Budaya

Mengapa Nasi Padang Jadi Favorit? Ini Sejarah dan Keunikannya

Nasi Padang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat, tepatnya dari ibu kota provinsi, Padang yang memiliki sejarah tersendiri. Hidangan ini terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan beragam lauk-pauk yang kaya akan cita rasa, terutama pedas, yang menggambarkan kekayaan kuliner Minangkabau. Nasi Padang tidak hanya terkenal di Indonesia, namun juga […]

Oleh Achmad Aristyan

Mengapa Nasi Padang Jadi Favorit? Ini Sejarah dan Keunikannya
Nasi Padang dengan aneka lauk. Foto: Wikipedia/ ProjectManhattan
Diterbitkan

Nasi Padang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat, tepatnya dari ibu kota provinsi, Padang yang memiliki sejarah tersendiri.

Hidangan ini terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan beragam lauk-pauk yang kaya akan cita rasa, terutama pedas, yang menggambarkan kekayaan kuliner Minangkabau. 

Nasi Padang tidak hanya terkenal di Indonesia, namun juga telah mendunia, bahkan menjadi komoditas ekspor yang membawa pengaruh besar terhadap masakan Indonesia di luar negeri.

Keunikan Nasi Padang

Melansir dari regional.kompas.com, keunikan dari Nasi Padang terletak pada cara penyajiannya yang bervariasi dan lengkap. Biasanya, hidangan ini disajikan dalam bentuk prasmanan dengan pilihan lauk yang meliputi daging sapi rendang, ayam goreng, kari ikan, sayuran rebus, dan berbagai makanan pedas lainnya. 

Makanan pedas yang disajikan pada Nasi Padang melibatkan penggunaan sambal yang kaya rasa dan sering kali menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidangan ini.  Namun, istilah “Nasi Padang” sendiri tidak digunakan di Sumatera Barat. 

Di wilayah asalnya, masyarakat lebih mengenal istilah “nasi ramas,” yang artinya nasi bungkus.

Sebaliknya, istilah Nasi Padang ini lebih populer di luar Sumatera Barat, termasuk di berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia.

Restoran Nasi Padang

Restoran Nasi Padang biasanya menampilkan suasana yang khas, dengan bangunan yang terinspirasi Rumah Gadang, rumah tradisional Minangkabau.

Di dalam restoran, kita dapat melihat etalase atau jendela display yang berisi tumpukan piring dan mangkuk dengan beragam hidangan yang siap disajikan. 

Di restoran-restoran kecil dan menengah, nama-nama restoran biasanya menggunakan bahasa Minang, mempertegas identitas dan keaslian masakan yang ditawarkan.

Restoran Nasi Padang juga telah tersebar di beberapa negara, bahkan menjadi bagian dari kuliner yang tak bisa dilewatkan. Sebagai contoh, Nasi Padang termasuk dalam daftar 40 makanan yang masyarakat Singapura tak bisa hidup tanpanya, menurut CNN Travel.

Dua Metode Penyajian

Dilansir dari travel.okezone.com, restoran Nasi Padang memiliki dua metode penyajian yang umum digunakan yaitu pesan dan hidang. Pada metode pesan, pelanggan dapat memeriksa berbagai hidangan di etalase dan memilih sesuai keinginan mereka. 

Metode ini umumnya digunakan di restoran dengan skala kecil, di mana pelanggan memilih makanannya langsung. Di restoran yang lebih besar, metode hidang atau menyajikan hidangan langsung di meja lebih umum digunakan. 

Pelanggan yang datang akan disambut dengan piring-piring kecil yang penuh dengan hidangan khas, seperti rendang, kari, terong balado, ayam goreng, hingga paru goreng.

Pelayanan ini membuat pelanggan menikmati berbagai hidangan tanpa perlu memesan satu per satu.

Baca juga: Menggali Jalur Rempah di Cagar Budaya Kota Tua Padang

Tradisi Makan Nasi Padang

Makan Nasi Padang bukan sekadar soal menikmati hidangan, melainkan juga tentang budaya. Di Minangkabau, makan dengan tangan adalah hal yang umum dilakukan. 

Untuk menjaga kebersihan, biasanya diberikan sebuah kobokan atau sebuah mangkuk kecil berisi air dengan irisan jeruk nipis yang digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah makan.

Pelanggan yang tidak ingin makan dengan tangan, dapat meminta sendok dan garpu.

Saat ini, Nasi Padang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau dan juga mengukir namanya di panggung kuliner dunia. (Diolah dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya08 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan