bukan Sekadar Bentuk Bangunan

Arsitektur lokal lahir bukan semata-mata karena nenek moyang menyukai bentuk tertentu. Bangunan berkembang melalui hubungan panjang manusia dengan iklim, material yang tersedia, kondisi geografis, kepercayaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Menjaga identitas arsitektur bukan berarti seluruh hotel harus dibangun menyerupai rumah berusia ratusan tahun. Wonosobo tidak perlu menjadi museum yang menolak perubahan dan membekukan dirinya pada masa lalu.

Arsitektur dapat modern, mewah dan memenuhi kebutuhan wisatawan masa kini sekaligus mempunyai akar lokal. Material, proporsi, lanskap, ornamen, pola ruang hingga cerita daerah dapat diterjemahkan kembali melalui desain kontemporer.

Justru di situlah kreativitas seharusnya bekerja. Persoalannya bukan apakah Wonosobo boleh menerima pengaruh luar, melainkan apakah kekayaan visualnya sendiri masih dianggap cukup berharga untuk dikembangkan.

Coffee Shop Tumbuh, Ekonomi Bergerak

Fenomena serupa terlihat dalam menjamurnya coffee shop di pusat kota hingga kawasan wisata. Bagi generasi muda, tempat-tempat tersebut bukan hanya lokasi minum kopi, tetapi juga ruang bertemu, bekerja, membuat konten dan membangun komunitas.

Ini merupakan bagian dari perubahan ekonomi Wonosobo dan tidak perlu ditakuti. Pertanyaan yang lebih menarik justru apakah pertumbuhan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat identitas lokal.

Bayangkan apabila coffee shop di Wonosobo tidak sekadar menjual cappuccino dengan interior yang mengikuti tren kota besar. Tempat yang sama dapat menjadi etalase kopi lokal, makanan Wonosobo, karya seniman daerah, musik, buku sejarah, kerajinan dan desain yang lahir dari karakter pegunungan.

Modernitas dan tradisi sebenarnya tidak harus saling membunuh. Yang berbahaya adalah ketika modernitas diterjemahkan sebagai kewajiban untuk terlihat seperti tempat lain sehingga perjalanan dari satu kota ke kota lain akhirnya menawarkan pengalaman yang hampir sama.

Wonosobo Bukan Hanya Udara Dingin

Inilah salah satu risiko terbesar dalam sepuluh tahun mendatang. Jika identitas terus terkikis sementara pembangunan pariwisata semakin seragam, Wonosobo perlahan dapat kehilangan keunggulan yang tidak dapat dibangun dengan semen: keunikan.

Udara dingin bukan monopoli Wonosobo. Banyak kawasan pegunungan di Indonesia menawarkan hawa sejuk, pemandangan gunung, kafe, vila, glamping dan tempat berfoto yang sama-sama menarik.

Kalau yang dijual hanya udara dingin, Wonosobo harus bersaing dengan banyak destinasi lain. Yang tidak dapat ditemukan wisatawan di kota lain justru Wonosobo itu sendiri: masyarakat, sejarah, bahasa, makanan, kesenian, tradisi, lanskap dan seluruh pengalaman yang lahir dari tempat ini.

Keunikan itulah yang seharusnya menjadi modal utama pariwisata. Ketika keunikan tersebut hilang, Wonosobo berisiko berubah menjadi sekadar salah satu dari banyak kota wisata berhawa dingin.

Dieng Bukan Sekadar Negeri di Atas Awan

Dieng telah lama dipasarkan dengan gambaran romantis sebagai negeri di atas awan. Namun Dieng jauh lebih besar daripada sunrise, kabut, udara dingin dan tempat berfoto.

Dataran tinggi ini menyimpan jejak sejarah panjang, lanskap vulkanik, kehidupan pertanian, tradisi masyarakat dan kompleks peninggalan masa lalu. Kedalaman inilah yang membuat Dieng mempunyai karakter yang tidak mudah digantikan destinasi buatan.

Karena itu, Dieng tidak seharusnya berkembang menjadi sekadar latar belakang bagi vila, glamping dan spot foto. Wisatawan seharusnya pulang membawa cerita tentang Dieng, bukan hanya membawa foto kamar tempat mereka menginap.

Ketika penginapan menjadi lebih terkenal daripada tempat yang ditumpanginya, pariwisata perlu bertanya kembali tentang arah perkembangannya. Infrastruktur seharusnya membantu orang mengalami Dieng, bukan membuat Dieng sekadar dekorasi bagi infrastrukturnya.

Tanah yang Menjadi Terlalu Berharga untuk Tidak Dibangun

Pariwisata membawa konsekuensi lain berupa peningkatan nilai tanah. Ketika suatu kawasan semakin populer, tanah yang dahulu mempunyai fungsi pertanian atau ruang hidup memperoleh nilai ekonomi baru sebagai lokasi penginapan, restoran maupun fasilitas wisata.

Bagi pemilik tanah, menjual atau mengembangkan lahan dapat menjadi keputusan ekonomi yang rasional. Persoalannya, keputusan individual yang rasional belum tentu menghasilkan bentang kawasan yang sehat apabila terjadi secara massal.

Satu lahan berubah menjadi penginapan dan lahan di sebelahnya melihat peluang yang sama. Harga tanah kemudian meningkat, pembangunan semakin padat dan generasi berikutnya dapat menghadapi kenyataan bahwa ruang hidup di kampung sendiri semakin mahal.

Jika tidak dikelola, pariwisata dapat menghadirkan paradoks. Sebuah daerah menjadi semakin bernilai karena terkenal, tetapi masyarakat lokal justru berpotensi semakin sulit mendapatkan ruang di daerahnya sendiri.

Lalu Kita Bicara tentang Air

Wonosobo mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan air karena posisi geografisnya sebagai wilayah pegunungan dan daerah hulu. Kerusakan sumber air di Wonosobo karena itu tidak hanya menjadi persoalan masyarakat lokal, tetapi dapat berpengaruh terhadap wilayah yang bergantung pada aliran air dari kawasan tersebut.

Data pemerintah daerah juga menunjukkan persoalan mata air membutuhkan perhatian serius. Ketika sumber air mengalami penurunan debit atau kerusakan sementara kebutuhan manusia terus meningkat, tekanan terhadap sumber daya yang sama akan semakin besar.

Pada saat bersamaan, pembangunan pariwisata membutuhkan air dalam jumlah yang tidak sedikit. Hotel, vila, glamping, restoran dan coffee shop membutuhkan air setiap hari untuk kamar mandi, toilet, dapur, pencucian linen dan berbagai kebutuhan operasional.

Jika kapasitas akomodasi terus bertambah sementara daya dukung air tidak menjadi dasar pembangunan, persoalan yang hari ini terasa kecil dapat berubah menjadi konflik pada masa depan. Tidak ada gunanya memiliki ratusan kamar wisata apabila suatu hari masyarakat di sekitarnya harus kesulitan mendapatkan air.

Sampah Datang Bersama Keramaian

Setiap wisatawan menghasilkan sesuatu yang hampir tidak pernah terlihat dalam materi promosi: sampah. Semakin besar aktivitas wisata dan konsumsi, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pengumpulan, pemilahan, pengolahan dan pembuangan yang memadai.

DLH Kabupaten Wonosobo mencatat puluhan ribu ton sampah masuk ke TPA Wonorejo sepanjang 2025. Jumlah tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi pemerintah daerah tetap mendorong pengurangan sampah sejak dari sumber.

Pariwisata yang tumbuh berarti persoalan sampah harus tumbuh menjadi prioritas yang sama besarnya dengan promosi destinasi. Tidak adil jika sebuah daerah menghabiskan energi untuk mendatangkan wisatawan tetapi tidak menyiapkan sistem untuk menghadapi apa yang ditinggalkan setelah mereka pulang.

Poster pariwisata selalu memperlihatkan gunung, kabut dan senyum wisatawan, bukan tumpukan sampah. Namun keduanya berada dalam ekosistem yang sama dan sama-sama menentukan masa depan sebuah destinasi.

Jangan Menunggu Gunung Menjadi Latar Belakang Bangunan

Wonosobo mempunyai bentang alam yang tidak dibuat oleh pengembang. Gunung, lembah, telaga, ladang dan kabut adalah modal yang diwariskan alam selama waktu yang jauh lebih panjang daripada umur industri pariwisata.

Pembangunan seharusnya menyesuaikan diri terhadap bentang tersebut, bukan sebaliknya. Sebab ada titik ketika pembangunan tidak lagi mempercantik destinasi, tetapi mulai menutup alasan mengapa wisatawan datang.

Vila membutuhkan pemandangan gunung dan penginapan menjual panorama sebagai bagian dari produknya. Jika semua orang kemudian membangun untuk menjual pemandangan yang sama, suatu hari pemandangan tersebut justru dapat dipenuhi bangunan.

Ironinya sederhana tetapi serius. Kita dapat membangun terlalu banyak fasilitas untuk menikmati alam sampai fasilitas itu sendiri mengurangi alam yang ingin dinikmati.

Budaya Bisa Hilang Tanpa Pernah Dilarang

Kehilangan budaya tidak selalu terjadi karena seseorang datang kemudian melarang tradisi. Sering kali prosesnya berlangsung perlahan dan hampir tidak terasa oleh generasi yang sedang mengalaminya.

Satu generasi berhenti mempelajari kesenian tertentu, generasi berikutnya tidak lagi memahami makna sebuah ritual, bangunan lama diganti karena dianggap tidak modern dan cerita rakyat berhenti diceritakan. Pakaian tradisional kemudian hanya muncul ketika ada festival atau acara seremonial.

Suatu hari masyarakat dapat menyadari bahwa budaya yang dahulu hidup setiap hari telah berubah menjadi pertunjukan beberapa jam untuk wisatawan. Budaya memang belum hilang sepenuhnya, tetapi ia tidak lagi menjadi bagian alami dari kehidupan masyarakat.

Ada perbedaan besar antara budaya yang hidup dengan budaya yang sekadar dipentaskan. Pariwisata seharusnya membantu yang pertama tetap hidup, bukan hanya membuat yang kedua semakin menarik untuk difoto.

Kita Terlalu Mudah Mengimpor Gambaran tentang Kemajuan

Barangkali kegelisahan terbesar bukan terletak pada sebuah vila bergaya Victorian atau satu coffee shop tertentu. Persoalan yang lebih mendasar adalah cara kita membayangkan seperti apa sesuatu harus terlihat agar dianggap maju.

Mengapa bangunan bergaya luar negeri sering dianggap lebih mewah, sementara bentuk lokal dianggap kuno? Mengapa sebuah interior dianggap modern ketika menyerupai tempat yang sedang populer di kota atau negara lain?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menolak budaya luar. Wonosobo tidak mungkin dan tidak perlu membangun tembok terhadap dunia karena kebudayaan sendiri selalu berkembang melalui perjumpaan dan pertukaran.

Anak muda berhak mendengarkan musik apa pun, arsitek berhak mencari inspirasi dari mana pun dan pengusaha berhak mengembangkan konsep kreatif. Namun keterbukaan yang sehat berbeda dengan kehilangan kepercayaan terhadap identitas sendiri.

Tahun 2036: Dua Wonosobo yang Mungkin Terjadi

Tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti bagaimana Wonosobo sepuluh tahun mendatang. Namun kondisi hari ini memungkinkan masyarakat membayangkan setidaknya dua arah perkembangan yang sangat berbeda.

Dalam arah pertama, pembangunan terus mengejar jumlah: lebih banyak wisatawan, lebih banyak vila, lebih banyak glamping, lebih banyak kendaraan dan lebih banyak tempat yang dibuat terutama agar menarik untuk difoto. Ekonomi mungkin tumbuh, tetapi tekanan terhadap air, sampah, ruang dan lanskap ikut membesar.

Dieng masih dingin dan kabut masih datang, tetapi pengalaman berada di sana semakin sulit dibedakan dari destinasi pegunungan lain. Identitas lokal perlahan berubah menjadi dekorasi di antara bangunan dan fasilitas yang mengikuti tren global.

Ada pula arah kedua, ketika Wonosobo tetap membuka investasi tetapi mempunyai keberanian menentukan wajah pembangunannya sendiri. Bangunan baru menghormati karakter lokal, kapasitas pembangunan mengikuti daya dukung lingkungan dan masyarakat menjadi pelaku utama ekonomi wisata.

Dalam skenario tersebut, seni, tradisi, makanan, bahasa dan sejarah tidak diperlakukan sebagai dekorasi. Modernisasi justru digunakan untuk memperkuat identitas sehingga Wonosobo berkembang tanpa harus menjadi tiruan tempat lain.

Yang Dibutuhkan Bukan Menolak Pembangunan

Mudah sekali mengubah kegelisahan seperti ini menjadi slogan anti-investasi. Padahal Wonosobo membutuhkan pekerjaan, investasi, infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi agar generasi mudanya mempunyai kesempatan membangun masa depan di daerah sendiri.

Yang diperlukan bukan menghentikan pembangunan, tetapi pembangunan yang mengetahui batas. Tata ruang, perizinan, standar bangunan, perlindungan mata air, pengelolaan sampah dan limbah serta perlindungan bentang alam harus berjalan bersama pertumbuhan pariwisata.

Pengusaha juga mempunyai tanggung jawab karena membangun di Wonosobo seharusnya berarti memahami Wonosobo. Arsitek mempunyai kesempatan menciptakan bahasa desain modern yang tetap berakar pada lokalitas, sementara masyarakat mempunyai peran menjaga kebudayaan agar tidak berhenti pada acara seremonial.

Identitas tidak dapat diselamatkan hanya melalui peraturan pemerintah apabila pemilik kebudayaannya sendiri tidak lagi merasa perlu menjaganya. Masa depan Wonosobo pada akhirnya merupakan hasil keputusan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat secara bersama-sama.

Jangan Sampai Anak Cucu Kita Hanya Mewarisi Nama

Ada pertanyaan yang seharusnya mendahului setiap proyek besar di kawasan wisata: apa yang akan diwariskan? Pertanyaan tersebut seharusnya hadir bersama perhitungan omzet, jumlah kamar, investasi dan target kunjungan wisatawan.

Generasi sebelumnya mewariskan gunung yang masih dapat dipandang, mata air yang dapat digunakan, ladang yang dapat ditanami, candi yang dapat dikunjungi, cerita yang dapat diceritakan dan tradisi yang masih dapat dikenali. Warisan tersebut mempunyai nilai yang jauh melampaui harga tanah pada hari ini.

Lalu apa yang akan diberikan generasi sekarang kepada generasi berikutnya? Apakah mereka menerima bentang alam dan kebudayaan yang tetap hidup, atau justru menghadapi gunungan sampah, mata air yang semakin tertekan dan lanskap yang penuh bangunan?

Pertumbuhan ekonomi seharusnya memperbesar pilihan generasi berikutnya, bukan menghabiskan pilihan mereka. Kemajuan baru mempunyai arti apabila anak cucu masih menerima sesuatu yang layak mereka lanjutkan.

Budaya Adalah Jati Diri, Bukan Aksesori Pariwisata

Pada akhirnya persoalan Wonosobo bukan sekadar pariwisata, melainkan identitas. Budaya bukan barang lama yang disimpan karena masyarakat takut membuangnya, tetapi cara sebuah masyarakat menjawab pertanyaan paling sederhana tentang siapa dirinya.

Tanpa identitas, destinasi hanya menjual pemandangan; tanpa sejarah, peninggalan masa lalu hanya menjadi benda tua. Tanpa tradisi yang hidup, festival dapat berubah menjadi keramaian yang selesai ketika panggung dibongkar.

Wonosobo tidak perlu diubah menjadi museum untuk menyelamatkannya. Yang dibutuhkan adalah memastikan kemajuan tidak menuntut Wonosobo berhenti menjadi Wonosobo.

Modernitas seharusnya dapat berdiri di atas akar yang kuat. Justru ketika dunia semakin seragam, identitas lokal menjadi sesuatu yang semakin langka dan semakin bernilai.

Sebelum Negeri di Atas Awan Tinggal Menjadi Slogan

Dieng dikenal sebagai negeri di atas awan, tetapi awan saja tidak akan cukup untuk menjaga masa depannya. Jika bentang alam berubah tanpa kendali, sumber air tertekan, sampah tidak tertangani, arsitektur lokal kehilangan tempat dan tradisi menjauh dari generasi muda, nama besar Dieng perlahan dapat kehilangan isi.

Wisatawan mungkin masih datang, hotel mungkin tetap penuh ketika musim liburan dan coffee shop mungkin semakin ramai. Keberhasilan ekonomi jangka pendek tetap tidak boleh membuat masyarakat terlambat menyadari kehilangan yang tidak dapat dibeli kembali.

Lima atau sepuluh tahun bukan waktu yang panjang karena bangunan yang hari ini baru satu dapat menjadi puluhan, sementara anak yang sekarang masih duduk di sekolah dasar akan tumbuh menjadi orang dewasa. Keputusan yang dibuat hari ini akan menjadi Wonosobo yang mereka warisi.

Wonosobo tidak boleh hanya menjadi tempat berhawa dingin karena udara dingin dapat ditemukan di banyak daerah. Yang tidak dapat dibuat ulang adalah jiwa sebuah daerah yang terbentuk dari manusia, sejarah, alam dan ingatan kolektifnya.

Dieng, tradisi, mata air, bentang pegunungan, peninggalan sejarah dan kebudayaan Wonosobo merupakan kekayaan yang nilainya justru semakin besar ketika dunia semakin seragam. Kemajuan seharusnya membuat masyarakat semakin percaya diri menunjukkan siapa dirinya, bukan semakin mahir meniru tempat lain.

Sebab ketika sebuah daerah kehilangan budayanya, yang hilang bukan sekadar tarian, pakaian, rumah atau upacara. Yang ikut menghilang adalah ingatan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.

Jika arah pembangunan tidak mulai dipikirkan secara serius sejak sekarang, mungkin suatu hari generasi berikutnya masih dapat membaca tulisan “Negeri di Atas Awan” pada papan wisata Dieng. Namun mereka bisa saja tidak lagi sepenuhnya memahami negeri seperti apa yang dahulu berada di balik nama itu.

CATATAN REDAKSI

Tulisan ini merupakan refleksi dan kegelisahan penulis yang berasal dari Wonosobo terhadap arah perkembangan daerah kelahirannya. Sorotan terutama diarahkan pada pariwisata, kebudayaan, lingkungan, arsitektur dan pembangunan kawasan wisata.

Pembahasan mengenai kondisi Wonosobo lima hingga sepuluh tahun mendatang bukan merupakan prediksi pasti. Gambaran mengenai 2031–2036 digunakan sebagai skenario untuk membaca kemungkinan apabila kecenderungan pembangunan saat ini berlanjut, sekaligus menunjukkan bahwa arah berbeda masih dapat ditempuh.

Data mengenai pariwisata, akomodasi, kunjungan wisatawan, mata air dan pengelolaan sampah mengacu pada sumber resmi yang tersedia dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan lembaga terkait. Data tersebut digunakan sebagai konteks untuk membaca perubahan daerah, bukan untuk menyatakan hubungan sebab-akibat yang belum dibuktikan.

Kritik terhadap vila, glamping, coffee shop dan penggunaan gaya arsitektur yang mengambil inspirasi dari luar tidak dimaksudkan untuk menolak investasi, modernisasi maupun kebudayaan asing. Kritik diarahkan pada pentingnya pembangunan yang menghormati karakter lanskap, daya dukung lingkungan serta identitas budaya lokal.

Penyebutan gaya Victorian dan estetika luar daerah merupakan kritik terhadap kecenderungan homogenisasi visual kawasan wisata. Pembahasan tersebut tidak ditujukan kepada satu bangunan, usaha, pemilik, arsitek atau pengembang tertentu.

EMMANUS memandang pertumbuhan ekonomi dan pelestarian kebudayaan tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang saling meniadakan. Modernisasi dapat berjalan bersama pelestarian apabila masyarakat lokal, lingkungan, sejarah dan kebudayaan ditempatkan sebagai bagian utama dalam pembangunan.

Tulisan ini juga tidak menyatakan bahwa seluruh pembangunan pariwisata di Wonosobo telah merusak lingkungan atau menghilangkan budaya. Setiap proyek mempunyai kondisi, perizinan dan dampak berbeda yang harus dinilai berdasarkan fakta masing-masing.

Tujuan tulisan ini adalah membuka ruang diskusi mengenai Wonosobo seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya. Pertanyaan tersebut perlu dibicarakan sebelum perubahan fisik, sosial, lingkungan dan budaya menjadi terlalu jauh untuk dikembalikan.

 

Tentang Penulis

ADVERTISEMENT